[ARSIP GEMA · LAPISAN 3 · 51.9% TERDEKODE · KUNCI: SUARA LANGSUNG DARI SIARAN UPACARA PEMBUKAAN OLIMPIADE MUSIM PANAS 2008]
Hari ke-326, pukul 03.11.44, anak tangga ke-329. Tanpa bingkai.
Tabel registrasi kunci ditarik dari kolam semalam suntuk; seluruhnya tiga puluh satu kunci. Tiga yang terverifikasi: dialog tahun 1987, nol koma sembilan detik tahun 2008, bunyi "ei" tahun 2021. Dua puluh delapan sisanya kandidat yang dilaporkan stasiun-stasiun selama bertahun-tahun; tak pernah diverifikasi, tak pernah pun dicoret, senantiasa tergantung di tabel. Pekerjaan menabrakkan kunci dibagi dua: Xiao Gao menjaga paruh pertama malam, aku paruh kedua. Prosedurnya tulisanku: tiap kunci dibuat tiga wujud—sidik suara aslinya; sampelnya diturunkan ke kualitas siaran tahun itu; diberi alas satu detik hening di muka dan di belakang. Dimasukkan ke kolom kunci, menunggu tanda terima.
Tanda terimanya ada dua macam. Yang salah mengembalikan F—empat digit, semua F. Yang kosong mengembalikan nol—empat digit, semua nol.
Posisi tahun di tabel katalog waktu itu semuanya F; kode itu aku hafal. Tiga puluh satu kunci, sembilan puluh tiga wujud, ditabrakkan mulai malam hari ke-326. Sampai dini hari hari ke-330, dua puluh delapan kandidat selesai menjawab semuanya; jawabannya semua F. Tiga kunci terverifikasi, ketiga wujudnya dikirim bergantian; jawabannya semua nol.
Xiao Gao memaku tanda terima menjadi satu tumpukan, menghitung nomor halaman kakinya, berkata, kandidatnya salah; yang terverifikasi malah tak sampai pada kesempatan salah. Kubilang, hm. Ia berkata, maksudnya bagaimana. Kubilang, catat lebih dulu, jangan diucapkan.
Tumpukan itu dibaliknya kembali, katanya lagi, bagaimana kalau audio yang populer setelah 2021 juga dibuatkan beberapa kunci; audio panas di internet, tiga puluh bisa kuusulkan. Kubilang, usulkan saja. Tabel registrasinya bertambah sampai enam puluh satu kunci. Selesai ditabrakkan: lima puluh delapan menjawab F, tiga menjawab nol. Pada hari wujud varian mencapai nomor 51, kipas mesin penabrak kunci berbunyi—bunyi lagernya. Formulir perbaikan dikirim ke atas; di kolom kegunaannya kutulis: tidak mendesak.
Keesokan harinya surat dari S-19: mereka memformat ulang ketiga kunci terverifikasi ke sistem siar negeri mereka pada masa itu, masing-masing satu putaran, lalu menabrakkannya lagi. Tanda terimanya dilampirkan di belakang: tiga baris nol. Di dalam suratnya ada satu kalimat: disarankan menyimpan tanda terima ini sebagai bukti keadaan posisi kunci. Kalimat itu dibacakan Xiao Gao, katanya, nol pun bisa jadi bukti. Kubilang, mereka benar. Kalau nol bukan bukti, "tak ada" pun kita tak punya.
Hari-hari itu lampu koridor institut diganti; yang sensor suara diganti yang menyala terus, katanya peremajaan hemat energi terpadu. Dua hari pertama setelah pemasangan tak ada yang terbiasa; sampai di tikungan tangga masih ada yang menghentakkan kaki, lampunya tak menggubris, orangnya terdiam setengah ketuk, baru jalan. Bunyi hentakan itu menggema di koridor selama seminggu, lalu lama-lama hilang. Saat berangkat kerja kulintasi toko di seberang: sudut kertas "Dijual" di pintu kacanya telah dicabut angin; separuh kata sisanya masih menempel di pintu. Meja di dalam sudah dipindah; bekasnya masih ada di lantai—empat kaki, lingkaran debu yang tipis.
Hari ke-334 kartu pos datang ke rumah jaga; cap posnya masih tanggal sembilan belas. Tong menyusunnya ke barisan di ambang jendela; di tengah menyusun ia berhenti. Dihitungnya, katanya, kartu bulan lalu tak datang. Kartu yang baru ini diletakkannya pada tempatnya; di depannya satu petak dibiarkan kosong, tak diganti dengan yang lain. Katanya, terputus satu bulan. Kubilang, hm. Ia berkata, biarkan kosong; kosong juga tercatat.
Bulan itu koran luar mengganti kolomnya ke judul ketiga: "Siapa yang Menyimpan Jawaban untuk Kami." Terbit tiap tiga hari, tak pernah bolong; angka yang disebut Shen Yi, tak meleset sehari pun. Di internet ada yang memotret separuh kalimat "orang yang diduga berhubungan dengan proyek" dari notulen itu, di bawahnya mencantumkan tujuh nama. Xiao Gao memandanginya sebentar, berkata, yang pertama ditebak ya Adebayo. Perginya justru baik untuknya; pergi, tak ada lagi yang membela dia. Selesai berkata ponselnya dibaliknya menghadap bawah di atas meja, dibaliknya sedikit lebih keras daripada biasa.
Sore hari ke-335 aku ke ruang mesin grup audio mencari Pak Lu. Penangan kepalanya tergantung di lehernya; yang diputar tiga segmen yang ditarik dari arsip: dialog 1987, suara seorang pria, dibacakan datar; nol koma sembilan detik 2008, hitungan mundur, hening, di ujungnya satu tarikan napas; bunyi "ei" 2021, ditarik panjang, di ujungnya terangkat sedikit. Tiga segmen selesai diputar; ia menungguku melepas penangan kepalanya baru membuka mulut.
Ia berkata, kunci itu semuanya suara. Ia berkata, yang ini belum bersuara.
Kutanya, tak bersuara, ditabrakkannya bagaimana.
Ia berkata, tunggu ia berbunyi.
Tiga segmen itu diputarnya lagi berurutan; kali ini ia sendiri yang mendengarkan ke pengeras suaranya. Selesai mendengarkan kenop volumenya diputarnya sampai nol. Ia berkata, kunci pertama, berjarak sekitar lima puluh tahun, cocok. Yang kedua berjarak sekitar tiga puluh tahun. Yang ketiga, sekitar dua puluh tahun. Ia berkata, makin dekat mengumpulnya. Dekat sampai ujungnya, yang dikumpulkan justru bunyi yang belum berbunyi itu. Saat mengatakan itu ia tak memandangiku; yang dipandanginya mesin pita gulung yang tak pernah dinyalakan itu.
Hari ke-340 Ye Zhen menyelesaikan kartu keenam puluh satu itu. Kartu terakhir selesai ditulis, penjepit besinya digesernya, supaya kartu baru itu masuk barisan; barisan putihnya lengkap. Dihitungnya sekali, katanya, lengkap. Tak berkata lain, tutup penanya dipasangnya, lalu pergi.
Masuk sekolah lagi pada hari ke-341. Pagi itu saat berangkat Nian meninggalkan jadwal pelajaran barunya, ditempel di sisi samping rak partitur, keempat sudutnya diratakan selotip bening. Malamnya kutanya hal kertas karangan itu. Ia berkata, gurunya memberi nilai Baik; katanya tulisannya terlalu pendek. Kutanya, sependek apa. Ia berkata, tiga aksara. Kutanya, tiga aksara apa. Mantelnya digantungannya, berkata, tak kubilangkan. Ia duduk berlatih piano, empat puluh menit, di tengahnya minum sekali. Selesai berlatih metronomnya ditutupnya, tiba-tiba berkata, gurunya berkata, cita-cita harus punya hal yang konkret. Selesai berkata ia pergi mandi; tetesan air dari rambutnya jatuh ke lantai koridor, satu tetes, dua tetes; kugenjinya mengikuti di belakangnya, sampai di depan pintu kamarnya pintunya tertutup.
Dua hari kemudian ia pulang sekolah, berkata sambil berganti sepatu di pintu: bulan April sekolah ada peragaan, tiap kelas mengirim dua orang. Kubilang, oh. Ia berkata, guruku mendaftarkan aku. Sepatunya dirapikannya, berkata, Ibu bisa datang tidak. Kubilang, bisa. Ia berkata, kali ini jangan duduk di barisan paling belakang. Kutanya, kalau begitu kududuk di mana. Ia berkata, di samping gurunya; di situ kosong. Ia masuk ke dalam; tasnya diletakkannya di tempat tidur, sesaat kemudian berkata lagi, kursi di ruang piano pendek, bawa alas duduk. Kubilang, baik. Ia tak keluar lagi.
Malam itu laci tengah meja tulis kutarik. Buku berpelapis plastik birunya ada, di bawah kacamata baca. Tujuh butir itu kubaca dua kali; baris kedelapan kosong. Penanya ada di laci, di samping tiga butir baterai—satu pena yang tak mengalir lagi. Tak kuganti penanya; buku itu kututup, kuletakkan kembali.
Malam hari ke-342 kelompok terakhir selesai berjalan. Enam puluh satu kunci, seratus delapan puluh tiga wujud; tanda terima dari awal sampai akhir hanya dua macam: satu macam mengisi lebih dari separuh halaman, satu macam lagi tiga baris. Xiao Gao memaku halaman terakhirnya, berkata, selesai. Kubilang, selesai. Staplernya dikembalikannya ke tempat pensil; ia duduk memandangi tumpukan kertas itu sebentar, lalu berkata, sejak masuk bidang ini, baru pertama kali aku berharap sebuah mesin melaporkan kesalahan. Dua mesin kami matikan, satu dibiarkan menyala. Di koridor lampu yang baru dipasang menyala terus, tersusun petak demi petak sampai ujung.
Malam hari ke-343 aku di rumah; selembar kertas kubentangkan di bawah lampu meja, peristiwa beberapa hari ini kulalui satu per satu. Tanda terima kandidat: semua F. Tanda terima yang terverifikasi: semua nol. Tabel registrasi: enam puluh satu kunci. Semuanya tersalin di kepala; materi tak perlu dibawa pulang. Dua mesin, dua hasil dekode, identik bita demi bita—catatan malam itu sudah tiga kali kubaca. Mesinnya tak salah. Tanda terimanya dari awal memang mengatakan begitu: di dalam kolom ini, tak ada apa pun yang bisa dijadikan lawan pembandingnya.
Apa itu kunci, kupikirkan ulang dari awal. Tahun 1987, satu dialog, pernah dibacakan seseorang, lalu diterimanya. Tahun 2008, nol koma sembilan detik, pernah terjadi, diterimanya. Tahun 2021, satu bunyi "ei", pernah terjadi, diterimanya. Tiga kunci, tiga peristiwa yang sudah terjadi. Yang harus dijawab kolom itu adalah peristiwa yang belum terjadi.
Bukan kosong. Menunggu diisi.
Di atas kertas itu kutulis tiga baris. Struktur kolomnya lengkap, field-fieldnya lengkap; tanda terima ketiga kunci terverifikasi semuanya kode kosong, bukan kode salah; kesimpulan: yang ditunggu kolom ini adalah peristiwa yang belum terjadi. Sampai baris ketiga, yang terlebih dahulu jatuh adalah kata "sinyal"; selesai ditulis dan dibaca sekali, dicoret, diganti "peristiwa". Di ruang tamu radio Red Lantern menyala, gelombang pendek, berdesis, volumenya sangat pelan. Nian sudah tidur. Kertas itu kuselipkan ke dalam buku frekuensi, ditindih penindih kertas; kulamun sebentar, tak nyenyak.
Keesokan harinya di institut, catatan perhitungan kutarik lebih dulu, diperiksa ulang dari awal; cocok dengan tiga baris di atas kertas itu, barulah diserahkan. Zhou Yansheng membacanya tak lama; selesai membaca tak mendongak, kedua tangannya terletak di bibir meja. Ia bertanya, kapan terjadinya. Kubilang, tak tahu. Ia bertanya, bisa dihitung atau tidak. Kubilang, tidak. Ia duduk tanpa bergerak; sesaat kemudian berkata, seumur hidup aku berjalan sesuai jadwal. Ia berkata, di tabel jadwal itu tak ada kolom untuk perkara begini. Ia berdiri, kertas itu dibawanya difotokopi tiga rangkap, kembali, aslinya dikembalikan kepadaku; berkata, laporkan. Katanya, saat melaporkan tambahkan satu baris: waktu selesai diperkirakan, tak dapat diestimasi. Katanya, baris itu ada karena kusuruh menambahkannya; tuliskan namaku.
Pintu Shen Yi kulalui di mulut tangga. Ia selesai membaca, bertanya, menunggu diisi—mengisi siapa. Kubilang, bukan kami. Ia bertanya, kapan kita tahu sudah terisi. Kubilang, hari kuncinya bisa masuk. Kertas itu dilipatnya, dimasukkannya ke koper; berkata, sekali seminggu, tiap hari Senin dilaporkan. Ia berhenti sebentar, berkata lagi, lapor tiga aksara saja: belum terisi.
Kubilang, baik.
Ia naik ke atas. Di tikungan tangga langkahnya melambat setengah langkah; tak berhenti.
Hari Senin Tong menambah satu kolom baru di buku jaga, bertanya apa yang kutuliskan. Kubilang, belum terisi. Ia menuliskannya; tulisannya lebih kecil daripada capnya. Selesai menulis ia berkata, kolom ini akan dituliskan sampai kapan. Kubilang, tak tahu. Ia berkata, kalau begitu bukunya harus disiapkan lebih dua buah.
Laporan mingguan pertama keluar pagi hari Senin. Tiga aksara: belum terisi. Tanda terimanya turun hari itu juga; di kolom penerimaannya tercap stempel dokumen diterima, tanggalnya penuh. Tiga aksara itu Zhou Yansheng salin ke papan tulis, ditulisnya di dasar paling bawah kolom jadwalnya; tulisannya lebih kecil daripada semua yang lain. Di rapat grup ada yang bertanya, tiga aksara itu berencana tergantung berapa lama. Ia berkata, digantung sampai tak perlu digantung lagi. Selesai berkata ia melanjutkan pembagian tugas: inventarisasi Lapisan 2 beralih ke kawasan katalog Lapisan 4; lebih dulu petak kosong itu ditetapkan hitam di atas putih. Saat membacakan butir itu suaranya tak ada bedanya dengan suaranya membacakan butir lain mana pun.
Panjang nominal field keempat enam puluh empat simbol; hal itu sudah tiga kali kuperiksa. Nominalnya enam puluh empat; yang terdekode kosong. Kosongnya itu lebih banyak kali kupemeriksa. Malam hari ke-346, bita keenam puluh empat simbol itu kutarik, amplitudonya kulihat satu per satu. Semuanya bukan nol. Amplitudo tiap simbol hanya satu per empat puluh dari amplitudo simbol data normal; dangkal; dangkalnya sampai demodulator menganggapnya lantai dan membuangnya. Derau dasar itu kasar, di sini satu di sana satu; keenam puluh empat angka ini rapi; bolak-baliknya hanya kelompok-kelompok yang itu juga, sesekali muncul kembali. Baru pada penghitungan ketiga aku sanggup mengakuinya: ini bukan lantai; ini tulisan yang berbaris di atas lantai. Enam puluh empat simbol, bukan isian nol—enam puluh empat angka yang sangat ringan, tergeletak di sana dari awal.
Di ruang mesin tak ada program pembuat gambar; program pembuat gambar harus diajukan persetujuannya, dan aku tak mengajukannya. Dari gudang kusedor setumpuk kertas koordinat; enam puluh empat amplitudo itu kusalin menjadi satu kolom, sumbu mendatarnya kubentangkan dua ribu hertz per kotak, titik demi titik kulacak. Sampai titik ketiga puluhan, garis itu bangkit. Selesai dilacak puncaknya kulingkari, angkanya kubaca, ditulis di sisi lingkaran itu.
Tujuh koma enam enam lima megahertz.
Tak kuteruskan dari situ. Malam berikutnya kuganti setumpuk kertas koordinat baru; sumbu mendatarnya dibentangkan ulang seribu hertz per kotak, disalin ulang, dilacak ulang. Kotak-kotaknya rapat dua kali, waktunya melacak jadi dua kali lebih lama; puncaknya masih di tempat semula, tak bergeser. Di puncak kedua kulilingi satu lingkaran lagi, kutulis angka yang sama. Dua lembar kertas itu kupasangkan menyudut; dua garis itu jatuh menumpuk menjadi satu.
Radio superheterodin, osilator lokalnya selalu bocor sedikit ke luar. Mendengarkan stasiun mana pun, osilator lokalnya jatuh di frekuensi stasiun itu ditambah satu frekuensi menengah; bocornya di sana, tak terhindarkan. Tahun mengambil izin, rumus ini kuhafal; waktu menghafal kupandang soal pemberi poin. Red Lantern 741: frekuensi menengahnya empat ratus enam puluh lima kilohertz. Saat gelombang pendeknya diputar mendengarkan di tujuh koma dua megahertz, osilator lokalnya bocor di tujuh koma enam enam lima megahertz.
Keesokan paginya Ye Zhen datang mengembalikan buku registrasi, melihat kertas koordinat tertindih di mejaku. Ia memandanginya sebentar, berkata, garis ini sempit sekali. Ia bertanya, milik apa. Kubilang, belum pasti. Ia tak bertanya lagi; buku registrasinya dipeluknya pergi; di ambang pintu berkata satu kalimat lagi: yang sempit itu bagus. Barang yang sempit, satu petak hanya memuat dia seorang.
Malam itu kertas koordinat itu kubawa pulang. Buku frekuensi di bawah penindih kertas. Kuletakkan halaman tempat ayah menyalin tabel frekuensi; di kakinya ada satu baris tulisan tangan pensil yang kecil, aksaranya kecil sekali, goresannya rata: 7.2 + 0.465 = 7.665. Di bawah rumus itu ada satu aksara lagi: bocor. Waktu kecil pernah kuletakkan halaman ini; kupandang aksara "bocor" itu sebagai bocornya atap—rumah bocor, radio pun bocor, semuanya bocor. Kini garis itu ada di kertas koordinat, rumusnya di kaki halaman; dua hal itu bertemu. Garis itu tinggi dan sempit, sempitnya seperti digambar bersandar penggaris. Ia bukan digambar; ia kulacak: enam puluh empat titik, satu per satu kulacak.
Kertas koordinat itu kulipatkan dua kali, kuselipkan ke dalam buku frekuensi, di bawah baris rumus itu. Buku itu tak bisa tertutup rapat; penindih kertasnya mampu menindih. Di ruang tamu radio Red Lantern berdesis; di gelombang pendek tak ada apa pun, volumenya sangat pelan. Frekuensinya diberikannya sampai digit kilohertz; tak lebih, tak kurang. Ayah menuliskan rumus itu di kaki halaman; selesai menuliskan aksara "bocor" itu, di halaman itu ia tak pernah menulis yang lain lagi. Waktu kecil tak pernah kutanya rumus itu untuk apa; kini tak ada lagi tempat untuk bertanya.
Tujuh koma enam enam lima. Kuncinya belum bersuara. Hari ia berbunyi, tempat berbunyinya ada di sini.