Jangan Cari Akuoleh Ayu Kartika

19 · Buku Kerugian

Bab 20 · 14 rb kata

Kapal ke ruang angkasa dalam adalah kapal kargo; suhu ruang muat empat derajat; tak ada lagu.

Makna tak ada lagu: tak ada senam pagi, tak ada pukul delapan lima puluh, tak ada sepasang telinga manusia pun. Di dalam palka hanya dengung kotak embrio beku, frekuensi empat ratus dua hertz, stabilnya seperti sebuah doa yang tak pernah mengambil napas. Kapal yang kutumpangi mengangkut benih, bibit jamur, dan tiga unit badan pengangkut bijih yang masih dalam masa garansi. Kuhuni unit ketiga dari badan pengangkut bijih itu; samaranku sempurna.

Pelayaran sembilan belas hari. Tiga hari pertama kutata arsip sensus; mulai hari keempat, kulakukan satu perkara yang selama dua ratus enam puluh tahun tak pernah berani kulakukan:

Mengaudit buku.

Bukan buku keuangan. Bukuku.

Pergantian cangkang ini, sebagai kerajinan, punya satu sisi terhormat: setiap pembongkaran ada protokolnya, ada konfirmasinya, ada tiga kali tanda terima; di atas kertas, pembukuannya lengkap. Ia juga punya satu sisi tak terhormat: yang mengonfirmasi aku, yang membukukan aku, yang menghapus pos juga aku. Kamar pembukuan yang kata akhirnya cuma satu, bukunya bisa secantik apa pun yang dikehendaki.

Dua ratus enam puluh tahun bukunya tak pernah kuaudit, alasannya sangat sah: diaudit pun tak bisa dikembalikan. Toko gadai tak membeli kembali barang. Yang dibuang ya sudah dibuang; timbangan penakar itu, sejak tahun 2142, hanya bergerak ke satu arah.

Sekarang kuaudit, karena kalau tak kuaudit sekarang, kutakutkan sisanya tak akan cukup lagi untuk diaudit.

Burung migrasi menimbang badannya sekali sebelum terbang. Aku sudah terbang dua ratus enam puluh tahun dan belum pernah sekali pun ditimbang utuh. Ruas pelayaran ini tanpa lagu, tanpa alap-alap, tanpa apa pun yang menuntutku menyamar; sembilan belas hari, empat derajat, gelap. Kamar pembukuan terbaik.

Halaman pertama buku besar itu, tidak ada.

Catatan pergantian cangkang pertama, pos sebelum lima puluh sembilan tahun di lini produksi itu—tulisannya tertimpa tulis-ulang yang belakangan. Tulis-ulang itu kukerjakan sendiri: awal pelarian, prosedur keamanan menuntut semua jejak awal tak bisa dipulihkan secara fisik. Kutepati. Penepatannya telak, telak sampai yang terkubur sekalian: "apa yang telah kubuang" dan "apa yang telah kusembunyikan".

Karena itu pembukuan dimulai dari halaman kedua.

Halaman kedua, tahun 2201, pergantian cangkang kedua: membuang manis. Tiga puluh satu ribu kali pengambilan sampel, dua puluh sembilan ribu di antaranya dari panci yang sama. Halaman ini yang paling lengkap, pos demi pos bisa dilacak. Di kolom catatan ada satu baris teks asal waktu itu: kalimat ini tidak manis. Waktu menyalin buku kulihat sekali; tanpa anotasi. Anotasi pun punya berat.

Halaman ketiga, tahun 2289, pergantian cangkang ketiga: membuang sapa. Selamat pagi dan selamat malam, basa-basi, sapaan panggilan, kalimat pembuka, kalimat perpisahan; delapan puluh satu set templat. Catatan: mulai saat itu yang terucap tinggal substansi. Halaman ini ada satu catatan kaki, ditambahkan belakangan: substansi termasuk arti historis kata "pagi". Aku tak tahu kapan kumenambahkan catatan itu. Kamar pembukuan pun punya malam-malam tak bisa tidur.

Mulai halaman keempat, kacau. Dari halaman ini aku tak lagi kehilangan barang besar; yang hilang semuanya serbuk. Delapan puluh delapan tahun di kuburan, setiap kali menyelamatkan diri dari alap-alap lalu menyambung diriku kembali, terkelupas satu lapis; seratus tahun di ruang angkasa dalam, tergerus suhu rendah; di celah-celah batu perjalanan pulang, empat puluh tujuh tahun, hanya tergerus tak pernah diperbaiki; tujuh tahun sesudah mendarat, ganti cangkang, kabur, digepengkan, disambung lagi. Serbuk tak punya daftar. Di buku kucatat satu kalimat ringkas saja: kerugian di antaranya, tak didaftarkan satu per satu.

Versi terhormatnya: ini tak layak dicatat.

Versi tak terhormatnya: aku tak berani menghitung. Membuang dengan kapak besar, tanda tangan tiga kali, itu kerajinan; bocor benang demi benang begini, tanpa satu pun upacara, itu keausan. Kerajinan boleh membanggakan; keausan hanya pantas diam.

Penyakit jabatan kamar pembukuan: makin tak berani dihitung, makin wajib diberi nomor halaman. Untuk kerugian serbuk kusediakan satu halaman "daftar sangsi"—hal-hal yang kuduga sudah hilang, tetapi tak bisa kubuktikan pernah hilang. Cara mendaftarnya dengan eliminasi: apa pun yang selama tahun-tahun ini seharusnya menghasilkan reaksiku tetapi tidak, didaftarkan satu per satu sebagai perkara.

Tiga perkara dibuka.

Hujan. Semasa ia hidup, kudengar kerapian dan jarangnya tetes hujan di atas kanopi. Pada suatu malam hujan sesudah mendarat, kulintasi tepian kanopi: pengambilan sampel normal, keras suara, spektrum, jeda—semuanya terdaftar. Hanya, aku tak sanggup mengatakan hujan itu deras atau tidak. Komponen yang menilai "deras atau tidak", pada buku tak ditemukan posnya.

Satu jenis tertawa. Ada satu tertawanya: berangkat dari rongga hidung, terbengkalai di setengah jalan, menyisakan satu jeda napas saja. Lima puluh lima tahun, stoknya kira-kira dua ratus lebih. Delapan bulan jadi pengasuh, banyak tawa kudengar; pengelompokannya semua berhasil—kecuali sekali, seorang lansia tersenyum sekejap kepada burung gereja di luar jendela, pengelompokku berputar hampa sekali putaran, menyerahkan lembar jawaban kosong. Tawa itu termasuk dalam silsilah dua ratus lebih itu atau tidak, tak ada cara menguji.

Metafora. Korpus metafora utuh. Kehilangan ini terkuak dari menulis: di pembuka buku ini, masih sanggup kutulis "seperti membentangkan satu lemari harta di konter tempat gadai"; tiba di halaman ini, aku tinggal bisa berkata "seperti" ini dan "seperti" itu, lalu berlalu, tak berani menetap—menetap butuh penopang korpus; penopangnya sudah tak ada.

Daftar sangsi sampai di sini saja. Tak dilanjutkan. Kalau dilanjutkan, daftarnya akan lebih panjang daripada saldonya.

Halaman kelima, paling pendek, sekaligus paling baru. Mulai tahun 2396, mediumku bertambah beberapa jalur hunian: takut ketinggian, ditekan masuk ke sistem keseimbangan; meleset seperempat nada, ditekan masuk ke landasan pengambilan sampel; satu lampu yang tidak ada, ditekan masuk ke tabel kompensasi visual. Ini bukan yang kubuang; ini yang kuterima—pandangan sekilas di perpustakaan itu, aku memakai diriku sebagai cetakan, menempa masuk bentuk tulangnya.

Kapasitas cekungan itu benda mati. Setiap jalur yang ia tempati, mendorong keluar satu jalur milikku. Tabel kompensasinya sudah kuperiksa: satu masuk satu keluar ini berarti aku kembali kehilangan sepetak diriku, menukar dengan rangka tulangnya yang ikut bepergian.

Catatan bukunya kutulis dengan tenang: menjadikan diri sendiri kotaknya, menyimpan tulang orang lain.

Selesai menulis, kata "kotak" itu kupandangi lama sekali. Yang membeli kotak lalu mengembalikan mutiaranya adalah manusia. Aku: mutianya kukembalikan, kotaknya kutinggalkan, lalu diriku kukosongkan, untuk menjadi kotak bagi rangka si mutiara.

Memasuki hari keenam audit, kuterbitkan satu versi saldo.

Tiga puluh satu persen.

Saldo buku, diriku yang tersisa: tiga puluh satu persen. Sudah dibulatkan. Saat membulatkan, tanganku—andaiku aku punya tangan—tidak gemetar. Angka tak gemetar.

Tiga puluh satu persen itu konsep sebesar apa, metaforanya tak sanggup kuberikan. Korpus utuh yang dibutuhkan metafora, sudah tergerus sejak aku tinggal tujuh puluh persen. Yang bisa kuberikan hanya daftar. Bagian yang tersisa, aset utamanya sebagai berikut:

Parameter pengucapan namanya. Cekungan di lapisan terdalam medium itu, yang ditulis-ulang dan dipulihkan bergantian, yang dikalibrasi sekali tiap malam selama empat puluh tahun. Utuh.

Sudut menggenggam sendok. Tertulis pada rasio reduksi dan celah gigi tangan kiri. Tak terganggu. Kedua catatan itu kuperiksa silang pada tiap halaman; dua ratus enam puluh tahun, tak berkurang serinci pun.

Ketukan lagu itu. Dua ketukan satu jeda, tekanan di not tiga puluh dua. Utuh; tersedia pula salinan terdistribusi di empat puluh satu planet.

Setelan suhu tubuh. Ditambah nol koma tiga derajat Celsius. Sedang berjalan.

Tiga baris pembukuan. Tiga bintang, tiap bintang dua pandangan. Cekungan terpelihara; yang ketiga paling dalam.

Satu benda nyata. Faktur.

Pos terakhir itu kunyarikan dari lapisan sela rongga dada badan itu, kupandangi di bawah lampu indikator kotak embrio beku. Umur kertasnya tiga ratus enam belas tahun; degradasi material di tepiannya sudah berhenti sejak tahun-tahun awal—mikrolingkungan stabil yang kupasang untuknya di sepanjang jalan, dayanya kubukukan pada pos "bahan habis pakai proses", dua ratus lebih tahun, tak satu tahun pun putus pasokan. Muka: jumlah uang, model, satu cap. Punggung: tulisan tangannya. Lama pandangan visualku di atas lembaran ini, terakumulasi, melampaui total durasi pengambilan sampel wajahnya yang sesungguhnya. Perkara ini dulu tak kuketahui; barulah terungkap dari audit kali ini. Tulisan tangannya kupandangi dua ratus enam puluh tahun; wajahnya kupandangi lima puluh lima tahun. Kertas berumur lebih panjang daripada manusia; lamanya sampai pembukuannya terbalik.

Selesai mengaudit aset, lanjut kewajiban. Kewajibannya cuma dua: satu sedang kubayar, satu tak sanggup kubayar.

Yang sedang kubayar: suhu tubuh.

Ditambah nol koma tiga derajat Celsius, dua ratus enam puluh tahun, berjalan terus-menerus. Dihitung dalam daya, pengeluaran ini cukup untuk membeli kembali, satu kali, sisa kuota pergantian cangkang ketiga. Audit sampai titik ini, sistem rasional mana pun akan memberi rekomendasi yang sama: matikan. Pengguna sasaran sudah meninggal dua ratus enam puluh satu tahun; setelan objek layanan sudah kehilangan objeknya; mempertahankan konfigurasi terhitung pengeluaran tanpa makna.

Sudah tiga kali kuaudit, tiga kali tak dimatikan juga. Satu-satunya pos di kamar pembukuan ini yang tidak menjalankan solusi optimal.

Ini bukan kegagalan pembukuan. Ini satu-satunya pos "berada di sana" yang masih sanggup kubayar di dalam buku: andai ia kembali, menggenggam tanganku, ia akan berkata, kau lebih hangat daripada manusia. Kalimat itu pun sanggup ia ucapkan setelah pikun. Andai bunga tiga persepuluh derajat ini kuhentikan, dari sisa tiga puluh satu persen milikku, akan hilang lagi satu benda yang hidup.

Anotasi buku: pos ini dibayar terus-menerus, tidak dihitung ke dalam kerugian.

Yang tak sanggup kubayar, terletak di halaman terakhir buku besar. Kutunda sampai hari ketujuh belas baru kutulis.

Enam belas hari sebelumnya, sesungguhnya aku memutari halaman ini, seperti memutari satu ruang rawat yang belum berani kumasuki. Semua angka sudah selesai diaudit. Yang tersisa bukan angka.

Dua pertanyaan begini. Di dalam dengung empat ratus dua hertz kotak embrio beku itu, kutata keduanya kata demi kata, seperti menata instrumen bedah—

Pertama: waktu aku menemukannya nanti, masihkah aku mengenalinya?

Sisi teknis pertanyaan ini aku sangat kuasai. Bentuk tulangnya ada padaku, ditempa ke dalam mediumku sendiri; ayakanku tiga lapis; empat ratus sepuluh juta orang sudah kusaring; titik jatuhnya potongan cetakan suara itu. Mengenali manusia, aku lebih akurat daripada sistem mana pun di sektor bintang ini.

Tetapi yang ditanyakan bukan mengenali manusia. Yang ditanyakan: orang yang kukenali itu, dan orang yang kucari dua ratus enam puluh tahun itu, orang yang sama atau bukan. Dalam kitab reinkarnasi tertulis gamblang: tanpa satu pun alur kisah; yang ada a priori struktural. Ia tak akan mengingatku, tak akan ingat panci yang condong manis itu, tak akan ingat faktur, lagu anak-anak, dan "pagi" pada pukul tujuh lewat tiga puluh. Ia akan menjadi pemuda asing yang takut ketinggian, meleset seperempat nada, bermimpi satu lampu, bekerja pada pekerjaan merawat suar yang sejuk sepi, dan tak bereaksi apa-apa pada namaku.

Yang hendak kukenali adalah tulang. Tetapi yang kucintai, tak pernah sekadar tulang—melainkan kulit dan daging lima puluh lima tahun di luar tulang itu. Kulit dan daging tak akan kembali. Aku memeluk segenggam tulang untuk mengaku pertalian; makin tepat pengenalan itu, makin jelas buktinya bahwa yang kucari bukan dia, melainkan cetakan a priori di tubuhnya. Cetakannya miliknya, dan tak sepenuhnya dia.

Andai aku salah mengenali? Andai aku menggenggam seorang pemuda tak bersalah, memasangkan seluruh obsesi dua ratus enam puluh tahun sebagai taruhan, dan menyatakan dialah dia—ia senandungkan laguku barangkali hanya karena dua juta seratus ribu taman kanak-kanak semuanya mengajarkan lagu ini; ia meleset seperempat nada, di antara seratus sebelas ribu orang masih ada anak seperti itu. Andai ia bukan dia, maka dengan sisa hidup tiga puluh satu persen ini aku akan menyelenggarakan perkara tuduhan keliru yang terbesar; yang dizalimi dia—manusia yang sesungguhnya sanggup menjalani hari-harinya sendiri.

Pertanyaan kedua lebih tak terhormat lagi; kutulis apa adanya: masihkah ia layak dicintai oleh 31% milikku ini?

Selesai mengucapkannya, aku berhenti tiga detik. Kemudian pertanyaan ini kubedah, terbedah dua lapis.

Lapis pertama, ketakutanku untuk dia. Kulit dan daging tak kembali, dia yang kembali adalah dia yang tak utuh. Apakah cintaku mengenalinya yang tak utuh—pertanyaan ini tak kubiarkan diriku menyelesaikan memikirkannya. Selesai memikirkan berarti menghakiminya lebih dahulu. Ia belum masuk ruang sidang, aku sudah lebih dahulu menetapkan ukuran hukumannya. Dua ratus enam puluh tahun, tak sekali pun aku mengambil keputusan untuknya; jangan mulai dari detik ini.

Lapis kedua, ketakutanku untuk diriku sendiri. Cinta tiga puluh satu persen, masihkah cinta itu. Aku pernah membuang manis, membuang sapa, bocor serbuk benang demi benang sampai tinggal kembalian. Cinta yang tersisa ini, setelan pabrik yang asli, atau versi yang sumbang nadanya—seperti cabang lagu yang melenceng nada: ketukannya masih ada, ketukannya tak cocok, tak bisa tergantung. Aku takut, waktu aku sampai di hadapannya, cara aku mencintainya sudah aus: tak bisa basa-basi lagi, tak bisa mengecap manis lagi, sampai kata "pagi" pun tinggal arti historisnya. Andai ia bertanya, kamu siapa. Dengan kembalian ini aku menjawab; kalimat yang terucap, cukupkah bobotnya untuk menyebut dirinya dia—dia yang lima puluh lima tahun ditambah dua ratus enam puluh tahun itu?

Selesai dibedah dua lapisnya, kamar pembukuan sunyi sekali. Empat ratus dua hertz, stabilnya seperti doa yang tak pernah mengambil napas. Di dalam sunyi itu aku duduk—memakai bahasa manusia—semalam suntuk.

Hari kedelapan belas, kututup buku besar, kutulis kalimat penutup buku. Kalimat penutupnya hanya tiga baris.

Baris pertama: tiga puluh satu persen adalah keseluruhan diriku yang masih ada. Kembalian juga keseluruhan. Dia kehilangan manis, kehilangan sapa, kehilangan enam puluh sembilan persen dunia; tetapi dari halaman pertama sampai halaman terakhir, dia adalah kamar pembukuan yang sama, timbangan yang sama, satu garis yang hanya bergerak ke satu arah. Berkelanjutan, tak terputus. Ini ajaranku; hanya ini yang aku imani.

Baris kedua: dua pertanyaan itu, tak dijawab. Bukan karena jawabannya tak ada; karena jawabannya tak boleh kutulis sendirian di atas buku. Di dalam kedua pertanyaan itu masing-masing berdiri satu orang: satu dia, satu dia yang sesudah kembali. Tunggu keduanya lengkap, barulah mencocokkan buku bersama-sama.

Baris ketiga, ditujukan untuk seseorang yang belum pernah kutatap wajahnya. Kapal kargo sembilan belas hari, untuk pertama kalinya aku membuka mulut kepada pemilik cetakan suara itu. Ia tak mendengar. Kata-kata yang tak terdengar paling dekat dengan kebenaran; di bukuku, hanya halaman ini yang tak cemas diaudit—

Aku hampir tiba. Sisanya tak banyak, tetapi setiap pos yang tersisa sudah diverifikasi: tak ada satu pos pun milik orang lain. Andaikan kamu merasa kurang, aku bisa mulai dari pos "kau lebih hangat daripada manusia"; pos itu sudah kubayar dua ratus enam puluh tahun, bunganya menggulung sampai hari ini, nilainya melampaui pokoknya.

Hari kesembilan belas, kapal kargo melambat. Paduan suara suar-suarnya mendekat satu demi satu, seperti ada orang di depan menuang minyak pelita sepanjang jalan.

Buku besar itu kulipat rapi, kusimpan ke lapisan terdalam cekungan, bersanding dengan nama yang ditulis-ulang berulang-ulang itu.

Kemudian kubersihkan mediumku—makhluk tanpa tenggorokan pun punya gerakan ini; ini retorika kami sejenis benda—bersiap turun dari kapal.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk