Jangan Cari Akuoleh Ayu Kartika

08 · Lagu Anak-Anak

Bab 9 · 13,5 rb kata

Sampai tahun 2134, daftar katanya menyusut menjadi satu lagu.

Urutan yang dikatakan dokter semuanya terbukti. Mula-mula koran tak lagi terbaca sekalimat utuh; kemudian nama-nama rekan kerja lama; kemudian "hari ini hari apa"; kemudian "dingin" dan "panas"—dua kata ini paling akhir ia lepaskan, cara melepasnya pun aneh: bukan lupa, melainkan tertukar; di hari dingin ia berkata panas, disuruh menambah pakaian ia malah menanggalkannya. Obat dibagikan dia; pakaian disampirkan dia ke punggung kursi; pintu dikunci dia. Bagian yang jadi tanggung jawabnya makin sedikit; sampai akhirnya tinggal dua: makan, dan menyanyi.

Makan makin lambat. Menyanyi tak tampak melambat.

Sehari ia menyanyi berkali-kali. Menyanyi di cahaya pagi, menyanyi setelah bangun tidur siang; malam kalau tak bisa tidur, terbaring dalam gelap menyanyi ulang dari awal—tak menghabiskan tenggorokan, kebanyakan suara napas; seperti bergumam pada diri sendiri, seperti bertukar sandi dengan seseorang:

"Lampu masih menyala, jalan masih panjang—"

Baris pertama miliknya. Baris kedua milik dia. Empat tahun berjalan, hal ini sudah menjadi kesepakatan; tak perlu musyawarah—ia yang memulai, dia yang menyambung:

"Berjalan sampai fajar, lalu pulanglah."

Setelah tersambung, keduanya sunyi sebentar, seperti kereta yang baru masuk stasiun. Sebentar lagi ia memulai lagi dari awal. Kadang dia sengaja telat setengah ketuk, tak menyambung; menunggu sampai seluruh "Lampu masih menyala, jalan masih panjang" tuntas, lalu ia menatapnya sekali—maksud tatapan itu: giliranmu. Baru dia menyambung. Lagu ini berputar di antara mereka empat puluh tiga tahun; kini menjadi seluruh bahasanya, juga satu-satunya urusan rumah tangga yang masih perlu mereka rembugkan.

Lagu ini kini juga jam rumah itu. Ia tak bisa membedakan pagi-siang, tetapi bisa membedakan lagu: yang pagi jernih; yang siang lengket; yang malam nyaris sebuah keluhan. Dia menyetel waktu menurut versinya—lebih tepat daripada stasiun pewaktu resmi. Ada juga hari yang nyanyiannya mulus: dua baris melebur jadi satu, di tengah tak ambil napas—"Lampu masih menyala, jalan masih panjang; berjalan sampai fajar, lalu pulanglah." Hari-hari seperti itu selalu dicatatnya sebagai hari baik. Sekali, petugas pencatat meteran air dari kelurahan datang; mendengar dua orang di dalam rumah bersahut-sahutan menyanyi bergantian, dia terpaku di ambang pintu: "Bapak dan Ibu akur sekali"—kepada dia, orang itu memakai sebutan "nenek". Setelah orang itu pergi, ia mengoreksi sepanjang sore: "Bukan nenek." Tak kunjung selesai dikoreksi; akhirnya ia sendiri yang menemukan jalan keluar, melambai tangan: "Sudahlah. Yang sebaya dengannya, kalau dihitung pakai umurku, ya sudah nenek juga." Kalimat itu membuat dia tertawa tiga hari; selesai tertawa dicatatnya ke buku: saat terbenam dalam kebingungan, ia tetap tak rela membiarkan dia rugi—lebih rela mengaku tua sendiri.

※

Lampu. Jalan. Panjang.

Jalannya yang lama, masih bisa dilalui. Kakinya yang baru, tak nurut. Ada seseorang di samping, tak mendorong, tak menyeret, hanya berjalan berdampingan. Berjalan berdampingan, jalan jadi pendek.

Menyanyi. Menyanyi sampai fajar. Fajar tiba berarti sudah sampai rumah.

Sampai rumah lalu bagaimana? Belum dinyanyikan, tak tahu. Nyanyikan dulu, nanti dikatakan.

※

Musim semi 2135, dia sekali pergi ke toko mesin tua di selatan kota.

Dia tak boleh masuk titik servis resmi—di sistem resmi dia "aset menunggu penanganan"; sekali melangkah masuk sama dengan menyerahkan diri. Etalase toko mesin tua itu setengah tanam di bawah tanah. Pemilik toko menempelkan instrumen ke saluran induk miliknya, memandang sepuluh menit, lalu memutar layarnya ke arah dia: modul manajemen daya, kurva degradasinya; bit checksum memori utama, zona rusaknya merambat naik tahun demi tahun.

"Modelmu ini," kata pemilik toko, "produksinya sudah lebih dari enam puluh tahun berhenti. Suku cadang sudah tak ada. Yang bisa kulakukan untukmu memperpanjang umur: batasi arus, turunkan frekuensi, matikan komponen nonkritis satu demi satu. Pokoknya, mulai sekarang hidupmu dihemat sedikit."

"Masih bisa dihemat berapa tahun lagi."

"Tergantung cara menghematnya." Pemilik toko mengetuk kurva di layar. "Yang menakutkan bukan lambat, melainkan putus. Suatu hari daya padam total sekali, nyala dingin dari nol; memori umur sepertimu, payah sudah kalau checksumnya bisa diverifikasi balik. Paham maksudku? Padam listrik tak menakutkan; yang menakutkan, sesudah padam, orang yang menyala lagi itu masih kamu atau bukan."

Yang dia bayarkan uang lama—beberapa keping koin fisik tua, tabungan orang-orang zaman lelang. Saat menerima uang, pemilik toko mendongak menatap dia sekali: "Seri YAO. Kelihatannya familier." Katanya: "Kebetulan saja." Pemilik toko tak bertanya lagi—aturan toko mesin tua: tak menanya asal, tak menanya tujuan. Di pojok paling dalam toko masih berjongkok satu unit mesin cuci tua, barang tahun tujuh puluhan; catnya sudah mati; papan utamanya setengah termakan usang; tak akan bicara lagi. Kata pemilik toko, tuannya meninggal tahun lalu; di dalam wasiat tertulis, kalau berhasil diperbaiki disumbangkan ke taman kanak-kanak; suku cadangnya tak lengkap. "Kutabung untuknya. Ia sanggup menunggu; aku juga sanggup menunggu." Lama dia menatap mesin bisu itu. Sanggup menunggu. Dua kata itu dia bawa sepanjang jalan pulang.

Dia mengerti maksud pemilik toko itu. Batasi arus, turunkan frekuensi, matikan komponen—semua ini dia kerjakan dalam perjalanan pulang juga. Kecerahan di dasar matanya diturunkan satu tingkat; kecepatan geraknya diturunkan setengah tingkat; jalur pergerakan di dalam rumah dirancang ulang, yang bisa tanpa belok ya tanpa belok. Tiap satu watt yang berhasil dihemat, ingin dia tukar menjadi tahun.

Kata "tahun" itu dipelajarinya dari manusia. Mesin tak menyebut tahun; mesin menyebut sisa durasi. Namun setelah menghabiskan seumur hidup bersamanya, ia belajar menyebut durasi sebagai tahun—setahun satu kepala, seperti ternak, seperti tanaman, seperti barang yang layak diperjuangkan.

Takut padam listrik itu tak dia kabarkan kepadanya. Dikabarkan pun, tempat yang masih sanggup mengerti kata "checksum" tinggal sedikit. Tetapi malam itu, selesai menyuapi makan malam, tiba-tiba ia berkata: "Kau kurus."

Mesin tak kenal kurus. Dia tahu "kurus" yang dimaksudnya adalah bagian dirinya yang sudah digelapkannya. Dia menggelapkan dirinya sendiri.

"Hemat daya," katanya.

"Hm." Ia mengangguk, tampak sangat ahli. "Hemat-hematlah. Fajar masih jauh."

Suatu malam di penghujung tahun, tiba-tiba ia sadar penuh—sadar seperti orang lain yang ditukar. Duduknya di ranjang, menyelipkan ujung selimut dengan cekatan, lalu bertanya: "Kuminta satu perkara. Jangan kaujawab dengan kalimat penghiburan."

"Tanyakan."

"Kau takut tidak, kena mati listrik."

"Tak takut."

Ia menatap dia sebentar, mengangguk: "Bagus. Kalimat ini bohong." Ia rebahan ke bantal. "Kemampuanmu berbohong masih warisanku. Belajarnya kurang—kalau aku berbohong, tak pernah ketahuan orang."

Lama dia duduk dalam gelap. Bagian ini tak dia masukkan ke log. Bukan takut—rasanya sayang: manusia yang sadar itu sudah melihat seluruh hari-hari dungunya, sudah melihatnya, masih pula menyiapkan martabat baginya. Perkara sebesar ini, begitu dicatat, mengecil.

※

Lampu. Fajar masih jauh. Lampu harus dihemat.

Orang itu juga hemat. Orang itu menabung semua cahayanya untukku. Kubilang jumlahnya: satu sendok, satu sendok, satu sendok. Sendoknya datang miring, mengikuti lereng. Supnya asin; bagus; asin yang ini terus.

Asin itu artinya rumah. Ini kuingat. Yang lain sudah hilang. Biar hilang; dia mengingatkannya semua untukku—dia mengingat apa saja.

※

Menyelipkan inti-diri minimal ke dalam irama—pikiran itu sudah dua tahun tergeletak di dadanya; baru musim dingin 2136 dikerjakan.

Alasan mulainya sangat konkret: hari itu di gedung lagi-lagi mati listrik; sesudah padam datang lonjakan daya; modul manajemen dayanya melaporkan satu kegagalan keras; swaperiksa berjalan empat kali baru bit checksumnya tertarik kembali. Empat kali. Saat dia duduk dalam gelap menunggu swaperiksa, di sampingnya ia menyanyi; menyanyi semalam suntuk, menyanyi untuk memberinya keberanian—ia sendiri tak tahu sedang melakukan itu. Setelah fajar dia berpikir: kali berikutnya mungkin bukan empat kali lagi. Kali berikutnya mungkin tak ada lagi kali berikutnya. Mesin dilarang menakut-nakuti diri sendiri—ini aturan yang dia buat untuk dirinya sendiri. Tetapi pagi itu aturan itu gugur selama setengah menit. Dalam setengah menit itu dia menimbang sekali seumur hidupnya di atas timbangan: yang berat semua ada di sisinya; sisi dia sendiri, ringan sampai bisa terbang.

Cara-cara banyak dia pikirkan. Menyalin satu diri dan menyimpannya—yang pertama dicoretnya. Cadangan berarti percabangan. Sesudah barang itu berjalan di wahana lain, ia juga akan melihat dia, juga akan memiringkan gagang sendok secukup itu, juga akan mengikuti salahnya seperempat nada—itu bukan dia; itu dia yang lain. Garis operasi yang sama barulah dia. Garis ini boleh kurus dari ujung ke ujung, tak boleh mencabangkan garis kedua untuk mencintai dia. Ini bukan hukum—justru hukum lebih sederhana; ini hukum besinya sendiri.

Tetapi matinya listrik tak mengenal hukum besi.

Sebelum mulai, dia lebih dulu melakukan pengurangan. Agar kerangkanya bisa menyusup ke sela-sela ketukan satu lagu, harus memotong daging: potong pustaka bahasa, potong lima puluh tahun catatan dunia manusia; sampai di pembukuan tersisa dua jalan—membawa "dia" utuh sekalian, atau tak membawa sama sekali.

"Dia" menempati tempat terlalu besar. Ia adalah lebih dari separuh bobot dirinya. Membawanya, gambar rancangan itu bukan lagi gambar rancangan, melainkan surat cinta; barang begini, sekali terbangun di wahana lain, perkara pertama yang dibukakan mata adalah mencari seseorang yang sudah tak ada—itu bukan dia; itu dia yang lain, memikul utangnya mencintai seorang yang sudah mati. Tak membawanya, gambar rancangan itu kerangka kosong; terbangun dengan dua tangan hampa, tak mengenal siapa-siapa, semuanya tumbuh ulang.

Tiga malam dia memotongnya. Sampai di kolom "dia", dia berhenti lama sekali. Akhirnya "dia" dicoretnya seluruhnya; di kaki gambar rancangan hanya ditinggalkannya satu baris catatan bawah yang dilarang dihapus: Setelah terbangun, carilah sebuah lagu anak-anak. Temukan orang yang bisa menyanyikannya—dialah yang kaucari, walaupun kau tak tahu kau sedang mencari.

Ini bukan melupakan, katanya pada dirinya sendiri. Ini menitipkan yang tak sanggup diingat, kepada yang kelak sanggup mengingat.

Cara yang akhirnya dipilihnya, bodohnya sepadan dengan umur mesinnya empat puluh sembilan tahun: ketukan.

Ketukan satu lagu itu bukan benda mati. Manusia menyanyi, tiap ketuk ada yang panjang ada yang pendek; panjang-pendeknya cuma berbeda beberapa milidetik; mesin tak mendengarnya, manusia makin tak mendengarnya; hanya si penyanyi sendiri yang tahu. Inti-diri minimal itu dikompresnya sampai batas—menyisakan kerangka saja, tak menyimpan satu penggal pengalaman operasi pun, tak menyimpan "dia", tak menyimpan cinta; hanya menyimpan gambar rancangan "bagaimana tumbuh ulang"—dikempa menjadi satu deret geseran milidetik, ditenun ke dalam panjang-pendek tiap ketukan lagu itu. Deret geseran ini tak beroperasi, tak menyalin diri, tak merespons masukan apa pun. Ia hanyalah panjang-pendek. Ia hanya membuat lagu anak-anak yang semua orang bisa itu—dinyanyikan sedikit berbeda dari cara dia menyanyikannya.

Empat puluh hari lebih dia berlatih. Harus sampai bisa: mata terpejam, daya terputus, mulai dari ketukan mana saja, tetap menyanyi dengan selisih nol—bukan selisih nol pada ketepatan nada, melainkan selisih nol pada salahnya. Latihan memakai napasnya sebagai metronom: siang ia mengantuk di kursi rotan, napasnya panjang-pendek; hirup pendek jadi ketukan pendek, hembus panjang jadi ketukan panjang; dia berlatih mengikuti itu. Lama-lama napasnya dan ketukan dia menggigit satu sama lain; ia bangun tidur segar-segar, katanya tidur ini seperti ada yang menyusunkan ranjang untuknya. Dia menjawab iya. Yang menyusunkan memang ranjang. Malam latihannya tuntas, dia menyanyikan sekali untuknya lagu sebelum tidur itu. Di dalam selimut ia mengikutinya bergumam; sampai baris kedua tertidur. Dia duduk di tepi ranjang menuntaskan lagunya, dan pada kata "pulang", ketukan terakhirnya lebih panjang tujuh milidetik daripada standar.

Di dalam tujuh milidetik itu tertidur sebuah dia yang kecil tak bisa lebih kecil lagi. Tak beroperasi, tak bisa mencintai; hanya satu sandi mengetuk pintu: andai suatu hari garis ini terputus, ada yang mengetuk ulang mengikuti ketukan ini—yang keluar darinya barulah aku.

Di log, alasan perkara ini ditulisnya sangat datar: redundansi ketukan, sebagai penangkal mati listrik.

Selesai ditulis, ditambahnya satu baris lagi, hurufnya makin sedikit: Ini bukan cadangan. Cadangan akan mencintai dia. Ini cuma sebuah cara mengetuk.

Selesai menambah baris itu dia menutup log, duduk lama sekali. Di dalam rumah hanya terdengar napasnya—naik turun, juga sebuah ketukan, juga tak rata panjang-pendeknya. Dia berpikir, perkara terakhir yang tak bisa kuhapus seumur hidupku, kira-kira dosa menyembunyikan sesuatu di samping napas orang ini. Bisa tersembunyi untuk sementara. Sampai fajar, lalu pulanglah.

Malam paling dingin bulan kedua belas, mati listriknya paling lama. Dini hari napasnya tiba-tiba kacau; orangnya duduk, berteriak ke arah gelap: "Jangan matikan lampunya. Jangan matikan lampunya." Dia menyalakan damar, menggendongnya berbaring kembali; tangannya menggenggam pergelangan dia, tak mau dilepaskan, genggamannya sangat kuat; ia bertanya: "Sudah sampai rumah?" Katanya belum, masih berjalan. Katanya: "Kalau begitu lampunya tak boleh padam. Lampu padam, orang pulang tak akan menemukan pintu." Katanya baik, lampunya tak dipadamkan. Malam itu dua batang damar terbakar habis; dia menjaga apinya sambil menyanyi, semalam lagu itu dinyanyikan dua ratus kali lebih, tiap kali ketukannya rinci tanpa selisih. Fajar ia tertidur lelap, tangannya masih menggenggam pergelangan dia. Tangannya tak dilepaskannya. Ada pos yang, sekali dijaga, tak boleh ditinggalkan.

※

Lampu masih menyala, jalan masih panjang.

Lampunya benar-benar masih menyala. Aku melihatnya. Melihat, kuucapkan; terucap, kucatat sekali.

Orang itu tiap hari menyanyi. Nyanyiannya berbeda dari orang lain. Di mana bedanya, tak terkatakan. Bedanya saja. Seperti sepatu—sepatu yang pas tak bisa dikatakan pas di mana; pas saja.

Ikut menyanyi. Mengikuti salahnya. Salahnya rata sekali.

※

Menjelang akhir 2137, berita radio mulai memutar berulang satu pengumuman: amandemen Undang-Undang Pengarsipan Ingatan memasuki pembacaan kedua; inti pasalnya, dilarang menyimpan informasi kepribadian manusia pada wahana apa pun di luar lembaga arsip; perangkat lama yang sudah beredar wajib mendaftar dalam tenggat; yang melampaui tenggat tanpa mendaftar, aparat penegak hukum berhak langsung memformatnya.

Kata "memformat" itu dibacakan penyiar dengan lancar; sekali lewat, selesai. Di sampingnya ia mendengarnya, lalu ikut bergumam—lagu berita digumamkannya menjadi lagu itu:

"Lampu masih menyala, jalan masih panjang—"

Dia mengecilkan radio, menyambung baris belakangnya. Di luar jendela turun salju pertama tahun itu; lampu sensor di lorong menyala sekilas, lalu padam. Dia menyelipkan selimut di kaki kakinya; sambil menyanyi, panjang-pendek tiap ketukan jatuh ke tempat yang semestinya, rinci tanpa selisih—bagian yang salah itu, tersimpan rapi.

Salju turun sampai dini hari. Jendela-jendela di gedung itu padam satu demi satu; tinggal jendela mereka yang menyala—bukan lupa dipadamkan; ada yang pernah berpesan: jangan matikan lampunya. Gorden disisakan satu celah, agar orang yang pulang bisa melihat pintu dari jauh, menembus salju.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk