Gemaoleh 环形废墟

29 · Tombol Putar Ulang

Bab 29 · 13,9 rb kata

[ARSIP GEMA · LAPISAN 3 · 51.9% TERDEKODE · KUNCI: SUARA LANGSUNG DARI SIARAN UPACARA PEMBUKAAN OLIMPIADE MUSIM PANAS 2008]

16 September.

Tanggal ini tergeletak di atas dokumen tiga bulan; dua kali kusalin, yang kedua lebih kecil daripada yang pertama. Kini ia tiba.

Dini hari pukul 3.11.44, anak tangganya naik seperti biasa. Anak tangga ke-547. Kurva terangkat sebentar, stabil, turun kembali. Tong menulis "tanpa bingkai" di buku jaga; tulisan di kiri, cap di kanan. Selesai menulis penanya diletakkannya, katanya, hari ini buku ini penuh satu halaman. Tak ada yang menyambung. Hari ini tak ada yang membaca buku jaga.

Pukul 8, putaran terakhir penjajaran jam sedunia. Di kanal koordinasi bahasa Inggris dengan dua puluh lebih logat melaporkan angka yang sama; sampai digit terakhir, semuanya cocok. Penyelarasan bersama dikerjakan tiga bulan; aturannya makin diselaraskan makin sedikit, akhirnya tersisa tiga: materi seragam memakai bingkai itu dari berkas arsip, seratus delapan puluh baris, dua puluh lima detik; tiap stasiun TV, tiap stasiun, tiap layar, mulai menyiar pada menit yang sama; selesai menyiar, apa yang disiar, masing-masing menetapkan sendiri. Butir ketiga lahir dari perdebatan. Ada negeri ingin menyiar hening berlanjut secara seragam; bantahannya gugur, alasannya tertulis di notulen: yang diinginkannya bingkai itu; yang di belakangnya bukan wewenangnya, dan tak seharusnya ada lagi yang menyusun daftar program untuk seluruh umat manusia.

Materinya keluar lewat aku. Bingkai itu dari berkas arsip, keluar pustaka oleh tanganku sendiri, ditandatangani dua orang, nama Xiao Gao berimpit dengan namaku. Aslinya tak keluar pustaka; yang keluar duplikat yang sudah diverifikasi, empat digit pertama hash-nya tercetak di tiap lembar surat penyalurannya. Dua puluh lima detik yang dikirim ke seluruh dunia itu, kepala empat puluh enam bita, satu bita pun tak boleh meleset. Pak Lu mendengarkan duplikatnya tiga kali; yang ketiga selesai didengarkan ia berkata, sudah; baru pertama kali, gulungan yang kita kirim lebih bersih daripada yang ia terima.

Pagi tak ada perkara. Semua orang menunggu siang. Di ruang jaga aku duduk; buku berpelapis plastik biru itu kutarik dari tas, tak kubuka halamannya, kuletakkan kembali. Nian hari ini masuk sekolah; saat berangkat ia bertanya, hari ini lembur tidak. Kubilang, tak lembur; sebelum malam sudah pulang. Ia berkata, pas, PR-ku juga sedikit. Di pintu ia berganti sepatu; selesai berganti tali sepatunya diikatkannya ulang, diikat kencang, baru berjalan.

Rumah jaga kulawati sekali. Penghitungnya masih tergantung di rangka jendela; tiga tumpuk surat sudah lama menyatu jadi dua. Barisan kartu pos di ambang jendela tersusun di tempat lama; cap pos yang paling ujung 19 Agustus. Tong tak ada di dalam; kalendernya terbentang di meja. Saat keluar kulirik toko di seberang simpang: di pintu kaca toko konsultasi itu, di bawah "Dijual" ditempel lagi satu lapis baru bertuliskan "Disewakan"; tempelannya miring juga. Di dalam sudah kosong; mejanya masih ada, di atas meja tak ada apa pun. Mobil kelabu tak ada di mulut gang. Tak kutanya penjaga gerbang; penjaga gerbang bulan lalu berganti orang, yang muda, tak mengenal mobil itu. Pintu ruangan timur lantai tiga terbuka; lewat hendak mengambil barang di atas, kulirik ke dalam: mejanya sudah dipindah, di dinding tersisa satu bidang bekas yang lebih terang daripada meja, gembok yang dibuka dengan sandi diganti gembok biasa, terkunci.

Pukul 11 Ye Zhen datang. Ia membawa kartu-kartu putihnya; bukan datang bekerja. Kartu-kartunya dibentangkannya di meja jaga, disusun satu barisan. Enam puluh satu kartu; di sisi ujung masih kosong satu petak—posisi kartu pos yang terputus itu. Ia berkata, hari ini aku ingin ia memandangi ini. Kubilang, ia tak dapat memandangi kartu. Ia berkata, aku tahu. Kartu-kartunya dirapikannya lagi sedikit, berkata, aku cuma memajangnya saja. Selesai memajang ia duduk sebentar, bertanya, jam berapa. Kubilang, pukul 4.05. Ia berkata, kalau begitu aku pulang ke lembaga; lembaga kami hari ini buka seluruhnya, kata kepala lembaga, hari ini lembaga arsip tak seharusnya tutup. Saat berangkat tutup penanya dipasangnya dulu baru bersuara; katanya, sampai nanti.

Tengah hari kantin menambah lauk; lagi-lagi kol rebus soun, tak ada yang lain. Saat dihidangkan makanan Lao Song bertanya, nanti siang kau mengoperasikan segmen yang mana. Kubilang, aku tak mengoperasikan apa pun; aku cuma memandangi. Ia berkata, itu juga bagus. Nampannya digendongnya mencari tempat duduk; ketemu, duduk, sumpitnya belum disentuh; ponselnya dikeluarkannya dari saku, diletakkannya menghadap ke atas di sudut meja. Ponselnya menyala, terdiam di halaman penghitung waktu. Kartu mertuanya bulan lalu dihapus; orangnya pergi musim dingin, perginya sunyi, di kolom obituari namanya tak ada, versi mana pun tak ada. Baru setelah ponselnya terpasang ia makan.

Makanan kami baru separuh, ponsel Xiao Gao bergetar sekali. Ia melirik, memutar layarnya ke arah kami. Adebayo mengirim satu foto: sebidang atap, miring, berdiri puluhan antena, macam apa saja ada. Di bawahnya satu baris tulisan: hari ini kerjaan berhenti lebih awal. Lao Song mendekat memandangi, bertanya, ini di mana. Xiao Gao berkata, ia tak menulis. Xiao Gao membalas dua aksara: lepaskan saja. Dari seberang lama sekali, balasannya satu tanda titik. Satu tanda titik saja. Lao Song memandangi Xiao Gao; Xiao Gao menyimpan ponselnya, berkata, makan.

Pukul 1, semua orang di tempatnya. Posisiku di depan Mesin Enam; kiri Xiao Gao, kanan Tong. Zhou Yansheng duduk di barisan belakang; ia sekarang duduk di belakang, katanya bagian depan disisakan untuk orang-orang yang menekan tombol. Shen Yi berdiri di sampingnya. Hari ini institut tak menempatkan komandan; perintah komite koordinasi tiga hari silam sudah mati bulatnya: pukul 16.05 (pukul 8.05 waktu universal terkoordinasi), seluruh dunia mulai menyiar serentak; tanpa aba-aba hitung mundur, tanpa siapa muka siapa belakang, mesin sendiri berjalan pada waktunya. Yang dapat dikerjakan manusia selesai tiga bulan silam; gerakan terakhir ini, mesin yang mengerjakannya untuk semua orang. Zhou Yansheng berkata, begini bagus; tak ada yang bisa disebut memimpin.

Pukul 1.50, laporan kesiapan tiap stasiun masuk. S-08 ada, S-19 ada, S-23 ada, S-31 ada. Saat S-31 dibacakan, ruangan hening sedetik. Shen Yi membalik lembar daftar itu, berkata, lengkap. Tak ada yang menanyakan catatan lama S-31, ia pun tak berkata apa-apa. Amplop kraft yang lebih dari setahun tertindih di petak paling bawah lemari itu, bulan lalu diserahkannya sendiri; saat diserahkan mulut kantongnya disegel, di segelnya tanda tangan dan tanggalnya. Dari hari diterima sampai hari diserahkan terbentang empat ratus enam puluh lebih hari; angka itu bukan ucapan dia, dihitung dari buku registrasi terima-kirim.

Pukul 2.40, pemeriksaan terakhir. Lembar penyalurannya kutarik: empat puluh enam bita, hash-nya cocok. Pratinjau dua puluh lima detik itu di layar tak kutekan. Sudah seratus lebih kali kupandangi; mulai kali keseratus satu tak ada lagi yang baru terlihat: baris-baris kabur, putih yang kelabu, satu lengkung lapangan olahraga, satu bayangan tangan terangkat. Ia keluar pada 1 Agustus 1936, berjalan di jalan selama seratus empat tahun, dua kali masuk kaset, salinan ulangnya melukai detik kedelapan—versi yang keluar hari ini tak berluka; lukanya tertinggal di gulungan induk, gulungan induknya di gudang; kata Pak Lu, disimpan untuk didengarkan sendiri.

Pukul 3 tepat, sedunia tak ada riuh yang terdengar dari sini. Wujud saat itu baru kutahu belakangan dari berita: ada kota jalannya hening, ada kota tak ada bedanya, restoran menghidangkan makanan seperti biasa; ada yang memangku radio naik ke atap, ada yang berjaga di depan TV ruang perawatan; di banyak ambang jendela terpasang radio tua, kebanyakan Red Lantern, semuanya menyala, tak ada yang bisa menerangkan menyala itu berguna untuk apa. Itu semua perkara belakangan. Saat itu yang sanggup kulihat hanya satu ruanganku ini.

Pukul 3.20 Pak Lu datang dari grup audio, tak masuk, berdiri di pintu. Di tangannya tak ada apa pun. Ia berkata, mesin-mesinku di sana sudah kumatikan semua; tinggal satu mesin pita gulung kubiarkan menyala, berputar kosong. Kutanya, diputar untuk apa. Ia berkata, mendengarkan motornya. Bunyi motor tak benar, gulungan pasti tak bisa benar—hari ini seluruh dunia adalah gulungan; haruslah kudengarkan sedikit. Ia berdiri sebentar lalu pulang.

Pukul 3.40 Zhou Yansheng datang sekali dari belakang, memandangi tiga layar kami, tak bersuara, kembali duduk. Cangkir di mejanya dialasi tisu; kedua tangan terletak di kiri kanan cangkir, tak memegangnya. Shen Yi senantiasa berdiri di sampingnya; sikap berdirinya sama dengan hari ia datang menetap lebih dari setahun silam, kedua tangan terselip di belakang punggung.

Pukul 3.50 aku ke belakang mengantar lembar pemeriksaan. Papan tulisnya sudah dihapus. Tabel jadwal terhapus seluruhnya; tiga aksara "belum terisi" pun hilang, debu kapurnya menumpuk di talang bawahnya. Di posisi tabel semula Zhou Yansheng menulis satu baris baru, tulisannya masih kecil: 16 September, pukul 16.05, tertutup. Tanpa penutup nama, tanpa pula nama lembaga. Ia melihatku memandang, berkata, jadwalnya sudah sampai ujung. Saat berkata begitu kedua tangannya bertumpu di bibir meja; baru setelah stabil ia menegakkan badan.

Pukul 3.55 Tong memakai kacamata bacanya, membalik kalender jaga ke hari ini. Lingkaran yang tiga bulan silam ia gambar di petak itu masih ada. Di dalam lingkaran itu ditambahkannya dua aksara: tiba.

Pukul 3.58, stasiun terakhir di kanal koordinasi melaporkan siap; kanal itu hening. Hening penuh dua menit: tak ada yang bersuara, tak ada pula yang memberi aba-aba. Aturannya memang tak ada aba-aba.

Pukul 4.

Jam Mesin Enam berjalan sampai pukul 4.04.50; jam tanganku sendiri terdengar. Di dalam ruangan tak ada yang bersuara; lampu sensor suaranya padam, tak ada pula yang menghentakkan kaki. Gelap. Cahaya layar jatuh ke empat wajah.

Pukul 4.05.

Mulai menyiar. Di kanal koordinasi dua puluh lebih stasiun serentak melaporkan aksara yang sama: kirim. Ribuan stasiun TV dunia, jutaan stasiun pangkal, berapa ratus juta layar, pada detik yang sama memutar bingkai yang sama—dua puluh lima detik tahun 1936. Di monitor Mesin Enam kuputar ke stasiun lokal; gambarnya muncul: kelabu, kasar, petak demi petak; lengkung lapangan olahraga itu miring. Kuhitung detiknya. Dua puluh lima detik sebenarnya tak lama, tapi aku tahu seluruh dunia pada menit ini sedang menghitung juga, jadinya terasa panjang. Sampai belasan detik, gambarnya masih lengkung itu, tak akan ada yang berubah—memang tak seharusnya berubah; apa yang kita kirim, itulah yang ia terima. Sekolah Nian tiga pemberhentian dari sini; tak tahu di ruang kelasnya ada layar atau tidak; tak pernah kutanya hari ini sekolahnya memutar ini atau tidak. Saat ini tak mungkin bertanya, dan tak juga ingin bertanya.

Sampai hitungan dua puluh lima, gambar berpindah. Kanal koordinasi hening satu ketuk, lalu tiap stasiun mulai melaporkan penerimaan, satu demi satu, hampir dua menit melapor. Shen Yi melepas kedua tangannya dari belakang punggung, menggantungnya di sisi badan. Baru pertama kali kulihat ia berdiri dengan tangan menggantung.

Dua puluh lima detik, selesai disiar. Stasiun lokal kembali ke studio; juru beritanya duduk, tak bersuara, menunggu dua detik, berkata, bingkai tadi, siarannya selesai. Satu kalimat itu saja. Lalu program seperti biasa, prakiraan cuaca. Prakiraannya besok berawan, berubah cerah.

Pukul 4.05.30, kami mulai menerima.

Anak tangga itu perkara dini hari esok; di tempat tak bisa diperiksa. Yang bisa diperiksa semuanya ada di subpembawa pendamping. Pembawanya masih ada; daya tak berubah, frekuensi tak berubah, rantai sebelas stasiun terhubung semua. Perubahannya ada pada hitungannya. Hitungan bingkai tiga puluh dua bit itu—angka yang membeku sejak hari ke-188 hampir setahun—bergerak. Bukan maju bertambah; melompat mundur. Xiao Gao menarik catatannya, memandangi petak demi petak: melompat tiga kali, berhenti. Dihitungnya sekali, dihitungnya lagi sekali, berkata, nol. Melompat kembali ke nol. Menghitung dari awal.

Pukul 4.40, katalognya menyegarkan diri. Kolom 2079 di Lapisan 2 itu sampai kepala; ke belakang tak muncul lagi halaman baru. Baris teratasnya berganti; kolom tanggalnya tertulis: 1936, 1 Agustus. Kolom statusnya satu aksara: terjadwal. Xiao Gao membalik satu halaman ke belakang—petak esok, petak yang kosong lebih dari setahun itu, terjadwal; yang terjadwal ya baris ini. Ke belakangnya tiap petak masih kosong, satu hari satu petak, menunggu. Esok dini hari pukul 3.11.44, anak tangga naik atau tidak, lapisan itu memberi apa, sampai waktunya tahu.

Tong menarik buku jaga itu ke depan, bertanya padaku, petak hari ini ditulis apa. Kubilang, tulis apa adanya. Ia menulis: 16 September, pukul 16.05, seluruh dunia menyiar serentak. Selesai menulis di sampingnya dicap stempelnya—masih stempel "tanpa bingkai" itu, aksara bingkainya kurang satu goresan. Ia memandangi baris itu, berkata, stempel ini, besok kayanya tak terpakai lagi. Kubilang, sampai waktunya saja.

Aliran ekstrapolasi berhenti. Pukul 17.20, pemberitahuan hasil peninjauan dikirim naik, dua baris: entri Lapisan 2 tak bertambah lagi; sinyal beralih ke mode putar ulang, dari bingkai permulaan, satu lapisan sehari. Dua baris itu dilihat Ye Zhen belakangan, katanya, laju tetap. Mengembalikan gulungan pun ia berlaju tetap. Saat mengatakan itu ia tersenyum; sekali tersenyum lalu tak tersenyum lagi, berkata, itu harus diputar berapa tahun. Tak ada yang menyambung. Berapa tahun memutar seluruh masa lalu manusia, hitungan itu tak ada yang mengerjakannya di tempat.

Pukul 7 malam aku sampai rumah. Nian sedang mengerjakan PR; PR selesai ia berlatih piano, yang lambat itu, yang menyisakan tempat napas. Selesai memainkan sekali putaran ia bertanya, hari ini yang itu sudah diputar semua. Kubilang, sudah. Ia berkata, sekolahku juga memutar; seluruh sekolah menonton di lapangan, layar besar, tak begitu jelas. Kutanya, terlihat apa. Ia berkata, ada satu bayangan, mengangkat tangan sekali. Katanya, gurunya berkata itu manusia pertama yang masuk televisi. Kubilang, bukan; manusia pertama yang masuk televisi adalah orang yang membidiknya. Ia berpikir sebentar, berkata, kalau begitu yang pertama adalah yang tak dapat dilihat. Kalimat itu ia ucapkan seperti mengucapkan hal biasa; selesai berkata ia merapikan partiturnya.

Makan malam kacang panjang dan daging rebus; api kecil; aku berjaga di depan panci, empat puluh lebih menit tutupnya tak dibuka. Mangkuk dan sumpit dipasangkan Nian; ujung sumpitnya diselaraskan dulu baru diletakkan. Saat makan televisinya menyala; stasiun lokal memutar ulang bingkai siang itu tiga kali: sekali disertai takarir, dua kali disertai komentar, komentarnya sekali lebih banyak daripada sekali. Nian memandangi sebentar, berkata, lebih baik tak diberi komentar. Ia bangkit mematikan televisinya. Ruangan hening; yang terdengar hanya bunyi sumpit menyentuh mangkuk.

Terminalku kuarahkan, kuhubungkan. Katalog mode putar ulang tersusun di lapisan paling atas; baris pertama, 1 Agustus 1936, statusnya terjadwal, lapisan esok. Ke belakangnya tiap baris masih kosong, satu hari satu baris, menunggu esok, menunggu lusa. Dua puluh lima detik yang akan dikembalikan itu, siang tadi baru sekali kirim dengan tanganku sendiri; tak kutekan untuk membukanya. Terminal kumatikan, kututup, kulirik sudut kanan bawahnya.

Tanggalnya: 16 September.

Masih satu hari lagi. Besok 17 September. Bingkai itu masih di pustaka; kedua versinya ada; versi mana pun tak akan lagi ada satu episode baru yang menyambungnya. Versi mana yang sah, ke depan tak ada lagi hari penyeimbangnya. Tak kupemeriksa. Terminal kumasukkan ke tas; tasnya kukancing. Dari dapur Nian sedang bertanya besok pagi makan apa; kubilang, kacang panjang.

Di bawah lampu, radio Red Lantern itu terpasang di kabinet rendah, tak menyala. Nian selesai berlatih piano lewat di depannya, mengulurkan tangan memutarnya menyala, memutarnya ke tujuh koma dua megahertz; berdesis beberapa bunyi, tak ada stasiun. Ia berkata, masih tak ada stasiun juga. Ia mendengarkan sebentar, berkata, kalau begitu biarkan menyala begitu saja. Ia tak mematikannya. Desisnya sangat pelan; senantiasa ada.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk