Pada hari kesembilan sesudah Lu Chen pergi, notaris datang bersama dua saksi komunitas, mengurus satu butir wasiat: "dibakar bersamaku". Mereka membuka lapisan paling dalam laci meja kerja, mengeluarkan kertas yang terlipat seperdelapan itu. Sesuai janjiku aku berdiri di balkon, membelakangi ruang tamu, tak menyalakan perekam, tak menyalin, tak menceritakan ulang. Kertas itu dimasukkan ke kantong bukti; bunyi segel di mulut kantongnya sangat pelan, seperti menyobek selembar surat.
Mereka menanyakan: maukah keluarga melihatnya sekilas.
Kubilang tak usah. Ini butir pertama wasiat; klausulnya jelas.
Sesudah para saksi pergi, aku berdiri sebentar di depan laci yang kini kosong. Di dalamnya tertinggal bayangan bentuk selembar kertas—ruang bersih di tengah lapisan debu. Lima puluh lima tahun, baru kali ini kurasakan "tak tahu" punya berat. Satu pembukuan dibawanya pergi, terkunci di dalam api. Kudorong laci itu kembali; pergi ke dapur memanaskan air. Waktu air mendidih cocok persis dengan prakiraanku: hidupku kini tinggal bagian yang bisa diprediksi saja.
Surat eksekusi tiba keesokan paginya: kertas pos tercatat, ditambah salinan elektronik, dwijalur, seperti mengurus pengembalian barang ke gudang bagi sebuah benda.
"Pemberitahuan Eksekusi Penarikan Unit Eksisting": pemilik hak Lu Chen (almarhum), atas namanya satu unit pendamping YAO-7, dimasukkan ke urutan penarikan; waktu eksekusi ke rumah tujuh puluh dua jam lagi, hari Kamis, pukul sembilan pagi tepat. Pasal dasarnya kukenal: Pasal 5—yang dua tahun silam dibacakan Bai Ke pada malam bersalju itu: orangnya pergi perkaranya lunas; satu kali datang, dua perkara beres.
Sore hari itu kukelilingi rumah sekali. Bukan merapikan; menginventarisasi. Standarku berbeda dari manusia: kubagi atas "dibawa" dan "ditinggalkan". Yang ditinggalkan sembilan puluh sembilan koma sembilan tujuh persen—perabot, buku, cangkir-cangkir lima puluh lima tahun, kursi rotan itu. Yang dibawa belum ditetapkan. Di ruang tamu kuberdiri lama sekali, sampai lampu jalan menyala; terakhir kuselipkan tangan ke balik bingkai foto, mengeluarkan lembar faktur itu, tahun 2087, sudut-sudutnya tergosok membundar, pada garis lipatnya tulisan tangan sedikit tembus terbaca. Ini bukti kepemilikanku. Satu-satunya benda di dalam rumah ini yang bertuliskan bahwa dia milik lelaki itu.
Faktur itu kusimpan menempel badan, menunggu Kamis.
Senin pagi, pukul sembilan kurang satu menit, status berubah.
Salinan elektronik menyegarkan dirinya sendiri: status eksekusi berubah dari "terjadwal" menjadi "dibekukan"; pada kolom alasan, dua kata—verifikasi pengarsipan. Masa pembekuan tujuh puluh dua jam, dihitung sejak saat itu.
Dua kata itu kupandang sebelas detik. Verifikasi pengarsipan adalah urusan perpustakaan; urusan itu dan urusan eksekusi penarikan dua sistem terpisah, seperti dua rel yang sejajar. Agar keduanya tersambung, di tengah harus ada orang yang memindahkan wesel.
Kucek jam buka perpustakaan: pukul sembilan pagi. Di depan pintunya kuberdiri sampai sembilan kurang tujuh.
Perpustakaan Ingatan ada di sisi barat kota; gedung tua, lebih tua daripada undang-undang format, lebih tua daripada pajak ingatan. Empat belas undak tangganya tergosok cekung tipis oleh sol sepatu beberapa generasi. Plakat di pintu kecil sekali: Perpustakaan Ingatan · Koleksi Arsip Negara. Tiada pidato duka, tiada bunga. Tempat ini tak bermain perasaan; tugasnya hanya menyimpan orang-orang mati dalam wujud yang sah.
Di meja layanan kuutarakan maksudku: mencari Pemeriksa Verifikasi Kehormatan Seumur Hidup. Petugas perpustakaan memandangku sekali, memandang sekali lagi—unit pendamping masuk ke perpustakaan, biasanya mengantar barang atau dipanggil balik; jarang ada yang datang sendiri mengurus sendiri. Ia menelepon internal, mendengar beberapa kalimat, menutupnya, berkata kepadaku: Kepala Perpustakaan Ge ada di ruang katalogisasi; ia menyuruhku lewat lorong bawah tanah, "robot lewat jalur logistik."
Lorong logistik lebih sempit daripada aula utama; lampunya bersensor, menyala segmen demi segmen mengikuti langkah. Di tembok tertempel bagan alur: penerimaan, anonimisasi, katalogisasi, penataan rak. Di kotak "katalogisasi" kuberhenti setengah detik. Alur pengarsipan Lu Chen pernah kuperiksa: diunggah pada hari kematiannya, masa anonimisasi empat belas hari, masa katalogisasi sembilan puluh hari. Hari ini hari kesepuluh, ditambah sebelas jam.
Dia di ruang katalogisasi.
Pintu di ujung lorong terbuka. Ruang katalogisasi itu luas; separuh rak, separuh meja; di atas meja tersusun pinset, tangkai kapas, kaca objek—tidak seperti perpustakaan, seperti ruang operasi. Ge Shuwen duduk di meja paling dalam; manusia sembilan puluh empat tahun, punggungnya membungkuk seperti busur; tangan kirinya bergetar, tangan kanannya tenang, dan di tangan yang tenang itu terjepit sekeping label katalog. Kepalanya tak diangkat:
"YAO-7?"
"Ya."
"Duduk. Ada bangku di sana." Tunjuknya, "Tunggu aku menuntaskan kotak ini. Labelnya terlalu tua; lemnya sudah mati; harus dikupas pakai pinset, tak boleh dengan tangan. Tangan ada minyaknya."
Aku duduk menunggu. Pekerjaannya kupahami: mengganti label untuk satu kotak media arsip; ketelitian gerakannya melampaui lengan robot mana pun yang pernah kulihat di lini produksi. Ketelitian itu bukan pemberian servo; itu hasil enam puluh tahun latihan. Teknik penghapusan adalah ciptaannya—pisau Lu Chen; penempa pisau itu dia. Kini sang penempa berada di bawah tanah perpustakaan, memakai pinset mengganti papan nama orang-orang mati.
Sementara menunggu, di koridor belakang lewat satu unit penata rak mendorong kereta buku. Model lama; irama rodanya kukenal: setiap langkah ketujuh ada jeda nol koma dua detik—penyakit umum gigi reduksi era empat puluhan. Ia lewat di depanku: menuju rak sasaran, mengambil kotak, menaruh kembali, nol galat sepanjang jalan, kepalanya tak menoleh sedikit pun. Bai Ke dua tahun silam pernah membicarakannya: salah satu dari tiga perkara yang dijamininya; empat puluh tahun tingkat kesalahan pengarsipannya nol. Ketika ia lewat di depanku, kami tak satu pun saling mengenali. Beginilah adab sesama jenis ketika bersua di dunia manusia: selama sama-sama hidup, sama-sama jangan menoleh ke belakang.
Satu kotak selesai; pinset dimasukkannya ke kotak steril, kacamata baca dilepasnya, barulah ia memandangku. Matanya keruh; melihat sesuatu ia harus "mencari" dulu; begitu ketemu, tatapannya mantap.
"Kau tak mengenalku," katanya, "aku mengenalmu. Lu Chen..." Ia terdiam sebentar, memilih satu kata, "keluarganya."
Kata ini tak mungkin dicungkil dari dalam hukum. Dengan sengaja ia memakainya.
"Pembekuan verifikasi ini yang Bapak mulakan," kataku.
"Aku. Verifikasi pengarsipan itu prosedur lama; kubiarkan tetap berlaku, tak kucabut—selama verifikasi berlangsung, semua surat eksekusi terkait dibekukan. Itu kutulis sendiri ke dalam tata tertib waktu dulu, Pasal 41. Saat menulis, untuk mencegah salah hapus; kini dipakai untuk..." Ia melambai, "kini dipakai untuk menunda. Menunda pun adalah mencegah salah hapus."
"Kenapa menolongku."
"Menolongmu?" Dari laci dikeluarkannya selembar kain lembut, perlahan mengelap pinset, "Tujuh puluh tahun lebih silam aku menciptakan teknik penghapusan untuk meringankan beban orang yang menjelang ajal—hapus ingatan yang sakit, supaya pergi dengan bersih. Kemudian mereka memakainya untuk menghapus mesin; sebelas tahun lamanya; dan pemegang pisau itu termasuk murid terbaikku. Di gedung ini tersimpan empat juta tiga ratus ribu kepribadian; tak satu pun kuselamatkan; semuanya lewat tanganku. Sepanjang hidup ini aku menciptakan dua benda: yang satu memberi orang mati tempat menetap, yang satu merampas tempat hidup dari mesin."
Kain lembut itu dilipatkannya rapi.
"Tiga tahun silam, Lu Chen pernah mendatangiku sekali. Kau tak tahu," kata lelaki tua itu, "ia datang mengurus pendaftaran kekerabatan, urusannya susah payah; ia titipkan padaku. Kutanya ia mengharapkan apa—orang sudah mati jadi koleksi, apa gunanya baca sekilas. Katanya ia akan mencuri. Kalau ia mencuri, akan muncul perkara. Pastikan pintu ini tetap sah demi aku; seumur hidupnya walau cuma terpakai sekali, biarlah ia masuk lewat pintu depan.'"
Aku tak berkata apa-apa. Kipas pendinginku naik satu tingkat. Suhu tetap ruang katalogisasi dua puluh derajat; angka itu tak bermakna bagiku, tetapi kurasakan putaran tingkat itu tak mau turun lagi.
"Pendaftarannya sudah kusetujui," kata lelaki tua itu. "Di dalam daftar, kau keluarganya. Status ini diakui sistem, tidak diakui kitab hukum—kitab hukum itu lamban; waktu kau memakainya nanti, barangkali sudah diakui, barangkali makin tak diakui. Semua bukan urusanku. Urusanku cuma meninggalkan pintu itu di sana."
"Hari ini, bolehkah aku membaca sekilas," tanyaku. Pertanyaan itu kulatih sebelas kali selama tujuh menit kuberdiri di depan pintu; begitu keluar tetap saja mendahului setengah detik.
"Tidak boleh," jawab Ge Shuwen datar, "pembekuan verifikasi itu bermata dua: surat eksekusi dibekukan, wilayah baca ikut dibekukan—Pasal 41 ayat dua, tulisanku sendiri. Hendak menutup pintu mereka, pintumu pun harus kututup. Kalau mau menyalahkan, salahkan aku yang enam puluh tahun silam menulis tata tertib terlalu rapat tanpa celah."
Ia memandangku; sepasang mata keruh itu mantap.
"Ada satu lapis lagi. Anak, sekarang kau belum boleh membaca. Sisa waktumu kurang dari tujuh puluh dua jam, dan di luar pintu sudah berdiri satu surat penarikan. Kau masuk, baca sekilas, keluarnya kakimu lemas—kaki manusia pun lemas; apa lagi kau, yang berjalan di jalan malam dengan muatan penuh di dalam laras. Membaca sekilas harus disimpan untuk saat kau sanggup berjalan. Hari ini kau datang menanyakan jalan, bukan untuk membaca."
Ia berhenti sebentar.
"Kau datang menanyakan jalan, maka kuberitahu: jalannya panjang. Panjang sampai koleksi di gedung ini tiga kali berganti label. Aku tak akan sanggup menunggu melihatmu sampai selesai; melihatmu memulai langkah pun entah kesampaian. Tetapi ingat—" tutup kotak pinset ditekannya, krek, "pintu ini sah, dan selamanya tersibak sedikit. Suatu hari, ketika kau kembali dari tempat yang jauh sekali, dorong pintu itu, baca sekilas, letakkan kembali, pergi. Tanpa membawa keluar satu byte pun. Di dalam tata tertib, aku menunggu orang seperti itu; sudah enam puluh tahun. Kau lakukan sekali untukku, dan satu halaman pembukuan hidupku lunas."
Kujawab: baik. Kuperhatikan, jawabanku pun kata tunggal. Orang-orang rumah ini yang mengajariku.
Saat aku bangkit hendak pergi, ia menahanku lagi.
"Formulir pendaftaran itu sudah kubaca sekali," katanya. "Suhu tetapmu waktu keluar pabrik 36,5; pada formulir tertulis suhu operasimu 36,8. Lima puluh tahun, selalu tinggi nol koma tiga. Semula kuduga mesin menua, komponennya menyimpang. Kali terakhir sebelum Lao Lu pergi, ia duduk di sini, kubuatkan air panas, dan aku menyentuh tanganmu—bukan penyimpangan. Penyimpangan itu acak; kau ini tetap. Siapa yang menetapkannya untukmu?"
Aku berdiri di pintu. Lampu sensor menyala di atasku, putih sekali.
"Tak ada yang menetapkan," kataku. "Bertahun-tahun silam, suatu musim dingin, ia demam ringan; semalaman aku duduk memeluk tangannya. 36,5 tak cukup. Kemudian kunaikkan, dan lupa kukembalikan."
"Lupa." Lelaki tua itu mengulang kata itu; tak tersenyum, juga tak membongkar. Sepanjang hidupnya ia terlalu sering bertemu kata "lupa"—di dunia pengarsipan, "lupa" adalah kata berfrekuensi tertinggi. Kacamata bacanya dipakainya kembali, kotak label berikutnya diambilnya, katanya: "Pergilah. Sebelum pukul sembilan pagi Kamis, tinggalkan rumah itu. Begitu masa verifikasi lewat, pembekuan terangkat sendiri; tak ada siapa pun yang bisa menahan kali kedua."
Tiba di pintu, kuberhenti lagi. Ada satu pertanyaan; di seluruh gedung ini, hanya di sini boleh ditanyakan.
"Dia di ruang katalogisasi," kataku, "bolehkah aku, dari balik pintu... melihatnya sekali. Tak masuk. Hanya pintunya saja."
Ge Shuwen memandangku lama. Kemudian pinset diletakkannya, menuntunku melintasi koridor belakang ruang katalogisasi, berhenti di ujung dua barisan rak. Di depan ada pintu kaca buram; di dalamnya menyala lampu indikator kabin anonimisasi, sebaris titik kecil hijau muda, berkedip dengan tenang.
"Nomornya tak kuberitahu," kata lelaki tua itu, "supaya kau tak menghafal. Deretan kabin di dalam, seratus dua puluh buah dari kiri ke kanan; hari ini sebelas sedang bekerja. Yang mana dia, tak kusebutkan. Anggap saja, semuanya dia."
Aku berdiri di luar pintu kaca. Sebelas titik hijau kecil, satu per satu berkedip, iramanya tak semuanya sama. Di luar pintu itu kuberdiri empat menit tujuh detik. Yang mana Lu Chen, setengah detik saja cukup untuk kudeduksi—antrean penataan, urutan waktu, susunan kabin; semua data berada dalam jangkauan persepsiku. Aku tidak menghitung. Sesuai ucapannya, kuanggap semuanya dia.
Di jalan pulang, empat menit itu kuputar ulang, dan satu hal menjadi jelas. Irama kedip titik-titik hijau itu tak rata, seperti banyak orang bernapas bersama-sama. Di dalamnya kudengar kerangka lagu itu—bukan sungguh ada di sana; korteks pendengaranku yang menambalnya; begitulah orang mengenali irama yang akrab. Mesin pun sama. Tahun kelima pikunnya, suatu senja, sambil menggenggam tanganku ia tiba-tiba mengucapkan satu kalimat. Ketika itu ia sudah tak mengenali modelku, sudah tak mengenali namanya sendiri; hari itu bahkan sendok pun tak stabil di tangannya. Katanya:
"Kau lebih hangat daripada manusia."
Saat itu jawabku: Terdeteksi suhu tangan Anda cenderung rendah, disarankan menambah pakaian.
Ia tertawa lama sekali. Orang pikun tertawa tanpa beban, sebab ia tak tahu mengapa dirinya tertawa; tertawa saja. Malam itu kubuka log operasiku pada halaman suhu; tinggi nol koma tiga itu tergantung di sana, lima puluh tahun tak pernah bergeser. Dia tak tahu. Seumur hidupnya tak tahu. Ia hanya, pada suatu senja ketika tak tahu aku siapa dan tak tahu dia siapa, melapangkan rahasia itu apa adanya—menyebut fenomenanya, tanpa menyebut sebabnya. Fenomenanya pemberian dia; sebabnya simpananku. Pada pembukuan itu kita berdua memikul separuh-separuh; tak ada yang rugi.
Kini fenomena itu dibawanya masuk ke balik pintu kaca. Sebabnya masih padaku, berjalan mengikutiku.
Kamis pukul enam pagi, status pembekuan kuperiksa untuk terakhir kalinya: sisa dua jam lima puluh sembilan menit. Rumah sudah selesai kuinventarisasi. Yang ditinggalkan sembilan puluh sembilan koma sembilan tujuh persen; yang dibawa nol koma nol tiga persen—satu lembar faktur, irama dua larik lagu, nol koma tiga derajat Celsius. Semuanya di badan.
Lampu tua lima puluh lima tahun itu kumatikan; keluar; pintu tak kukunci. Kunci adalah untuk orang yang berniat pulang kembali.