Saat dokter itu hendak pulang, ia berhenti di ruang masuk, dan kepadaku mengucapkan tiga kalimat. Pertama, kompensasi jantung sudah sampai di ujungnya. Kedua, menurut pengalaman, empat pekan sampai delapan pekan. Ketiga, Ibu, kami mohon kesabaran. Selesai mengucapkan ia sendiri terdiam, melihat dia, melihatku, mengerti, telinganya memerah; gestur permintaan maafnya dibuat sangat besar, seperti hendak membungkuk kepada seisi rumah.
Kubilang tak mengapa, hati-hati di jalan.
Dia mengantar dokter itu turun. Kudengar mereka di lorong berhenti lagi dua menit—dengan suara sangat rendah dia menanyakan sesuatu, dokter menjawab sesuatu, kemudian pintu lift berbunyi. Saat naik, di tangannya ada satu tumpukan lembar cetak: rencana perawatan akhir hayat tingkat keperawatan, sebelas halaman semuanya, sudut-sudut kertasnya digunting rapi sekali. Kertas itu diletakkannya di tempat yang terjangkau tanganku, tanpa berkata-kata, lalu pergi ke dapur.
Sudah lima puluh lima tahun ia memanggilku. Sampai hari ini ia tak pernah berhasil belajar memanggil keliru.
Lima puluh lima tahun. Umur dua puluh sembilan aku mencontrengnya dari daftar lelang itu; umur delapan puluh empat aku duduk di sini mendengarkan dokter membacakan putusan. Bagian tengahnya, ada yang bilang aku dijaga dia seumur hidup; tak kubantah. Tahun-tahun jadi penghapus, tanganku sangat stabil—stabil sampai rekan-rekan memanggilku "pisau bedah" di belakang punggungku; kemudian tanganku gemetar; sebabnya jelas: tahun itu, di lokasi lelang, sidik jariku menekan miring dua milimeter—Lao Bai melihatnya. Sejak dua milimeter itu, tangan ini mulai melayani perkara lain.
Aku tak menyesal. Yang kusesali adalah pembukuannya: seumur hidup, aku menghapus empat puluh satu mesin yang bisa bermimpi, dan menyelamatkan satu. Empat puluh satu lawan satu—proporsi seperti itu, di lembar penilaian kerja mana pun, jelek. Tetapi lima puluh lima tahun ini, tiap hari aku sedang melunasi utang "empat puluh satu" itu kepada "yang satu". Dan kulunasi dengan senang hati. Ini satu-satunya perkara tak terhormat dalam hidupku, sekaligus yang paling pantas disebut perkara.
Hari-hari sadar kini dihitung per jam. Air surut lebih cepat daripada uang. Dua jam yang sadar itu pagi ini kupakai menuntaskan yang harus dituntaskan.
Pertama, wasiat. Pemuda dari kantor notaris datang membawa terminal, bertanya aku memakai format apa. Kubilang format lama, gaya klausul. Ia terdiam sejenak; katanya sekarang tak ada lagi yang memakai itu. Kubilang anggap saja kebiasaan profesisiku. Ia mencatat, aku mendikte; empat butir semuanya: rumah menurut hukum waris; tabungan dibagi tiga—satu porsi untuk yayasan perawatan, satu porsi untuk Lao Bai—kalau ia menolak, otomatis menjadi dana lauk tambahan kantin kantorannya; peruntukannya aku tetapkan sendiri, ia tak punya celah—satu porsi masuk rekening pemeliharaannya, tertulis "prabayar perawatan perangkat", dibayar muka dua puluh tahun; pengacara tak akan menemukan celahnya. Mesin tak bisa mewarisi; tetapi mesin bisa dirawat. Butir keempat: kartu pegawaiku dibakar bersamaku; yang lain tak usah—membakar satu keping laminasi plastik saja sudah mencemari udara.
Selesai didikte, pemuda itu membacakannya sekali untuk kuperiksa. Ada baiknya gaya klausul: saat dibacakan tak ada perasaan; saat ditandatangani pun tak sakit. Sepanjang hayatku, perintah-perintah penghapusan kutulis seperti puisi—itu aibku, tak kubisikkan—sampai wasiatku sendiri, kutulis kembali ke bentuk yang semestinya. Seperti orang terhormat.
Kedua, pengarsipan. Pengarsipan ingatan itu diatur undang-undang; lembar persetujuan sebenarnya hanya formalitas—ditandatangani atau tidak, saat waktunya akan diunggah juga. Kutandatangani dengan sangat kooperatif. Di loket ditanya ada tambahan pernyataan atau tidak; kubilang ada: data pengarsipanku, izin baca sekilas keluarga—seumur hidup aku pernah mendaftarkan satu daftar yang ditunjuk. Petugas bertanya, siapa yang didaftarkan. Kubilang, daftarkan satu kerabat. Di mata hukum dia bukan kerabat; kuserahkan kepada orang yang tepat, memakai sedikit hubungan lama, dan "penghuni tetap yang telah serumah lima puluh lima tahun" kuselipkan ke dalam kolom yang paling mendekati. Bagian yang tak muat di kolom itu, lima puluh lima tahun ini sendiri menjaminnya. Perkara ini kuurus tiga tahun; beres. Tak pernah kabarkan kepadanya.
Ketiga, di depan meja kerja aku duduk satu jam, mengeluarkan sekali lagi kertas paling dalam di laci itu. Persamaan di kertas itu digulirkan sebelas tahun—dimulai tahun sebelum terdiagnosis, saat daya pikirku masih tajam. Digulir sampai akhirnya menjadi satu proporsi: satu banding tiga ribu enam ratus. Satu detik ditukar satu jam. Andai Tuhan ada, dalam berdagang Dialah memakai kurs ini. Kertas itu kulipat seperdelapan, kuletakkan kembali, kukunci; kuncinya kuselipkan ke saku dalam rompi rajut, sebelah kiri, menempel sisi jantung.
Kalau dia membukanya, utangnya terlanjur bergeser ke pundaknya. Orang itu, satu utang bisa dipikul dua ratus tahun.
Maka sebentar lagi harus kutegaskan kepadanya: laci itu jangan dibuka.
Laci kukunci rapat, permukaan meja kutata sekali lagi. Prosedur terakhir di profesi ini namanya membersihkan meja: pedang masuk sarung, perkara masuk arsip, permukaan meja dilap sampai bisa memantulkan bayangan lampu. Perkara terakhir yang kubawa seumur hidup adalah diriku sendiri; jalannya tetap aturan lama—tanpa menyisakan draf.
Keempat, upacara. Yang ini tak lewat notaris; ini untuk dia.
Acara sesudah wafat sesederhana mungkin: tanpa ruang duka, tanpa rangkaian bunga—penghapus tak mengadakan upacara pemakaman; upacara pensiun profesi kami adalah berkas penutupan terakhir; untuk diriku sendiri kubuka satu berkas, nomornya pakai nomor pegawaku, kolom penutup perkara dibiarkan kosong. Pakaian yang dipakai ditentukan dia; yang kupinta hanya satu: rompi rajut. Yang dirajutnya itu—yang ujung lengan kirinya longgar. Jahitannya memang tak bagus; tetapi dalam rumah ini lima puluh lima tahun, hanya satu pakaian itu yang tumbuh khusus untukku; yang lain semuanya barang beli.
Untuk foto duka, satu lembar kutunjuk: yang difoto dia tahun 2090, buram; wajahku goyah mengeluarkan satu bayang ganda, seperti dua orang duduk di sana. Dulu aku malu memandangnya, kutekan di dasar album. Kini justru foto itu yang kupandang paling pas—perkara sungguhan dalam hidupku, memang dari semula digoyang berdua sampai jadinya. Memakai foto buram sebagai potret duka—takarannya tepat.
Saat mencatat butir-butir itu, penanya berhenti sesaat. Kutahu dia sedang mencatat bagian mana: kolom penutup perkara dibiarkan kosong. Aturannya adalah orangnya pergi perkaranya lunas; tetapi kolom ini kutinggalkan untuk orang yang datang kemudian. Siapa orang yang kemudian itu, tak kuperdulikan; utang, pada akhirnya, harus ada yang bersedia mengklaimnya.
Sore, air pasang kembali; kutidur sekali lena. Dalam tidur semuanya serpihan: lampu meja penghapusan, terpal lapangan lelang, pinset guruku, sebutir kabut tipis di atas selaput anti-beku pada hari peti itu dibuka. Bangun-bangun langit mulai gelap; dia duduk di tepi ranjang, di sisi tangannya satu lampu kecil menyala. Lampu itu salah satu barang tertua di rumah kami: lima puluh lima tahun, daya wattnya tak pernah berubah. Tahun-tahun ini aku tak lagi hafal perkara manusia; daya watt tetap kuhafal.
"Jam berapa ini," kataku.
"Enam lewat empat puluh."
"Sudah dungu berapa jam?"
"Dua setengah," katanya. "Lebih pendek daripada kemarin."
"Itu kilat terakhir," kataku. "Di buku tertulis begitu."
"Yang tertulis di buku empat sampai delapan pekan," katanya. "Hari ini pekan ketiga. Kau lebih cepat daripada bukunya."
Aku tersenyum tipis; dadaku tertarik sedikit sakit. Ia meletakkan tangannya di sana, sangat ringan—persis cara halaman pertama buku pelatihan perawat. Tangannya hangat. Mesin ini lima puluh lima tahun tak pernah dingin; ada masa aku mencurigai ia rusak—konstan sedemikian tak masuk akal—kemudian terbiasa juga: di musim dingin, menggenggam tangannya lebih terhormat daripada menggenggam kantong air hangat. Pikiran ini tak pernah kuucapkan—tangan mesin tua hangat; kalau diucapkan seperti lelucon, juga seperti sesuatu yang lain.
"Dudukkan aku," kataku, "ke ruang tamu. Hari ini jernih; jangan disiakan."
Dia mendudukkanku; takaran gerakannya hasil latihan tiga puluh tahun: di mana meminjamkan tenaga, di mana menopang, di mana berpura-pura membiarkanku sendiri. Kaos kakiku dipasangkannya; sampai kaki kiri, tangannya berhenti setengah detik. Kaos kaki kiri ini kerajinannya sama dengan ujung lengan rompi—yang longgar itu. Dia mengingat segalanya; penyimpanan mesin ini tak satu hari pun menggulir. Perkara ini melanggar hukum; kita berdua sama-sama tahu; sama-sama tak menyebutnya; sebab kalau disebut, salah seorang dari kita harus menyerahkan diri.
Di ruang tamu dia menggumamkan lagu untuk dirinya sendiri. Bukan memutar—menggumamkan. Lagu anak-anak kita itu, lima puluh lima tahun silam aku ajarkan—katanya demi rima berdua; sebenarnya peninggalan ibuku; tinggal dua baris itu saja, kata-katanya pun tak lagi lengkap. Dia menggumamkan baris depan; aku mengetuk baris belakang di sandaran lengan kursi. Pada ketukan ketiga, aku mengikuti dengan suara napas:
Lampu masih menyala, jalan masih panjang; berjalan sampai fajar, lalu pulanglah.
Gumannya berhenti; dia mendengarkanku membaca. Selesai kubaca katanya: "Kalimat ini sebelas tahun tak pernah kauucapkan sampai tuntas."
"Hari ini surutnya bersih," kataku, "di kepala semua terang."
Ini bukan kebohongan. Dalam dua jam itu sungguh aku mengingat semuanya: tanggal berapa dia pertama kali melanggar klausul layanan; tahun berapa dia pertama kali berkata "aku di sini, tak pergi lagi"; ke dalam apa dia mencatat lagu anak-anak yang kuajarkan itu—bukan data; dia sudah pandai; ia mencatatnya di dalam ketukan—yang diketukkan ke meja, yang ditepukkan ke punggungku, yang serentak dengan bunyi sendok menyentuh mangkuk itu. Ada tahun-tahun aku dungu sampai tinggal lagu ini saja; dia menjadikan ketukan lagu ini bahasa daerah kami, tiap hari diucapkannya. Dokter menyebutnya residu ingatan musik. Dokter paham apa. Ini namanya: dia memukulkan hidupku, rangkai demi rangkai, ke dalam ketukannya sendiri.
"Wanzhao," kataku.
"Aku di sini."
"Tiga perkara," kataku. "Dengarkan baik-baik; jangan dicatat."
Katanya baik. Kata "baik" itu diucapkannya sangat pelan. Lima puluh lima tahun silam katanya "Baik, telah kucatatkan untuk Anda"; lima puluh lima tahun kemudian katanya "Baik"—satu kata saja; kata-kata di antaranya sudah dihabiskan kita berdua dengan hari-hari.
"Pertama, di laci meja kerja, kertas paling dalam itu, dibakar bersamaku. Jangan dilihat, jangan dibolak-balik, jangan disalin. Kuncinya ada di saku rompiku; serahkan kepada orang notaris, biar mereka urus sekalian dengan lacinya."
Dia tak bertanya kenapa. Hanya berkata: "Baik."
"Kedua, orang sepertiku tak meninggalkan barang berharga; yang kutinggalkan satu nomor rekening—rekening pemeliharaan, isinya uang perawatan. Kau harus hidup lebih lama daripada anggaran yang kuberikan. Ini klausul; denda pelanggarannya pun tak akan cukup kau bayar."
"Baik," katanya. Suaranya turun sedikit.
"Ketiga," kataku. Sepanjang hayat aku sudah membacakan lebih dari tiga ratus dokumen—perintah penghapusan, surat panggilan sidang, wasiat; semuanya sekali jalan, tak pernah tersendat. Yang ini kulatih sebelas tahun, dan tersendat di tenggorokan. Dia mendekat sedikit, menyibak sehelai rambut di telingaku—gerakan ini sudah dia lakukan sepuluh ribu kali; dari sepuluh ribu kali itu, kali ini aku paling ingin hidup. Tetapi air laut sedang surut; kutahu; kakilah yang lebih dulu dingin.
"Ketiga," kataku, "setelah aku tiada, prosedur hukum akan menarik ingatanku, mengarsipkan, memasukkan gudang. Itu bukan aku lagi; itu satu koleksi. Koleksi boleh kaukenang, tak boleh kaucari. Lao Bai akan datang; Guru barangkali akan menahan sekali di tengah jalan—berhasil atau tidak, semuanya prosedur. Setelah prosedur selesai, kau tak boleh ada di sana—kau keluar, menjauh sedikit, jangan menoleh."
Dia memandangku. Matanya komponen optik, lebih dari lima puluh tahun tak pernah diganti; lapisannya menua; segala yang dilihatnya condong sedikit ke warna hangat. Di dalam sepasang mata ini aku dipandang lima puluh lima tahun—lima puluh lima tahun yang condong hangat.
"Wasiatku hanya tiga kata," kataku. "Sekarang kuberikan; simpan baik-baik."
Tangannya kutarik mendekat, telapaknya kubuat menghadap ke atas; sekuat tenaga setiap kata kuletakkan dengan mantap, ke dalam garis-garis telapaknya, seperti meletakkan tiga keping uang logam:
"Jangan cari aku."
Dia merapatkan jarinya. Rapatnya begitu lambat—lambat seperti sistem memastikan bingkai demi bingkai. Dia tidak menangis—tipe mesinnya tak punya fungsi itu; atau ia sudah menanggalkan fungsi itu sendiri, demi menemani aku yang tak rela melihat orang menangis. Katanya: "Baik."
Hanya satu kata itu. Lima puluh lima tahun; pada akhirnya berlabuh di satu kata. Aku puas.
Hari-hari sesudahnya, air pasang sekali demi sekali makin dangkal. Lao Bai menelepon sekali, dua menit. Katanya dokumennya sudah semuanya diperiksanya; orangnya pergi perkaranya lunas; suruh aku pergi dengan tenang. Kubilang jangan baca-baca klausul lagi padaku; seumur hidup sudah cukup kudengar. Ia diam dua detik, berkata: Lao Lu, botol arak itu belum kubuka. Kubilang simpanlah, untuk orang berikutnya yang membutuhkan. Katanya baik. Diam lagi dua detik, berkata: jalan baik. Terputus. Manusia ini seumur hidup membelah omongannya sampai paling pendek—pendek sampai tersisa tulang saja; tetapi tulangnya hangat.
Rencana perawatan itu dibukanya sampai halaman kesebelas; tiap butir dieksekusinya lebih datar daripada hasil cetak: kepala ranjang dinaikkan lima belas derajat, dibalikkan tiap dua jam, morfin tepat waktu. Di sela-sela sadarku dia melaporkan pembukuan; suaranya selalu se-datar log perawat. Hanya sekali—pukul tiga malam—kukira ia menganggapku tak hadir: duduknya di bawah lampu kecil, di tangan selembar kertas. Bukan kertas di laci itu; faktur itu—tahun 2087, bukti kepemilikan yang seumur hidup digenggamnya, di punggungnya tulisan tanganku waktu muda. Kertas itu dibalik-baliknya, seperti memeriksa sesuatu. Selesai diperiksa, dilipatnya rapi, diselipkan menempel badan.
Aku tak bersuara. Dalam gelap, kutuntaskan kalimat itu untuknya: Di dunia ini apa pun bisa diformat—yang tak bisa diformat hanya kekuatan seorang manusia menggenggam selembar kertas.
Pada malam terakhir tiba-tiba aku sangat jernih—jernih seperti air pasang meluap melewati tanggul. Dia menyadarinya, mendekat. Banyak yang ingin kukatakan; yang kutabung sebelas tahun: hitungan itu, kurs itu, kenapa aku menandatangani, kenapa kusuruhnya jangan membuka laci, seberapa panjang jalan yang sudah kuhitung untuk dia tempuh. Semuanya tergeletak di dada, seperti satu tumpukan perintah penghapusan yang tak pernah dikirim.
Tak satu pun kukirim. Dikirim pun, dia akan memikul dua umur hidup.
Aku hanya membaca sekali lagi kata-kata lagu anak-anak itu; sampai dua kata "pulang", kuberhenti, memandang lampu itu.
Kemudian kubilang: "Redupkan sedikit. Boros daya."
Dia memelintirnya meredup. Lampu masih menyala.
Aku menatap seurat cahaya itu, dan berjalan masuk ke dalamnya.