Terjagaoleh Lu Chenzhou

17 · Berpura-pura tidur tak mempan

Bab 17 · 13,1 rb kata

Tanggal Julian 2459656, hari keseratus satu, Sabtu, pukul delapan waktu Beijing.

Spektrum itu tidak kembali serentak. Ada negara mencicil tepat di jamnya; ada yang maju delapan jam; beberapa stasiun bubar dalam kesunyian dan tak kembali lagi. Hu Yisu menghitung garis seperti biasa. Pukul sebelas siang, angka di papan tulis: seratus sembilan puluh satu.

Sebelum pemadahan hari pertama, angkanya dua ratus tujuh belas.

Catatannya sendiri dibalik halamannya, baris demi baris disilangnya, sampai ketahuan siapa dua puluh enam yang hilang itu. Selesai memeriksa, di pojok papan tulis ditulisnya satu titik frekuensi: 94,7. Stasiun lalu lintas setempat itu—yang kembali data navigasi; titik frekuensinya disewa orang. Tanpa berita duka; pada tabel frekuensi cukup berganti satu baris.

Stasiun-stasiun yang mengudara kembali buka dengan kalimat pertama yang beraneka. Ada yang membacakan satu pasal protokol; ada yang memutar lagu kebangsaan—dan dalam detik-detik kosong sebelum lagu, terdengar arus fader didorong naik. Di satu stasiun pembawa acaranya membuka dengan satu kalimat: yang tadi itu bukan aku yang mematikan mikrofonnya. Seseorang merekam jam terakhir frekuensi hitam kesunyian, memotongnya jadi album seratus menit, menggantungnya di internet untuk dijual; harganya sembilan koma sembilan. Komentar pertama bertanya: isinya apa. Komentar kedua menjawab: tidak ada apa-apa. Justru itu.

Pukul sepuluh ia menghitung S. Baris keseratus satu: 0,37. Baris keseratus dua: 0,37.

Surel Mateo datang pagi, setengah hari lebih lambat daripada laporan Seninnya yang biasa; isinya satu baris: seratus hari; habis kudengarkan. Di bawahnya, sesudah empat baris kosong, disusul satu kalimat: baris-baris spektrum di sini sudah mulai kembali. Milik kalian mana.

Dibalasnya: seratus sembilan puluh satu, per kemarin. Dikirim balik satu angka: enam puluh empat. Dipahaminya—hemisfernya dari mula memang tak banyak yang bisa dimatikan.

Draf laporan evaluasi seratus hari kerangka Malam Panjang keluar untuk dimintai pendapat. Paragraf simpulannya, versi pertama, bunyinya: selama kesunyian tak teramati perubahan signifikan.

Pengamat bermarga Guan bertahan pada rumusan itu. Pada lampirannya diletakkannya satu penjelasan statistik: titik tunggal 0,37; baseline 0,34; galat plus-minus 0,03—jatuh di dalam satu simpangan baku; dalam seratus hari 0,36 pernah muncul sekali; uji trennya tak signifikan. Katanya: ini yang namanya sains.

Tiga wakil faksi Bangun membalas dengan tiga versi dari kalimat yang sama: kalau begitu keluarkan seratus angka itu; biar publik sendiri melihat ketaksignifikannya. Pengamat bermarga Guan menjawab: prasyarat mengeluarkannya ialah data itu tahan dilihat.

Kalimat itu menggantung di grup semalaman. Esok paginya Direktur Cao dari Nanshan mengirim satu berkas ke sekretariat kerangka, tembusan ke semua unit peserta. Judulnya: Dua Belas Pertanyaan atas Kredibilitas Deret Seratus Hari S.

Dua belas butir. Zhou Yan membacanya turun satu demi satu.

Deret S dicatat seorang diri pada formulir kertas, tanpa kendali versi; penaksirnya menolak diganti atas instruksi lisan seseorang yang menolak menandatangani berkas mana pun; atas dua permintaan data resolusi tinggi dari pihak Bonn, jawabannya dua-duanya "Belum."; tabel berbagi memo internal sebelas baris, dua di antaranya kosong sampai hari ini; satu data amplitudo kunci diserahkan sehari lebih lambat daripada sejawat—pihak sendiri 603, pihak sana 903; sumber kebocoran video rapat tak pernah ketahuan; bahan rapat kurang satu berkas; kebocoran itu secara objektif memajukan lahirnya resolusi kesunyian; laporan situasi kepada lembaga atasan seluruhnya empat puluh tujuh aksara, memuat dua "perhatian tinggi"; baris keseratus dihitung dan dirilis oleh yang bersangkutan sendirian dalam empat puluh menit sebelum tembusan ke semua pihak—tanpa satu orang pun memeriksa ulang.

Dua belas dakwaan itu dituliskan menurut urat kebiasaannya, seperti jejak kaki yang dijiplak dari gaya berjalan satu orang—tiap langkah adalah langkah yang ia injakkan sendiri. Selesai dibaca, satu pun tak ditemukannya yang palsu. Di situlah terburuknya: mereka tak perlu mengarang isu; memetik kutipan saja.

Paruh kedua pertanyaan itu mengutip surat Lu Weiming. Yang dikutip kata-kata asli surelnya: ini penyakit semua orang, bukan penemuanmu. Kemudian mereka menulis: oleh karena sejawat telah lama menunjukkan sifat nonpersonal hasil ini, deret seratus hari—kriteria inti sebuah eksperimen global—dikuasai dan dihitung seorang diri; absah prosedurnya patut dipertanyakan.

Surat kantor institut sore itu juga sampai ke stasiun; minta keterangan tertulis. Lao Tang membawanya kepadanya. Katanya: ada orang stasiun menanyaku, datamu bisa dipercaya tidak. Katanya: kujawab mereka satu kalimat—angkanya dua puluh tahun kupercaya; siapa yang tak percaya, hitung sendiri dua puluh tahun. Katanya: suratnya tetap harus kaubalas; kali ini tulislah beberapa kata lebih banyak.

Seribu dua ratus aksara ditulisnya. Dua belas butir: butir demi butir fakta diakuinya; butir demi butir niatnya ditolaknya. Pada sisi yang diakui ditulisnya tanggal, ditulisnya data, ditulisnya dari mulut siapa nada "Belum." itu. Pada sisi yang ditolak, tiap butir cukup satu kalimat: butir ini tidak membentuk simpulan sebagaimana didakwakan. Selesai menulis, dihitungnya: dua puluh empat kali lebih panjang daripada keterangan empat puluh tujuh aksara yang kemarin.

Surat-surat bantu pemeriksaan yang lama pun digali orang. Kalimat tiga surat tahun lalu yang mengarah ke instrumen ditempel ke internet; judul yang disandingkan: dari mula-mula mereka menyeragamkan cerita. Insinyur di grup kerja Miyun yang sejak dulu curiga itu diwawancarai; ia berkata jujur: waktu itu rasanya sudah bukan instrumen. Kalimat itu dipotong separuh oleh dua kubu—paruh depan menjadi "orang dalam sudah lama tahu ada yang palsu"; paruh belakang, "bukan instrumen berarti seperti apa, aku tak tahu", tak ada yang meneruskan. Kalimat Lao Tang tahun itu, "periksa instrumen", diterjemahkan ulang pula. Selesai dibacanya, katanya cuma: biarkan mereka menerjemahkan. Yang kukatakan memang periksa instrumen.

Lu Weiming hari itu juga bicara di grup. Katanya: kalimatku dibawa lari paruh bawahnya. Di bawah kalimat itu masih ada satu—tak kalian salin—penyakitnya milik semua orang; tabelnya dihitungnya seorang diri. Siapa yang tak sudi, besok boleh mulai mengejar hitungan seratus hari. Empat menit kemudian disambungnya satu lagi: aku menolak menggantikan jawaban dengan seragam cerita; menolak pula menggantikan hitungan dengan kutipan.

Hu Yisu duduk di ruang kerjanya, kesal; pulpen diputar-mutarnya, dua batang terbang. Katanya: Bu, buang saja seluruh seratus hari itu keluar. Yang mentah. Semenit satu bingkai. Biar mereka melihat puas-puas.

Katanya: buang.

Malamnya ia mulai mengempalkan paket. Skrip; berkas parameter; pindaian tabel kertas seratus baris; snapshot spektrum pukul sepuluh tiap hari—semuanya satu paket. Di tengah jalan ia berhenti: di direktori 3t, gambar Zhou Yao terletak satu folder dengan graf itu. Gambarnya dikeluarkannya, ditekannya di bawah buku catatan, disatukannya dengan dua belas orang bermata tertutup itu. Lalu pengempalan diteruskan. Di kotak surat, yang berjudul "bahu" itu—waktu ubah terakhirnya masih 2459483,793; diliriknya sekali; tak dibukanya.

Menjelang mengirim, formulir kantor stasiun itu—yang lebih empat bulan lewat batas—dikeluarkannya: dua baris masih kosong; catatan tegangan mentah; berkas jam. Diisinya petak demi petak. Media: tape generasi kedelapan; satu gulung dua belas tera; seluruhnya empat gulung. Tanggal perkiraan selesai ditulisnya: pekan ini.

Selesai menulis terpikirnya: formulir ini kini sungguh cuma arsip. Tetap diisinya.

Paket dikirim kepada sembilan belas penandatangan; tembusan kantor stasiun. Terkompresi delapan puluh empat megabita; nilai ceksum enam belas angka. Daftar empat gulung tape itu disusunnya tiga kali; nomor tiap gulung disalin dua—satu menyusul paket, satu ditekan di lacinya sendiri. Dikirim pukul satu dini hari. Hu Yisu menonton bilah kemajuan habis; katanya: bersih.

Katanya: kata itu jangan dipakai dulu beberapa waktu.

Esok paginya, setelah paket pergi, terlihatnya Hu Yisu menyelipkan satu lapisan lagi di dalamnya: modul penyelarasan yang ditulisnya ulang sendiri; seluruh kode sumber; dengan komentar; baris pertama komentarnya masih kalimat tahun itu: aku yang mengotorkannya. Katanya padanya: mau diaudit, auditi bersama-sama; mulai dariku. Tak dikeluarkannya.

Lu Weiming mengirim surat tersendiri untuknya, tiga baris: jangan membalas seorang diri. Balasan, tembuskan aku. Menembuskan, jangan sopan-sopan.

Hari ketiga, Mateo mengirim satu angka ke grup.

Ia menjalankan ulang hari keseratus. Bukan dengan skrip milik Zhou Yan—dengan landasan waktu versi integrasi delapan surveinya sendiri; batang galatnya pun miliknya sendiri. Hari keseratus yang keluar dari hitungannya: 0,369. Terlampir satu baris bahasa Inggris; kata-katanya tetap hemat: aku memakai jamku sendiri.

Grup itu diam setengah hari. Kramer lebih dulu muncul: delapan bulan lalu kuminta versi data itu justru supaya hari ini tak perlu membaca milik orang lain. Tak ada yang menyambut. Disambungnya setengah kalimat: sekarang pun masih boleh. Masih tak ada yang menyambut. Balasan pengamat bermarga Guan: kedua pihak memakai prior bersama dari metode yang satu keluarga; simpulannya seumber; bukan pemeriksaan ulang independen. Itulah leluhur bersama. Bata kelima pada rantai pengecualiannya diangkat orang utuh, disusun menjadi alas dakwaan terhadap dirinya sendiri.

Mateo mengirim potongan terpanjangnya dalam setengah tahun ini. Katanya: sepuluh tahun aku mengurusi bijih; dua timbangan menimbang angka yang sama; kalian bilang kedua timbangan dipotong dari satu bahan. Baik. Bawa timbangan ketiga—yang tak berkerabat dengan keduanya. Katanya sudah dicarinya; tidak ada. Tiap timbangan yang bertugas—jam, efemeris, peranti lunak—silsilahnya dimulai sesudah 1972.

Ada yang menyahut: sebelum '72?

Tak ada yang menjawab. Zhou Yan menatap baris itu; tak mengetik. Ia tahu apa yang ada sebelum '72. Satu gulung di lacinya; dua di Beijing.

Rapat evaluasi hari keseratus enam; lewat video; empat belas titik sambung dari segenap dunia.

Dua jam pertama agendanya didengarkannya: pidato-pidato prosedural. Amina memimpin menurut naskah; sampai frasa "kelompok kerja integritas ilmiah", tak satu aksara pun keliru. Penjaga Tidur ingin 0,37 dihapus dari laporan; faksi Bangun ingin seratus angka dilampirkan apa adanya; judul usulan kedua pihak hanya beda dua aksara.

Pembelaan kelompok kerja integritas ilmiah dijadwalkan butir kelima; namanya tak tercantum dalam daftar. Penjelasan sekretariat prosedural: pertanyaan itu mengenai prosedur, bukan orang; yang bersangkutan tak perlu hadir. Kalimat itu dibacanya tiga kali. Tak hadir terdengar lebih buruk daripada hadir—seandainya hadir, sekurang-kurangnya dua belas butir itu bisa ia baca balik satu demi satu.

He Zhaoting masuk saat butir keempat.

Tak ada yang diberi tahu. Pemimpin rapat masih setengah kalimat; satu kotak baru muncul di layar—titik sambung Beijing; gambarnya mengambil dari bawah, seperti laptop yang disangga setumpuk buku. Ia duduk di depan satu dinding; tepi dinding itu tepi rak pita. Ia menua lebih dari seratus hari.

Selembar kertas di tangannya. Tangannya gemetar; kertasnya ikut gemetar. Tak menunggu dipersilakan pemimpin rapat, ia bicara:

Datanya kuterima. Baris demi baris, semuanya sudah kutelusuri. Kalian mau menuntutnya, tuntut aku dulu. Tapi satu kalimat kalian catat—data ini terlalu bersih.

Selesai, ia menatap lensa, menunggu dua detik, seperti menunggu satu pertanyaan. Tak ada yang bertanya. Kotaknya kelabu. Amina di kursi pemimpin membalik halaman naskahnya; suaranya tak berubah: hal ini tercatat dalam risalah; kita masuk butir berikutnya.

Ruang rapat riuh setengah jam. Dua titik sambung langsung keluar rapat; pada kolom alasan, dua-duanya tertulis gangguan teknis. Penjaga Tidur bilang, dengar tak, ia bilang terlalu bersih; bersih artinya palsu. Faksi Bangun bilang, yang pertama ia ucapkan "kuterima"; selesai menerima barulah ia bilang bersih—bersihnya perkara lain. Dua kubu masing-masing menggondol separuh dari kalimat tiga puluh tujuh aksara itu; dua jam kemudian judul mereka sama-sama sudah tayang: satu menulis "Bapak Kesunyian Menghardik Data Tercemar"; satu menulis "Sang Peletak Dasar: Data Itu Nyata, dan Satu Kalimat Lagi".

Tak satu pun media bertanya: kenapa bersih itu cacat.

Pemungutan suara tertunda sampai menjelang bubar. Paragraf simpulan masuk pungutan: usulan membuang 0,37 delapan suara; usulan melampirkan tabel utuh delapan suara; abstain sebelas. Amina mengumumkan: rumusan pasal ini ditangguhkan sampai versi berikutnya. Sesudah bubar, dua kubu sama-sama mengeluarkan pernyataan; dua-duanya bilang tujuannya tercapai.

Terkenang halaman miliknya sendiri. Halaman Beijing itu; setelah tiga angka 12, 18, 24 masih kosong. Ia berdiri bicara tiga puluh tujuh aksara; tiga angka itu tetap tak ia ucapkan.

Sesudah bubar, grup itu berderet seratus lebih pesan. Ursula cuma mengirim tiga: satu titik bukan tren. Sembilan puluh sembilan titik bukan baseline. Terus hitung.

Hu Yisu bertanya di ruang kerjanya: waktu ia bilang terlalu bersih—maksudnya kau?

Katanya: ia bilang kuterima lebih dulu.

Hu Yisu bilang: kalau begitu bersih itu penyakit apa. Data bersih juga berpenyakit?

Tak dijawabnya. Rekaman pidato itu ditariknya turun, disimpannya ke 3t. Nama berkasnya dipikirnya sebentar; diketiknya tiga aksara: tiga puluh tujuh.

Sabtu, 2459663, pukul 20.00, video empat setengah menit.

Yang pertama ditanyakan Zhou Yao bukan sekolah, tapi: hari keseratus itu, Ibu melihat tidak.

Zhou Yan bilang: melihat.

Zhou Yao bilang: melihat apa.

Zhou Yan bilang: satu angka.

Zhou Yao menjawab oh; bilang sekelasnya kini sepulang sekolah masih ada yang naik ke atap, dan lampu masih dimatikan dua kali sepekan—susunannya urusan sekolah sendiri. Bilang begitu sambil mengupas satu jeruk; kupasnya pelan; seiris seiris dibagikannya kepada orang yang tak terlihat di seberang lensa ini. Jeruknya sampai separuh; suara mantan suami masuk dari luar bingkai: telingamu sudah diperiksa tidak.

Zhou Yan bilang: sudah.

Di sana tak bertanya lagi. Zhou Yao mengarahkan kamera kembali ke dirinya: dia memang begitu; Bu hiraukan saja.

Selesai video, Zhou Yan menengok Lao Wu. Suhu air dua puluh; cangkang belum berganti; antenanya bersandar di kayu apung. Pelet yang tersisa di akuarium dihitungnya; dicatatnya di kertas. Label-label tanggal menempel di dinding akuarium; yang paling atas tertulis hari keseratus; di bawahnya belakangan ini bertambah empat helai.

Di ponsel ada satu SMS: nomor antrean rumah sakit itu—pengingat ketiga, hangus ketiga. Satu lagi tanda terima sistem dari kantor stasiun: formulir dalam paket semalam sudah dijawab; lima aksara: surat diterima, diarsipkan. Dibalasnya dua aksara: diterima.

Earphone dipakainya, yang sebelah kiri—yang kanan belakangan ini selalu berlapis sesuatu. Tiga puluh tujuh aksara, sebelas detik. Detik kesebelas sampai keempat belas kosong: dua detik ia menunggu pertanyaan—di rekaman itu pun tersimpan.

Selesai didengarkan, dikliknya sekali lagi.

Kali kedelapan.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk