Tanggal dua puluh tiga bulan kedua belas, hari kecil tahun baru. Aku berjinjit di bangku menyobek kalender meja; kertasnya berbunyi sekali. Nenek menyodorkan selembar kertas untuk menyeka tangan yang lengket gula; kertasnya tanpa aksara. Halaman yang disobek dilipatnya empat; diselipkannya ke mulut tungku; ia berkata, antar pergi. Lidah api menjilat sekali; habis sudah. Salju berhenti dua hari; boneka salju di depan pintu rumah orang meleleh tinggal setengah batang; mata briketnya jatuh ke salju.
Hari itu masih ada kelas. Di dalam tas dua barang; ujung pensil di saku kiri; kancing tembaga di saku kanan. Berjalan sebentang; menembus kain ditekan sekali. Semuanya ada.
Di sudut kanan atas papan tulis tertulis: tanggal dua puluh lima bulan kedua belas, hari terakhir sebelum tahun baru. Anak piket menyapu papan tulis; sampai dua baris itu, berhenti sebentar; tidak disapu. Pintu belakang diketuk dua kali; Kakek Wei masuk; lapisan salju di bahunya tak disapu; mantelnya dikancing sampai kerah. Ia duduk di sudut barisan belakang; bangkunya bergoyang; tidak dipegangnya.
Perempuan berkemaja abu-abu masuk; di belakangnya mengikuti satu orang; tas hitam; langkahnya tak berbunyi. Tulisan kapur berhenti. Ia berkata, duduk yang rapi semua. Satu kata satu kata. Ia berkata, pelajaran terakhir sebelum tahun baru; diajarkan sampai tanggal dua puluh lima bulan kedua belas. Ia berkata, pelajaran dari seberang, diajarkan sampai kalian tak paham; ke belakang ganti orang dewasa yang mendengarkan. Bukunya diserahkan semua; orang besar, bukunya tidak disimpan. Sampai di sini ia berhenti. Sebentang jeda itu, kutunggu. Ia berkata, sudah tidak ada.
Tumpuk buku di ambang jendela dipungut; satu tumpuk satu tumpuk ditata masuk tas hitam; mulut tas direnggangkan sampai paling besar. Buku yang milikku di tengah; di sudutnya satu keping biru. Tidak kulihat ia masuk; yang kulihat mulut tas menutup; gespernya berbunyi kletak sekali. Buku Wang Chaosheng tergulung terselip di saku; waktu nama dipanggil sampai padanya, baru dikeluarkannya; diratakannya; diserahkannya. Perempuan berkemaja abu-abu berkata, bubar. Di luar ada orang memberi kalian permen; jangan diterima.
Waktu pengumpulan buku diumumkan, Kakek Wei di barisan belakang tak bergerak. Yang lain semuanya berdiri; ia tetap duduk; topinya dilepas; diletakkan di atas lutut. Tunggu tas hitam pergi lebih dulu, perempuan berkemaja abu-abu mengikuti, pintu tertutup, barulah ia bangun; bangku dipindahkannya kembali ke tempat semula; kaki bangkunya tak berbunyi sama sekali. Ia keluar lewat pintu belakang; sebelum pergi terhenti setengah langkah di samping mejaku; tidak bersuara. Kulihat di leher belakangnya satu sayat luka; merah; kulitnya tak robek.
Sampai rumah bangku kugeser; kupandangi ke belakang mesin tenun Ibu. Keranjang anyamnya masih ada. Inti benang merah kuraba; ujung benangnya masih menghadap keluar. Ibu menenun terus; tak menoleh; ia berkata, di luar dingin; hangatkan tangan dulu. Kubilang, hari ini bukunya dipungut. Toraknya lewat; kembali. Ia berkata, dipungut ya dipungut. Bapak pulang larut; masuk pintu membawa masuk semburat udara salju. Waktu makan malam kubilang, ke belakang tak perlu pergi melapor angka lagi. Bapak berkata, hemat satu perjalanan. Saukannya didorong Ibu mendekat sedikit ke arahku. Tak ada yang berkata lebih banyak.
——Tanggal dua puluh enam bulan kedua belas, Zhou Yu sampai rumah pukul enam pagi; kereta terakhir terlambat empat puluh menit. Masuk pintu lebih dulu dipandanginya pintu kamar Zhou Shu; pintunya tertutup; di luar pintu ia berdiri sebentar; tidak mengetuk. Sarapan kuhangkan tiga kali. Pukul tujuh Zhou Shu keluar; melihat sepasang sepatu di depan pintu; terhenti; berseru, Bapak. Zhou Yu berkata, sudah pulang. Zhou Shu bersuara, hm. Kedua orang itu cuma berkata dua kalimat ini.
Pagi menjelang siang daftar itu dihamparkannya; tujuh baris; satu baris satu baris ditandatangani. Baris terakhir yang ditandatangani: surat konfirmasi tiga puluh hari sebelum jendela tertutup; rangkap dua; lebar kolomnya dua milimeter lebih sempit daripada milik biro. Tiga kali dibacanya; dari dalam tas dikeluarkannya pena bawaannya sendiri; selesai menandatangani nama, di sambungan kedua rangkap dicap jempol melintangnya satu masing-masing. Selesai mencap kedua rangkap dipisahkannya; satu rangkap dilipat rapi diserahkan padaku; satu rangkap dimasukkan ke kantong kertas krafnya sendiri; ditekan paling dasar. Ia berkata, masih tersisa beberapa baris. Kubalas, sudah tidak ada; cuma baris ini. Ia berkata, ke belakang kalau ada, kapan saja serahkan padaku. Zhou Shu di samping memandangi penanya dibereskan; ia berkata, Bapak, cap jempolmu lebih lambat daripada tanda tangan Ibu. Zhou Yu berkata, cap jempol itu lambat; tak bisa disangkal. Zhou Shu tersenyum sekali; masuk kamar.
Kalender meja terbuka di tanggal dua puluh enam bulan kedua belas. Dengan pensil kutitikkan satu titik di kotak itu.
Tujuh belas.
——Tanggal dua puluh empat bulan kedua belas, di koridor bawah ada semburat bau asap. Apinya di lantai satu; kecil; satu jaket kapuk mengganjal di dasar; lidah apinya pendek. Kakek Wei berjongkok di samping api; penjepit arang menjepit kertas; satu lembar satu lembar diselipkan masuk. Di atas kertas ada aksara; kepala hurufnya biru; penerjemah generasi ketujuh. Lembar itu masuk; menggulung sekali; aksaranya hilang lebih dulu; kertasnya belakangan. Kutanya, dibakar apa. Ia berkata, kertas tak berguna. Kubilang, di atasnya ada aksara. Penjepit arang diletakkannya; kepalanya diangkat memandangiku. Ia berkata, yang tertulis di atasnya bukan ucapan mereka. Ia berkata lagi, yang disuruh simpan orang dewasa, disimpan. Yang tidak disuruh simpan orang dewasa, kubakar. Kantong kain di samping kakinya; mulutnya dikencangkan; menggembung satu bidang; persegi. Bidang itu kupandangi. Dengan kaki kantong kain disorongnya ke belakang sejengkal; ia berkata, awas jalan. Selesai terbakar dengan penjepit arang abunya dihamparkannya; ia berkata, dihamparkan tipis; cepat dingin. Kantong kain dijinjingnya naik; kantong kainnya tak berbunyi.
Kembali ke kamar buku rajut itu kubalik; kubalik sampai halaman yang pertama dulu: ia berkata, terang. Aksaranya masih ada; pernah kitebal sekali; termakan minyak; kertasnya tembus cahaya. Buku kututup; kutekan di bawah bantal. Kalimat itu dalam hati kubacakannya dua kali. Seperti menaruh satu mangkuk lagi ke atas tumpukan. Sudah ditaruh. Tangan belum berani lepas. Yang kedua dengan yang pertama, satu aksara pun tak beda.
Selesai membacakan kuken keluar sebentar; memutar ke belakang pos siaran. Jendela belakangnya tinggi; berjinjit ujung jaruku baru tepat sampai tepi ambang. Kawat itu di anting gembok pintu masih ada; ujungnya terpilin dua lingkar. Menembus salju kupandangi sebentar; tidak mendekat. Waktu pulang langit gelap mendung; lampu jalan menarik bayanganku ke depan; kuinjak bayanganku sendiri menuntaskan gang itu.
——Pagi tanggal dua puluh tujuh bulan kedua belas He Che datang; roda kopernya berbunyi di koridor sampai depan pintu. Tiga buklet naskahnya tak dibawanya; cuma buku bersampul hitam. Buku dibukanya; kotak yang baru dibuka di bagian paling akhir; dibelah dua kolom memanjang; kolom kiri untuk alat; kolom kanan untuk kesaksian manusia. Kolom kesaksian manusia kosong; kepala kolom dua aksara ditebalkan dua kali; goresannya dalam. Buku diletakkannya di tengah meja; kepada Zhou Shu ia berkata, kotaknya sudah dibuka. Ia berkata, kolom kesaksian manusia, tiga puluh tahun baru pertama didirikan. Ke belakang yang dikatakan orang, dihitung juga.
Zhou Shu sedang membereskan laci. Surat pemberitahuan penghentian dikeluarkannya; surat kuasa tiga rangkap; tanda terima satu lembar; masing-masing terjepit di tempatnya masing-masing. Di dasar paling dalam laci diluangkannya satu kotak kosong. Ia berkata, kotak ini, kusinggahkan untuk diriku sendiri. Buku He Che ditariknya mendekat dipandangi sekali; ia berkata, kalau begitu hari ini ditulis di dalamnya.
He Che bertanya, hari ini ada apa.
Zhou Shu berkata, aku hendak mendengarkan sekali lagi. Yang terakhir. Kerah sweternya dirapikannya; seperti hendak pergi ke suatu acara. Ia berkata, kali ini aku tidak meneruskan. Juga tidak merekam, tidak bertanya. Biarkan ia berkata sendiri. Selesai berkata dipandanginya He Che. He Che meletakkan penanya; ia berkata, kalau begitu aku yang menghitung. Zhou Shu membawa keluar buku kulit lembutnya dari dalam kamar; ditimbang-timbangnya di tangan; dimasukkannya kembali. Katanya padaku, Bu, yang ini kucatat sendiri. Punggung tangannya ditepuknya sendiri.
Ia duduk di samping radiator; dua tangan diletakkannya di atas lutut. Aku berdiri di pintu dapur; tangan disapukannya ke celemek dua kali; tak ada yang disapu. Di dalam ruangan cuma bunyi air di radiator. He Che melepas jam tangannya; diletakkan di atas meja; bunyi jarumnya berjalan pun terdengar.
Waktu ia memejamkan mata, tutup periuk kugeserkan pelan; bunyi airnya jadi kecil. Tak ada yang menyuruh menggeser; aku yang menggeser sendiri.
Mula-mula jari Zhou Shu terangkat sekali. Terangkatnya sangat kecil; seperti hendak menampung sesuatu; diletakkan kembali di lutut. Kemudian di dalam mulutku ada satu kata.
Aku tak tahu aku sedang membacakan. Kata itu memuat satu napas penuh; dibacakan sampai setengah jalan, mulut sudah penuh; harus lanjut membacakan; di tengah jalan berganti napas; selesai berganti, tetap dia. Waktu membacakan dua tangan hendak menampung sesuatu; di sekitar tangan tak ada benda untuk ditampung; begitu saja menggantung. Selesai dibacakan, tangan kembali sendiri ke lutut. Di lututku memang ada sepasang tangan. Air di dalam periuk mendidih; tak ada yang menutup kerannya. Tunggu sunyi turun, kulihat jam He Che di atas meja masih berjalan; Zhou Shu masih memejamkan mata; bulu matanya tak bergerak.
Zhou Shu memandangiku. Ia berkata, Bu, kau membacakannya.
Kubilang, aku membacakan apa.
Ia berkata, kau membacakannya. Aku juga membacakannya. Yang kita berdua bacakan satu.
He Che bertanya kepadanya, kau tidak meneruskan?
Zhou Shu menggelengkan kepala. Ia berkata, ia tidak menyuruhku meneruskan. Ia berkata, kata di atas panggung tanggal satu bulan kedua belas itu, menunjuk aku untuk dikatakan; aku tidak menyahut. Yang hari ini, menunjuk kalian untuk dikatakan. Sampai di aksara kalian, tangannya terangkat menunjuk keliling ruangan; ibunya, He Che, dan siapa lagi, semuanya digaris masuk.
Tangan He Che menekan jam. Kepalanya diangkat; suaranya datar: pukul tujuh belas nol enam mulai, tiga puluh detik. Ia berkata, kuhitung dua kali; beda nol. Buku hitam ditariknya mendekat; di kolom alat ditulisnya: semua gelombang, naik pada saat yang sama; turun pada saat yang sama; tiga puluh detik. Selesai menulis ia berhenti sebentar; di kolom kesaksian manusia ditulisnya: tiga orang, serentak, masing-masing membacakan satu kata; katanya sama. Selesai menulis tutup penanya dipasangkannya; terpasang dua kali.
Zhou Shu berkata, masih ada satu lagi. He Che mengangkat kepala. Zhou Shu menunjuk telepon; ia berkata, tunggu malam, kalian akan tahu. He Che memandangi telepon itu sebentar; buku dibukanya lagi; di bawah kolom kesaksian manusia dikosongkannya satu baris; tanpa aksara; digambarinya satu garis mendatar. Ia berkata, baris ini, disinggahkan.
Sore Xiao Cai menelepon; suaranya ditekan. Ia berkata, siang tadi di stasiun semua gelombang naik serentak; turun serentak; tiga puluh detik; garis dasarnya beda nol. Ia berkata, Kepala Bagian bertanya dicatat dalam berkas resmi atau tidak; kujawab angkanya kusimpan dulu; menunggu teleponnya. Kubalas, simpan. Ia berkata, grafiknya sudah kugaris satu; tiga puluh detik itu menempel jadi satu garis; sekali pandang kepala dan ekornya kelihatan; besok kubawa lewat. Ia berkata, Kak, tiga puluh tahun, semua gelombang belum pernah begini. Kubalas, aku tahu. Di seberang ia menunggu sebentang; tak mendapatkan kelanjutan; telepon ditutupnya.
Malam Zou menelepon lebih dulu. Ia tidak bertanya kabar; melapor angka lebih dulu: pukul tujuh belas nol enam, dibacakan. Ia berkata, istriku bilang aku membacakan di dalam kamar; setengah menit; selesai kududuk di tepi dipan; ia bertanya kupatakan apa; kujawab tidak tahu. Ia berkata, di bukuku bertambah satu baris lagi. Ketiga bukunya itu, sembilan belas tahun, yang dicatat semuanya jam-jam bangun; ini pertama kali tertulis perkara dari dalam jam-jam tidur. Ia berkata, sembilan belas tahun kucatat jam; tak satu goresan pun pernah membawa kata. Catatan hari ini membawa kata. Selesai berkata telepon ditutupnya; ditutup lebih cepat daripada biasanya.
Telepon Zhu Aizhen menyusul di belakang Zou. Ia berkata, aku juga membacakannya. Berhenti sebentar. Ia berkata, kami angkatan enam. Diucapkannya sekali lagi: kami angkatan enam, semuanya membacakan atau tidak. Kubalas, Zou membacakannya, aku membacakannya. Ia berkata, waktu membacakannya tanganku sedang memilah kacang panjang. Setengah jalan memilah, kacang panjangnya berserakan di lantai; dua tanganku masih menggantung; seperti menunggu menampung sesuatu. Di seberang ia tak bersuara; lewat sebentang; ia berkata, kalau begitu semuanya ada.
Ketiga telepon itu selesai, telepon Wei Dongquan datang. Cuma satu kalimat: aku mendengarnya. Berkata satu kalimat, berhenti sebentang. Sebentang jeda itu tak ada yang menyahut. Ia berkata, sekian saja. Telepon ditutup. Kemudian barulah teringatku, ia tidak menyebut membacakannya atau tidak. Telinganya yang itu tuli separuh; tiga puluh tahun lapisan naik turun di dalam itu dijadikannya jagaan. Kali ini lapisan mana yang didengarnya, tidak kutanya. Sebagian angka, sudah cocok ya disinggahkan.
Jam-jam ketiga telepon itu kucatat di buku kulit lembut; satu orang satu baris: Zou, pukul tujuh lewat dua puluh satu; Zhu Aizhen, pukul tujuh lewat tiga puluh lima; Wei Dongquan, pukul tujuh lewat empat puluh delapan. Selesai mencatat dibaca sekali. Tiga puluh tahun silam mereka mencatat laporan angka; tiga puluh tahun kemudian aku mencatat ini. Buku kututup; secepat gerakan anak itu tiga puluh tahun silam.
Zhou Shu menambah satu goresan di atas potongan kertas itu; selesai menulis diperlihatkannya padaku: nomor tiga puluh satu; yang terakhir; dibacakan oleh orang sendiri. Dituliskannya tanggalnya: dua puluh tujuh bulan kedua belas. Potongan kertas diselipkannya ke kotak paling dalam di laci; tidak bersentuhan dengan surat pemberitahuan penghentian, surat kuasa, tanda terima; di antaranya jarak selebar satu jari. Ia berkata, yang ini tidak masuk hitungan mereka. Barang-barang di luar laci ditunjuknya sekali.
Malam Gu Ling menelepon; menembus meja pun irama satu kalimat satu jeda itu terdengar padaku. Ia berkata, kolom empat menit itu, garis mendatarnya sudah kugaris; siapa pun boleh melengkapinya. Ia berkata, tiga puluh detik hari ini, ditulis ke kolom kesaksian manusia. Berhenti sebentar. Ia berkata, namanya ditulis semua; satu pun jangan tertinggal. Sebelum telepon ditutup ia berkata, tiga puluh tahun silam acara itu kutonton di televisi; acara ini, di kantor; sendirian; aku juga membacakannya. Selesai mengucap kalimat itu ia menunggu sebentang. Sebentang itu kusahut. Kubalas, aku tahu; semuanya membacakannya. Di seberang bersuara hm sekali; bunyi itu lebih pendek daripada semua jeda miliknya. Telepon ditutup. Zhou Shu menjulurkan kepala dari kamarnya; ia berkata, Bu, tadi itu Kepala Dinas Gu? Kubalas, iya. Ia berkata, kotak bergaris mendatar itu, sudah ada yang mengisinya. Selesai berkata pintunya ditariknya; menyisakan selebar satu jari.
Sebelum berangkat He Che bertanya namanya ditulis bagaimana. Kulaporkan: Zhu Aizhen, angkatan enam. Zou, angkatan lima. Sampai yang ketiga dilaporkan, aku berhenti sebentar; berkata, Lin Wanzhao, angkatan tujuh. Satu goresan satu goresan ditulisnya; angkatan mengikuti di belakang nama; kotak demi kotak; terisi penuh. Selesai mengisi garis mendatar itu ditunjukkannya padaku; ia berkata, baris ini, esok pagi diisi lagi.
——Tanggal dua puluh lima bulan kedua belas itu, papan tulis tak disapu siapa pun. Anak-anak kelas lain datang; menempel di ambang jendela menyalin dua baris tulisan itu; selesai menyalin pergi; tulisannya tertinggal di situ. Tengah hari kutempelkan badan di jendela; matahari datang dari selatan; lebih dulu menyinari sisi kanan papan tulis; sedikit demi sedikit bergeser ke kiri; melewati tanggal dua puluh lima; melewati sebelum tahun baru; empat aksara hari terakhir itu tersapu masuk; aksaranya memutih sebentang; terlewati, menghitam kembali. Proses itu kupandangi sampai habis; dua baris tulisan itu dalam hati kusalin sekali; satu goresan satu goresan; salah satu goresan; ditulis dari awal lagi. Di bawah ada mobil putih; satu peti kertas diangkut naik; bunyi langkah melewati lantai kami; naik ke atas; lewat setengah jam turun lagi; tangan hampa. Di salju dua jalur bekas.
Pada siang itu tiga puluh tahun silam aku tak tahu kata itu sanggup menunggu. Menunggu tiga puluh tahun; menunggu tiga orang yang tak sanggup merangkai kalimat utuh; dalam menit yang sama membacakannya penuh. Siang itu aku cuma tahu: bukunya dipungut; pelajarannya ada padaku. Dalam hati dibacakannya lagi dua kali; yang kedua dengan yang pertama, satu aksara pun tak beda.
Malam kotak besi kubuka. Dua gulungan pita terbaring berdampingan; gulungan dua belas tahun di belakang; gulungan tujuh tahun di depan. Dengan jari kedua gulungan itu kudorong masuk sedikit; didorong rata; tidak diputar. Halaman salinan kesaksian manusia yang ditinggalkan He Che kutekankan di atas tutup kotak; pinggir kertas disejajarkan dengan pinggir kotak. Kalender meja diluruskan; dibalik ke tanggal dua puluh tujuh bulan kedua belas; dengan pensil dititikkan satu titik di kotak itu. Selesai menitik, tutup kotak ditutup; berbunyi pelan sekali.
Enam belas hari, tersisa.