Tengah hari 12 Mei, kantin buka; tanpa lauk tambahan. Tangan juru masak masih takaran lamanya; mangkuk setiap orang datar rata. Ada yang berdiri sejenak memegang piringnya; barulah teringat hari ini bukan hari apa-apanya. Sejak hari itulah hari-hari stasiun turun dari tabel, kembali ke dalam periuk.
Kehampaan itu bersuara. Pekan pertama, ruang mesin malam hanya diduduki satu orang; langkah kaki masuk dari pintu; yang jaga tanpa mendongak tahu siapa—di seluruh stasiun tersisa hanya itu beberapa pasang kaki yang masih sanggup masuk pada pukul dua dini hari. Buku registrasi penjaga pintu satu halaman tahan separuh bulan; lajur kegunaannya bolak-balik cuma beberapa kata itu: serah terima; jaga; lihat sekilas. Perumahan keluarga mengembalikan bangku-bangku yang dipinjam selama jendela itu; pihak sekolah menyelesaikan kembali satu tambahan pelajaran yang pernah diberikan. Eli menelepon dari kota; menanya apakah stasiun sudah bebas perkara. Yang menerima bilang: bebas. Di ujung sana ia hening beberapa detik; katanya: bebas perkara pun, tetap harus ada yang menjaga telepon. Yang menerima bilang: benar. Baru terasa lagi seperti sebuah stasiun. Telepon ditutup; perkara itu diceritakannya kepada kantin. Juru masak bilang: katanya benar. Mulai sekarang, telepon lewat tengah malam, angkat dalam tiga dentang. Kalimat itu kemudian masuk ke petunjuk tugas jaga; tak ada yang tahu asalnya satu omongan santai orang kota.
Dinding ruang mesin berganti rupa. Tabel giliran diturunkan, dilaminasi, masuk arsip; di dinding tersisa empat bekas paku payung. Urusan rumah tangga bilang hendak memasang satu papan, menuliskan jadwal jaga bulan depan; disusun ke sana kemari, tak jadi disusun—sesudah jendela, giliran di ruang mesin berkurang lebih dari separuh; injeksi orbit kembali ke giliran biasa; mesin memeriksa; manusia memeriksa ulang; Insinyur Ma memimpin satu kelompok. Bangku lipat dikembalikan ke gudang; ditumpuk setinggi separuh orang; kunci gudang berpindah laci. Sisanya masing-masing punya tempat: mahasiswa pascasarjana menjadikan pemeriksaan telinga tugas resminya; Rabu dan Minggu sekali; petir pun tak menggesernya; ada yang kembali ke perumahan; ada yang menabung cutinya untuk musim gugur. Hu Yisu menyerahkan lamaran: pos pelatihan di pusat komando. Penjelasan tak ia panjangkan; di buku serah terima ditulisnya satu baris: ke depannya empat kata itu—sesuai tabel, dipresumsikan tuntas—masuk buku ajar; pelajaran pertamanya kalimat Insinyur Ma: tabel itu kami hitung petak demi petak. Sebelum pergi kursi jaganya dilapnya sekali; bekas gesekan di kaki kursi masih kelihatan. Ada yang menasihatinya menyimpannya; kursi itu semestinya masuk arsip. Katanya: kursi ya kursi; kalau rusak karena diduduki, bicara lagi. Yang dibawanya pergi cuma satu: pena punya sendiri. Pena itu pernah menandatangani tiga baris dari empat puluh empat baris telegram; ujungnya aus setengah botak.
Halaman hitung mundur berhenti pada baris tanggal itu—April 2053—tak berjalan lagi. Orang stasiun yang lewat melihat sekali; sekali lihat, lanjut berjalan. Halaman cermin warga sunyi; kunjungannya turun; tak sampai nol; posisi teratas berganti satu usulan baru: April sebelas tahun lagi, malam mana cahaya yang kembali seharusnya tiba, malam itu kota-kota memadamkan lampu dua jam secara sukarela, menyerahkan latar belakang. Usulan itu ditandatangani bersama beberapa perkumpulan menatap bintang dari beberapa kota; tanda tangan pertama seorang murid sekolah menengah, enam belas tahun; pada hari itu nanti ia dua puluh tujuh. Di ujung usulan dikutip satu kalimat, disebut preseden—yang menyiarkan, dirinya sendiri lebih dulu mematikan lampu. Yang dimaksud peristiwa penutupan siarannya pada 2022; empat jam dua puluh tahun silam; oleh orang sekarang dijadikan penunjuk jalan. Orang stasiun mengerumuninya sekali lihat. Ada yang menolak: dua jam gelap—rumah sakit bagaimana; lampu jalan bagaimana. Ada yang menghitung: perkara sukarela, tak sanggup dihitung semodel itu. Ada juga yang menghitung di kertas umurnya sebelas tahun lagi berapa; selesai menghitung, kertas dilipatnya; tak diperlihatkan pada siapa pun. Orang halaman cermin menanya berliku-liku ke stasiun: saat waktunya, pihak stasiun mengirim orang tidak. Stasiun meneruskan pertanyaan itu kepadanya. Katanya: saat waktunya, lihat cuaca. Yang menanya bilang: cuma itu? Katanya: cuma itu. Perkara saat itu, kalimat saat itulah yang dihitung.
Panas pun lewat begitu. Juli stasiun paling sunyi; anak-anak perumahan cuti sekolah; siang bermain di bawah poplar; selesai bermain merebahkan diri di ambang jendela menonton ruang mesin—ruang mesin siang pun tak ada yang bisa ditonton: satu orang; satu tabel; satu jam. Orang-orang yang dulu memenuhi ruang mesin dini hari itu, satu demi satu ada yang kembali melihat sekali. Yang surat pensiunnya selesai diproses datang; berdiri di ruang serah terima; melihat kalimat di dinding; melihat kartu pos di bawah kaca; melihat empat bekas paku payung. Ditanyanya: tabelnya? Orang stasiun memperlihatkan halaman yang dilaminasi itu. Dari balik laminasi ia mengusap namanya sendiri; katanya: masih ada. Orang stasiun bilang: ada; semuanya tersimpan. Katanya: bagus. Ia tak duduk; melihat seperempat jam, pergi; di pintu mencatat; pada lajur kegunaan dipikirnya sebentar; ditulisnya: melihat.
Tanggal 20 Mei satu kartu pos tiba di stasiun. Cap posnya Den Haag; mukanya bercetak satu tanah lapang; langit menekan sangat rendah; satu tiang berdiri di tengah. Tulisan di punggungnya tak banyak, dua baris: Pembukuan kalian sudah rata. Sisanya serahkan pada kedalaman. Tanda tangannya satu huruf: U. Orang stasiun mengedarkannya satu putaran; yang muda membacanya bilang seperti telegram; Insinyur Ma membacanya bilang lebih mahal daripada telegram—telegram tak bayar jalan; yang ini menempel perangko. Sampai ke tangan mahasiswa pascasarjana; dua baris itu disalinnya ke buku jaga; selesai menyalin ditambahnya satu tanda tanya; tanda tanya itu dicoretnya lagi. Terakhir beredar kembali ke tangannya. Ursula pensiun empat tahun; avatarnya tak menyala; sepatah aksara tak pernah dikirim; kartu pos ini seluruh ucapannya. Kartu pos itu dibawanya masuk ruang serah terima; ditekannya di bawah kaca—kaca itu dulu menekan lembar ekstrapolasi Insinyur Ma; lembar itu sudah masuk arsip; kacanya kosong satu musim panas; kini ada isinya lagi. Ada yang menanya dua baris itu maknanya apa. Katanya: baris pertama untuk kita. Baris kedua untuk bintang. Yang menanya memikirkan sebentar; tak bertanya lagi. Kemudian ada yang pulang dari Shanghai bercerita: di depan dinding ruang arsip itu ada yang berdiri; dua buku pembukuan sama-sama dibaca; selesai membaca menelepon ke sini, menanya kartu pos di bawah kaca itu ditekan tahun berapa. Jawabannya: hari kesebelas sesudah jendela selesai dijalankan.
Mantan sekretaris jenderal keluar satu kabar di ekor Juni: tumpukan arsip itu sedang disusun; tanpa tenggat. Fotonya masih foto belasan tahun lalu; orangnya masih duduknya yang itu. Di stasiun ada yang membukanya; diteruskan ke grup; tak ada yang menyahut—bukan tak ada kata; semua tahu beberapa kalimat yang tepat itu harus disimpan; disimpan sampai hari benda itu sungguh bicara. Ia melewati kabar itu; jarinya berhenti sebentar; tak dibukanya. Ia mengenal tanpa-tenggat begitu—di lacinya sendiri juga ada satu; dua puluh tahun tak selesai ditulis; juga tak dihapus.
Tahun 2042 stasiun melakukan migrasi sistem; surel lama dikemas seluruhnya masuk arsip; draf itu ikut pindah rumah di dalamnya; tetap 2.041 bita; penanda waktunya tetap penanda waktu itu. Teknisian migrasinya muka baru; menurut daftar dibacakannya kepadanya: judulnya dua aksara; belum terkirim; ukurannya tak berubah. Ditanyanya: ini juga diarsipkan? Katanya: arsipkan. Ditanyanya: masuk golongan mana. Dipikirnya sebentar; katanya: golongan yang tak disentuh siapa pun. Pada lajur catatan teknisi menulis: naskah asli disegel. Satu daftar disusunnya minta diperiksa; pada baris itu diberinya satu cek. Dua aksara judulnya dibacanya dua kali. Tak dibuka; juga tak dihapus.
Pemeriksaan ulang telinga kiri Juli; dokter baru—dr. Shen sudah dua tahun pensiun—membaca catatan penyakitnya lama sekali; katanya: telinga Ibu ini hemat sekali pemakaiannya. Frekuensi rendah masih tersisa sedikit; kecepatan turunnya lebih lambat daripada perkiraan siapa pun. Katanya: bukan hematku; ia sendiri yang ingin tinggal. Dokter bilang: berarti cara pemakaian Ibu juga benar. Keluar, dokter menambah satu kalimat dari belakang: pemeriksaan berikutnya, aturan lama, enam bulan. Katanya: baik. Kalimat ini juga sudah lebih dari dua puluh tahun ia ucapkan; diucapkan pada dua dokter.
Berkas cara dengar diminta mahasiswa pascasarjana satu salinan; di buku registrasi ia menulis kegunaan; yang ditulisnya: dengar; menerima. Kata menerima itu dilihatnya; buku registrasi ditutupnya; tak diubah; juga tak dikatakan baik. Baik atau tidak, Rabu dan Minggu yang akan datang akan tahu sendiri. Pekan pertama ia menjalankan pemeriksaan telinga; ia berdiri dua puluh menit di luar kaca. Ia mendengarkan lambat—lebih lambat daripada dirinya—tapi benar. Keluar, katanya: bintang 29 masih tak rata. Katanya: benar; dia itu. Katanya: sudah kuhafal. Katanya: hafal tak dihitung; harus terdengar, baru dihitung. Ia mengangguk; masuk; mendengarkan putaran kedua.
Mulai 13 September, tiga hari ia membimbing anak muda itu. Yaitu orang yang menyalin "selama tak bergerak, selama itu ada yang melihat" ke halaman muka buku jaganya. Hari pertama mengajarkan mencocokkan: satu baris satu petak; satu petak satu bacaan; dibaca dengan suara; tangan mengikuti. Katanya: bacakan dengan suara; yang salah, telingamu sendiri lebih dulu mendengarnya. Anak muda itu menjalankan; membaca satu jam; berhenti; bertanya: sampai tahun berapa barulah selesai. Katanya: sampai kau tak mendengar dirimu sendiri membaca. Ia tak paham. Katanya: sampai saat itu tangan berjalan sendiri; telinga kosong untuk mendengarkan yang lain. Ia tak terima; membaca satu jam lagi.
Hari kedua mengajarkan mencatat: 0,37 ditulis 0,37; 0,36 ditulis 0,36; dilarang menulis "masih sama"; perkara hari ini urusan baris hari ini. Dibukakan tiga salah tulis yang pernah dibetulkannya sendiri dalam dua puluh tahun; tiga-tiganya masih ada; dicoret garis mendatar; angka tambahan di sampingnya; tanda tangannya. Asal ketiga salah tulis itu ia ingat semua: satu, larut malam baris melompat; satu, lipatan sudut buku merajut kertas; satu tanpa alasan—tulisan salah, begitu saja. Katanya: jangan ditutup. Yang keliru juga bagian pembukuan. Anak muda itu bertanya: yang tanpa alasan itu, waktu itu bagaimana diketahui. Katanya: esok paginya kuketahui sendiri. Ditanya: bagaimana tahu. Katanya: terbacakan. Pembacaan yang kuajarkan hari pertama itu.
Hari ketiga tak diajarkan apa-apa; dibiarkannya memeriksa sendiri satu pagi; ia duduk di pinggir. Jam berjalan di atas kepala; bacaannya makin lama makin tipis; kemudian tinggal bunyi napas. Siang ia selesai; satu baris pun tak keliru. Katanya: cukup. Ditanyanya: semudah itu? Katanya: semudah itu. Yang berat ada di dua puluh tahunnya.
Selesai tiga hari, anak muda itu pernah bertanya satu hal. Katanya: dalam pembukuan mereka sudah sampai semua; jadi mereka sekarang di mana. Katanya: kamu tanya yang mana mereka. Katanya: empat puluh empat benda. Dipikirnya sebentar; katanya: di atas cahaya. Ia tak paham. Katanya: terang detik benturan itu sekarang di tengah jalan; sudah berjalan empat bulan; tersisa sebelas tahun. Pembukuan di tanganmu rupa mereka selesai berjalan; cahaya yang tak terlihat rupa mereka yang sedang berjalan. Dua-duanya nyata; berselisih sebelas tahun empat bulan. Tangannya mengulur hendak mengambil pena; ditahannya. Katanya: yang ini tak perlu dicatat. Saat halaman 2053 itu terbalik, sendirinya terlihat.
Sore itu ia duduk di ruang mesin sampai giliran berganti. Tabel S terhampar di hadapannya: baris 7.540; 0,37. Buku yang baru; angka yang lama. Seumur hidupnya ia mencocokkan lebih tujuh ribu baris; memenuhi dua puluh tujuh buku; mengganti tiga earphone konduksi tulang—semuanya pernah masuk pembukuan. Yang tak pernah masuk pembukuan cuma satu: garis ini dua puluh tahun ia lihat sehari pun tak bolong; dilihatnya tak bergerak; dari tak bergerak itu keluar satu ketenangan. Sekonyong-konyong satu hal terang baginya—diputar setengah umur; baru terpikir tuntas menjelang penyerahan: garis ini panjang sampai tanpa tepi; orang berganti seangkatan demi seangkatan; garisnya tetap mendatar—garis tak punya tangan; tangan selalu milik manusia. Kalimat itu dijalannya dua kali dalam kepala; tak ditulisnya ke buku. Ada kalimat yang begitu ditulis menjadi kalimat di dinding; lebih baik tak ditulis.
Video Sabtu; Zhou Yao di ujung sana mengukir baloknya; kamera disangga di satu sisi. Bunyi pisau menyusuri kertas datang satu potong satu potong; dua gurisan berhenti sekali; saat berhenti terdengar ia mengganti tangan. Zhou Yao bertanya: kudengar Ibu hendak menyerahkan pembukuan. Katanya: Oktober. Zhou Yao bertanya: sesudah diserahkan? Katanya: tetap datang; cuma tak membawa pena lagi. Zhou Yao tersenyum sekali; katanya: kalau begitu Ibu datang untuk melihatnya. Kalimat itu tak disambungnya; di ujung sana pisau juga tak berhenti. Sebentar kemudian Zhou Yao bilang lagi: akhir-akhir ini aku mengukir satu: Yang Menerima. Ditanyanya: bagaimana yang dihitung Yang Menerima. Zhou Yao memikirkan sebentar; katanya: orang yang di tangannya sedang ada yang diteruskan masuk. Katanya: kalau begitu kau sudah lama mengukirku. Zhou Yao bilang: beda; waktu itu tangan Ibu kosong; orang lain yang memasukkan. Sekarang Ibu penuh sendiri; mengulurkannya ke bawah. Ia menatap layar sebentar; katanya: matanya bagaimana. Zhou Yao bilang: terbuka. Berhenti sebentar; ditambahkannya: yang bermata tertutup seumur hidup sudah diukir; ke depan tak dikejar lagi. Ditanyanya: yang ini untuk siapa. Zhou Yao bilang: untuk siapa pun bukan; digantung di studio; siapa datang, dia melihat. Ibu dan anak sama-sama tak bicara lagi; bunyi pisau berjalan belasan petak; waktunya tiba; ditutup. Sebelum menutup Zhou Yao mendekatkan lensa; diperlihatkannya tangan di atas balok—tangan yang menerima itu; setengah terukir; buku-buku jarinya semuanya masih di atas kertas.
Pekan terakhir September, dua puluh tujuh buku itu dihitungnya satu kali. Semuanya ada; nomornya sambung-menyambung; satu pun tak kurang. Tiga buku ditariknya menurut tahun untuk dibuka: satu dari tahun-tahun mula; hurufnya kurus; satu dari tahun-tahun tengah; hurufnya rata; satu dari tahun lalu; hurufnya agak besar—urusan mata; tak pernah diceritakannya kepada siapa pun; buku-buku itu yang mencatatkan baginya. Daftar serah terima tiga halaman: nomor buku; earphone konduksi tulang; salinan berkas cara dengar; barang-barang di bawah kaca, satu demi satu dicantumkan namanya. Insinyur Ma memeriksanya sekali; katanya: lengkap. Di ujung daftar ditambahkannya satu baris: kalau jamnya tak akurat, waktu Beijing yang berlaku. Insinyur Ma bilang: jam tak akan tak akurat. Katanya: jaga-jaga. Selesai menulis baris itu, daftar itu disegel.
Tanggal 1 Oktober ia mencocokkan tabel S baris 7.550; 0,37; ditandatangani. Baris terakhir yang dicocokkannya. Penanya pena tua itu; tanda tangannya dua puluh tahun; lak pada gagangnya aus satu lingkar. Stasiun tak mengadakan upacara; tak ada pidato; di ruang serah terima cuma tiga orang: dia; anak muda itu; Insinyur Ma sebagai saksi. Di dinding terpasang kalimat Insinyur Ma yang tanpa nama; di bawah kaca tertekan kartu pos Ursula; jamnya masih jam itu. Insinyur Ma menandatangani sebagai saksi; selesai menandatangani mundur berdiri di samping pintu. Tutup penanya ditekannya; pena diletakkannya di atas buku; bersama bukunya didorongnya melintasi permukaan meja. Anak muda itu berdiri; dua tangan menyambut.