Terjagaoleh Lu Chenzhou

29 · Benturan pertama

Bab 29 · 13,5 rb kata

Hari ketiga sesudah jendela terbuka, dini hari 1 Mei, tibalah saat manuver akhir benda pertama.

Malam sebelumnya tak ada di stasiun yang tidur pulas. Bukan karena ada perkara—justru karena tak ada perkara. Tabel menuliskan saat manuver pukul tiga sebelas dini hari; lewat pukul dua ruang mesin sudah penuh orang; tak ada yang memanggil siapa pun. Kursi seperti biasa kurang; yang tak berkursi bersandar kabinet mesin; yang membawa bangku lipat duduk di bangku lipat. Ada yang membawa teh; sampai ke barisan belakang sudah menjadi air putih. Jam tergantung di atas kabinet daya; jarum detiknya berjalan satu petak satu petak; tak cepat tak lambat.

Ia tak datang lebih awal; kursi barisan depan lama habis. Hu Yisu tak duduk; ia berdiri di samping kabinet daya, tempat paling lurus memandang jam. Ada yang menanyanya jam berapa; katanya, lihat sendiri; orang itu bilang, tak berani; ia tak menjawab lagi. Mahasiswa pascasarjana menduduki tempat di bawah saluran udara; katanya hangat di situ. Kawan-kawan tua datang paling lengkap, satu pun tak kurang—ada yang surat pensiunnya setengah diproses, minta izin khusus untuk pulang. Alasan surat izinnya cuma empat aksara: datang saat waktunya.

Pukul dua lima puluh, ruang mesin mematikan semua lampu yang tak semestinya menyala; tinggal layar dan jam itu. Tak ada yang mengusulkan; petugas jaga mematikannya sambil lewat; di tengah mematikan, ada yang berkata lirih: biarkan satu; sisakan satu lampu. Lampu itu terus menyala; menyala sampai pagi.

Pukul tiga sebelas, telegram dari pusat komando tiba; satu baris: Nomor 1, saat manuver telah tiba; sesuai tabel, dipresumsikan tuntas.

Sesuai tabel, dipresumsikan tuntas. Empat kata itu sudah setengah tahun dilatih orang stasiun. Bongkah besi yang terbang lebih cepat dari cahaya, sedangkan kabarnya hanya sanggup pulang dengan kecepatan cahaya—apa yang mereka kerjakan saat ini, di Bumi sepatah aksara pun tak terlihat. Yang terlihat cuma tabel. Tabel menuliskan jam dan menit; jamnya tiba, berarti selesai. Rumus telegram itu ditetapkan Hu Yisu setengah tahun sebelumnya. Hari rumusnya disahkan ada yang keberatan: empat kata itu terlalu kabur; pihak luar akan menanya selesai dijalankan atau belum. Hu Yisu bilang: ini empat kata paling jujur yang sanggup kutulis. Sepatah pun tak boleh ditambah—bukan tuntas dijalankan; sesuai tabel, dipresumsikan tuntas. Yang dipangkas itu sebelas tahun empat bulan perjalanan; tak ada yang sanggup menempuhnya sebagai gantinya.

Log jaga membuka bingkai kedua: 002. Telegram disalin; tanda terima; tanda tangan. Perkaranya satu menit selesai. Tak ada yang pergi. Ada yang bertanya lirih: cuma itu? Yang jaga bilang: cuma itu. Yang bertanya mengangguk; duduk lagi setengah jam. Menjelang pagi barulah ruang mesin kosong; bangku lipat dilipat dibawa satu demi satu; teh dingin di gelas dituang ke ember. Keluar, muka setiap orang membawa ungkapan yang sama—bukan kecewa; pertama kali kata selesai dijatuhkan pada sesuatu yang betul-betul; belum terbiasa betapa ringannya.

Sejak hari berikutnya, hari-hari menjadi tabel petak demi petak.

Bintang 3 manuver; bintang 5; bintang 8. Antar bintang berjarak beberapa jam sampai belasan jam; tiap bintang sampai waktunya, telegram satu baris; disalin; ditandatangani. Tujuh orang bergiliran; lajur tanda tangan satu petak satu nama. Orang stasiun menyebutnya absen—siapa dipanggil, dia menjawab hadir. Bukti hadirnya tabel; bukan dirinya sendiri.

Telegram punya format. Nomor; waktu; empat kata itu; satu kata tak lebih, satu tak kurang. Formatnya masih meniru catatan kertas itu—nomor di depan; waktu mengikuti; simpulan menutup. Ada yang bilang sekarang semuanya memakai nomor bingkai; apa lagi menyalin ini. Hu Yisu bilang: nomor bingkai untuk mesin; ini untuk manusia. Sesuatu yang harus dibaca manusia, formatnya harus format manusia. Tujuh tanda tangan; tujuh tulisan tangan. Ada yang menandatangani cepat, pena jatuh selesai; ada yang lambat, satu guratan satu guratan. Tulisan Insinyur Ma paling kecil, mengkeret di tengah petak; tulisan mahasiswa besar, sering keluar petak; keluar petak, di sampingnya diberi satu titik; itu dihitung mengaku. Namanya sendiri di tabel giliran keempat; tiap kali absen ia melihat sekali lebih lama tiga nama di depannya—melihat mereka menandatangani lurus atau miring. Tak ada yang menyuruhnya melihat; melihat saja ia. Dua puluh tahun; dalam pembukuan tak boleh ada tanda tangan yang miring.

Dua hari pertama ruang mesin masih penuh; hari ketiga orang berkurang—semua orang sudah paham: yang ini tak ada gambar. Andai ada satu layar yang sanggup menyalakan kilat sebelas tahun kelak, orang stasiun sanggup menemaninya sebulan. Tak ada. Yang ada cuma bunyi mesin teleks mengeluarkan kertas, satu petak satu petak, seperti hujan yang sangat lambat.

Warga perumahan belajar membaca kemajuan dari lauk kantin. Hari ada lauk tambahan perkara besar; hari tanpa lauk perkara kecil; di antara besar dan kecil, hari berjalan seperti biasa. Guru sekolah dasar mengajak muridnya ke luar pagar stasiun melihat antena sebentar; yang diceritakan masih bagian dua puluh tahun lalu, hari siaran pertama; bulan ini tak diceritakan—diceritakan pun anak-anak tak bisa melihat. Anak bertanya: kena tabrak tidak? Guru bilang: kena. Anak bertanya: di mana menontonnya? Guru menunjuk langit; menunjuk kalender. Tabrakannya di sana; harinya di buku ini. Anak-anak tak puas dengan jawaban itu; berjongkok di luar pagar menghitung antena. Selesai menghitung enam; bertanya kenapa cuma enam. Guru bilang ada yang tak terlihat; di langit. Anak bertanya: di langit berapa? Guru bilang empat puluhan; baru saja berangkat. Anak bertanya: berangkat ke mana? Guru berpikir sebentar; katanya: menjemput jawaban sebelas tahun lagi dan mengantarnya pulang. Anak bilang: kenapa sebelas tahun? Guru bilang: mereka berjalan cepat; kabar berjalan lambat. Anak-anak puas dengan jawaban itu; berbaris pulang.

Di layar telemetri tak ada apa-apa. Telemetri lama ke-44 benda itu masih tiba se paket demi se paket menurut irama 90 hari; di dalam paket mereka semua masih hidup; sikap normal; putaran normal; barisan rapi. Itu rupa mereka sebelas tahun lalu. Tiap pagi ia mendengarkan sekuensnya sekali; empat puluh empat nada semua ada; semuanya rata. Yang didengarkannya rupa mereka sebelas tahun lalu, seperti membalik album lama. Hari-hari pertama ia tak memikirkan ke arah itu; pagi hari kelima, setengah mendengarkan, tangannya tiba-tiba berhenti—yang didengarkannya itu potret jenazah; dan yang dipotret, saat ini, menurut tabel, sedang menghantam cangkang sebuah bintang; sudah hampir sepekan. Sekali mahasiswa tak sanggup menahan; ditanyanya: masih juga didengarkan? Katanya: didengarkan. Pembukuan harus dicocokkan sampai baris terakhir. Ditanya lagi: dicocokkan untuk siapa melihat. Dipikirnya sebentar; katanya: untuk kita sendiri, sebelas tahun dari sekarang. Saat itu kita sudah bisa melihat; harus ada pembukuan untuk dicocokkan. Isi paket telemetri lama tak dibacanya; yang dicocokkan nomornya. Antar paket berjarak 90 hari—itu 90 hari di pihak mereka; di jalan habis sebelas tahun; sampai ke Bumi menjadi keseharian yang berbaris. Sekali satu paket terlambat empat jam; stasiun memeriksa satu putaran: pihak penerima di tanah mengganti cakram. Untuk empat jam itu, stasiun penerima mengirim tiga orang; membawa catatan; datang ke pintu menjelaskan. Katanya tak perlu dijelaskan; sampai, cukup. Yang termuda dari bertiga itu tak terima; katanya: empat jam juga perkara. Dilihatnya sekejap; katanya: ingat kalimat itu. Di pekerjaan kalian, hal inilah yang harus dianggap serius.

Tabel S dicocokkan sehari satu baris. Baris 7.397; baris 7.401; baris 7.404. 0,37. Garis mendatarnya bulan ini genap dua puluh tahun. Dalam dua puluh tahun ia mengganti tiga earphone konduksi tulang; memenuhi dua puluh tujuh buku; buku-bukunya semuanya bernomor. 0,37 tak pernah berubah. Sekali, selesai mencocokkan, terpikirnya: garis ini lebih panjang daripada masa kerja separuh orang stasiun; kalau suatu hari ia bergerak, ia justru tak tahu sikap apa untuk menghadapinya. Yang termuda dari tujuh orang pernah menanyanya: garis ini sampai kapan dilihat. Katanya: sampai aku tak sanggup melihat. Anak muda itu bilang: kalau Ibu tak sanggup? Katanya: kalau begitu ia berpindah ke tangan yang lebih muda daripadaku. Ditanya lagi: kalau selamanya tak bergerak? Katanya: selama tak bergerak, selama itu ada yang melihat. Kalimat itu diucapkannya datar; anak muda itu mengingatnya; kemudian disalinnya ke halaman muka buku jaganya sendiri.

Hari kelima terjadi satu perkara kecil. Pemeriksaan ulang rutin menjelang waktunya bintang 12 jatuh pada giliran Insinyur Ma. Ia memeriksa penyelesaian orbit pembukuan; lajur residu muncul satu kepala—tak besar; di dalam toleransi lama; di luar toleransi baru. Penyelesaian tiga hari dijalannya ulang; berjalan sampai lewat tengah malam; ketemu: bukan perkara bintang; parameter penyelesaiannya usang—dua tahun lalu sebatch referensi koordinat diganti; empat bintang parameternya tak ikut diganti. Parameternya dimutakhirkan; diselesaikan ulang; residu turun kembali. Di buku registrasi tertulis: parameter penyelesaian dimutakhirkan; tidak merupakan deviasi. Selesai menulis, di belakangnya ditambahnya satu kalimat: bintang 12 sesuai tabel, dipresumsikan tuntas.

Pagi itu, saat serah terima, ia menceritakan prosesnya; diceritakannya sangat rinci: residunya berapa besar; bagaimana diketemukan; tiga langkah mana yang diperiksa; kenapa diputuskan parameter. Selesai berkata, katanya: aku bercerita sedetail ini karena empat kata itu—sesuai tabel, dipresumsikan tuntas—bertumpu persis pada ketelitian begini. Tabel tak jatuh dari langit; tabel itu kami hitung petak demi petak. Satu petak salah hitung, "dipresumsikan" itu menjadi kosong. Empat bintang yang parameternya tak diganti, salahnya bukan pada mereka; salahnya pada tangan kami yang memegang pembukuan. Dalam pembukuan ada tangan; tangan bisa keliru; keliru, akui; akui, perbaiki—itulah beda kami dengan bintang itu. Ia tak keliru; ia hanya berjalan.

Saat rapat bubar ada yang menanyanya: kalau deviasi betulan? Katanya: deviasi betulan, sekarang pun tak bisa kami lihat. Yang bisa dikerjakan: menghitung pembukuan sampai bersih—pembukuan bersih, sebelas tahun lagi, saat cahayanya dicocokkan, kami sanggup mencocokkannya.

Kalimat itu kemudian ditempel di dinding ruang serah terima, bersebelahan dengan tabel giliran. Tanpa nama. Ada yang mengambil selembar kertas hendak menandai sumber kalimatnya; pena diulurkan ke hadapan Insinyur Ma; ia melambai tangan; katanya: siapa yang mengatakan tak penting. Maknanya makna itu, sudah cukup. Hari itu, sesudah rapat bubar, Insinyur Ma tak pulang; seorang diri duduk lagi satu jam di ruang mesin. Saat pergi, dilihatnya masih ada. Esoknya ditanyanya: duduk apa. Katanya: menjalani sekali lagi penyelesaian tiga hari bintang 12. Katanya: bukannya sudah diperiksa. Katanya: memeriksa itu untuk dilihat orang lain; menjalani sekali lagi untuk kulihat sendiri. Kutandatangani; kata-kata itu harus kutanggung sampai 2053.

Rabu giliran Hu Yisu jaga; Rabu terakhir di dalam jendela. Gilirannya berturut-turut tiga bintang: 22; 23; 25; tiga baris telegram; tiga tanda tangan. Menandatangani yang ketiga, namanya dituliskannya lebih lambat daripada dua yang pertama; satu guratan satu guratan. Sebelum baris telegram ketiga tiba, log jaga dibaliknya ke halaman kosong; dibalik kembali; bolak-balik tiga kali. Orang-orang di samping melihat; tak ada yang bertanya. Kemudian ia sendiri berkata: hendak meninggalkan satu kalimat untuk yang belakangan; dipikirnya; tak ada kata. Orang samping bilang: tinggalkan tanggal saja. Katanya, tanggal ada di log. Kalau begitu jangan. Selesai menandatangani, penanya diletakkan; di kursi jaga ia duduk penuh delapan jam—tak ada perkara lain; ia cuma duduk, menemani mesin itu menghabiskan jamnya. Sekali di tengah ia mengantarkan air kepada orang yang berdiri di belakang kabinet; sendiri minum satu gelas. Menjelang serah terima ia berdiri; kursi jaga didorongnya kembali ke tempatnya; satu kaki kursi menggesek lantai; katanya: giliran begini, seumur hidup tak kebagian yang kedua kali. Yang menggantikan bilang: begitu. Katanya: makanya jangan benci membosankannya. Giliran yang membosankan barulah kau kebagian menandatanganinya.

Yang terakhir keluar jendela senja 9 Mei.

Nomor 44. Telegramnya: Nomor 44 keluar jendela; sesuai tabel, dipresumsikan tuntas. Seluruh rantai tuntas dijalankan.

Seluruh rantai tuntas dijalankan. Kalimat itu disalin ke log; tanda terima ditandatangani. Empat puluh empat baris telegram; empat puluh tiga tanda tangan—satu baris ditandatangani dua orang bersama; hari itu serah terimanya kebetulan jatuh pada saat manuver. Halaman April lajur tanda tangan penuh; pas penuh. Tabel giliran diturunkan dari dinding; yang menyobek halamannya Insinyur Ma; disobeknya pelan; halaman itu lebih dulu dilaminasi; baru masuk map arsip. Masuk map bersebelahan dengannya: lembar ekstrapolasi yang tertekan setahun itu. Dua map diletakkan berdempetan.

Buku nomor bingkai seluruhnya dua jilid. Jilid pertama berangkat dari 001; baris pertama tulisan tangan Hu Yisu sendiri. Dua jilid diserahkan ke ruang arsip; dinomori; masuk lemari. Ruang arsip itu bukan di stasiun; di Shanghai—satu ruangan dengan catatan kertas. Lu Weiming menerima surat pemasukan lemari; dibalasnya empat aksara: taruh di samping punyaku. Arsip menjalankannya. Satu rak; terjarak sembilan belas tahun; dua buku pembukuan berdempetan. Kemudian orang yang pulang dari urusan Shanghai bercerita: di depan dinding itu selalu ada yang berdiri; yang membaca kertas banyak; yang membaca buku baru juga banyak. Naskah pemandunya dua kalimat: yang ini, sembilan belas tahun, empat belas ribu lebih angka. Yang itu, sebelas hari, empat puluh empat baris.

Malam itu kantin stasiun menambah lauk lagi. Masakannya masih yang itu. Kawan tua saat mengambil lauk bilang: lauk ini tahun ini kedua kalinya. Juru masak bilang: kelak ada setiap tahun. Orang-orang tertawa; selesai tertawa masing-masing membawa piring pergi. Malam itu kantin tutup larut; tak ada yang minum arak; stasiun memang tak mengizinkan. Saat mematikan lampu, petugas jaga meninggalkan lampu di pintu sampai paling akhir.

Malam itu selesai dicocokkannya baris terakhir tabel S. Baris 7.405; 0,37; ditandatangani. Baris-baris bulan ini dihitungnya petak demi petak; dicocokkannya dengan telegram petak demi petak; satu baris pun tak keliru. Selesai mencocokkan ia mendongak; di layar telemetri data lama masih berjalan se paket demi se paket; empat puluh empat; sikap normal; barisan rapi. Mereka tak tahu dirinya sudah selesai—perkara di sana, diri mereka di sana, masih bersisa sebelas tahun empat bulan barulah diketahui layar-layar di sini. Sebelas tahun ke depan paket-paket ini akan tiba satu demi satu, melaporkan perjalanan mereka baik-baik saja, terus melaporkan sampai paket yang melaporkan benturan; sesudah itu tak ada lagi. Nomor paket terakhir sudah sanggup ia hitung. Hitungannya begini: satu paket tiap 90 hari; sebelas tahun empat bulan; jumlah paketnya dikalikan; ditambah beberapa yang dikonversi dari penggal terakhir di perjalanan—keluar satu angka tujuh digit. Dihitungnya dua kali; dua-duanya sama. Angka begini, ia dua puluh tahun lalu akan mencatat satu baris di buku; di kaki halaman dilingkarinya. Sekarang ia hanya meletakkannya sebentar di dalam kepala, seperti meletakkan sesuatu dengan pelan. Tak ditulisnya ke buku. Ditulis pun tak ada yang sanggup menunggu sampai membacanya.

Nol di halaman hitung mundur, tiga hari sesudahnya, melompat menjadi kata baru. Bukan angka; satu baris tanggal: April 2053.

Yang bisa dilihat, di jalan.

Tanggal dari halaman itu disalinnya ke buku kecil yang selalu dibawanya; ditutup; dimasukkan ke saku dada kiri.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk