Bahasa Anak-Anakoleh Amara Okonkwo

12 · Huruf Timah

Bab 12 · 16,5 rb kata

Di bulan kedua belas, barang yang dijemur di halaman semuanya keras.

Di tali tergeletak sarung selimut; beku tegak lurus. Dipukulkan tongkat, bung sekali.

Ibu menghamparkan buku rajut di atas dipan. Ia menyambungkan lengan rajutanku.

Lengannya pendek lagi satu jemari. Sekali dibongkarnya; dimulai lagi dari pangkal.

Ia berkata, tahun ini cepat besar.

Kubilang, hm.

Dimintanya tanganku menjulur rata; ditepatkannya sekali. Selesai menepat, wol dililitkannya sekali ke jariku.

Radio tetap bunyi. Langit belum terang bunyi sekali; langit gelap bunyi sekali.

Kudengarkan. Ia juga masih ada.

Hari Wang Chaosheng mencariku, sakunya berbunyi sepanjang jalan.

Berjalan saja ia berbunyi. Kelereng berbenturan di saku; sekali bentur berbunyi sekali.

Ia berkata, lihat.

Dari dalam bajunya dikeluarkannya satu lembar kertas.

Kertasnya terlipat dua; tempat lipatnya berbulu; pinggirannya memutih.

Di atasnya tercetak aksara. Biru; cetak stensil; disentuh agak berminyak.

Kubilang, dari mana.

Ia berkata, dicetak di luar.

Kubilang, siapa yang mencetak.

Ia berkata, tidak tahu.

Kertas itu dihamparkannya di undakan; keempat sudutnya ditekan batu satu-satu. Batunya dicungkilnya dari bak bunga; keluar masih berbawa tanah.

Selesai menekan tangannya ditepak. Tangannya hitam.

Baris pertama hurufnya besar. Kubaca satu per satu.

Ketujuh. Generasi. Penerjemah.

Kata penerjemah tak kukenal. Kutunjuk dengan jari, kutanya, ini apa.

Ia berkata, orang-orang menyebutnya penerjemah.

Kubilang, penerjemah itu apa.

Ia berkata, orang yang bicara.

Kubilang, aku juga bisa bicara.

Ia berkata, bukan bicara yang ini.

Tidak dilanjutkannya. Kertas itu ditariknya turun sedikit.

Di bawahnya barisan-barisan kata. Terang. Jalan. Timur. Tekan. Turun. Stabil.

Hurufnya miring; satu kata melebar sampai satu setengah kotak.

Lebih ke bawah lagi satu kalimat.

Terbacakan juga olehku: ia berkata, masih kurang sedikit. Kurang sedikit lagi, baru stabil.

Kalimat itu hasil sambunganku dengan Wang Chaosheng. Kukenal.

Kubilang, yang ini pernah kuucapkan.

Ia berkata, hm.

Kubilang, di situ ada namaku tidak.

Ia berkata, tidak ada.

Kubilang, terus tahu darimana itu aku.

Ia berkata, tidak perlu tahu.

Kubilang, buat apa dipunya.

Ia berkata, ada yang mau.

Kubilang, siapa yang mau.

Ia berkata, orang luar.

Kubilang, luar di mana.

Ia berkata, tidak tahu. Kata pengumpul kertasnya, makin kecil makin bagus.

Kubilang, kecil bagaimana.

Ia berkata, makin kecil makin mahal.

Kubilang, aku kecil tidak.

Ia berkata, kamu tujuh tahun.

Kubilang, delapan tahun.

Ia berkata, lewat ulang tahun baru dihitung.

Menunduk lagi kucari. Di kertas itu tidak banyak aksara yang kukenal. Kucari Lin; tidak ada.

Kubilang, satu pun tidak ada.

Wang Chaosheng berkata, namanya memang tidak diminta.

Kertas itu dibaliknya. Punggungnya putih; minyaknya tembus sedikit; aksaranya kelihatan terbalik.

Lebih ke bawah lagi ada satu barisan.

Kubaca: ia berkata, di sana menyisakan satu tempat, untuk kalian.

Selesai membaca aku berhenti.

Kubilang, yang ini tidak pernah kuucapkan.

Ia berkata, aku yang ucapkan.

Kubilang, kok kamu mengatakan yang begitu.

Ia berkata, disuruh mereka menambah satu kalimat.

Kubilang, menambah apa.

Ia berkata, menambah satu kalimat yang belum pernah terdengar.

Kubilang, yang belum pernah terdengar ditambah bagaimana.

Ia berkata, kamu pikirkan saja satu.

Kubilang, tak terpikirkan.

Ia berkata, aku sudah terpikirkan.

Tidak dilanjutkannya. Batu-batu itu disepaknya kembali ke bak bunga, satu per satu.

Kutanya, ketujuh itu apa.

Ia berkata, ya nomor ketujuh.

Kubilang, ketujuh yang apa.

Ia berkata, tidak tahu. Di atas kertasnya tertulis.

Kuhitung teman sekelasku. Aku bukan nomor ketujuh. Nomor berapa diriku pun tidak kutahu.

Kutanya Wang Chaosheng, kamu menukar apa.

Tangannya masuk saku; segenggam segenggam dikeluarkannya.

Tujuh kelereng. Satu ada bunganya di dalam; merah; seperti sehelai benang dililit di dalamnya.

Setengah pensil merah-biru. Satu ujung merah, satu ujung biru; dua ujungnya pernah diruncingkan.

Satu karet, yang sudah dipotong; sisanya kurang separuh; sisi potongannya rata; pinggirnya masih ada bekas pisau.

Dua permen. Kertas pembungkusnya menempel ke permennya; tak bisa dikupas.

Kubilang, ini semua hasil tukar?

Ia berkata, hasil tukar.

Kubilang, tukar dengan siapa.

Ia berkata, yang di gerbang itu.

Kubilang, satu kata tukar satu?

Ia berkata, satu kata tukar satu.

Kubilang, terus kalimat.

Ia berkata, kalimat dua.

Kubilang, sambunganku mahal.

Ia berkata, punyamu mahal.

Selesai berkata kelereng-kelereng itu dipungutnya kembali ke saku, satu per satu. Selesai dipungut sakunya ditepak; sakunya berbunyi lagi.

Kubilang, Erya.

Ia berkata, tidak datang lagi.

Kubilang, beberapa hari tidak kelihatan.

Ia berkata, bukunya dijual ibunya.

Kubilang, dijual?

Ia berkata, dijual. Pengumpul kertasnya memberi satu ikat buku latihan.

Kubilang, bukunya itu kan dibagikan.

Ia berkata, yang dibagikan pun bisa dijual.

Kubilang, sudah dijual, lapor angka bagaimana.

Ia berkata, tidak melapor lagi.

Buku biruku kutekan ke dada. Di dalam jaket kapuk; menggembungkan satu tempat.

Wang Chaosheng melirikku sekali. Ia berkata, kamu takut apa.

Kubilang, tidak takut.

Ia berkata, bukumu tidak ada yang mau.

Kubilang, kenapa.

Ia berkata, di dalamnya tidak ada tulisanmu.

Tak kupaham. Tidak kutanya.

Ia berkata, kamu juga tulis satu.

Kubilang, menulis apa.

Ia berkata, tulis satu yang kamu pendengar. Selesai ditulis berikan dia; tukar tiga.

Kubilang, punyamu kan dua.

Ia berkata, punyamu tiga.

Kubilang, kalau begitu aku tidak menukar.

Ia berkata, terserah.

Kertas itu dikumpulkannya. Saat mengumpulkan dihaluskannya tiga kali.

Esoknya kujumpai Erya di halaman.

Memeluk adik laki-lakinya. Adiknya berpakaian tebal; lengannya tak sanggup membuka.

Kubilang, kok kamu tidak datang.

Ia berkata, tidak pergi lagi.

Kubilang, kenapa.

Ia berkata, aku tak sanggup melapor.

Kubilang, aku juga pernah tak sanggup.

Tidak disambungnya. Adiknya dinaikkan sedikit pelukannya.

Kubilang, bukumu mana.

Ia berkata, diberikan ibuku ke pengumpul kertas.

Kubilang, ditukar apa.

Ia berkata, ditukar dua lembar lukisan tahun baru.

Ia berkata lagi, masih ada satu ikat buku. Buku itu bergaris; lebih enak ditulisi.

Kubilang, buku itu kan dibagikan.

Ia berkata, yang dibagikan pun diambil ibuku.

Adiknya menangis. Ditepuknya dua kali.

Ia berkata, aku tidak pergi lagi. Pergi pun tak sanggup melapor.

Kubilang, oh.

Adiknya dipeluknya, pergi. Tali sepatunya terbuka; tidak diikatnya.

Setengah jalan, sepatu adiknya lepas satu. Kembali memungutnya.

Selesai dipungut sepatu itu dijepitnya di ketiak; satu tangan memeluk adiknya, pergi.

Sorenya ke gerbang pabrik sendirian.

Di kaki dinding gerbang berjongkok satu orang.

Satu sepeda bersandar ke dinding. Di rak belakang terpikul satu kardus; kardus diikat tali; ikatannya menyilang, pola angka pagar.

Tangannya bersarung. Kelabu; rajutan benang; bagian lekuk ibu jarinya aus; kelima jarinya keluar.

Ia merokok. Sekali hisap, rokok dijepit di sela jari; tangannya tergantung.

Selesai merokok puntungnya dipadamkannya ke sol sepatu. Selesai dipadamkan puntung itu dipungutnya lagi, dimasukkan ke saku.

Wang Chaosheng berlari mendekat. Sampai kaki dinding, berjongkok.

Dari sakunya dikeluarkannya satu lembar kertas; dilipatnya kotak kecil.

Diterima lelaki itu. Tidak dipandangnya. Diselipkannya ke dalam baju; ditekan sekali.

Tali kardus itu diurai keduanya. Selesai terurai, segenggam kelereng diraihnya dari dalam.

Ia berkata, hitung.

Wang Chaosheng menghitung: satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.

Lelaki itu meraih lagi segenggam permen. Dua.

Wang Chaosheng berkata, yang lalu juga dua.

Lelaki itu berkata, yang lalu katamu banyak.

Wang Chaosheng berkata, yang ini juga tidak sedikit.

Lelaki itu berkata, yang ini ada tiga yang lama.

Wang Chaosheng diam. Permen diselipkannya ke saku.

Lelaki itu saat itu melihatku.

Dari kardus ditariknya satu buku; diperlihatkannya pada Wang Chaosheng.

Bukunya dijilid stapel. Stapelnya di kiri; satu staple miring.

Ia berkata, ini yang lalu.

Wang Chaosheng menerimanya, membukanya. Halaman demi halaman dibaliknya; berhenti di halaman empat.

Ia berkata, yang ini ada punyaku.

Lelaki itu berkata, cari. Ketemu namamu, jadi punyamu.

Wang Chaosheng mencari. Dua kali dicarinya.

Ia berkata, tidak ada.

Lelaki itu berkata, semuanya sama saja.

Buku itu ditariknya kembali; diselipkan ke kardus. Saat menyelipkan kertas-kertas di dalam kardus ditekannya turun.

Ia bertanya, yang ini siapa.

Wang Chaosheng berkata, dia yang menyambung kalimat.

Lelaki itu mengangkat wajah memandangiku. Matanya kecil; putih matanya agak kuning.

Ia berkata, sambungkan satu.

Diamku.

Ia berkata, ucapkan satu kalimat, kuberi permen.

Tetap diamku.

Wang Chaosheng berkata, dia tak sanggup mengatakannya.

Ia berkata lagi, dia berkata, ia berkata, masih kurang sedikit.

Lelaki itu menulis di bukunya. Buku ditopang di lututnya, tegak; tulisannya sangat lambat.

Selesai menulis ia berkata, masih ada lagi tidak.

Wang Chaosheng berkata, ada. Ia berkata, di sana sedang melaporkan satu perkara yang sangat lambat.

Lelaki itu menulis. Selesai menulis penanya berhenti.

Ia berkata, yang ini sudah lama.

Wang Chaosheng berkata, lama apa.

Ia berkata, yang ini pernah dicetak.

Buku itu ditutupnya. Sebelum ditutup halaman itu dilipatnya sekali; terbentuk satu sudut lipat.

Ia berkata, isinya tidak penting.

Ia berkata, pembeli hanya mau lima kata itu: yang dikatakan anak.

Tak kupaham.

Di dalam hati lima kata itu kuhitung.

Dihitungnya satu per satu.

Lima.

Kuhitung sekali lagi. Tetap lima.

Saat menghitung yang ketiga, buku itu sudah dikumpulkannya.

Diberikannya padaku satu permen.

Permen itu diulurkannya; dijepit dua jari.

Tidak kuterima.

Permen itu diletakkannya di atas dinding; memalingkan badan mendorong sepedanya.

Penyangga sepeda berbunyi sekali. Naik; pedal setengah putaran; pergi.

Kardus terguncang di rak belakang. Sekali goncang, talinya kendur sedikit.

Permen di dinding itu diambil Wang Chaosheng.

Tak sanggup dikupasnya; dimasukkan ke mulut sekalian dengan kertasnya.

Ia berkata, kamu tidak mau, aku yang mau.

Kubilang, kertasnya.

Ia berkata, tidak ngaruh.

Pulang ke kantor pabrik, langit masih sedikit terang.

Pak Qiao menyapu salju di pintu. Salju ditumpukkannya ke bak bunga; jadi satu gundukan kecil.

Ia berkata, masuklah, di luar dingin.

Kubilang, aku mencari pencatat.

Ia berkata, ada di dalam.

Selesai menyapu sapunya ditegakkannya di belakang pintu. Di belakang pintu dua gagang gantung; satu miring. Yang digantung yang lurus.

Kubilang, di luar ada yang mencetak kata-kata kita.

Ia berkata, dicetak ya dicetak.

Kubilang, begitu tercetak jadi miliknya.

Ia berkata, barang di atas kertas; siapa memungut jadi punya siapa.

Solder diambilnya dari ambang jendela; kepalanya ditiupnya debunya.

Ia berkata, jangan dipungut.

Kubilang, tidak kupungut.

Masuklah ia ke dalam. Di dalam pengeras suara terbentang selantai; diujinya satu per satu.

Pencatat duduk di tepi meja. Tangannya berkapur; di sela jarinya juga.

Ia bertanya, hari ini ada tidak.

Kubilang, ada.

Ia berkata, lapor.

Kulapor: terang. Jalan. Turun.

Ditulisnya. Selesai menulis ia bertanya, masih ada tidak.

Kubilang, tidak ada.

Kepalanya terangkat sedikit.

Ia bertanya, di luar ada yang mencari kalian tidak.

Kubilang, ada.

Ia bertanya, siapa.

Kubilang, di gerbang, satu orang bersepeda.

Ditulisnya di buku. Selesai menulis buku itu ditutupnya.

Kubilang, tulisannya apa.

Ia berkata, bukan urusanmu.

Kubilang, oh.

Buku itu dimasukkannya ke laci. Lacinya tak berkunci; tertutup masih menyisakan celah.

Tangannya tergeletak sebentar di laci; lalu ditarik.

Terlihat dari celah itu menyembul satu sudut kertas. Biru.

Kubilang, di lacimu juga ada yang tercetak?

Ia berkata, tidak ada.

Laci itu didorongnya tertutup. Selesai mendorong tangannya diselipkannya ke lengan baju.

Ia berkata, hari ini sampai di sini.

Aku keluar. Sampai di pintu ia menambah satu kalimat.

Ia berkata, barang dari luar, jangan dibawa ke rumah.

Kubilang, tidak kubawa.

Ia berkata, oh.

Keluarlah aku.

Dua hari kemudian Jumat.

Pencatat menjilid buku. Penusuknya melubangi tiga; sebelum melubangi kertas ditekannya; tercetak satu bekas tekan.

Benang putih dimasukkan; di bawahnya dibuat satu simpul; selesai simpul, ujung benang digigitnya sampai putus.

Selesai menjilid laci itu ditariknya. Di dalam laci satu tumpukan kertas; biru; tersusun rapi.

Diambilnya, dihitung. Selesai menghitung kepalanya terangkat, melirikku sekali.

Ia berkata, jangan dipandang.

Wajahku kupalingkan.

Ia bertanya, orang di luar itu minta apa pada kalian.

Kubilang, minta kata.

Ia bertanya, minta lagi apa.

Kubilang, minta satu kalimat yang belum pernah terdengar.

Ia berhenti sebentar. Kertasnya dikembalikannya ke laci.

Ia berkata, jangan kalian beri.

Kubilang, tidak kuberi.

Ia berkata, diberi pun boleh. Begitu tertulis, bukan lagi milik kalian.

Tak kupaham.

Buku biruku diambilnya; dibaliknya ke nomor tiga puluh enam.

Sebentar dipandangnya.

Dibaliknya kembali; buku dikembalikannya padaku.

Ia berkata, nomornya diingat.

Kubilang, teringat.

Ia berkata, tiga puluh enam.

Kubilang, hm.

Laci itu ditutupnya.

Ia berkata, pulanglah.

Kubilang, kamu.

Ia berkata, aku jalan belakangan.

Keluar pintu aku tidak pulang. Mengitari ke belakang gedung; berjongkok di balik bak bunga.

Di bak bunga tidak ada bunga; cuma tanah. Tanahnya beku; berjongkok dingin.

Sebentar kutunggu.

Pencatat keluar. Satu tumpukan kertas dipeluknya; dijepit di lengan.

Ia menuju halaman belakang. Halaman belakang kosong; di kaki dinding tersusun keranjang-keranjang rusak.

Di kaki dinding berdiri satu orang. Memegang satu tas hitam; tasnya persegi; pegangannya keras.

Kertas itu diberikan pencatat.

Diterimanya; ditimbang-timbang sekali; diselipkan ke tas. Tidak dihitungnya.

Satu kalimat diucapkannya. Tak kudengar.

Pencatat menggeleng sekali.

Orang itu pergi. Jalannya cepat; tas hitam membentak kakinya; sekali bentak berbunyi sekali.

Pencatat masih berdiri di kaki dinding. Berdiri memandangi tanah sebentar.

Lalu tangannya disekanya dua kali ke celana; berbalik kembali.

Tangannya kosong.

Dari balik bak bunga aku keluar; lututku ditepak. Di lutut dua bekas tanah.

Langit hampir gelap. Lampu gerbang pabrik menyala; yang mati itu tetap belum diperbaiki.

Wei Dongquan berdiri di gerbang.

Berkemeja gelap; kantong kain tersampir di lengan. Mulut kantong diikat tali.

Ia berkata, berhenti.

Wang Chaosheng berhenti. Baru pulang dari arah kaki dinding; sakunya penuh lagi.

Wei Dongquan berkata, keluarkan kertasnya.

Kertas di saku Wang Chaosheng diberikannya.

Dipandangnya. Lambat memandangnya; baris demi baris turun.

Selesai dipandang kertas itu diangkatnya sedikit; menghadap lampu.

Ia berkata, aksara di atas kertas ini, bukan aksara yang kamu ucapkan.

Wang Chaosheng berkata, ucapanku.

Wei Dongquan tidak menyambung.

Ia berbalik bertanya padaku, hari itu kamu menyambung apa.

Kubilang, ia berkata, masih kurang sedikit. Kurang sedikit lagi, baru stabil.

Ia berkata, ucapkan sekali lagi.

Kuucapkan sekali lagi.

Ia berkata, tidak sama dengan di kertas.

Kubilang, tidak samanya di mana.

Ia berkata, aksaranya tidak sama.

Ia berkata, kalau katanya diganti, itu bukan lagi kata kamu.

Ia bertanya, dia minta lagi apa pada kalian.

Kubilang, minta satu kalimat yang belum pernah terdengar.

Ia bertanya, siapa yang memikirkan.

Kubilang, Wang Chaosheng.

Ia bertanya, kamu memikirkannya tidak.

Kubilang, pernah.

Ia bertanya, terpikirkan tidak.

Kubilang, tidak.

Ia berhenti sebentar. Saat berhenti memandangi lampu di gerbang halaman.

Ia berkata lagi, kalau tak terpikirkan, jangan dipikirkan.

Kubilang, oh.

Ia mengatakan satu kalimat, berhenti sebentar. Saat berhenti ia menunggu ada yang menyambung.

Tidak ada yang menyambung; dilanjutkannya sendiri.

Ia berkata, kata-katanya milik kalian. Kertasnya bukan.

Kubilang, hm.

Kertas itu dilipatkannya dua kali. Selesai dilipat dilipatnya lagi; jadi kotak kecil.

Diselipkannya ke saku dada. Sakunya berkancing; dikancingnya.

Kubilang, di saku kamu disimpan apa.

Ia berkata, kertas.

Kubilang, disimpan buat apa.

Ia berkata, disimpan.

Kantong kainnya masih tersampir di lengan. Bawahnya berat; tergantung satu sudut keluar; persegi.

Terikat tali. Tidak dibukanya.

Kantong itu kulirik sekali.

Ia berkata, jangan dipandang.

Berhenti kupandang.

Wang Chaosheng berkata, besok aku ke sana lagi.

Wei Dongquan berkata, pergilah.

Selesai berkata ia pergi. Jalannya tanpa bunyi. Pelat solnya lunak.

Kelereng dikeluarkan Wang Chaosheng; berjongkok di bawah lampu menghitung.

Ia berkata, tujuh.

Sekali lagi dihitungnya: tetap tujuh.

Ia berkata, besok menukar karet. Karetkaku habis.

Kubilang, punyamu kan sudah dipotong satu.

Ia berkata, yang itu hilang.

Lalu berlari dia. Saat berlari sakunya tetap berbunyi.

Sampai rumah, Ibu sedang membersihkan seledri.

Tangannya merah beku; ruas jarinya kasar.

Ia bertanya, ke mana saja.

Kubilang, gerbang pabrik.

Ia bertanya, di sana ada apa.

Kubilang, ada orang.

Ia bertanya, orang apa.

Kubilang, penjual kertas.

Keluar bunyi hm sekali. Akar seledri dipenggalnya; dilemparnya ke ayam.

Ayam menggaruk tanah di kaki dinding. Satu lubang tergali.

Kubilang, Bu.

Ia berkata, hm.

Kubilang, penerjemah itu apa.

Ia berhenti sebentar.

Ia berkata, siapa yang bilang.

Kubilang, dengar dari orang.

Ia berkata, tidak tahu.

Seledri itu dibawanya masuk.

Ibu menghamparkan buku rajut di atas dipan; diperlihatkannya padaku.

Di buku tercatat kata-kata. Catatannya; hurufnya besar; satu halaman tiga empat kata.

Satu tempat terrembes minyak; kertasnya menggelap; aksaranya masih terbaca.

Ia berkata, ini semua kata-katamu.

Kubilang, kataku?

Ia berkata, waktu kamu kecil.

Kubilang, sekarang pun aku masih kecil.

Tersenyum sekali. Selesai tersenyum buku itu ditutupnya.

Kubilang, mencatatnya buat apa.

Ia berkata, kamu mengatakan, aku mencatat.

Kubilang, diperlihatkan ke orang tidak.

Ia berkata, tidak.

Kubilang, kalau begitu sama tidak dengan yang di luar itu.

Ia berhenti sebentar.

Ia berkata, yang kucatat yang kamu ucapkan.

Kubilang, oh.

Buku itu ditekannya di bawah bak anyaman; selesai ditekan ditekannya lagi sekali.

Bapak mengeluarkan mesin pitanya.

Di bulan kedua belas sekali ia poles; diletakkan di atas lemari; kain penutupnya terangkat.

Ia menyuruhku bicara sekali.

Ia berkata, ucapkan satu, kurekam untukmu.

Kubilang, mengucapkan apa.

Ia berkata, apa saja. Yang kamu lapor itu.

Kubilang, ia berkata, masih kurang sedikit.

Tombolnya ditekannya. Kuucapkan.

Diputarnya mundur; diputarnya.

Yang keluar satu segmen desis. Di dalam desis tidak ada apa-apa.

Diputarnya sekali lagi. Tetap desis.

Ia berkata, tidak masuk pita.

Ibu dari dapur tungku berkata, sudah kubilang dari dulu, tidak masuk pita.

Bapak berkata, kali ini sudah dipoles.

Selesai berkata diputarnya sekali lagi.

Pitanya dikeluarkannya; diletakkan di atas lemari. Letaknya lurus; dua gulungannya menghadap atas.

Kubilang, terus aku ucapkan sekali lagi.

Ia berkata, tidak usah.

Mesin itu ditutupnya.

Dari tas punggung kugapai buku biru; dibaliknya sampai halaman akhir.

Tetap nomor tiga puluh enam.

Nomor tiga puluh tujuh kosong.

Di belakangnya ada nomor; tidak ada aksara.

Buku kututup; diselipkan kembali ke tas punggung. Tali tasnya lepas lagi.

Malam radio selesai siaran. Tali jemuran di luar jendela berbunyi ditiup angin.

Kubaring mendengarkan sebentar.

Ia masih ada.

Tidak kubilang apa-apa.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk