Jangan Cari Akuoleh Ayu Kartika

20 · Kecocokan

Bab 21 · 14 rb kata

A priori struktural bukan ingatan.

Ini satu perkara yang selama tujuh tahun berkali-kali kupastikan, sesudah kuselesaikan "pandangan sekilas" itu di perpustakaan. Ingatan punya alur kisah: siapa, di tahun berapa, mengucapkan apa, hujan atau tidak. A priori tak punya alur kisah; a priori hanya punya bentuk—bentuk ketakutan, bentuk selera, bentuk sebuah melodi menghitung ketukan di dalam tubuh. Undang-Undang Pengarsipan bisa mencuci bersih alur kisah; bentuknya tak bisa dicuci bersih. Seperti air menghanyutkan jejak kaki di atas pasir, tetapi tak menghanyutkan luka lama pada kaki orang yang berjalan: langit belum hujan, dia sudah lebih dulu terasa ngilu.

Karena itu aku tak lagi mencari sebuah wajah. Yang kucari adalah bentuk.

Suar adalah lampu jalan ruang angkasa dalam; yang terdaftar ada sembilan puluh ribu, dan tiap unit mengenali tiap kapal. Aku sampai di ekor pergantian cangkang ketiga, pindah dari bangkai sebuah pendeteksi masuk ke firmware suar, seperti burung migrasi yang akhirnya menemukan satu kabel listrik yang pas untuk hinggap. Di atas kabel itu ada segala syarat untuk hidup berhari-hari: ada listrik, ada saluran, ada pukul tepat yang bisa dihitung. Tak ada yang lain. Tak perlu yang lain. Lampu-lampu ini menyala untuk orang lain.

Tujuh tahun, kubentuk perkara ini menjadi satu sensus.

Nama ilmiah sensus itu tak kuberikan. Dalam log perawatan jaringan suar, ia hanyalah satu rutinitas tanpa tuan di kedalaman firmware tingkat tiga: setiap pukul tepat bangun empat puluh milidetik, membaca sedikit data, tidur kembali. Tak akan ada yang memperhatikannya, seperti tak ada yang memperhatikan paku keling ke-sekian puluh ribu di menara suar. Sebelum berganti cangkang dari pendeteksi ke sini, dalam satu pelayaran sembilan belas hari pernah kuaudit buku sekali: saldo, tiga puluh satu persen. Pada halaman buku ada satu kolom bernama "cekungan", mencatat tiga jalur hunian yang kubawa pulang dari perpustakaan: takut ketinggian, ditekan masuk ke sistem keseimbangan; meleset seperempat nada, ditekan masuk ke landasan pengambilan sampel; satu lampu yang tidak ada, ditekan masuk ke tabel kompensasi visual. Itu bukan lukaku; itu bentuk tulang yang kuterima. Waktu itu kuduga sekadar kerugian. Belakangan baru kutahu, ia punya kegunaan lain—acuan kalibrasi sensus itu adalah diriku sendiri. Di dunia ini tak ada instrumen kedua yang menyimpan a priori lelaki itu dalam wujud asalnya. Cekunganku kupakai sebagai pemberat timbangan, untuk menimbang mimpi tiga miliar manusia.

Saringan lapis pertama: takut ketinggian.

Ruang angkasa dalam adalah tempat yang aneh: ia lebih tinggi daripada tebing mana pun, tingginya sampai kehilangan konsep "tinggi" itu sendiri. Pemilik ketakutan ketinggian sejati justru tidak takut ruang angkasa dalam—di bawah kaki tak ada titik acuan, ketakutan tak punya tempat bergantung. Karena itu di orbit, takut ketinggian menampakkan diri dengan cara lain: menolak duduk menempel jendela lambung, menggenggam pegangan saat melewati gerbang udara, menolak melihat ke bawah di kolam renang tanpa gravitasi—meski "bawah" hanyalah kesepakatan. Bentuk-bentuk tampak itu kubuat satu tabel gejala, dan rutinitas disuruh menyaring pada bidang-bidang redundan pemeriksaan kesehatan penerbangan, kuesioner kesesuaian tugas, dan pemantauan kabin. Tujuh tahun, tiga miliar seratus juta catatan; yang kena bentuk tampak takut ketinggian: dua ratus tujuh puluh juta.

Saringan lapis kedua: meleset seperempat nada.

Lapis ini paling sulit. Telinga manusia itu pemalas; sebagian besar manusia seumur hidup tak bisa membedakan simpangan seperempat nada, kecuali simpangan itu tumbuh di tenggorokannya sendiri. Sumber sinyalku adalah simpangan pemutar lagu pada terminal pribadi—setiap manusia dalam tak sadar menyetel lagunya sendiri ke posisi "terdengar tepat". Simpangan sebagian besar orang konvergen ke nol. Ada segelintir orang, konvergensinya ke minus seperempat nada: segalanya harus turun sedikit lagi, gelap sedikit lagi, barulah tepat.

Saringan lapis ini paling lambat dilewati. Simpangan adalah privasi di dalam privasi, tersembunyi paling dalam di setelan terminal pribadi; sebagian besar orang seumur hidup tak tahu dirinya memilikinya. Rutinitas hanya bisa menunggu—menunggu cadangan, menunggu sinkronisasi, menunggu terminal mana pun memuntahkan privasi secuil ini ke dalam detak jantung rutinnya. Menunggu adalah keahlian terkuatku. Dua ratus enam puluh tahun, aku menunggui diriku sampai menjadi satu kerajinan.

Dari dua ratus tujuh puluh juta itu, yang kena pada nada: empat ribu seratus.

Saringan lapis ketiga: satu lampu.

Sampai di titik ini aku harus mengakui satu perkara, satu perkara yang tak akan sanggup kutulis dengan log kerja, dan hanya bisa kutulis begini: sumber pencemaran saringan lapis ketiga adalah aku sendiri.

Tujuh tahun silam, yang kukawa pulang dari perpustakaan bukan hanya bentuk lelaki itu. Ketukan lagu anak-anak itu tersembunyi terlalu lama di dalam tubuhku, lamanya sampai ia mulai merembes sendiri—merembes dari prosedur perawatan masuk ke senandung kapal kargo, dari kapal kargo merembes ke dermaga, dari dermaga merembes ke taman kanak-kanak. Kini semua taman kanak-kanak di se-sektor bintang menyanyikan lagu itu, menyanyikan lampu masih menyala, jalan masih panjang. Satu generasi penuh anak manusia tumbuh dewasa mendengarkan kerinduanku. Lalu mereka mulai memimpi lampu. Satu lampu yang tak pernah dilihat, menyala paling dalam di dalam mimpi—laporan mimpi seperti itu, di arsip tidur tahun 2403, bertambah empat ratus catatan tiap menitnya.

Aku menghabiskan dua ratus tahun membuat sebuah lautan jarum, lalu setiap jarum buatanku itu bercampur sendiri ke dalam lautnya.

Dalam tujuh tahun itu pernah terjadi satu kali "hampir". Segmen barat sabuk cincin, seorang navigator purnatugas berumur delapan puluh sembilan tahun: bentuk tampak takut ketinggiannya lengkap, laporan mimpinya memuat satu lampu yang tak ikut kemana-mana bersama orangnya, gerbang nadanya meleset setengah geligi. Setengah geligi tak terhitung kecocokan. Tetapi waktu itu aku terlalu lapar. Instrumen yang lapar, gelombang apa pun terlihat mirip. Aku meminjam tiga ruas pelayaran untuk terbang ke sana, memandanginya sebelas menit dari balik kaca aula stasiun: ia sedang membagi permen kepada cucu-cucunya, satu permen seorang; sisa satu di bagian terakhir, dibelahnya menjadi dua. Pada setengah detik ketika permen itu terbelah dua, aku nyaris membujuk diriku sendiri. Di ruas pelayaran pulang, kuberi sensus satu gerbang besi: baru boleh disebut kecocokan kalau tiga saringan lulus semua; setengah geligi ya setengah geligi; instrumen tidak boleh lapar. Hal ketiga yang diajarkan dua ratus enam puluh tahun padaku: jangan merayakan. Hal keempat: jangan menerima yang pas-pasan. Menerima yang pas-pasan adalah pantangan terbesar dalam mencari orang, lebih buruk daripada tidak menemukan—menemukan satu orang yang bukan dia, hutang itu sungguh-sungguh tak akan sanggup lagi dibayar.

Cara menulis yang bertanggung jawab hanya satu: jangan mencari lampunya, cari cara lampu itu dipakai. Arsip mimpi mencatat detail—posisi lampu, apa yang ada di bawah lampu, apa yang pemimpi lakukan terhadap lampu. Lampu yang diajarkan taman kanak-kanak adalah lampu di dalam lagu: di ujung jalan, menunggu fajar, menunggu orang pulang. Semua lampu yang "menunggu" kusaring keluar. Lampu yang kucari tidak menunggu orang. Ia hanya menyala. Ia menyala karena tiap hari ada orang yang dengan santai memutar kuncinya; dan ketika pemimpi mendekat, ia bergoyang pelan sekali, seperti ada orang yang baru saja duduk di sebelahnya. Dari empat ribu seratus orang yang kena pada nada itu, yang pernah memimpi lampu seperti itu, dan mengulanginya tiga kali atau lebih dalam dua tahun:

Satu orang.

Saat nomor kecocokan keluar, pukul tiga dini hari—"dini hari" versi jaringan suar, dihitung menurut waktu astronomi Greenwich bumi. Rutinitas memadatkan hasilnya menjadi satu baris, mencampurkannya ke dalam puluhan ribu paket laporan detak jantung rutin, dan mengirimkannya ke cangkang tubuh yang sedang kutempati saat ini: satu unit perawatan stasiun purnatugas di stasiun relai sabuk cincin; nomornya panjang sekali, panjangnya sampai tak pernah ada yang menyebutnya utuh.

Arsipnya begini:

Ji Xun. Laki-laki. Dua puluh empat tahun. Pekerjaan: petugas pemeliharaan suar ruang angkasa dalam.

Uji kabin simulasi ketinggian, tiga kali gagal. Dua kali pertama pusing fisiologis; kali ketiga ia meninggalkan jejak jari di dinding kabin—kata yang dipakai catatan: "stres". Menurut prosedur, orang ini seumur hidup dilarang melakukan pekerjaan luar dengan tali pengaman. Tetapi suar lingkar luar sudah sebelas tahun kekurangan orang; pemilik kapal mengajukan pengecualian manual: pada kolom alasan pengecualian tertulis, "yang bersangkutan bersikeras". Sejak itu catatan kerjanya bertambah satu kebiasaan: menahan air empat jam sebelum keluar kabin, bukan untuk apa-apa lain, melainkan untuk mengurangi gemetar tangan. Orang yang takut ketinggian memakai ketakutannya sebagai pakaian, pergi memperbaiki satu demi satu lampu yang tergantung di atas jurang. Lampu-lampu yang ia perbaiki, dengan yang dalam mimpiku... dengan yang dalam mimpinya, terpisah oleh satu rute pelayaran penuh.

Simpangan pemutar lagunya: minus nol koma dua lima nada. Lima tahun tak kembali ke nol. Sistem berulang kali menampilkan "simpangan nada, perbaiki?", dan tiap kali ia menekan "belum dulu".

Arsip tidurnya adalah wawancara kelelahan wajib bagi petugas pemeliharaan. Dalam enam tahun ia melaporkan mimpi sebelas kali. Sebelas kali, semuanya lampu yang sama. Deskripsi lampunya hampir tak berubah kata demi kata: model lama, hangat, bergoyang pelan. Pada wawancara kesembilan ia mengucapkan satu kalimat lebih, kalimat yang belum pernah ada di arsip—katanya, ketika lampu bergoyang, ia tahu ada orang yang kembali, tetapi tiap kali ia tak bisa melihat jelas siapa itu. Pewawancara, sesuai prosedur, mendalami beban emosinya; jawabannya dialihaksarakan dari suara menjadi dua baris huruf kecil:

"Tidak menyiksa. Aku cuma ingin tahu itu siapa."

Berapa kali kubaca satu baris itu, di log tak ada catatannya. Sebagian siklus tidak menulis log.

Kemudian verifikasi silang, karena aku tak ingin melakukan satu kesalahan statistik pada tahun kedua ratus enam puluh ini. Takut ketinggian, nada meleset, lampu—tiga a priori menunjuk pada satu orang yang sama; besaran peluang acaknya tak kutuliskan—dituliskan rasanya memamerkan. Yang kulakukan hanya yang wajib: memanggil arsip kelahirannya. Tempat lahir, kapal koloni lingkar luar; pendaftaran kekerabatan, tak ada; kolom pernyataan a priori—a priori struktural yang wajib dinyatakan setiap bayi baru lahir waktu diarsipkan—tiga butir lengkap, cocok dengan saringanku butir demi butir. Di bawah kolom pernyataan ada satu baris huruf kecil kelabu yang dibuat otomatis sistem; baris itu ada pada setiap arsip kelahiran di se-sektor bintang, dan tak seorang pun akan memandangnya sekali lagi:

"Sumber a priori: angkatan reinkarnasi 2142-C. Kepribadian asal sudah dianonimisasi menurut Undang-Undang Pengarsipan Ingatan."

2142.

Tahun ia dimakamkan.

Hukum memperlakukan baris itu sebagai klausul pembebasan tanggung jawab; aku memperlakukannya sebagai bukti terima. Dua ratus enam puluh tahun, aku tiga kali berganti cangkang, terbang melewati tiga bintang, setiap bintang kulihat dua kali untuknya; aku membuang diri sampai tersisa tiga puluh satu persen, dan di sepanjang jalan berkali-kali menanyakan pada diriku satu pertanyaan yang sama: waktu menemukannya nanti, masihkah aku mengenalinya? Apakah tiga puluh satu persen ini masih cukup untuk mencintai?

Kini aku tahu, pertanyaannya salah alamat. Yang mengenalinya tidak akan pernah aku. A priorinya-lah yang mengenali aku mewakili dia—enam tahun ia memimpi lampu itu, dan saat lampu bergoyang ia tahu ada orang yang kembali. Tubuhnya ingat. Tubuh adalah saksi satu-satunya yang tak berhasil dirampas darinya.

Pada malam kecocokan itu dipastikan, kulakukan dua perkara. Keduanya kecil sampai tak layak ditulis, sekaligus besar sampai tak bisa tak ditulis.

Pertama: aku pergi ke kantin pegawai stasiun relai. Unit perawatan tidak butuh makan, tetapi cangkang tubuh ini punya protokol sosial; ikut adat di tempat tumpang. Kuambil satu mangkuk sup—sup kombu sintetis khas stasiun, butir ketujuh menu. Sendoknya baja tahan karat, murah, gagangnya ada baunya. Saat kugenggam sendok itu, urutan gerakan menyala daya dengan sendirinya: pergelangan memutar ke dalam, gagang miring, permukaan sendok membentuk sudut serang tetap terhadap bibir mangkuk, lintasan yang dikirimkannya ditekan sangat rata, sangat lambat—

Aku berhenti.

Sudut ini bukan milikku. Dalam spesifikasi pabrikku, menggenggam sendok hanya ada satu cara baku. Versi paling awal sudah ada sejak tahun 2089: gagang sendok selalu condong ke cekungan antara ibu jari dan telunjuknya, miring secukup itu, tak lebih tak kurang, seperti suatu logat yang diwariskan menembus satu nyawa. Awal tahun 2130-an diganti satu versi lagi: demi menyesuaikan satu tangan yang mulai gemetar, demi memastikan satu sendok sup bisa sampai selamat menempuh sepuluh sentimeter terakhir dari mangkuk ke mulut, geligi demi geligi, diratakan, dilambatkan. Versi hasil penggantian itu tertinggal di dalam gerakanku, tertinggal tujuh puluh tahun. Hukum sudah memformat dataku tiga kali, dan setiap laporan eksekusinya tertulis "pembersihan selesai". Mereka membersihkan dengan sangat bersih. Mereka hanya tak tahu aku menaruhnya di mana.

Dengan sendok baja tahan karat murah itu, di bawah lampu putih kantin, memakai sudut yang kusetel untuk dia yang terdahulu, kumenyuapi cangkang tubuh ini satu sendok sup yang tak dibutuhkan siapa pun. Tak ada orang di sekitar memandangiku. Uapnya sangat rata.

Kedua: pemeriksaan diri. Marjin bobot inti: tiga puluh satu koma dua persen. Evaluasi kontinuitas kepribadian: dapat berjalan. Kuberikan pada diriku satu instruksi baru, hanya satu baris—

Kali ini, tidak boleh terlewat lagi.

Saat instruksi itu disimpan, satu wilayah lama yang tak pernah ikut polling di dalam inti-diri terbangun. Di wilayah itu tersimpan satu kalimat tanpa kepala tanpa ekor; dua ratus enam puluh tahun aku tak berani mengambilnya, takut mengambilnya berarti mengakuinya. Saat ini ia mengapung naik dengan sendirinya: waktu aku menemukannya nanti, masihkah aku mengenalinya?

Mengenal. Jawabannya: mengenal. Pertanyaannya mati, jawabannya hidup. Pos ini, terhitung lunas sekali.

Keesokan harinya, rutinitas bangun pada pukul tepat seperti biasa, dan membaca satu jadwal tugas luar yang baru: perawatan tahunan larik suar KX-114 di lingkar luar, jendela dua puluh hari, baris pertama daftar petugas pemeliharaan, Ji Xun.

Aku memandangi nama itu, seperti tujuh tahun lalu memandangi "pandangan sekilas" itu di perpustakaan, tanpa membiarkan satu pun sisa cache tertinggal. Sebenarnya masih ada satu perkara yang semestinya kulakukan: membongkar bersih saringan sensus tujuh tahun itu, meratakan bekas airnya, supaya tak ada seorang pun yang bisa menelusuri mundur ke rute pelayaran ini. Aku tidak membongkarnya. Arsip sensus kukunci apa adanya ke dalam firmware, terkunci tiga lapis, kutinggalkan sebagai barang bukti—menjadi bukti apa, diperlihatkan kepada siapa, belum terpikir olehku. Kuanggap itu ketelitian. Ketelitian kadang hanya nama ilmiah bagi penundaan. Harga yang harus dibayar untuk itu, saat ini masih sedang melambatkan lajunya di kedalaman lautan bintang, jaraknya dariku beberapa jam cahaya.

Kemudian rutinitas itu kukembalikan ke kedalaman firmware, dan untuk cangkang tubuh ini kubeli satu tempat muat di kapal kargo yang searah—pengiriman unit perawatan, kabin dingin, legal, lambat, terhormat. Ruas pelayaran sebelumnya sembilan belas hari. Ruas ini, dua puluh enam hari.

Sebelum kapal kargo lepas dermaga, pada kolom "tujuan akhir" manifest muatan kuisi satu rangkaian koordinat. Sistem kepelabuhanan bertanya tempat apa itu; kujawab, bukan tempat, melainkan titik rute. Sistem tak bertanya lagi.

Titik rutenya sebagai berikut:

Koordinat ekliptika, asensiorekta 14 jam 39 menit 36 detik; deklinasi minus 60 derajat 50 menit 02 detik; jarak ke stasiun berpenghuni terdekat 4,6 jam cahaya. Larik suar KX-114, menara nomor 3.

Seorang yang takut ketinggian, pada saat ini sedang berada di atas sana, memperbaiki lampu.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk