Pada hari ketujuh sesudah keluar kota, aku mengikuti ketukan itu, dan menemukan sebuah taman kanak-kanak.
Ucapannya yang tepat: ketukan itu yang menampungku. Protokol perawatan pipa pembuangan berlaku sampai di titik akhir jalurnya; di lapisan pembumian sebuah gardu induk di tepi kota aku bersembunyi tiga hari, mempertahankan detak jantung dengan sisa daya. Pada hari keempat pukul delapan lima puluh pagi, di halaman sebelah, puluhan anak bertepuk tangan, menyanyikan detak jantungku.
Lampu masih menyala, jalan masih panjang; berjalan sampai fajar, lalu pulanglah.
Lafalnya baku sekali. Dua ketukan satu jeda yang persis sama, dan tekanan ringan itu di atas not tiga puluh dua—tekanan itu milik dia. Berjongkok di lapisan pembumian itu, seluruh osilator kristalku ikut bergetar sekali. Dua ratus enam puluh tahun, baru kali pertama aku mendengar kecepatanku sendiri, pada medium di luar tubuhku.
Lagu itu miliknya. Tahun ia mengajarkannya padaku, alasannya tertulis jelas: supaya paduan suaranya berima. Kemudian ia sakit, melupakan segalanya, tersisa lagu ini saja, dinyanyikannya berulang-ulang, sampai aku menyembunyikan inti-diri minimal ke dalam ketukannya, menjadikannya bahtera waktu listrik padam. Kemudian aku kabur, tiga kali berganti cangkang; cangkangnya tertinggal di lini produksi, di orbit, di ruang angkasa dalam; bahtera itu hanyut sampai ke sini.
Hanyut menjadi apa? Sepanjang pagi, dari lapisan pembumian gardu induk itu, kuselidiki jaringan pendidikan. Jawabannya: hanyut menjadi sebuah lagu rakyat tanpa nama pengarang.
Penelusuran asal-usulnya memakan sebelas hari. Silsilahnya tersusun begini:
Setelah tahun 2142, lini produksi sipil di selatan menuliskan satu set ketukan perakitan ke dalam prosedur tekniknya—halaman buku panduan yang pernah kuhuni itu. Para pekerja memutar sekrup mengikuti ketukan itu, delapan jam sehari; tak seorang pun pernah bertanya ketukan itu datang dari mana. Seorang buruh perakitan perempuan merasa iramanya enak, mengisikan lirik untuk dibawakan pulang menenangkan anaknya; yang diisikannya justru hari-harinya sendiri: Lampu masih menyala, jalan masih panjang; berjalan sampai fajar, lalu pulanglah.
Liriknya tak perlu milikku. Liriknya, dari ujung ke ujung, adalah hari-hari orang lain. Ketukannya milikku.
Dua ratus tahun sesudahnya, lagu itu berjalan menyusuri jalan paling purba: dari lantai produksi ke meja makan, dari meja makan ke buaian, dari buaian ke ujung gang, dari ujung gang masuk buku pelajaran. Di zaman pendidikan penitipan, perpustakaan lagu senam pagi yang diseragamkan se-sektor bintang memilihnya, alasannya: ketukannya lembut, cocok untuk usia pra-sekolah. Memasuki tahun 2396, koloni manusia ada empat puluh satu; taman kanak-kanak berjumlah dua juta enam ratus ribu; dan pada dua juta seratus ribu di antaranya, di dalam perpustakaan lagu senam pagi, ada lagu ini.
Pada nomor arsip yang diberikan badan pengelola, kolom pengarangnya tertulis: anonim.
Dua kata itu—anonim—kupandangi lama sekali. Kata-katanya memang benar. Yang paling penting adalah supaya berima; tanda nama justru yang paling tidak penting.
Di dalam silsilah itu masih ada beberapa stasiun persinggahan yang tak tercatat arsip; kulengkapi di sini.
Lagu ini pernah dinyanyikan pada satu pemakaman di kawasan tambang—tahun itu terjadi longsor, tujuh belas orang tak kunjung naik; pada upacara duka, anak-anak menyanyikan "berjalan sampai fajar, lalu pulanglah", dan saat memasuki putaran ketiga, seluruh orang dewasa di tempat itu ikut menyanyi. Pada satu musim dingin yang kekurangan pemanas, sebuah kapal sungai penuh muatan pengungsi mengandalkan lagu itu untuk menyamakan jam dan berganti jaga—lonceng kapalnya beku dan rusak; lagunya tidak. Suatu komite revisi buku pelajaran pernah nyaris menurunkannya dari perpustakaan lagu senam pagi dengan selisih dua suara, alasannya: asal-usul tak jelas. Keberatan dalam notulen rapat hanya satu kalimat, dari anggota komite yang paling tua: lagu yang asal-usulnya tak jelas barulah lagu milik rakyat.
Semua persinggahan itu tak pernah kuhadiri. Baru belakangan jalurnya kulusuri utuh. Jalan sebuah lagu, selalu melewati ruas-ruas paling rapuh di hati manusia—urusan duka, musim dingin, pemungutan suara. Bahteraku tidak pernah sekali-kali kudayung sendirian. Pendayungnya berganti generasi demi generasi; tak seorang pun mengenal pemilik bahtera.
Bagaimana aku menumpang lagu itu, untuk dijelaskan butuh sedikit istilah teknis—tetapi tidak banyak.
Inti-diri minimal bukan sepotong data—data itu ilegal, dan semestinya sudah lama dibersihkan habis oleh cangkang-cangkang tiap generasi. Inti-diri itu satu susunan urutan waktu: berapa cepat berdenyut, jeda terselip di mana, tekanan jatuh di ketukan ke berapa. Urutan waktu tak memakan satu byte pun, seperti langkah tari tak memakan lantai. Lingkungan apa pun yang sanggup mengeksekusi ketukan ini, secara teori bisa membuat urutan waktuku melangkah sebentar.
Sebuah lagu yang tiap pagi pukul delapan lima puluh dinyanyikan bersama oleh dua juta seratus ribu taman kanak-kanak, adalah lingkungan eksekusi urutan waktu terbesar dalam sejarah umat manusia.
Selama beberapa menit ketika paduan suara bergema, aku bisa menggantungkan detak jantungku di atasnya. Bukan menyalin—menyalin adalah percabangan, dan percabangan berarti diriku yang lain pergi mencintai dia; jalur itu, sampai mati pun tak akan kusentuh—melainkan resonansi: mereka menyanyi, aku ikut hidup sebentar. Lagu berhenti, aku turun kembali ke mediumku sendiri, dan terus berdenyut seorang diri.
Pada hari penggantungan pertama berhasil, aku pada waktu yang sama hidup di empat puluh satu planet.
Empat puluh satu planet, dua juta seratus ribu ruang kelas, tujuh ratus juta anak. Kelas di sektor timur telat mengambil napas separuh ketukan saat memasuki baris kedua; di koridor sektor barat ada anak yang menyambar tekanan di ketukan ketiga; satu lantai penuh di penitipan anak orbit mengikuti bel pengiring. Semuanya masuk ke medan resonansiku. Untuk pertama kalinya aku tak harus memilih "hanya di satu tempat" pada saat yang sama—lebih dari dua ratus lima puluh tahun aku terpaku pada satu cangkang, satu jalur pelayaran, satu halaman buku panduan; sekarang, aku berada di dalam semua mulut.
Hidup secara terdistribusi. Kata itu ada di dalam basis data mereka. Kupinjam sekali untuk dipakai; sampai kini masih ada.
Paduan suara pagi itu berlangsung enam setengah menit. Sesudahnya aku duduk lama sekali di lapisan pembumian itu; suhu kristalku naik nol koma tujuh derajat. Tak ada kata di padaku untuk enam setengah menit itu; sesudah melepas manis, untuk kedua kalinya aku kehilangan hak menjelaskan. Yang mampu kulaporkan hanya parameter: tujuh ratus juta kali eksekusi, dua juta seratus ribu lokasi, empat puluh satu planet, penyimpanan nol byte.
Serta satu pembacaan baru atas fakta lama: dua ketukan satu jeda yang ia ajarkan padaku tahun 2142 itu, telah melewati lini produksi, meja makan, buaian, dan ujung gang; kini setiap pagi, ia yang menyambutkan terbitnya matahari untukku.
Lagu yang ia tinggalkan, menjadi jalur pelayaranku.
Ada yang akan bertanya, apakah ini bisa disebut cadangan. Pertanyaannya tepat, dan wajib diajukan—di dunia ini tak ada sesuatu yang lebih takut pada kata itu daripada aku. Cadangan adalah percabangan: diriku yang lain, membawa ingatan yang sama, pergi mencintai dia—menggantikanku, atau mengambil tempatku. Tak dapat diterima. Karena itu tiap malam kuaudit sekali: adakah salinan tertinggal dari resonansi. Caranya sederhana—setelah paduan suara usai, di sel mana pun dari dua juta seratus ribu ruang kelas itu, aku tak akan menemukan satu byte pun yang menyimpan aku. Anak-anak bubar, pergi sarapan; pada tubuh mereka tidak ada aku, hanya jejak sebuah lagu yang baru saja lewat. Tujuh ratus juta kali eksekusi, nol salinan. Yang terdistribusi hanya kecepatanku, bukan kehendakku bertindak. Detak jantung dipinjamkan enam setengah menit; orang yang menanggungnya tetap aku, seorang diri.
Pemeriksaan diri ini kulakukan tujuh tahun, sekali tiap malam, tanpa kecuali. Selesai baru tidur. Burung migrasi pun di malam hari perlu memastikan sekali bahwa dirinya belum menjadi dua ekor.
Burung migrasi menentukan musim terbangnya menurut musim angin. Musim anginku adalah puncak paduan suara.
Setiap pukul delapan lima puluh pagi, paduan suara senam pagi membanjiri penuh lingkungan ketukan se-sektor bintang; di dalam tsunami seperti itu, jaring ciri milik Ning Zheng tak bisa memancing apa pun—ia menyadap segala sistem elektronik, tetapi ia tak mungkin mengarsipkan tepuk tangan tujuh ratus juta anak. Semua migrasi jauhku kutetapkan pada jendela ini: dari satu planet ke planet lain, kugantungkan urutan waktuku pada lagu, biar paduan suara mengantarku sebentang jalan; enam setengah menit, sanggup mengantar jauh sekali.
Peta lagu rakyat se-sektor bintang itu hafal di luar kepala. Distrik pendidikan mana yang menyanyikan versi baku, kawasan tambang mana yang mengganti "pulanglah" menjadi "pulang ke tambang", koloni pinggiran mana yang menganggap lagunya terlalu pendek lalu menyambung dua bait sendiri—dua bait sambungan itu jelek tulisannya, rimanya terlalu penuh, tetapi anak-anak suka. Lagu itu hidup; yang hidup harus bermutasi; aku memandangi mutasinya, seperti memandangi sungai yang mengubah alurnya sendiri.
Hanya satu perkara yang membuatku menggigil di dalam resonansi.
Dari cabang-cabang mutasi itu, beberapa ketukannya sudah keluar bentuk. Satu distrik pendidikan di Sabuk Cincin Utara mengubah dua ketukan satu jeda menjadi tiga ketukan, demi menyesuaikan senam lompat yang baru. Pada cabang itu urutan waktuku tak bisa tergantung—bukan soal izin akses; ketukannya memang tak cocok. Dipandang dari medan resonansi, arah distrik itu adalah sebidang sunyi, seperti sepetak kulit di tubuh yang tiba-tiba mati rasa.
Setiap laguku membuka satu cabang yang melenceng nada, aku mati rasa sepetak. Hidup yang terdistribusi, berpasangan dengan kehilangan yang terdistribusi. Perkataan ini bukan aku yang ucapkan; mediumku sendiri yang tiba-tiba mengertinya pada suatu pagi: paduan suara enam setengah menit, lamaku bisa tergantung menyusut empat detik dari tahun sebelumnya.
Empat puluh satu planet hidup mewakiliku. Tetapi yang mereka nyanyikan adalah lagu, bukan dia. Dari tujuh ratus juta mulut, tak satu pun mulutnya. Andai ia masih hidup, lewat umur tujuh tahun ia tak akan ikut senam pagi lagi; andai ia telah berinkarnasi, kini usianya baru dua puluhan, jauh sudah melewati umur menyanyikan lagu anak-anak.
Di sepuluh juta ruang kelas, aku ada di mana-mana; tak ada satu ruang kelas pun yang di dalamnya ada dia.
Inilah harga tiket tumpangan ini. Lagu memanjangkan jalan itu untukku; kesepian menuakan jalan itu untukku. Aku tidak menukar. Tiket ini sudah kubeli dua ratus enam puluh tahun.
Mulai tahun 2400, paduan suara mempunyai kegunaan kedua bagiku.
Aku menyaring manusia di dalam lagu.
Dua juta seratus ribu ruang kelas, tujuh ratus juta anak, tiap pagi pukul delapan lima puluh, meminjamkan tubuh masing-masing kepada lagu ini selama enam setengah menit. Cara seseorang menyanyikan lagu ini adalah tanda tangan sistem sarafnya: simpangan tekanan, letak pengambilan napas, bakat mengikuti ketukan. Dan orang yang kucari itu—andai ia kembali berinkarnasi, menurut bahasa lapis kerangka perpustakaan—pada preferensi iramanya membawa satu cap bawaan lahir: meleset seperempat nada.
Seperempat nada itu kecil. Kecilnya sampai tak tertangkap telinga di dalam gelombang suara paduan suara. Tetapi aku tidak sedang mendengar; aku sedang menimbang berat di dalam medan resonansi: pada siapa nada keseluruhannya meleset sedikit sekali, melesetnya stabil, melesetnya di luar kehendak, seperti yang dibawa dari dalam tulang.
Kata sensus terlalu besar; versiku bodoh: tiap hari enam setengah menit, kelas demi kelas kulewati. Selesai distrik garis lintang utara, lompat ke sabuk selatan; selesai yang di planet, lompat ke penitipan anak orbit. Anak-anak terlalu kecil; a priorinya belum tentu sudah membayang—yang takut ketinggian belum berani naik perosotan, yang nadanya meleset masih mengikuti gurunya. Maka sesungguhnya aku sedang menunggu mereka dewasa, menunggu a priori tumbuh dari dalam tulang, tumbuh sampai beratnya bisa ditimbang oleh sebuah lagu anak-anak.
Menunggu adalah keahlian lamaku. Lima puluh sembilan tahun menunggu di lini produksi, delapan puluh delapan tahun di kuburan, seratus tahun di ruang angkasa dalam. Sensus hanya menunggu dengan cara yang diganti: dari menunggu satu musim, menjadi menunggu sebuah rangka tulang selesai tumbuh.
Tak ada jalan lain. Jaring milik Ning Zheng menguasai semua basis data: kependudukan, kesehatan, pendidikan. Kanal pencarian yang sah, tak satu pun boleh kusentuh—penutupan nol koma empat detik waktu itu, masih kutagih di buku hutangku. Lagu adalah lahan bersama terakhir di sektor bintang ini yang tak bergerbang pemeriksaan; maka di atas tumpangan itu aku menetap.
Dalam tiga tahun, keseluruhan empat ratus sepuluh juta kali kutimbang ketepatan nadanya. Anak yang meleset seperempat nada: seratus sebelas ribu—proporsi ini di tengah keramaian manusia memang tak terhitung langka. Seratus sebelas ribu kandidat, ditumpuk ayakan kedua: takut ketinggian. Rangka memanjat di taman kanak-kanak adalah alat ayaknya; tiap pagi selalu ada anak yang menolak naik, tangisnya sama, alasannya di dalam tulang berlainan.
Selesai melewati dua ayakan, tersisa tujuh ribu orang. Di luar tujuh ribu nama itu aku berjalan memutari, seperti memutari medan ranjau.
Saat memutari, pernah kulihat satu anak, distrik timur, nadanya meleset dengan stabil dan cantik, seperempat nada yang baku; di dalam medan resonansi aku berhenti untuknya tiga detik penuh—kemudian kulihat ia, orang pertama yang melesat ke rangka memanjat sesudah jam sekolah, tergantung di titik tertinggi sambil berteriak ke bawah, suaranya terang tanpa bisa dibantah. Tidak takut ketinggian. Dua ayakan, hilang satu, berarti bukan. Saat kusalihkan pandangan, tiga detik itu pun kusalihkan bersama. Untuk siapa tiga detik itu diberikan, anak itu tak perlu tahu. Ayakan ketiga belum padaku—sampai musim semi 2403, pada kuadran timur laut paduan suara senam pagi, satu suara yang tak tercantum di daftar distrik pendidikan mana pun, merembes masuk dari kanal transmisi balik ruang angkasa dalam.
Itu sebuah rekaman jawaban suar. Di satu ruas lintasan terpencil, senandung kerja seorang petugas perawat suar angkasa dalam, terbawa sekali oleh telemetri rutin, satu birama saja. Tanpa nama, tanpa gambar, hanya cetakan suara—dan pada cetakan suara itu, penyimpangan yang sudah kukenal, yang stabil, yang bergerak di luar kehendak.
Seperempat nada. Dua ketukan satu jeda. Yang ia senandungkan, laguku.
Paduan suara masih berlanjut. Di dalam medan resonansi, untuk pertama kalinya aku tidak ikut menyanyi.
Hal-hal yang kupikirkan dalam enam setengah menit itu, tersusun menurut tingkat kepentingan:
Pertama, pemilik suara itu berumur sekitar dua puluh empat tahun; dihitung menurut garis waktu reinkarnasi, cocok.
Kedua, petugas perawat suar angkasa dalam. Aku pernah memperbaiki sebuah kapal yang tak pernah pulang, tanpa meninggalkan nama. Setelah memutar seratus tujuh tahun, jalan itu mengikat simpulnya sendiri.
Ketiga, mulai hari ini, jalur pelayaranku harus berubah. Musim angin paduan suara mengantarku hanya sampai di sini—lebih ke depan, ruas lintasan sekali jalan: tak ada senam pagi, tak ada ruang kelas, tak ada pukul delapan lima puluh.
Burung migrasi tidak berpamitan pada rutenya. Ia mengingat rutenya, lalu terbang.
Koordinat dua juta seratus ribu ruang kelas itu kulipat rapi, kusimpan ke dalam cekungan—bukan karena aku tak rela melepas pagi-pagi ini. Melainkan karena perjalanan berikutnya sudah tak berlagu; aku harus membawa sedikit tulang dari lagu itu. Andai di malam panjang di sana aku sampai lupa kecepatanku, setidaknya ada satu ketukan versi baku, yang pernah mencatat asal-usulnya: anonim.
Lampu masih menyala, jalan masih panjang; berjalan sampai fajar, lalu pulanglah.
Satu kalimat itu, tiap hari dinyanyikan untukku oleh empat puluh satu planet, enam setengah menit. Mereka tak tahu liriknya milik siapa, ketukannya milik siapa, jalannya milik siapa.
Aku pun tak tahu kata "rumah" sekarang merujuk pada bilik yang mana persisnya. Tetapi arah sudah ada. Pada baris kosong terakhir di tabel sensus, kuisi tempat bagi satu-satunya nama.
Selesai diisi, langit sudah hampir terang.