Yang terakhir ke Shanghai: menutup catatan kertas.
Sebelum keberangkatan, arsip menelepon: hari penutupan, perlukah upacara kecil, dua media, pembukaan selubung lemari. Katanya: tak usah; angkanya masuk pembukuan, cukup. Arsip menanya lagi: bagaimana dengan papan nama. Katanya: jangan. Papan dipasang, orang yang datang kemudian hanya akan melihat papan. Di ujung telepon itu hening beberapa detik; katanya: baik; halaman rekapnya kami cetak satu tambahan.
Jadwal cahaya samping tiba akhir Oktober: tiga hari; lima petak. Cahaya dilewatkan dari sisi bawah kertas; tinta yang merembes berdiri di dalam cahaya, seperti telapak tangan yang ditekan ke dasar air. Cahaya samping adalah akal juru simpan tua arsip; rangka lampunya ia rakit dari dudukan mikroskop rusak; sudutnya disetel dengan satu keping uang logam sebagai ganjal. Ia mencocokkan ulang dari punggung kertas dengan ujung jarinya, petak demi petak. Di punggung kertas teraba alur yang ditekankan ujung pena; alur lebih jujur daripada tinta—tinta merembes; alur tidak.
Dari lima petak, empat keluar hasil: dua 6; satu 4; satu 3. Tahun-tahunnya semua tercatat. Petak terakhir dilihatnya dua kali; cahaya diganti tiga sudut; keping logam ditambah satu; angkanya keluar separuh: guratan-guratannya putus di bawah. Di sampingnya diberi catatan: nilai setengah; 1977. Arsip menanya apakah nilai setengah dihitung. Katanya: dihitung; masukkan sebagai setengah; lajur catatan ditulis jelas. Angka yang masuk pembukuan tak takut kecil; ia takut tak terjelaskan dari mana asalnya.
Yang meragukan tinggal tiga. Naskah asli dikeluarkan arsip; tiga lembar dibentangkan di atas kain flanel. Dua petak dilihat orang bergantian; di bawah kaca pembesar hanya endapan tinta, tanpa jejak ujung pena—penilaian ditulis ke arsip: noda tinta; bukan angka; dibiarkan kosong. Lu Weiming selesai melihat dua petak itu; katanya: yang dibiarkan kosong itu juga angka.
Petak ketiga tahun 1972. Enam tahun lalu dilihatnya sekali; empat tahun lalu sekali lagi; dua-duanya dikembalikannya. Enam tahun lalu ia merasa di dalamnya ada angka; empat tahun lalu ia merasa tidak. Kali ini lembar itu diangkatnya; dihadapkan ke jendela; tanpa lampu. Cahaya siang menembus dari punggung kertas; di dalam endapan tinta ada satu garis tegak; di ujung atasnya bengkok satu kait kecil. Baris di atas dan di bawah halaman tahun itu dicocokkannya satu-satu; yang kurang di tengah: 7. Diisinya.
Selesai mengisi, waktunya ditandatanganinya di buku registrasi. Registrasi enam tahun lalu ada; empat tahun lalu juga ada; tiga tanda tangan berdempet; petak yang sama; pertanyaan yang sama; ditanyakan enam tahun. Anak gadis di belakang konter bilang: halaman arsip petak ini lebih tebal tiga halaman daripada petak lain. Katanya: tiga halaman yang lebih tebal itu juga bagian dia.
Rekap jatuh di surat pemasukan: empat belas ribu tujuh ratus empat puluh satu angka. Yang dijanjikan tahun itu tertulis empat belas ribu enam ratus; kelebihan seratus empat puluh satu digali dari petak tinta-rembes satu demi satu. Tahun berjanji ia pernah menghitung: dua puluh sehari, tuntas dua tahun. Kenyataannya sembilan belas tahun; separuh hari di belakang habis di seratus empat puluh satu yang terakhir ini.
Halaman rekap difotokopi arsip; naskah asli masuk arsip; salinannya dibingkai, digantung di samping lemari. Bingkainya baru; kacanya dilap sampai terang. Ia berdiri di depan bingkai itu sebentar. Sembilan belas tahun; empat belas ribu lebih angka; dibentangkan, sekadar satu halaman ini.
Hari lemari ditutup, Lu Weiming tujuh puluh enam. Dua jilid miliknya diangkatnya dari meja; mesin sudah lama selesai memindainya; ia tetap datang tiap hari; datang, duduk di pinggir menonton orang lain mencocokkan. Ada yang menyarankannya beristirahat; katanya: angkanya kalian yang mencocokkan; aku melihat kertasnya. Rasa kertas di tangan, tak digantikan mesin. Kunci dikembalikannya ke arsip; buku registrasi ditandatanganinya. Ada satu kunci cadangan; diletakkannya di tangan Zhou Yan; katanya: angkanya kau yang memasukkan; kau yang menyimpannya. Tak dikatakannya yang lain. Keluar, ia menoleh sekali ke lemari itu; pada pintu lemari tak ada tulisan. Katanya: begitulah seharusnya; lemari tak perlu ditulisi; angkanya semuanya di dalam.
Kembali ke stasiun, November.
Udara stasiun berbeda. Ruang mesin lembur; lampu ruang kendali-pelacak menyala semalaman; orang yang berpapasan di koridor jalannya lebih cepat daripada biasanya. Ia ke ruang serah terima mencari laporan harian telemetri hari itu; di atas meja terbentang satu gambar: empat puluh empat impaktor di perjalanan; residu sikap terhadap waktu; satu bintang satu garis; semua garis melengkung naik.
Lengkungnya tak semestinya secepat itu. Toleransi pabrik tertulis satu koma lima persen; menurut pengalaman lama, tiga tahun pertama di orbit semuanya harus tertahan di dalamnya. Batch baru baru tiga bulan di angkasa; empat yang pertama diperiksa acak, residunya hanyut sampai satu koma dua persen. Diekstrapolasi menurut kemiringan ini sampai benturan pertama: delapan persen.
Gambar itu dilihatnya dua kali. Bentuk garisnya ia kenal—dua puluh tahun lalu, sebelum Wangshu-7 hilang, Wei Xiangdong pernah memberinya tujuh puluh tiga baris; hanyutan sepuluh koma tiga persen setahun; di lembar pabrik tertulis satu koma lima. Kalimat saat itu: tahun kedua belas di orbit, tak ada yang pernah mengukurnya. Kini sudah diukur; keluar ukurannya; semuanya sama. Kepada Wei Xiangdong dikirimnya satu pesan; gambar itu difotokannya menyertainya. Balasannya tiba esoknya; satu baris saja: tujuh puluh tiga barisku baru peringkat empat puluhan. Empat puluh empat milikmu, lebih rapi daripada punyaku.
Peranti injeksi orbit otomatis menuliskan toleransi pabrik secara mati. Residu lewat batas, peranti menolak menandatangani besaran koreksi; gilirannya diserahkan kepada prosedur. Mengganti peranti harus lewat proses perubahan; proses perubahan sembilan puluh hari; selesai dijalani, benturan pertama sudah terlewat dua bulan.
Rapat berdebat tiga malam. Malam pertama soal perlukah peranti diganti: sembilan puluh hari itu tergeletak di meja; tak ada yang mau menandatangani pemutlacakan—pemutlacakan ditandatangani, kalau keliru, jadi tanggungan penandatangannya. Malam kedua soal benar tidaknya ekstrapolasi: ada yang berpendapat hanyutan residu akan jenuh sendiri, kemiringannya berbalik turun; bukti tak keluar; dua pihak sama-sama bertaruh. Malam ketiga, kelompok teknik membariskan batch keempat puluh empat bintang, lembar uji pabrik, residu tiga bulan di orbit, bersebelahan untuk dibandingkan: hanyutan tak berhubungan dengan batch; berhubungan dengan sikap; mengikuti umur di orbit. Angka satu koma lima pada lembar pabrik diukur di tanah; bukan di langit.
Malam ketiga, Hu Yisu meletakkan satu lembar kertas di bawah proyeksi: injeksi orbit dengan tangan; mesin hanya memeriksa ulang. Tujuh orang; delapan jam satu giliran; tiap giliran satu tanda tangan. Katanya: salahnya peranti, terlalu percaya angka pabrik. Manusia tak percaya angka pabrik; manusia percaya mata. Ada yang menanya: mata manusia mengawasi empat puluh empat bintang, ratusan besaran satu giliran, sanggup? Katanya: makanya berlatih. Giliran ini, katanya, sudah setengah tahun dijagainya.
Tabelnya disusun di tempat juga. Tujuh nama; tujuh hari sepekan. Namanya hari Rabu. Di daftar ada Insinyur Ma—Xiao Ma yang dulu saat jaga malam menghitung sendiri 468.000 tahun, kini penanggung jawab data goresan dangkal; dirinya sendiri dimasukkannya ke dalam; lajur catatannya tertulis: aku menghitung lambat, tapi kuhitung sampai habis. Tabel dicetak, ditempel di dinding ruang serah terima: tujuh nama satu kolom; di belakangnya mengikuti tujuh petak tanda tangan; kertas diganti sebulan sekali. Seorang kawan tua lewat, melirik sekali; katanya: tabel ini seperti jadwal jaga ruang ketel masa mudaku. Tak ada yang menyambung; tapi kertas itu esoknya dilaminasi.
Baru setelah melihat tabel giliran itu ia paham: tanda tangan laporan harian telemetri setengah tahun lalu sudah berganti giliran; tujuh nama sepekan; itu bukan pembagian kerja; itu uji coba. Setengah tahun berlatih; yang dilatih adalah hari ini. Sesudah rapat ada yang menanyanya: kok Ibu tidak kaget. Katanya: tahun kukenal dia, ia sedang menghitung wahana. Dua puluh tujuh yang hilang enam; ukuran sampel enam; dihitungnya sendiri. Orang begitu berlatih giliran setengah tahun lebih awal; tak aneh.
Saat rapat bubar, ada yang mengenalinya di koridor; suara muda, ditahan-tahan: penyiar itu kembali? Ia melambai tangan; katanya: bukan penyiar; jaga. Kalimat itu malam itu juga keluar dari pintu; esoknya unduhan laporan harian resmi berlipat dua.
Malam Rabu ia ke ruang mesin. Hu Yisu menjaga giliran pertama. Seperangkat peranti konduksi tulang dibawanya masuk; penjaga pintu mencatat menurut aturan: peranti dibawa dari luar; model; kegunaan. Pada lajur kegunaan ia berpikir sebentar; ditulisnya: dengar. Buku diputar penjaga pintu meminta tanda tangannya; ditandatanganinya. Buku terbuka satu halaman penuh; baris-baris lain tertulis perawatan, kalibrasi, pinjam, kembali; barisnya sendiri satu kata. Penjaga pintu melihatnya; tak bertanya; menutup buku.
Video Sabtu seperti biasa. Zhou Yao di ujung sana mengukir baloknya; mengukir sebentar; mendongak bertanya sekali. Yang paling akhir ditanyakan: di sana sibuk? Zhou Yan mengetik: sedang mendengarkan satu bintang berjalan. Zhou Yao menatap kalimat itu sebentar; membalas: dengarkan yang cermat untukku. Tak ditanyanya lagi yang mana bintangnya.
Ia memintanya datang untuk mendengarkan.
Empat puluh empat di perjalanan; tiap bintang tiap giliran satu besaran koreksi. Besaran koreksi tiga hari ia bariskan menurut nomor bintang menjadi satu sekuens; disambungkannya ke konduksi tulang miliknya—sekuens satu baris satu detik; besar koreksi menjadi tinggi nada; empat puluh empat bintang; tujuh puluh dua jam; dibentangkan menjadi satu deret panjang. Katanya: pemeriksaan mesin hanya menangkap yang lewat batas. Yang tak lewat batas tapi keliru, tak tertangkap. Dengarkan.
Tinggi nadanya bagaimana, ia biarkan dia sendiri memilih. Ia memilih turun satu oktaf; semuanya ditekan ke rentang frekuensi yang tersisa pada telinga kirinya. Konduksi tulang tak melewati telinga; tapi kebiasaannya menyuruh sisa rentang itu ikut berjalan, seperti bibir ikut bergerak ketika membaca. Percobaan disusun setengah kolom; katanya: rendah; ganjal naik dua nada. Dicoba lagi; katanya: pas.
Ia mendengarkan tiga kali. Yang pertama untuk seluruh wujud: nada panjang, nada pendek; rata. Yang kedua diperlambat, setengah kecepatan, penggal demi penggal; satu jam baru sanggup melewati setengah kolom. Pada putaran ketiga, satu nada keluar dari sekuens: tak rata. Sebelum dan sesudahnya langkah-langkah yang tenang; kepadanya terselip setengah langkah. Seperti satu deret langkah kaki—satu langkah yang tak seirama. Katanya: dua puluh sembilan. Penggal itu diputar mundur, diputar sendirian; didengarkannya sekali lagi; katanya: bukan salah dengar; dia yang tak seirama.
Telemetri mentah bintang dua puluh sembilan dipanggil. Besaran koreksinya sendiri tak lewat batas; tapi diferensialnya tak rata—besaran yang semestinya membesar merata, berjalan tersendat-sendat. Hitung ulang berjalan sampai fajar; dua jam pertama tak menghasilkan apa-apa; besarannya besarangan baik. Lewat tengah malam berganti jalan: asal besaran diperiksa—semburan kendali sikap mengotorkan sensor. Besarannya baik; batu timbangannya kotor. Penaksir diganti; sekuens disusun ulang; rata. Rapat pagi diberitahu; tujuh orang hadir semua; tak ada yang bicara; masing-masing menebalkan sekali lagi namanya sendiri pada tabel giliran.
Esoknya, lampiran prosedur operasi bertambah satu baris: pemeriksaan ulang manual boleh dilampiri pemeriksaan telinga. Pada lajur penandatanganan, tujuh nama semua ada. Prosedur itu digarap Hu Yisu; baris lampiran ditambah dengan tangan; tak lewat tata letak. Ada yang menanya apakah itu tak resmi. Katanya: yang resmi semestinya menghentikan Wangshu-7 dua puluh tahun lalu. Ruangan hening sebentar; tak ada yang menyambung.
Dini hari Kamis, Hu Yisu memanggil telemetri lama masa kesunyian. Penggal di-perjalanan benturan pertama memerlukan latar terdiferensiasi; seratus hari tahun 2022 adalah satu-satunya dasar bersih saat seluruh sistem memancar rendah; harus dipakai sebagai templat. Berkas demi berkas dipanggil; sampai koridor uplink. Format log uplink dua puluh tahun tak berganti: waktu; sumber perintah; kode instruksi; lajur dasar penetapan; lajur penandatanganan. Baris demi baris dibaliknya; sampai 1 Februari: kirim serentak; kode instruksinya kode penghentian; lajur dasarnya satu nomor daftar.
Ia duduk di pinggir mencocokkan angkanya sendiri. Daftar dua puluh tahun lalu itu juga digarapnya—"Daftar Kegiatan Pemancaran yang Tak Bisa Dihentikan Selama Kesunyian"; pengecualian lebih dari seribu sembilan ratus butir; navigasi delapan puluh persen. Hari daftar itu berlaku, sistem mengirim instruksi penghentian serentak menurut tabel lampiran: yang tak tercantum, dimatikan.
Log uplink lengkap. 1 Februari 2022; kirim serentak; dimatikan menurut tabel lampiran. Wangshu-8 ada di lajur pengecualian: referensi navigasi. Wangshu-7 tidak. Panggilan harian Wangshu-7, daya tiga watt, tahun itu digolongkan yang boleh dihentikan; tak dicantumkan. Lajur sumber perintah terisi: sistem; lajur penandatanganan kosong; hanya nomor urut.
Instruksi berlaku; Wangshu-7 memeriksa diri; peralihan ke mode aman butuh delapan belas hari. Hari kesembilan belas, panggilannya berhenti.
Dua puluh tahun, penyelidikan semuanya mencari kenapa Wangshu-7 tak bersinyal. Tak ada yang memeriksa apa yang dikirim tanah. Dalam berkas penyelidikan tahun-tahun awal ada satu jilid pemeriksaan instruksi tanah; simpulannya satu baris: tak ditemukan instruksi anomali. Kalimat itu benar—dimatikan menurut tabel bukan anomali; itu sesuai aturan.
Naskah asli daftar dipanggilnya; dibalik sampai ekor tabel lampiran. Lima aksara itu tulisan tangannya sendiri: yang tak tercantum, dimatikan. Tanda tangan berupa nomor induk kerjanya. Di bawah baris terakhir cetakan tabel lampiran masih ada satu baris huruf kecil tangannya—tahun itu takut orang terlewat, sengaja ditambahkan: mohon tiap stasiun memeriksa kekurangan, laporkan dalam tiga hari. Masa pelaporan habis; tak satu stasiun pun melaporkan Wangshu-7.
Halaman itu dicetaknya satu; dimasukkannya ke folder 3t. Tak berkata apa-apa. Hu Yisu juga tak; log disalinnya untuknya; kembali melanjutkan menata templatnya. Di ruang mesin tinggal bunyi pengatur udara.
Templat tertata sampai lewat tengah malam; dasar masa kesunyian itu bersihnya tak wajar—memancar rendah ya memancar rendah; seratus hari; satu baris derau pun tak ada. Ia menatap garis mendatar itu dan berkata sekali: dua puluh tahun ini ia tak rusak. Ia menunggu satu perintah yang membuatnya bicara. Selesai berkata, lanjut menata; tak mendongak.
Hari kesembilan belas. Angkanya dijalannya sekali dalam kepala; cocok. Cocok, dan itu seluruhnya.
Halaman hitung mundur stasiun berganti format. Halaman itu dibangun orang stasiun sendiri; mula-mula cuma satu baris: berapa tahun lagi. Kemudian berganti bulan; bulan berganti pekan; pertengahan November, berganti hari. Tiap kali format diganti, yang jaga malam itu menambah satu baris catatan di ekor laporan harian; catatannya makin pendek. Catatan terakhir: hari. Satu kata.
Malam itu selesai mencocokkan tabel S—baris 7.230, 0,37, ditandatangani—dalam lintasan tangannya membuka halaman itu. Di bawah angka ada satu baris huruf kecil, ditambahkan 15 November, tak ada yang mengaku: masih seratus enam puluh lima hari. Baris kecil itu ditatapnya lama. Hurufnya Song, ukuran enam belas; bukan rupa yang diketik sembarangan. Pikirnya, delapan sepuluhnya lagi salah seorang petugas malam; orang yang setengah tahun berlatih tanda tangan selalu mencari tempat meletakkan setengah tahunnya itu.
Kalender meja di sudut. Lipatan sudut halaman April masih ada. Kalender didorongnya lebih dalam ke meja; layar dibiarkan menyala. Halaman cermin warga juga memasukkan jumlah hari; susunannya beda dengan punya stasiun: punya stasiun angka putih besar; punya cermin angka kelabu kecil, mengikuti di belakang lajur kedalaman, satu angka satu angka menemani berjalan.
Masih 165 hari.