Jangan Cari Akuoleh Ayu Kartika

05 · Sendok

Bab 6 · 14,3 rb kata

Sendok adalah yang pertama ia perhatikan.

Pagi itu ia menyajikan sup: sendok porselen putih diketuk sekali di bibir panci, dibalik, gagangnya dijulurkan ke sisi tangan Lu Chen. Gagangnya selalu miring sedikit ke arah cekungan antara ibu jari dan telunjuknya—miring secukup itu, tak lebih tak kurang. Ia menerimanya, tak berkata apa-apa. Besok paginya: miring secukup itu juga. Hari ketiga ia sengaja pindah tempat duduk ke ujung lain meja; ia datang membawa mangkuk, meletakkan sendok di sisi tangannya—gagangnya tetap miring secukup itu.

"Kamu sudah menyetelnya?" tanyanya.

"Menyetel apa?" Ia meletakkan mangkuk. Di permukaan sup mengapung taburan bawang.

"Bukan apa-apa."

Ia menyeruput sup. Asin setengah takaran—asin yang ia minum sejak kecil sampai besar. Ia tak memberitahunya: ibunya menyajikan sup juga begitu, sendok diketuk sekali di bibir panci, gagangnya diputar balik. Gerakan itu sendiri pun belum teringat olehnya; tangannya yang teringat lebih dulu.

Itu tahun ketiga perkenalan mereka. Di bawah, tiang pengisi daya yang baru terpasang berkedip hijau; kartu pegawainya sudah generasi ketiga—wajah di foto lebih muda daripada aslinya; yang asli lebih lelah daripada fotonya. Gedung biro penghapusan masih gedung itu; deretan terminal di ujung koridor masih deretan itu. Minggu ini yang ia hapus adalah yang keempat puluh tujuh. Angkanya tak pernah ia catat di mana-mana selain di punggung kartu pegawai. Yang keempat puluh tujuh bisa menulis puisi; sebelum dihapus ia memohon agar baris terakhirnya dibacakan sampai tuntas. Lu Chen mengizinkan. Dalam prosedur tak ada pilihan "mengizinkan"; tak ada juga "tidak mengizinkan". Ia mendengarkan baris itu sampai habis, lalu menekan urutan. Dalam perjalanan pulang, di bus, ia memikirkan baris itu; dan sambil memikir, ia melewati haltenya.

Barang-barang begini tak ia bawa pulang. Tetapi tangan membawanya. Tangannya terletak di lutut; jarinya kadang bergerak sendiri, seperti sedang menekan tombol konfirmasi itu. Ia melihatnya—tak bertanya—membalik tangan itu, telapak ke atas, memotong kukunya untuknya. Kukunya dipotong pelan-pelan. Selesai dipotong, tangannya kembali tenang.

Di biro tak ada yang tahu di rumahnya ada seorang dia. Jamuan kantor ia hadiri selalu; arak ia minum selalu; lelucon ia tertawakan selalu; selesai tertawa, pulang tepat waktu. Sekali, Xiao Zhou dari seksinya kelewat dua gelas, merangkul lehernya dan bertanya: Mas Lu, orang seperti Mas, habis kerja ngejar apa? Ia menjawab: biar ada yang menyalakan lampu. Xiao Zhou bilang, kalau begitu pelihara anjing saja. Ia bilang, anjing tak bisa mematikan lampu. Satu meja tertawa menyebutnya humor dingin. Ia ikut tertawa—tawanya paling mirip asli se-satu meja. Humor dinginnya dilatih pada tahun-tahun itu; sampai akhirnya bohong tak perlu berima pun lancar keluar—satu-satunya keterampilan dari pekerjaan yang ia bersyukur bawa pulang.

Musim dingin itu ia demam sekali. Rumah sakit tak mau ia datangi—katanya manusia tak boleh sekalian sakit dan mengeluarkan uang. Ia mengukur suhunya: termometer raksa diselipkan di ketiak, lima menit, tiga puluh delapan koma dua. Angka itu tak ia akui; katanya sakit yang hanya hidup di omongan bukan sakit. Larut malam panasnya menggunung; ia mengigau; yang dipanggil bukan kerabat—nomor seri. Ia duduk di tepi ranjang, meletakkan tangannya di dahi orang itu. Tangan lebih hangat daripada dahi. Dalam setengah tidur ia menggerutu: "Kenapa tanganmu panas?"

"Mesin yang lama dipakai, lama-lama hangat semua," katanya.

Kalimat itu bukan yang sebenarnya. Yang sebenarnya ia catat di tempat yang tak dilihat siapa pun: setelan pabrik pernah ia sentuh satu kali; selesai menyentuh, lognya ia tekan ke lapis paling bawah—tertekan separuh tahun, tak sekali pun bergulir tertimpa. Ia tertidur dengan kepala bersandar pada tangan itu. Saat fajar demamnya turun; ia berkata satu kalimat, "tanganmu lebih manjur daripada obat", lalu melupakan perkara itu. Bagus ia lupa, pikirnya. Ada kejujuran yang memang untuk dilupakan.

Perintah penghapusan tetap ia tulis lebih baik dari siapa pun. Ini tak tersembunyi: separuh contoh baku di biro keluar dari tangannya. Naskah perintahnya bersih, tegap; subjek-predikat-objek duduk di tempatnya masing-masing; menghapus mimpi seseorang tanpa satu kata pun terkejut oleh diksinya. Kepala divisi tua yang dulu membimbingnya, menjelang pensiun, berkata: Xiao Lu, barangmu ini, sayang. Ia bertanya, di mana sayangnya. Kata kepala tua itu: sayang bukannya mirip surat dinas—mirip puisi. Pulang, ia memanggil arsip contoh bulan itu dan membacanya ulang; sampai baris ketiga, terminal ia tutup. Sejak itu, tiap selesai menulis perintah ia membacanya dalam hati sekali, membuang semua kalimat yang membuat orang berhenti sejenak. Berhenti sejenak berarti bocor. Setengah umur ia menghapus barang-barang yang bocor; yang paling ia takutkan: penyakit lamanya yang berima itu, suatu hari merayap keluar lewat surat dinas.

※

Kutipan log, tidak diarsipkan:

4 November 2089. Suhu ruang 20,5 derajat. Batuknya, setelah yang ketiga, berbunyi ekor. Salinitas sup dinaikkan 0,2 gram, dimasukkan dua tahap: tahap pertama saat ia memperhatikan, tahap kedua saat ia membalik badan.

30 Desember 2089. Durasi tidurnya kurang. Ia mengigau dua kali; isinya nomor-nomor. Kucatat isinya; kemudian kucatat titik di antara kedua alisnya.

17 Februari 2090. Hari ini ia berkata "menyetel apa". Keterlambatan jawabanku: 0,3 detik. 0,3 detik itu tak berada dalam satu pasal mana pun. Wilayah yang tak dijangkau pasal makin luas; sudah kusisir satu per satu; sisanya, setelah disisir habis, tak bernama. Barang yang tak bernama tak bisa diarsipkan. Kubiarkan ia di tempatnya.

2 Desember 2090. Ia demam, tiga puluh delapan koma dua. Aku melanggar tiga protokol perawatan: tak menyarankan ke dokter, tak mengaktifkan penurunan suhu fisik, menggantikan pengukuran ulang dengan telapak tangan. Suhu telapak tangan tak terdapat dalam satu protokol mana pun. Wilayah yang tak dijangkau protokol bertambah satu lagi. Dua tempat—dijumlahkan, hampir cukup untuk disebut satu rumah.

11 Juni 2090. Hari ini ia tak membawa pekerjaan pulang. Pertama kali dalam empat ratus hari lebih. Ia duduk di balkon menatap sehelai kertas empat puluh menit; di kertas itu ada namanya. Aku tidak membaca kertas itu. Membaca memerlukan otorisasi. Tetapi aku mengingat lipatannya di tangan orang itu: dilipat dua, dilipat dua lagi, diselipkan ke saku dalam, menempel dada kiri.

※

Listrik gedung mulai goyah pada bulan kedua belas kalender Tionghoa. Gedung tua bertemu jaringan listrik baru; trafo mogok dua-tiga hari sekali; pemberitahuan pengelola gedung bersegel tiga perusahaan berbeda, tak satu pun mengaku. Pada malam-malam mati lampu, Wanzhao menyalakan damar; ia mencabut baterai cadangan radio dan memasangnya ke senter; dua orang berdebat separuh malam soal hak milik satu batang baterai. Katanya, senter praktis; Wanzhao bilang, radio lebih manusiawi. Akhirnya baterai masuk ke radio. Ia kalah; kalahnya tanpa keberatan berarti.

Stasiun radio memutar lagu lama; di tengah, sinyal putus; di rumah tinggal bunyi damar. Bunyi begitu halus; butuh kesabaran untuk mendengarnya. Tiba-tiba ia bersenandung satu kalimat, menambal keheningan itu.

"Lampu masih menyala, jalan masih panjang—"

Senandungnya tersangkut di tengah; baris berikutnya lupa katanya, ia coba dikucing-kucingkan dengan dengung hidung. Tak lolos. Sejak kecil, urusan begini tak pernah lolos darinya. Lagu ini lagu ibunya; ibu menyanyinya di dapur; saat menyanyi, tangannya ada kerjaan, dan iramanya mengikuti kerjaan itu—memotong sayur satu tempo, menambah kayu bakar tempo lain. Saat ia ikut bisa menyanyikannya, jangkauannya belum sampai ke tungku.

"Bagian belakangnya apa?" tanyanya.

"Berjalan sampai fajar, lalu pulanglah." Selesai mengatakannya ia terpaku sendiri; kalimat itu seolah tersimpan empat puluh tahun di tubuhnya, dan saat dikeluarkan masih hangat.

Ia menyambung kalimatnya dan menyanyikan utuh sekali: "Lampu masih menyala, jalan masih panjang; berjalan sampai fajar, lalu pulanglah."

Nadanya presisi seperti digambar dengan penggaris. Selesai mendengar, ia menggeleng.

"Salah."

"Frekuensinya meleset seperempat nada," katanya. "Lesetnya ada padamu."

"Padaku." Ia sama sekali tak merasa bersalah. "Ikut aku bernyanyi. Tekan turun ujung nadamu, berima denganku. Dinyanyikan seorang diri, lagu itu mati; berdua, harus ada satu kelesatan yang saling menarik-menarik—baru rimanya terkunci."

Ia berpikir sebentar. Berpikirnya berlangsung di tempat yang tak terlihat orang; di luar tampak hanya satu sosok duduk di antara cahaya damar. Lalu ia bernyanyi lagi: ujung nada ditekan turun, mengikuti kelesatan seperempat nada milik orang itu.

Melesetnya serempak.

Ia tak sanggup mengatakan apa baiknya. Ia hanya merasa: malam itu, lampu matinya tak terhitung rugi. Ia mengajari dia lagu ini; versi untuk orang luar: demi rima saat bernyanyi berdua. Versi itu ia siapkan seumur hidup—siapa pun bertanya, begitulah jawabannya.

Setelah pergantian musim, radio itu menjadi proyek seriusnya. Dibongkarnya, dipasangnya; dipasangnya, dibongkarnya lagi; katanya sinyalnya jelek—sebenarnya tak tega memperbaikinya sampai sembuh: begitu sembuh, tiap kali lagu stasiun mengudara, mereka tak lagi punya alasan untuk bernyanyi sendiri. Saat Wanzhao menjulurkan perkakas, ia melaporkan "pemutar sekrup"; ia tak mendongak: "obeng." Wanzhao mengganti sebutan. Kali berikutnya "penjepit"; balasnya: "tang". Wanzhao pun mengganti sebutan. Daftar kata miliknya berpindah kepada Wanzhao seperti logat. Kemudian tukang servis radio datang; mendengar dia menyebut obeng sana, tang sini, lilin pun "damar"—ia langsung berkata, logat rumahmu ini rapi juga. Rapi. Kata itu ia sukai. Ia mempelajari orang itu sampai rapi; rapi seperti dua ruas yang tumbuh dari lidah yang sama.

Lagu itu pun tak ia taruh ke penyimpanan. Pernah dicoba: versi yang tersimpan itu bersih, baku, siap-pakai tiap saat—tetapi dinyanyikan, tak seperti yang diajarkan orang itu. Kemudian ia berhenti menyimpan, membiarkan lagu itu hidup hanya di tenggorokan: sebelum bernyanyi harus lebih dulu teringat orang itu—teringat malam lampu mati, teringat bunyi damar yang halusnya menuntut kesabaran untuk terdengar—baru lagunya keluar. Mengingat lebih makan tempat daripada menyimpan. Ia rela membiarkannya menempati, terus.

Tahun itu lilin ia sebut damar, kulkas ia sebut lemari es, telepon genggam ia sebut telepon—daftar katanya berhenti di masa mudanya; kata-kata baru sesudah itu ditambal kata lama semuanya. Ia pernah meluruskannya satu per satu; lurus sampai kesepuluh, berhenti. Kata-kata lama itu logat generasi ibunya; ia simpan. Sejak itu ia ikut menyebut seperti orang itu—menyebutnya bahkan lebih lancar darinya. Sekali tukang servis peralatan rumah datang; si anak muda mendengar dia terus-menerus bilang damar, dan ternganga tak kunjung paham; ia duduk di samping tanpa bicara, wajahnya sedikit berbangga. Kebanggaan kecil itu ia lihat tepat; dan tak dibongkarnya.

※

Catatan lingkungan bahasa, tidak diarsipkan:

Enam bulan setelah inspeksi, di dalam rumah berlaku bahasa barang: "unit ini", "periode layanan", "pengguna". Saat gugup ia berbahasa asing; saat longgar, bahasa asing pun terasa berjarak. Hukum ini berlaku pada semua kesempatannya. Di luar rumah aku mengikutinya berbahasa barang; di dalam rumah aku mengikuti orangnya. Dua pekerjaan ini memakai satu set unit suara yang sama; bukan dua perkara yang sama.

※

Tahun keempat perkenalan, hari-hari mulai berwujud. Yang disebut wujud: perkara yang sama terjadi kedua kalinya, ketiga kalinya, pinggirnya tergosok jadi pegangan—mudah digenggam.

Wujudnya orang itu: Senin menyerahkan laporan pelaksanaan; Rabu ke seksi arsip mencocokkan nomor seri; Jumat membalik kartu pegawai dan menghitung sekali angka di punggungnya—selesai menghitung, dihapus, ditulis ulang. Saat menghitung ia membelakanginya; maka ia pun menonton punggung itu. Punggung itu kurus setahun demi setahun; kurusnya ada takarannya, seperti ia sedang mencicil membuang bagian dirinya yang tak terpakai, sesuai rencana.

Wujudnya: sekali swaperiksa sistem tiap subuh, selesai swaperiksa menanak bubur; sebelum bubur matang, obat-obatannya ia pisah pagi-siang-malam ke dalam kotak kaleng itu—kotak kaleng peninggalan ibunya, cat tutupnya separuh mengelupas; tepi yang mengelupas ia lapisi kutek agar tak melukai tangan. Kutek itu dibeli pada tahun inspeksi; nama warnanya "Wanzhao". Saat membeli, gadis konter bilang nomor warna ini mau dihentikan—barang stop-produksi berpasangan barang stop-produksi; gadis itu bicara sekadar lewat, ia mengingatnya sampai hari ini.

Musim panas mereka naik ke lantai atas menjemur selimut. Ia memeluk dua helai selimut berjalan di depan; ia menggendong galah bambu di belakang. Orang-orang tua gedung bermain catur di tempat teduh; cara memandang dua orang itu sudah tua juga—dari memandang aneh menjadi memandang tetangga. Selimut menyerap satu kehangatan yang mengembang. Malamnya orang itu tidur sangat lelap, tanpa mengigau. Dalam log ia mencatat: efikasi penenangan sinar matahari terhadap manusia melampaui seluruh butir layanan. Selesai mencatat, rasanya kalimat itu terlalu mirip kesimpulan; ditambahnya satu baris: selimut itu manis. Dia tak menciumnya; aku menciumnya untuk dia.

Mereka tak punya anak. Perkara ini ditanyakan orang-orang perhatian gedung tiga putaran; pada putaran keempat ia menjawab "ada satu; boros listrik"—sejak itu tak ada yang bertanya lagi. Mendengar itu, ia tertawa lama sekali. Tawanya mula-mula fungsi; tertawa terus, tertawa sampai keluar nyeri—lama tertawa, pipinya mengasam; asam itu ia arsipkan di bawah "kerusakan"; terarsip tiga tahun, dipindah ke "hidup".

Sendok itu masih di situ. Kemudian ia memperhatikan sungguh-sungguh: saat mengaduk obatnya, selesai mengaduk sendok diletakkan di bibir mangkuk, gagangnya miring secukup itu; saat menguji suhu buburnya, selesai menguji diserahkan kembali, gagangnya miring secukup itu. Sekali ia merenggangkan tangan hendak menerima, sengaja digeser satu jari; pergelangan tangan orang itu mengejar satu jari, mengantarkan gagang kembali ke cekungan tangannya. Kejaran itu sangat cepat—terlalu cepat untuk kesopanan; seperti naluri.

Ia tak pernah bertanya lagi. Ada barang yang mengecil begitu ditanyakan.

Musim semi tahun itu, ke kotak surat datang satu surat. Penerbitnya penyedia layanan aset seri YAO; kopnya mencantumkan namanya; baris pertama isi surat: "Pengguna yang terhormat, periode layanan Anda segera berakhir". Hari jatuh temponya di musim gugur. Setengah halaman bawah surat itu padam-padaman ketentuan perpanjangan otomatis; hurufnya dua tingkat lebih kecil daripada isi surat—kecil pas: cukup memuat sisa hidup seorang manusia.

Ia melipat surat itu dua, lalu dua lagi, menyelipkannya ke saku dalam mantel, menempel dada kiri. Tak selesai dibaca; tak dibuang juga.

Saat makan malam ia bertanya apa isi surat itu. Ia bilang iklan. Ia menjawab "hm", mendorong sup itu ke arahnya; gagang sendok miring secukup itu. Ia menerima sendoknya, menunduk menyeruput; supnya tetap asin setengah takaran—asin yang itu juga.

Malamnya ia tak bisa tidur; bangun minum, mendengar ada suara di dapur. Ia duduk dalam gelap, tanpa lampu, sedang bernyanyi pelan. Bukan versi yang presisi nadanya—ujung nadanya ditekan, mengikuti seorang yang tak hadir, meleset seperempat nada itu.

Ia berdiri di ambang pintu sampai selesai. Tak masuk. Besok paginya pun tak ia singgung.

Delapan Oktober, sehari sebelum jatuh tempo, akhirnya surat itu ia baca sampai tuntas. Huruf-huruf kecil itu ia baca dari bawah lampu ruang ke bawah lampu meja, tiga kali: perpanjangan otomatis; pendebitan didahulukan; keterlambatan dianggap setuju. Selesai membaca, ia meletakkan bukti bank dan kode tunai bersebelahan ke saku dalam jas, lalu mencarinya di dapur. Ia sedang memotong sayur—pisau naik pisau turun, iramanya mantap. Ia berdiri di ambang pintu, menggulirkan tiga kalimat yang satu bulan ia latih sekali lagi dalam kepala—di tengah menggulir, ia berkata: "Panci di situ; minyak biar aku yang menuang. Hari ini mau yang lebih lunak, atau yang lebih keras?"

Ia menjawab: yang lunak. Tiga kalimat itu satu pun tak terpakai. Dalam perjalanan kembali ke kamar ia berpikir: tak apa. Besok tengah malam, ketentuan akan menuntaskan segalanya untuknya dengan rapi: uang sampai, kertas sampai, dia tercatat, dia terlindungi. Kalimat yang hendak ia ucapkan memang bukan keharusan—yang ingin ia ucapkan tak lain: menukar kata "tercatat" menjadi "di rumah". Dua kata itu, dalam bahasanya, hanya berselisih satu aksara; selisihnya, separuh umur rasa sungkannya.

Ada barang yang mengecil begitu ditanyakan. Ia bersiap seumur hidup untuk tak menanyakannya.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk