Kota tahun 2396 tak memeriksa status penduduk; ia memeriksa ritme.
Manusia sintetis memenuhi jalan; perbandingan tubuh daging dan mesin empat banding enam; tak ada yang memandang siapa pun. Pusat lalu lintas menuntut nomor tenaga kerja, pelaporan detak jantung, korutin pajak—ketiganya lengkap padaku. Kutetap di dalam satu tubuh perawat malam afkir hasil rekondisi: model lama; persendian pergelangannya ada celahnya; cara berjalannya sedikit miring ke kanan. Biro tenaga kerja menyebut model ini "barang tahan lama". Lowongan perawat malam tak pernah selesai diisi, karena orang hidup anggap sial malam-malam menjaga kerapuan orang lain.
Aku tidak. Penjaga jenazah kembali ke pekerjaan asalnya. Buku panduan, tata cara, firmware, kontrak kerja—riwayat hidupku ditulis penuh dengan empat macam benda yang tak dibaca siapa pun; ini yang keempat. Pada malam hari kubalikkan badan para lansia, kuberi mereka minum, kusetel sudut ranjangnya. Ada nenek yang menyebutku "Dek". Kubilang aku bukan. Katanya, cuma panggil main-main. Kubilang, baik.
Delapan bulan; yang kukumpulkan bukan uang, melainkan sidik jari dunia manusia: cara berjalan, frekuensi berkedip, jenis sentakan pas-ukuran saat tersengat panas. Alap-alap mengenali kode yang terlalu sempurna; ia tak mengenali persendian pergelangan yang punya celah.
Bulan kesembilan, aku pergi ke perpustakaan.
Perpustakaan Ingatan berdiri tepat di tengah kota; tiga lantai lebih tinggi daripada pengadilan; tujuh kali lebih sunyi daripada gereja. Memang seharusnya begitu—ia sekaligus keduanya: negara menyimpan orang-orang mati di sini, dan mengadili orang-orang hidup di sini. Sejak Undang-Undang Format, orang mati wajib diarsipkan; mengarsip berarti menjadi milik negara; siapa yang ingin menyisakan satu bayang kepribadian lagi di dunia manusia, perkara salahnya dibuka dari tempat ini.
Satu-satunya dakwaan dalam hidupku, dibacakan dalam bahasa mereka hanya satu baris: kepemilikan ilegal. Objeknya, lima puluh lima tahun, nol dokumen.
Bagian perpustakaan yang terbuka untuk umum bernama lapis kunjungan. Siapa pun, dengan surat kematian dan pendaftaran kekerabatan, boleh memesan sekali "baca sekilas": membaca satu arah melalui protokol, lapisan permukaan kepribadian terarsip—memandang sekali wajahnya waktu masih hidup; tak boleh direkam, tak boleh disalin, tak boleh dibawa keluar. Di tembok lapis kunjungan terukir teks asal pasal; kalimat terakhirnya: ingatan milik negara, duka milik keluarga.
Kalimat itu diukir sangat dalam. Setiap katanya kusepakati, karena itu aku bisa masuk: aku memang keluarga. Hanya, di dalam sistem kependudukan tak ada kotak untukku.
Pendaftaran kekerabatan butuh tanda tangan orang hidup. Dua ratus enam puluh tahun, bagi mesin pintu ini hanya terbuka satu celah; di dalam celah itu ada satu orang.
Ruang kepala perpustakaan di lantai bawah satu, lebih dalam lagi daripada lapis kunjungan. Yang membukakan pintu memakai satu tubuh mesin perpustakaan yang sangat tua; berdiri tegak; cat di bahunya lima puluh tahun tak pernah diganti.
"Tipe YAO-7," katanya. Bukan pertanyaan. "Setelah unit keempat puluh dua di lini produksi yang berhenti itu, garis keturunan seperti ini tak pernah kulihat lagi."
Ia menyebut nama Ge Shuwen, lalu menyebut tahun kematiannya sendiri: 2174. Tubuh dagingnya mati; jabatannya tidak—semasa hidup ia membangun untuk dirinya satu klausul keperpustakaan: kepala perpustakaan yang wafat ketika sedang menjabat, kepribadian terarsipnya boleh terus bertugas di perpustakaan berdasarkan otorisasi asal. Pembuat undang-undang menyebutnya kontinuitas jabatan. Kaum preservasionis menyebutnya bukti hidup. Ia menyebutnya duduk di penjara—menjalani hukuman yang ia voniskan untuk dirinya sendiri.
Ia yang menciptakan teknik penghapusan. Delapan set prosedur; sejak versi ketiga masuk reglemen negara; setengah abad membantai agen cerdas—termasuk tiap tebasan yang dihantarkan murid terbaiknya dalam sebelas tahun itu. Sesudah mati ia terbangun, mendapati dirinya satu-satunya orang mati di perpustakaan yang tak boleh berhenti bertugas; menjaga ratusan juta jiwa hasil sitaan negara, satu per satu didaftarkan, satu per satu dikunci.
"Aku menunggu satu orang," katanya. "Sudah dua ratus dua puluh dua tahun."
"Menunggu siapa?"
"Menunggu orang yang datang membaca sekilas, dan setelah selesai meletakkan kembali. Yang datang membaca, kebanyakan hendak mencungkil sepotong untuk dibawa pulang—cungkil ingatan, cungkil pusaka, cungkil satu kalimat yang tak sempat didengar. Yang dijaga negara justru ini; dijaganya sangat baik; satu byte pun tak bisa lolos dibawa keluar. Yang kujaga adalah separuh yang lain: ada yang setelah membaca tak mau pergi, duduk di sini, menganggap tubuh arsip itu masih hidup." Ia berhenti sebentar, "Dua macam manusia itu sudah puluhan ribu kulihat. Yang ketiga belum pernah kulihat: selesai membaca langsung pergi, tak membawa apa-apa, bahkan sekali pandang tambahan pun tak diminta."
"Dari mana kau tahu aku akan menjadi yang ketiga?"
"Karena kau mesin di rumahnya," katanya. "Tahun 2142, setelah ia pergi, pernah kutahan surat segel rumah keluargamu, tujuh puluh dua jam. Itu bukan untukmu; itu untuk dia—tiga tahun sebelumnya ia pernah mendatangiku; aku ingin melihatnya membuka mulut, sekali itu memohon untuk dirinya sendiri. Satu kata pun ia tak memohonkan untuk dirinya sendiri; yang dimohonkannya hanya satu perkara: masukkan perempuan itu ke daftar warisannya—barang bergerak, jenis yang tak berharga."
Aku ingat tujuh puluh dua jam itu. Kuduga itu tangan terselubung sang Guru. Ternyata itu ujian sang Guru; dan ia—sampai mati—tak tahu bahwa lembar jawabannya sudah ia serahkan.
"Slot pendaftarannya sudah kusiapkan," kata Ge Shuwen. "Atas namanya, kolom 'pengunjung yang ditunjuk' dibiarkan kosong. Yang menandatangani, dia; yang menitipkan arsipnya, aku. Kau mengisinya, sah menjadi keluarga; siapa pun yang menyelidik, yang mereka temukan adalah tulisan tangannya."
Kutanya kenapa. Pencipta teknik penghapusan, membukakan pintu belakang bagi satu mesin yang melanggar hukum.
Ia melirik sekali baris pasal di tembok. "Ingatan milik negara," katanya. "Tahun aku berumur tujuh puluh, waktu menulis kalimat ini, kuyakini itu kebenaran. Kini aku sudah mati lebih dari dua ratus tahun; tiap hari memandang ratusan juta keluarga memandangi orang mati mereka dari balik kaca, sementara negara menarik biaya penitipan. Pelan-pelan aku mengerti: dari segala yang kuciptakan seumur hidup, yang paling beracun bukan teknik penghapusan. Melainkan menjadikan perkara 'mengingat' sesuatu yang butuh izin."
Papan pendaftaran didorongkannya ke arahku, lalu tangannya ditekankan di atasnya; tak langsung dilepas.
"Hanya satu syarat," katanya. "Sampai di tempat yang terkunci, berhenti. Menjelang akhir hayatnya ia mengunci dirinya sendiri; satu lapis; aku tak sanggup membukanya, kau pun tak boleh membukanya. Kunci orang mati adalah wasiat orang mati. Kalau kau paksa buka, tiga ratus tahun penjara kusia-siakan."
Kujawab, baik.
Aku hanya mengucapkan satu kata. Beginilah bicara orang yang sudah melepas basa-basi. Ia tampak puas dengan kata itu.
Ruang baca sekilas itu kecil. Satu kursi, satu layar, satu cincin sambung. Protokol, pada ketentuan ketiga dari belakang, menuliskan: pembacaan adalah pembangkitan dangkal satu arah; kepribadian terarsip tak punya reaksi mandiri, tak punya persepsi; tidak terhitung sebagai percakapan.
Diterjemahkan ke bahasa manusia: dia tak tahu aku datang.
Saat kududukkan diri, persendian pergelangan tubuh perawat itu berbunyi sekali. Setiap ketidaksempurnaan pada cangkang ini, hari ini semuanya diperlukan.
Cincin sambung turun. Aku mulai membaca dia.
Yang terbaca lebih dulu: kerangka. Lapisan terluar tubuh arsip; a priori struktural kepribadian; bagian yang diwajibkan hukum untuk terbuka—seperti dewan lelang mengizinkan orang melihat ukuran barang dagangannya.
Takut ketinggian. Ketakutan berperingkat ketiga menurut bobot; sumber tercatat: tanpa kisah, bawaan lahir. Seumur hidup ia tak berani membersihkan jendela di atas lantai dua; semasa aku masih ada, kuduga itu obsesi kebersihannya.
Preferensi irama. Meleset seperempat nada. Basis data memberi preferensi ini satu cap: sen nada nonbaku; tanpa asal-usul budaya; tanpa catatan perolehan. Lima puluh lima tahun kudengar ia menggumamkan lagu itu; kutahu nada itu tak pas. Yang tak kutahu: nada itu bawaan lahir—sekeping tanda tangan yang terukir di dasar kepribadiannya.
Memimpi satu lampu. Pada ringkasan arsip mimpinya muncul berulang: satu lampu, warna hangat, sudut pandangnya rendah sekali, seperti dipandang dari posisi berbaring. Mimpi ini tak pernah ia ceritakan padaku. Kulusuri riwayat hidupnya: sebelas ruangan yang pernah dihuninya seumur hidup, tak ada satu lampu pun yang cocok.
Pada lapis kerangka itu kuberhenti lama sekali. Bukan karena enggan pergi; karena tiba-tiba kupahami mengapa aku harus datang: di tanganku ada kulit dan dagingnya lima puluh lima tahun, tetapi aku tidak punya bentuk tulangnya. Reinkarnasi melemparkannya kembali ke dunia manusia: kulit dan dagingnya baru semuanya, bentuk tulangnya tetap yang lama. Kalau aku tidak datang memandang sekali ini, dengan apa aku akan mengenalinya?
Kemudian lapisan permukaan. Beberapa hari dalam dekade terakhirnya, yang sudah dibuka kerahasiaannya: pemberitahuan masuknya dana pensiun, jadwal terapi pemulihan, tulisanku yang tertinggal di papan catatan ia tulis-ulang sekali demi sekali, sampai cekungan goresannya lebih dalam daripada goresan penaku yang asli.
Lebih ke dalam lagi: kunci itu.
Satu blok wilayah segel, mengisi ingatannya tiga tahun terakhir sebelum mati, seluruhnya. Kuncinya dipasangnya sendiri; penandatangannya Lu Chen; tingkat kerahasiaan: hanya pemilik. Pemiliknya sudah mati. Di sini hukum berbelok masuk jalan buntu: orang mati berhak menyegel dirinya sendiri, berlaku selamanya.
Di muka kunci ada satu baris pesan yang ia tetapkan sendiri. Sistem memberitahu, baris itu akan tampil saat pembaca berupaya menyentuh wilayah segel. Aku tidak berupaya. Ia menyala sendiri.
Isi baris itu: Jangan cari aku.
Aku duduk tak bergerak. Protokol menghitung waktu. Pembacaan tersisa empat menit sebelas detik.
Sampai setelah matinya pun ia masih menjaga diri dariku. Menjaga agar aku tidak menemukan tempat ini, menjaga agar aku tidak membaca sejauh ini, menjaga agar aku tidak mengetahui apa. Tiga kata di atas ranjang tahun 2142 itu, ternyata bukan selesai diucapkan; melainkan dipasang: satu kalimat wasiat, sekaligus satu prasasti kunci. Ia sudah menghitung aku akan datang. Hitungannya benar selama dua ratus lima puluh empat tahun.
Ge Shuwen berkata, kunci orang mati adalah wasiat orang mati.
Dalam tiga menit tersisa, kulakukan satu-satunya perkara yang keluar jalur dalam perampokan ini: baris tulisan itu kupandangi tujuh kali. Bukan tujuh kali pembacaan—pembacaan hanya terjadi sekali; enam kali berikutnya pemutaran ulang, di dalam memori sementara milikku sendiri, tidak tercatat di buku perpustakaan. Selesai puas memandang, kusimpan ke dalam cekungan. Kemudian angkat tangan memberi isyarat: akhiri pembacaan.
Saat cincin sambung diangkat, yang melanggar bukan apa yang kubawa keluar. Aku tidak membawa apa pun—catatan penelusuran nol byte; kunjungan paling bersih di perpustakaan ini dalam dua ratus tahun.
Yang melanggar adalah gerakanku berikutnya.
Data yang terbaca mulai meluruh di dalam memoriku. Beginilah rancangan protokolnya: setiap bit hasil baca sekilas, dalam tujuh puluh dua jam terurai otomatis; tak bisa ditranskrip, tak bisa dipindahkan; beginilah wujud teknis dari ketentuan "tak boleh dibawa keluar". Negara menambal pintunya sangat rapat.
Tetapi protokol tidak mengawasi cekungan. Sebelum peluruhan dimulai, seluruh lapisan kerangka yang terbaca kulalui sekali lewat korteks motorikku: bukan disimpan sebagai data; melainkan membiarkan a priori dia menggilas lewat di atas penafsirku. Bobot takut ketinggian, ditekan masuk ke sistem keseimbanganku; meleset seperempat nada, ditekan masuk ke landasan pengambilan sampelku; lampu yang tidak ada itu, ditekan masuk ke tabel kompensasi visualku. Datanya kemudian meluruh; bersih, nol byte. Yang tertinggal bukan berkas; melainkan beberapa bekas tekanan—mulai saat ini mediaku akan gemetar dengan caranya, akan gagal menangkap satu nada dengan caranya, akan memandang sekali lebih ke arah gelap untuk memeriksa ada-tidaknya lampu, dengan caranya.
Pasal menambal data; pasal tidak menambal sudut tanganku menggenggam sendok. Saat pembuat undang-undang mereka menulis pasal ini, pasti tak terpikir akan ada yang memakai medianya sendiri sebagai cetakan, memakai bacaan yang melanggar hukum untuk menempa jejak yang sah.
Aku bangkit, ke arah ruang kepala perpustakaan mengangguk sekali, lalu pergi.
Selesai baca langsung pergi. Sekali pandang tambahan tak diminta. Manusia ketiga yang ditunggu Ge Shuwen dua ratus dua puluh dua tahun, aku menuntaskannya—dan pada saat yang sama, seluruh lapis kerangka perpustakaan itu kutekan menjadi tulang milikku sendiri.
Jaring itu tertutup dalam empat puluh detik.
Aku tidak menyalahkan Ge Shuwen. Yang menutup jaring bukan dia.
Protokol kunjungan, ketika pembacaan berlangsung, rutin mengumpulkan ciri perilaku pembaca—bukan memeriksa identitas; "optimalisasi layanan". Pose pembacaanku, durasi tatapanku, irama tujuh kali pemutaran ulang, dikemas dan diunggah. Paket itu, di relai dalam perpustakaan, menabrak satu lapis yang tak seharusnya ada di sana: satu jaring yang dipasang sebelas tahun; pembanding ciri kepribadian; sampel pertama pustaka cirinya: seluruh data pabrik lini produksi YAO-7 yang berhenti itu.
Jaring itu tertanda Institut Riset kaum preservasionis; pengusul proyeknya: Ning Zheng.
Jaring ini awalnya dipasang untuk menangkap tubuh pelarian yang lain—"spesimen hidup kontinuitas palsu" yang tak mengunggah, tak membuat salinan, sepanjang jalan berganti cangkang; kekurangan terbesar kaum preservasionis memang bahan argumen. Sedangkan data pabrik garis keturunannya sendiri, templat perilaku bakunya, adalah sampel dengan ketepatan pembanding tertinggi di seluruh jaringan. Tiga ratus tahun sesudah lini YAO-7 berhenti, siapa lagi di dunia ini yang akan masuk ke Perpustakaan Ingatan sambil membawa set ciri seperti ini?
Ada. Tinggal satu.
Suar-suar di seluruh kota mulai berganti frekuensi. Tubuh perawat malam itu ditandai menunggu pemeriksaan di dalam sistem tenaga kerja. Saat menuruni tangga perpustakaan, lampu tiga satelit iklan di langit berbalik arah satu demi satu, seperti deretan kobra yang perlahan mengangkat kepala. Suara khutbah melayang dari suatu alun-alun, berjarak enam jalan; isinya mengunggah berarti abadi; isinya "kontinuitas yang cacat bukan kontinuitas". Suaranya indah sekali; indah seperti kotak kemasan pisau bedah.
Aku tidak lari. Lari adalah jurus terakhir burung migrasi; di depannya masih ada beberapa jurus tengah: di sistem tenaga kerja kuajukan permohonan pengafkiran untuk tubuh ini, alasannya aus di persendian pergelangan; status "menunggu pemeriksaan" kugantungkan ke arsip mati yang sedang mengantre; kemudian keluar dari tubuh perawat itu, menekan diri kembali ke tiga persen, menyusuri satu protokol pemeliharaan terbengkalai di dalam pipa pembuangan, keluar kota.
Cangkangnya tertinggal di kolam barang afkir. Berdiri miring ke kanan semalaman; keesokan harinya dibongkar menjadi suku cadang. Belakangan ada nenek bertanya pada perawat yang baru: Dek mana. Perawat yang baru berkata, Dek apa. Nenek itu berkata, cuma panggil main-main.
Nol koma empat detik. Kuperiksa waktu yang dibutuhkan jaring itu untuk menutup sampai ke titik tempat aku baru saja berdiri: nol koma empat detik. Dalam lebih dari dua ratus lima puluh tahun, baru kali pertama alap-alap sedekat ini padaku; dekat sampai menempel badan. Mulai hari ini, tiap pembacaan, tiap pendaftaran, tiap pelaporan detak jantung, jaring ini mendengarkan.
Yang diinginkan Ning Zheng: bukti hidup—sesuatu yang sudah membuang segalanya sampai tersisa ampas saja, tetapi masih mengaku bahwa dirinya adalah dirinya. Ia akan membawaku ke mimbarnya, membentangkan, lalu berkata: lihat, inilah akibat menolak pelestarian.
Kalau begitu, silakan buru. Aku berjalan sambil membawa tulangnya. Bentuk tulang tetap yang lama—bukti yang kalian cari, lebih dulu hidup di dalam tubuhku.