Gemaoleh 环形废墟

25 · Lingkaran Maut Naskah

Bab 25 · 14,3 rb kata

[ARSIP GEMA · LAPISAN 3 · 51.9% TERDEKODE · KUNCI: SUARA LANGSUNG DARI SIARAN UPACARA PEMBUKAAN OLIMPIADE MUSIM PANAS 2008]

Hari ke-311, pukul 03.11.44, anak tangga ke-314. Tanpa bingkai.

Berkas pemulihan jabatan datang lebih dulu daripada kartu masa penugasan pinjam. Satu lembar dari bagian kepegawaian; stempel merahnya masih dicap sangat lurus, kolom penerbitnya masih penuh. Namaku ada di baris kedua; aksara "wan" pada namaku—wan yang artinya senja—salah ketik menjadi aksara "wan" yang artinya mangkok; dikoreksi tulisan tangan, di sampingnya dicap satu stempel kecil. Goresan koreksinya lebih dalam daripada cetakannya.

Rumah jaga yang lebih dulu melihatnya. Tong menariknya keluar dari bawah kaca dan menyodorkannya kepadaku; sekali gerak stempel batu itu dikeluarkannya dari laci. Dua aksara "dipinjamkan" itu sudah tamat diukirnya; goresannya ditelusuri dua kali, serbuk batunya pun belum dilap bersih. Stempel itu ditekannya ke dalam tinta stempel sekali, lalu ditariknya kembali—tak dijatuhkannya ke atas kertas.

Ia berkata, "Begitu tamat diukir, kau sudah tak butuh lagi."

"Maaf," kataku.

Ia berkata, "Ini bukan salahmu." Stempel itu diletakkannya berdampingan dengan stempel "tanpa bingkai" di ambang jendela; kedua stempel sama-sama baru. Ia berkata, "Yang ini belum pernah dipakai. Biar terpajang saja; terpajang juga tak memakan tempat."

Pembuatan kartunya tetap di ruangan itu. Gadis pemotret menyuruhku duduk tegak; kepalaku kuluruskan. Kilat menyala sekali; layarnya diliriknya sekali, lalu ia berkata, "Yang ini bagus—lebih mudah dikenali daripada yang lama di dalam sistem." Tak kutanya yang lama yang mana. Yang di dalam sistem diambil empat tahun silam; tahun itu usiaku tiga puluh empat.

Hari ke-312 aku kembali ke institut. Kartu resminya dilewatkan ke pembaca kartu: satu bunyi "tit", warnanya hijau. Selama tiga pekan kartu sementara, bunyinya bunyi lain. Akunku pulih; izin-izin terkendali itu kembali tiga per empat, yang terakhir terganjal hitungan unduhan—laporan hariannya tetap dibaca Shen Yi. Selesai masuk, sistem mengeluarkan tiga butir belum dibaca; butir kedua pengingat jatuh tempo jejak pencarian. Log hari ke-258 itu masih ada di dalam pustaka; disimpan seratus delapan puluh hari, pada waktunya terhapus otomatis—tersisa seratus dua puluh tujuh hari. Ketiga butir itu kuklik menjadi sudah dibaca satu per satu; isi butir kedua tak kubuka.

Mug itu kubawa pulang lagi dari rumah; sisi nodanya menghadap dinding. Xiao Gao mampir memandangi sekali, tak bersuara, lalu membawa pergi sepasang sarung tangan yang tertinggal orang lain di atas meja.

Di rapat grup Zhou Yansheng menuliskan pembagian tugas baru di papan tulis. Dua aksara "inventarisasi" ditulisnya lambat. Sampai empat aksara "rencana penanganan", pada aksara ketiga ia berhenti, bertanya kepada Xiao Gao, aksara ini radikalnya "kata" atau radikal "pisau". Xiao Gao menjawab, radikal "kata". Ia berkata, oh. Empat aksara jadi itu berdesakan dalam satu petak; semuanya kecil. Tak ada yang berkata apa pun. Yang tercatat atas namaku dua baris: pemeriksaan konsistensi Lapisan 2; inventarisasi antrean menunggu arbitrase. Pada kolom kode kejadian ia menulis satu aksara: gantung; dibacakannya dua kali, lalu berkata, "Kurang bagus kata ini. Untuk sekarang digantung saja."

Begini asal pekerjaan inventarisasi itu. Setelah spesimen terdekode, tiga aksara "masuk urusan siapa" masih menindih di atasnya, dan Shen Yi menjawabnya: masuk arsip. Mengarsipkan berarti mengkatalogkan; mengkatalogkan berarti lebih dulu tahu isi rumah ini sebenarnya apa saja. Catatan masuk arsip Lapisan 2 dari kepala sampai ekor—seratus enam puluh lebih hari—hash konsistensi dua stasiunnya diperiksa ulang satu putaran. Pekerjaannya dibagikan ke SC-11 Lampiran 3; Lampiran 3 membagikannya kepada orang-orang di luar urusan dua kolom angka. Yang di luar urusan dua kolom angka: kami.

Hari ke-313 SC mengadakan rapat. Sebelas petak semuanya hadir; tiap petak satu botol air mineral, tak ada yang dibuka. Agenda terbaca sampai butir kelima: rencana penanganan spesimen. Selesai membacakan namanya, yang memimpin berhenti sebentar, berkata, "Butir ini rencananya tak dibacakan; rencananya memang belum selesai ditulis. Tiap petak menyatakan sikap."

Satu petak berkata, terbitkan. Alasannya tiga: mengetahui itu keadaan bakunya; tak bisa ditahan—sebelas negeri tiga puluh tujuh stasiun, makin ditahan makin bocor; dan yang sebelumnya—sampai di sini ia mengoreksi ucapannya—berkata, pelajaran dari bahan itu, milik semua orang.

Satu petak berkata, segel. Alasannya satu: sekarang seluruh dunia memandangi prediksi masih menggenggam keraguan dua per sepuluh. Keraguan itu marjin. Begitu bahan ini keluar, marjinnya lenyap. Barang yang tak punya marjin, sekali terguling, terguling habis.

Petak ketiga berkata pelan. Ia berkata, seorang anak muda di grupku pernah bertanya kepadaku, bisa tidak kita anggap saja belum terdekode. Kode terner, tanpa kamus—memang benda yang tak terdekode sejak semula. Selesai berkata botol airnya sendiri ia putar terbuka, diminumnya sekali, diputarnya tertutup kembali. Ia berkata, "Aku tahu giliran mengatakan ini bukan milikku."

Zhou Yansheng ada di petak kesebelas. Sampai gilirannya, lebih dulu ia menulis di atas kertas; selesai ditulis diangkatnya. Tulisannya kecil; baru terbaca kalau mendekatkan ke kamera. Yang ia tulis: sudah sembilan hari.

Ia berkata, "Spesimen terdekode sembilan hari; dari dalam grup tak bocor satu aksara pun. Ditahan sembilan hari lagi, yang keluar nanti barang buatan. Barang buatan berlari lebih cepat daripada barang hasil dekode." Ia berkata, "Seumur hidup aku menerbitkan sesuai jadwal; daftar bulan April itu tandatanganku. Sesudah itu aku belajar membaginya dua kali. Membagi dua kali bukan berarti tak membagi." Ia berhenti sebentar; kedua tangannya terletak di bibir meja. Ia berkata, "Masih ada satu kalimat. Orang yang berpura-pura tak tahu harus tahu lebih dulu. Sudah tahu lalu berpura-pura—rupa yang dipura-purakannya itu pun akting mengikuti naskahnya."

Tak ada yang menyambut. Yang memimpin berkata, "Butir berikutnya."

Butir berikutnya dibacakan sampai separuh, satu petak menyela, berkata ada satu pertanyaan, ditanyakan lebih dulu. Ia berkata, rapat kita hari ini—kelar atau tidak kelar—mungkinkah juga ada di atas tabelnya itu. Dua kolom angka, nol galat. Kalau sampai rapat ini pun ditulisnya, terbit dan segel tak ada bedanya.

Yang memimpin berkata, "Butir berikutnya."

Setelah rapat bubar Shen Yi dan aku satu lift. Ia lebih dulu membuka mulut. Ia berkata, "Mengarsipkan berarti tak bergerak. Tak bergerak, berarti masih ada waktu." Kubilang, masih ada waktu untuk apa. Lift sampai di lantai satu; pintunya terbuka, ia berkata, "Masih ada waktu untuk salah."

Ia berjalan di depan; keluar pintu, naik ke atas lagi.

Keesokan harinya papan pengumuman menempel lembar baru, A4, empat sudut paku payung: selama inventarisasi, pengeluaran Lapisan 2 dihentikan sementara; peminjaman berganti pencatatan atas kertas. Yang menempelkannya berdiri sebentar di bawah kolom S-11. Di bawah kolom itu masih menempel pemberitahuan Adebayo; sudut kertasnya terangkat sedikit, tak ada yang menekannya kembali. Di rumah jaga bertambah satu buku; Tong menyebutnya buku peminjaman—satu halamannya hanya muat empat baris, katanya begitu justru bagus: selesai penuh satu halaman, ketahuan pula satu halaman lagi sudah berlalu.

Tengah hari hari ke-314 kantin ada ikan, tertulis di papan kapur. Lao Song datang duduk menggendong bakinya, bertanya perdebatannya sudah sampai mana. Kubilang belum selesai. Ia berkata, bagus kalau belum selesai. Katanya mertuanya sekarang memandangi prediksi dua kali sehari; selesai memandangi, main kartunya tetap main kartu. Ia berkata, "Kalau ditanya, jawabanku tetap itu: aku tak menonton karena aku tak paham. Sekali aku paham—" Ia mencapit ikan sekali, dan memakan separuh kalimatnya.

Sore harinya turun ke lantai basemen satu mengambil cakram; Pak Lu sedang menghangatkan teh di ruang mesin. Kutanya, kalau memang diizinkan dihapus, hapusnya bisa bersih tidak. Ia berkata, gulungan punya cara menghapusnya sendiri: dihapus magnetisnya seluruh segmen, dilewati tiga kali. Kubilang, tak menyisakan apa pun? Ia berkata, "Sisakan satu detik di dasarnya." Kutanya, satu detik itu untuk apa. Ia berkata, "Bukti bahwa ia sudah dihapus." Gelas tehnya diangkatnya, lalu ia berkata lagi, "Gulungan yang sudah kuhapus lebih banyak daripada yang kalian rekam. Tangan yang menghapus tak boleh gemetar; sekali gemetar, hapusnya tak rata."

Malam harinya aku naik ke lantai dua mengembalikan catatan peminjaman Spes-1. Pintu lemari Ye Zhen terbuka: indeks U sebaris putih, di sampingnya kolom spesimen—kosong selebar satu jari di antaranya masih di sana. Kutanya kepadanya, terbit atau segel, yang mana kau pilih.

Tangan yang membalik buku pendaftaran itu terhenti sebentar. Ia berkata, "Aku mau semuanya, juga tak mau semuanya." Katanya, "Diterbitkan atau dihapus, katalogkan lebih dulu. Menghapus pun harus ada daftar penghapusannya: tiga rangkap, hari berapa dihapus, siapa yang hadir, parameter apa yang dipakai—ditulis di atas kertas." Barisan kartu putihnya diliriknya sekali. Ia berkata, "Kalau tidak, empat puluh tahun kemudian ada lagi yang menggalinya keluar dari tempat tindihannya, dan yang menggalinya bahkan tak sanggup menyebut benda itu datang pada hari berapa. Tak sanggup menyebut, berarti menebak lagi dari awal. Menebak, berarti satu putaran lagi."

Buku pendaftaran itu ditutupnya, tutup penanya dipasangnya rapi, barulah halaman Spes-1 dibaliknya untuk kutandatangani. Kutanda tangan. Saat mengumpulkan bukunya ia berkata, rapat grup kalian itu, daftar tiga faksinya hafal di luar kepalaku. Kutanya, tiga faksi yang mana. Ia berkata, "Yang mau menerbitkan, yang mau menghapus, dan satu faksi lagi yang berharap benda itu tak benar." Kubilang, itu bukan faksi. Ia menjawab, "Betul; ini bukan sikap—ini faksi dengan anggota terbanyak."

Malam itu sampai rumah, Nian sedang memainkan halaman dua. Selesai memainkan satu bagian ia menoleh bertanya, yang Mama lakukan sekarang itu namanya apa. Kubilang, namanya bekerja. Ia berkata, oh. Dari rak partitur ia kembali ke halaman pertama, berkata, "Tempat napas di halaman itu masih kusisakan; kata guruku aku ada kemajuan." Kata "kemajuan" itu ia ucapkan begitu saja; di sisi pintu aku berdiri sebentar sebelum melepas sepatu. Selesai berlatih buku catatannya dikeluarkannya, dicatatnya satu baris dengan pensil: not lagu, satu buku, dipesan sekolah. Selesai mencatat ditutupnya, dihitungnya sebentar, lalu berkata, "Bulan ini tidak melebihi." Kutanya, yang menentukan lebihi-tidaknya siapa. Ia menjawab, "Aku sendiri." Dililitnya karet gelang, bukunya dikembalikannya ke bawah bangku piano.

Pemeriksaan berjalan mulai hari ke-315. Lapisan 2 punya seratus enam puluh delapan hari masuk arsip; satu hari satu entri, hash dua stasiunnya diperiksa entri demi entri. Skrip pembandingnya kutulis sendiri: lima puluh enam bita satu segmen; tak cocok, langsung menyalakan satu titik merah. Malam pertama sampai April; malam kedua sampai Juli; tak satu pun titik merah menyala. Xiao Gao berjaga paruh kedua malam; menjaga sampai pukul 3 lalu rebah di sofa, pukul 4 merangkak bangkit memandangi layar sekali; selesai memandangi ia berkata, "Cocoknya sampai membuat bulu kudukku berdiri." Di ruang mesin hanya bunyi kipas. Sampai pertengahan September, entri masuk arsipnya pun konsisten. 26 September petak terakhir; petak itu dulu kuisi di buku jaga seharian penuh—kali ini pada lembar pemeriksaan ia cuma satu baris hash: lolos, hijau. Dibalik; di belakangnya tak ada petak lagi. Yang benar-benar berbeda tak ada di dalam catatan masuk arsip; ada di samping catatan itu—antrean menunggu arbitrase.

Prosedurnya prosedur lama: dua stasiun mendekode, identik bita demi bita, masuk arsip; tak identik, kedua versi disimpan, masuk menunggu arbitrase, tak boleh keluar. Pada hari pertama masa tanpa bingkai, rantai tiap stasiun melapor nol; di dalam kelompok paket terakhir yang diterima S-08 sebelum jendelanya tertutup, ada satu blok kirim-ulang yang terlambat. Bloknya pendek, dua ribu empat puluh lebih simbol; checksumnya lolos; kolom tanggalnya 17 September 2079; nomor bingkainya selisih satu dari entri yang masuk arsip. Sesuai prosedur ia masuk menunggu arbitrase. Seratus dua puluh lebih hari sesudahnya, tak ada lagi yang membuka antrean itu.

Malam hari ke-316 kutarik keluar antrean itu. Di dalamnya hanya ada satu entri; waktu pencatatannya dini hari hari ke-189, beberapa menit lewat pukul 4; pencatatnya bukan orang—program.

Menarik blok mentahnya harus melewati jalur penghubung. Nomornya kusalinkan ke formulir persetujuan, kubawa ke Shen Yi. Formulir itu ia terima, nomornya diliriknya sekali, ditandatanganinya tanpa mendongak. Saat menyodorkannya kembali ia berkata, "Antrean ini milikku." Kubilang, tahu. Ia berkata, "Kalau hendak mengutak isi di dalamnya, catat." "Sudah tercatat," kataku. Tutup penanya dipasangkannya; ia berkata, "Kalau begitu sudah." Sebelum formulir itu dimasukkannya ke koper, punggungnya dibaliknya sekali, lalu dibalik kembali. Ia berkata, "Hasil dekodenya apa—jangan sampai keluar dari lembar pemeriksaan." Kubilang, "Yang ditulis cuma lembar itu." Ia berkata, "Bagus."

Blok itu terdekode menjelang pukul 3 dini hari. Pukul 03.11.44 anak tangganya naik, anak tangga ke-319; kurva terangkat sebentar, stabil, turun kembali. Hasil dekode itu kujajarkan ke layar.

17 September 2079, segmen lokal, entri ketiga, mulai kode waktu 00:21:07.4, lima puluh satu detik.

Entri yang masuk arsip—angka-angka itu tak perlu kutarik. Detik berapa bacaan siarannya mulai, detik berapa fotonya membeku, berapa lama membeku, detik ke berapa paku yang longgar di sisi kanan spanduk tersapu masuk—aku ingat. Yang itu tak kubuka lagi.

Yang kubuka, yang ada di depan mata ini.

Saat serah terima menjelang petang, buku jaga terbuka di petak baru, tulisanku sendiri: 1 Februari, tanpa bingkai. Tulisan di kiri. Tong berdiri di samping memandangiku selesai menulis, berkata, "Tulisanmu sudah kembali." "Sudah kembali," kataku. Saat hendak mengambil stempel, buku itu digesernya; ia berkata, "Mencapnya tetap aku; ini tak berubah karena seseorang dipulihkan jabatannya." Cap di kanan, aksara "bingkai"-nya tetap kurang satu goresan tegak.

Malam harinya blok itu terurai, terjajarkan ke layar.

17 September 2079, segmen lokal, entri ketiga, mulai kode waktu 00:21:07.4, lima puluh satu detik.

Entri yang masuk arsip—angka-angka itu tak perlu kutarik. Detik berapa bacaan siarannya mulai, detik berapa fotonya membeku, berapa lama membeku, pada detik ke berapa paku yang longgar di sisi kanan spanduk tersapu masuk ke dalam gambar—semuanya aku ingat. Yang itu tak kubuka lagi.

Yang kubuka, yang ada di depan mata ini.

Kode waktu yang sama, meja siaran yang sama. Juru beritanya memakai setelan berwarna terang. Bacaan siarannya berbunyi: berita dari stasiun kami—pasokan sayur musim gugur tahun ini mulai berangsur masuk pasar besok. Kol, kentang, daun bawang. Tiga bidikan: truk pasar grosir mundur ke petak parkirnya; kol menumpuk tersusun rapi di atas terpal; seseorang menggendong tas anyam mengitari buritan truk—dari mulut tasnya menjulur dua batang daun bawang. Bacaan siaran selesai, juru berita menunduk merapikan naskahnya; gambar bergeser, entri keempat segmen lokal cuaca: cerah, berubah berawan.

Lima puluh satu detik. Tak ada karangan bunga, tak ada spanduk, tak ada foto yang membeku tiga detik.

Jumlah bidikan keduanya kuhitung masing-masing sekali. Yang masuk arsip empat bidikan; yang ini tiga. Selisihnya ada pada bidikan ketiga: pada yang masuk arsip, di sana ada satu pintu, di dalam pintunya seseorang membelakangi kamera; pada yang ini, di sana ada satu gundukan kol, tersusun rapi.

Halaman katalog keduanya kujajarkan berdampingan. Tanggal sama, kode waktu sama, durasi sama, laju bit sama, checksum keduanya lolos. Nomor bingkainya selisih satu. Yang satu tergeletak di dalam catatan masuk arsip seratus tiga puluh tujuh hari; yang satu tergeletak di antrean menunggu arbitrase seratus dua puluh tujuh hari; di antara keduanya terbentang satu rapat tentang terbit atau hapus, yang tak diketahui siapa pun.

Lembar pemeriksaannya kertas. Kolom tanggal kutulis: 17 September. Jumlah entri: dua. Konsistensi: tak konsisten. Tindak lanjut: menunggu arbitrase. Kolom isinya ada dua petak; petak kiri kutulis: kategori berita kematian lokal. Ujung pena sampai ke petak kanan, terhenti sebentar, kutulis: pasokan sayur musim gugur.

Penanya kuletakkan. Kipas ruang mesin masih berbunyi; kurva anak tangga tengkurap di sudut layar—besok pada jam yang sama ia akan datang lagi, terangkat sebentar, stabil, turun kembali. Di luar jendela belum ada tanda terang.

Malam itu, entri kedua kupandangi dua kali.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk