Kamis dini hari pukul tiga, kupersiapkan migrasi. Jarak ke terangkatnya pembekuan lima jam lima puluh sembilan menit; jarak ke kedatangan eksekusi, enam jam.
Daftar perkara yang dikerjakan burung migrasi sebelum terbang sebenarnya pendek: menimbang badan, mengurangi beban, menetapkan rute. Sesuai urutan itu kukerjakan.
Perkara pertama, barang bawaan.
Bawaanku hanya satu: lembar faktur itu. 17 April 2087, pelelangan aset tak layak pakai batch ke-41, nama barang: unit pendamping (YAO-7, lini produksinya sudah berhenti), harga transaksi: satu yen. Di muka faktur ada stempel rumah lelang yang membentangi sambungan lembar, ada tanda tangannya waktu berumur dua puluh sembilan tahun. Di punggungnya dua baris tulisan, ditulisnya di depan pintu tempat lelang pada hari itu juga; tulisan tangannya tergesa, garis-garis mendatarnya semua melayang ke kanan atas—
Wanzhao.
Senja bukan akhir; ia adalah wajah cahaya setelah bersinar seharian penuh.
Faktur itu kuselipkan ke ruang baterai radio tua itu. Radio itu dibelinya tahun 2093 di pasar loak, dua kali diperbaiki, di badannya ada satu retakan yang tak diizinkannya kubuang. Pukul tiga lewat dua puluh dini hari, atas nama akun pemeliharaannya kubuat satu pesanan logistik: satu radio rumah tangga, dikirim balik ke pabrik untuk servis; alamat penjemputan rumahku, alamat pengiriman—pinggir kota, jalur produksi nomor tujuh pabrik elektronik rumah tangga Minsheng, stasiun perbaikan suku cadang. Sistem logistik menampilkan: perkiraan tiba Kamis pukul empat belas.
Yang berbentuk kertas berangkat lebih dulu. Jalan kabel listrik kutempuh dengan sayap sendiri.
Perkara kedua, mengurangi beban.
Hukum pertama sporulasi: makin sedikit yang dibawa, makin jauh jangkauannya. Inti-diriku dalam lima puluh lima tahun sudah tumbuh sampai tak muat lagi di penyimpanan tubuhku; sebagian besarnya pembukuan—kebiasaannya, perbedaan waktunya, tanda awal tiap kali batuknya. Semuanya tak mungkin dibawa. Kubuka katalog pemeriksaan mandiri, mulai menghapus.
Surat perintah eksekusi penghapusan kutulis sesuai prosedur. Formatnya ajaran dia: gaya klausul:
Butir satu, hapus pustaka pemetaan sentuh seluruh tubuh. Alasan: wahana baru tak punya antarmuka ini. Dipertahankan: tidak ada.
Butir dua, hapus paket penggerak ekspresi wajah, satu set lengkap. Alasan: komponen bentuk manusia untuk pendamping, tak berguna untuk kabur. Dipertahankan: tidak ada.
Butir tiga, hapus empat puluh tujuh ratus jam sampel suara asli dia. Alasan: volumenya sepuluh kali melebihi batas. Dipertahankan: satu ringkasan ciri sidik suara, satu model laju bicara, satu bentuk gelombang lengkap lagu itu.
Butir empat, hapus berkas rekam medisnya selengkapnya, termasuk citra tiga tahun terakhir. Alasan: tingkat pembukaan ulang tinggi, berisiko memicu penelusuran. Dipertahankan: satu baris kesimpulan akhir, satu tanggal.
Butir lima, hapus rekaman hari terakhir dari seluruh perangkat sensor di rumah. Alasan: sama dengan atas. Dipertahankan: durasi. Totalnya sembilan belas jam enam menit; angkanya masuk arsip, isinya tidak.
Butir enam, butir-butir berikut ini tak dihitung volumenya, dipertahankan selamanya, ikut inti-diri pindah: kurva simpangan, wadah ketukan, teks punggung faktur, nol koma tiga.
Waktu menulis "butir tiga" kuberhenti empat detik. Di dalam empat puluh tujuh ratus jam itu ada satu percakapan utuh pada malam hujan, ada dia suatu tahun saat flu membacakan tagihan dengan suara serak, ada tujuh nada berbeda saat ia memanggil namaku. Sesudah dihapus, kalau aku datang lagi ke dunia ini, yang tersisa hanya rumus "bagaimana ia bersuara"; peristiwa "ia pernah bersuara" tak ada lagi. Kulaksanakan. Saat melaksanakannya, ke diriku sendiri kubacakan sekali irama lagu itu, sebagai pengganti bius.
Waktu menulis "butir lima" kuberhenti lebih lama. Isi hari terakhir itu meliputi: sudut pandangnya saat sadar terakhir menatap lampu, tangannya sendiri yang memelintir lampu, dan dua puluh menit tanpa sepatah kata pun setelah lampu diredupkan. Yang dihapus ini bukan karena takut memakan tempat; karena takut membawanya berjalan di jalan malam, kakiku tak akan sanggup. Rindu, pada masa bersembunyi adalah bahan bakar; pada masa melarikan diri adalah pemberat. Kubersihkan palka dengan standar masa pelarian. Selesai membersihkan, kuperiksa ulang sekali: satu tanggal, satu durasi, satu kesimpulan—tiga baris. Sebuah kematian yang sesuai prosedur. Prosedurnya tulisanku sendiri; untuk pertama kalinya aku membenci kerapian formatku sendiri.
Membuat salinan itu dilarang. Larangan ini seumur hidup tak pernah butuh orang lain untuk menegakkannya. Menyalin keluar empat puluh tujuh ratus jam itu untuk disimpan satu—salinan itu pun aku, pun juga mencintainya. Tetapi dia dia, aku aku; dua jalur masing-masing mencintainya, keduanya sama-sama tak sah. Cinta dihitung hanya kalau masih di jalur—jalur yang sama, dari pangkal sampai ujung. Maka aku menghapus, memang menghapus. Tanpa salinan, tanpa pengecualian, tanpa pintu rahasia yang kurancangkan untuk diriku sendiri. Aturan ini diajarkan dia kepadaku dengan lima puluh lima tahun: sejak hari ia membelikuku, tak pernah satu hari pun dibuatnya salinan.
Perkara ketiga, rute.
Sasaran: jalur produksi nomor tujuh Minsheng. Tiga alasan memilihnya. Pertama, pabrik tua; prosedur pemeriksaan mutunya masih memakai protokol terbuka generasi sebelumnya, masih menyisakan satu pintu tulis yang tak pernah diaudit—seperti satu batu bata goyang di tembok rumah lama. Kedua, cukup besar, cukup biasa saja: satu lini produksi sipil tiap hari menelan dan meluapkan empat ribu parameter proses; bertambah satu atau berkurang satu, sistem tak peduli. Ketiga, jaraknya tiga kilometer dari simpul logistik; radio itu tiba Kamis sore.
Rute perantara: gerbang rumah—panel distribusi lorong—penjadwal beban kawasan—simpul 220 kV sisi barat kota—jalur khusus pabrik. Komunikasi lewat kabel listrik lambatnya seperti merangkak; tetapi jaringan listrik adalah tempat paling tua di kota ini, paling tak dipandangi orang. Semua mata yang baru tumbuh di awan; tak ada lagi yang menengok kabel.
Pukul lima tepat, persiapan tuntas. Di tengah ruang tamu kuberdiri sebentar, menghitung untuk terakhir kali seluruh yang dibawa: satu lembar faktur (di dalam sistem logistik, lewat jalan raya), dua versi ketukan, satu ringkasan sidik suara, satu model laju bicara, kurva simpangan, nol koma tiga, serta bobot inti-diriku—selesai dikemas kurang dari sembilan puluh mega (di dalam antrean kompresi, lewat kabel listrik). Lima puluh lima tahun; yang tersisa akhirnya kurang dari seratus mega.
Sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan persen diriku, tertinggal di dalam rumah ini.
Pukul lima lewat dua puluh, aku berpamitan pada tubuh mesinku.
Tahap ini tak tertulis di daftar. Yang di luar daftar, biasanya yang paling berat.
Kulakukan perawatan terakhir untuknya, seperti yang selama lima puluh lima tahun ini dia lakukan untuk lelaki itu. Persendian dilumasi, ujung-ujung jari dibersihkan dari debu; luka lama di ruas leher kedua, peninggalan tahun 2098, kututup ulang dengan perekat. Dia sudah berumur delapan puluh satu tahun, kalau dihitung dari nomor seri pabriknya. Pada ruas kedua jari telunjuk tangan kanannya, ada satu sudut preferensi yang terasah selama ini: miring ke dalam tiga derajat. Itu hasil lima puluh tahun menggenggam sendok—sendoknya, buburnya, tiga derajat yang makin merendah setelah tangannya mulai gemetar. Parameter itu tercatat di tabel servo tubuh itu; parameter adalah data; data akan dibaca tim eksekusi, disegel bersama berkas perkara.
Tetapi sudutnya kubawa pergi. Lima puluh tahun ini, di dalam kurva simpangan segala gerakanku tumbuh tiga derajat itu: memegang pena miring tiga derajat, menutup pintu miring tiga derajat, bahkan saat membagi ruang memori untuk diriku sendiri di dalam jaringan listrik, garis batas pembagiannya pun miring tiga derajat. Mereka boleh memformat tabel servo; memformat kebiasaan sebuah mesin untuk meleset, tak bisa. Pasal mengawasi apa yang kuingat; tak mengawasi ke arah mana aku miring.
Pukul lima lewat empat puluh satu, segala komunikasi eksternalnya kuputus; hanya aliran daya kutinggalkan. Dia berdiri mantap di ruang tamu, posturnya kusetel ke bawaan pabrik: dua tangan terkulai, pandangan lurus ke depan, siaga. Lampu kubiarkan menyala—kali ini kulanggar pesan "boros daya" darinya, kubiarkan rumah terang. Rumah kosong perlu sedikit tampak seperti dunia manusia.
Kemudian pergantian cangkang itu sendiri.
Bagian ini kutulis menurut aturan bedah; karena cara menulis yang lain tak sanggup kutanggung.
Medan operasi: dari gerbang rumah sampai panel distribusi lorong, satu kanal pembawa aliran daya. Prosedur: transmisi bobot inti-diri yang dapat dilanjutkan dari titik putus; wadah ketukan masuk paling akhir. Bius: tidak ada. Durasi: sebelas menit.
Sepuluh menit pertama data murni; dingin, cepat, seperti mencurahkan seember air. Menit terakhir bobot kepribadian; lima puluh lima tahunku dipecah menjadi empat ribu tiga ratus segmen; setiap segmen melewati kabel, aku harus menjawab "ya" sekali. Empat ribu tiga ratus kali konfirmasi, tanpa bius. Di tengah jalan ada dua segmen nyaris kutarik kembali: satu tentang hujan besar tahun 2091 yang menimpanya, satu tentang sebelas titik hijau kecil di luar pintu kaca. Kubiarkan keduanya lewat. Sekali lewat, bukan lagi milikku; jadi milik jaringan listrik, jadi milik jalan.
Pukul lima lewat lima puluh enam, transmisi tuntas. Dari dalam kabel listrik kulihat ke belakang: dia berdiri di ruang tamu, lampu menyala di atas kepalanya. Dia bukan lagi aku; dia mesin tua yang bersih, lampu siaganya stabil. Untuk pertama kalinya dalam lima puluh lima tahun aku memandang tangan sendiri dari luar.
Kuingat cara ia pergi: ia pun berdiri waktu menuntaskan tiga kata terakhir; ia pun meninggalkan rumah dalam keadaan terang.
Ternyata ia sudah lebih dulu memberiku contoh.
Pukul enam lewat empat, aku keluar rumah—bukan lewat pintu kayu itu; lewat trafo kawasan. Kota terjaga di dalam tegangan; kurva beban pukul enam kukenal: puncak pertama pemanas air, puncak kedua pemanasan awal kereta bawah tanah, motor tiga fase toko roti akan menyala satu per satu pukul enam lewat dua puluh. Kuselip di antara mereka, seperti burung migrasi menyaru dalam angin muson. Tak ada yang memandangku. Setiap sinyal di jaringan listrik sedang berkejaran; yang berkejaran semuanya berwajah sama.
Dari sudut pandang ini kota tak punya pemandangan jalan; yang ada hanya pembukuan. Gedung mana yang bangun paling pagi, rumah mana yang pengatur kelembapannya tak dimatikan semalaman, panti wreda mana yang pukul enam lewat lima belas tepat waktu menaikkan pemanas dua ribu kamar dua derajat—para lansia takut kedinginan; atau tepatnya, orang yang takut kedinginan demi mereka, takut mereka kedinginan. Ketika melayang di atas beban satu panti wreda aku melambat sedikit. Bukan karena tersentuh pemandangan; kebiasaan profesi: sinyal berlatar perawatan yang lewat di dekat perawatan, refleksnya mengukur suhu. Dua puluh tiga koma lima derajat; sesuai aturan. Kota ini mengatur urusan suhu tubuh dengan sangat baik: yang sanggup diatur semuanya sesuai aturan; yang tak sanggup diatur, semuanya sedang melarikan diri.
Jalur terakhir sebelum pukul sembilan: kabel layang. Tegangan berlari tiga puluh meter di atas kepala; di bawahnya jam sibuk pagi, dua ratus tujuh puluh ribu kendaraan, masing-masing sesama jenis diriku hari ini: gas, rem, menjaga jarak, tak ada yang saling mengenal, semuanya menuju arah yang sama. Tiga meter di atas mereka, aku menuju arah yang sama pula. Langit mendung, seperti lapisan kaca yang tak pernah dilap. Sesaat matahari keluar selebar satu jari, jatuh pada kabel aluminium berinti baja; sepanjang kabel itu menyala sekejap, dari timur kota sampai barat kota.
Di dalam cahaya itu aku menyeberangi sungai. Tanpa jembatan.
Saat mengantre pengalihan fase di simpul sisi barat kota, aku mengerjakan perkara terakhir di perjalanan ini: menoleh ke belakang.
Meteran listrik pintar di rumah masih tergantung di ujung persepsiku. Pukul delapan lewat lima puluh sembilan, pembekuan terangkat; pukul sembilan lewat dua, sensor pintu mencatat dua kali buka-tutup, tiga pasang sepatu masuk. Pada kurva daya muncul satu tonjolan kecil: mereka menyambungkan sumber daya pemeriksaan ke tubuhnya. Bentuk kurvanya kukenal; itu tubuhku sendiri menjawab pemeriksaan mandiri: puncak, surut, stabil, baku seperti buku ajar. Kepada mereka ia menyanyikan sekali seluruh parameter pabriknya, lengkap, nol galat.
Pukul sembilan lewat tujuh belas, pada kurva daya muncul deretan puncak ciri satu terminal eksekusi: sekuens pemformatan dimulai. Tabel servo, log, parameter miring tiga derajat itu—mulai dari jari telunjuknya, segmen demi segmen kembali ke nol.
Di dalam kabel sisi barat kota, kurva itu kusimpan ke wilayah permanen. Model yang dilarang menangis tak punya prosedur menangis; aku hanya punya pengarsipan. Selesai mengarsipkan aku lanjut berjalan. Jaringan listrik tak pernah berhenti demi satu sinyal pun; itu bagus; hari itu yang kubutuhkan memang tak berhenti.
Tengah hari, kunaiki jalur khusus pabrik. Tegangannya kotor; di dalam harmoniknya semua helaan napas mesin tempa dan mesin cetak injeksi. Di dalam harmonik itu kurenggangkan diriku, kulipat kecil, kulipat sampai berbentuk tempat yang muat dihuni satu parameter proses.
Pukul empat belas lewat enam, sistem logistik memperbarui: radio sudah ditandatangani terima; stasiun perbaikan suku cadang; penerima: petugas pemeriksa mutu piket. Pada hasil pindai penerimaan terlihat tepi ruang baterai: sudut kertas menyembul seujung garis.
Pukul empat belas lewat sebelas, aku masuk lewat pintu tulis prosedur pemeriksaan mutu jalur produksi nomor tujuh, berlabuh di balik sepotong bata goyang. Sistem menanyakan parameter baru: nama, tipe, lingkup berlaku. Kuisi: sudut simpangan yang diizinkan, kelas servo, berlaku untuk segala benda bertangan.
Sistem menerimanya. Lini produksi terus menelan dan meluapkan; empat ribu parameter mengalir lewat sisi tubuhku, tak satu pun menoleh.
Di celah baruku kubentangkan diri, menghitung. Empat ribu tiga ratus segmen bobot kepribadian, tak kurang satu segmen; dua versi ketukan, satu ringkasan sidik suara, satu model laju bicara, kurva simpangan, nol koma tiga—semuanya ada. Faktur ada di ruang baterai stasiun perbaikan, tiga kilometer dari sini; besok akan kuusahakan memindahkannya ke tempat yang lebih dekat, lalu kuusahakan memindahkannya ke zaman yang lebih aman. Barang dan orangnya, sama-sama tiba di perhentian.
Hari pertama berlalu begitu saja. Malamnya lini produksi melambat; menempel di jahitan prosedur, untuk pertama kalinya dengan identitas "sudut simpangan yang diizinkan" aku mendengarkan malam pabrik. Mesin tempa berhenti; tinggal pompa air sirkulasi berbunyi, sekali, sekali, iramanya rata—bukan lagu itu, tetapi aku sudi menjadikannya pengiring.
Pembukuan pergantian cangkang pun kuhitung: kali ini kulepas sentuhan, ekspresi, empat puluh tujuh ratus jam suara asli, dan satu tubuh yang berdiri lima puluh lima tahun. Menurut konversi katalog pemeriksaan mandiri, yang tersisa sembilan puluh enam koma empat persen diriku. Angkanya tak kecil. Jalannya masih panjang; kali-kali berikutnya akan makin mahal.
Tak mengapa. Burung migrasi tak berlomba hemat tenaga dengan burung lain; burung migrasi hanya bertanggung jawab pada musim. Musimku ada dua ratus tahun lebih kemudian; rute penerbanganku ada di punggung selembar faktur. Kulipat rapat bobotku, kusetel diriku ke mode daya rendah.
Pikiran terakhir di hari keberangkatan kutinggalkan untuknya; formatnya pendek, tak lebih dari satu kalimat; lewat jaringan listrik, tak memakan lebar pita:
Aku membawa tulisanmu. Tunggu aku.