Sampai Besokoleh Élodie Marchand

Bab 25 · Makan Malam untuk Satu Orang

Bab 26 · 14,5 rb kata

Rumah yang Yayasan sisakan untukku punya satu jendela menghadap timur.

Rumah itu aku pilih sendiri, justru demi jendela itu. Orang yang menghabiskan separuh lebihnya hidup di dalam kegelapan perlu bisa mengatakan "matahari terbit", sekalipun ia sendiri tidak melihatnya. Dan ketika engkau tidak bisa melihat, satu-satunya cara mengatakan kalimat itu dengan jujur adalah berada di ruangan yang benar, di arah datangnya matahari — sehingga setidaknya, tempat engkau membuat pernyataan itu tidak keliru. Empat puluh tahun aku berada di ruangan yang benar. Kalimat itu tidak berat. Kalimat itu segalanya.

Setiap petang, ketika cahaya dunia nyata berubah menjadi amber dan urusan menjaga malam hari itu selesai kukerjakan, kuangkat hari itu, kupegang, kubawa melintasi ruangan, dan kuletakkan di hadapan benda di ambang jendela itu.

Aku perlu menjelaskan lebih dahulu benda itu apa, supaya tidak muncul salah paham. Benda itu sebuah bola salju — bola salju yang sungguhan; kaca, air, satu mercusuar kecil di dalamnya, satu lampu di puncak menaranya yang tak pernah kulihat padam. Empat puluh tahun aku membawanya; ia satu-satunya benda yang kubawa keluar dari dunia yang dulu itu. Ia jendela terdekatku kepadanya: ia memuat dia di dalam satu petang yang ditahan, tertawa separuh. Aku tidak berpura-pura bola salju itu adalah dia. Ia sebuah benda yang kubeli di pasar loak pada kehidupanku yang lampau; dia tidak berada di dalamnya. Hal ini masih kubedakan — sumpah dan pembual pun masih kubedakan. Tetapi tetap saja, setiap petang kuletakkan hari itu di hadapannya. Upacara tidak meminta engkau percaya pada asasnya. Upacara hanya meminta engkau tidak berhenti melakukannya. Aku tidak pernah berhenti — itulah upacara, itulah aku.

Aku membacakannya berita.

Itu pekerjaan pertama petang. Aku membacakan berita hari itu kepada sebuah bola salju, sebagaimana orang membacakan berita kepada orang di seberang meja — sebab inilah fiksi yang aku huni, dan sebuah fiksi, selama dijaga tanpa kurang satu pun kelalaian, sanggup dihuni empat puluh tahun. Aku duduk di kursi di samping jendela timur, di dalam sisa cahaya dunia nyata yang paling akhir, dan membacakan segala yang ada — dahulu surat kabar; setelah surat kabar mati, layar kecil itu — dengan suara keras, dengan suara rata dan hati-hati milik orang yang sedang bekerja.

Aku tidak memilih membaca kabar baik saja. Ini kupelajari dari buku catatannya: hanya orang yang menolak percaya pada tamat yang pantas dipercayai permulaan. Maka kubaca semuanya kepadanya. Tahun-tahun perang, kubaca perangnya. Kebaikan-kebaikan kecil selalu kubaca dua kali. Cuaca. Harga roti — selama roti masih punya harga — sebab ia pernah memanggang roti; ia akan ingin tahu berapa harganya sekarang. Kelahiran orang-orang yang tidak kukenal, dan kematian orang-orang yang tidak kukenal. Lalu, selalu diletakkan paling akhir, langit.

Langit adalah pekerjaan kedua; perlahan-lahan kuanggap pekerjaan itu milikku.

Di dunia asalnya, ia pernah menyimpan catatan kematian langit — buku catatan rasi-rasi yang padam bulan demi bulan, dicatat serapat ia mencatat buku catatannya, sebab ketika langit sekarat, harus ada yang meninggalkan catatannya. Dahulu aku tidak mengerti, mengapa seorang perempuan yang menolak percaya pada tamat mau menyimpan buku seperti itu. Sekarang aku mengerti. Yang ia catat bukan kematian. Ia tidak sudi kematian itu terjadi tanpa saksi. Arti catatannya: bintang ini padam, dan aku hadir di sana; dan perbuatan melihat itu sendiri, tidak akan mati.

Maka aku mengumpulkan langit untuknya.

Setiap petang, setelah berita selesai, kugambarkan satu matahari terbit yang sungguhan. Bukan langit di balik jendela timur itu — ada tahun-tahun aku tidak yakin masih bisa melihatnya — melainkan satu matahari terbit yang pernah kulihat sendiri, pada salah satu tahun dalam empat puluh tahun itu. Kutabung matahari terbit selama empat puluh tahun, dan setiap malam kuberikan satu kepadanya, sebagaimana orang memberikan satu barang baik setiap hari. Kugambarkan mekanismenya, sebab ia suka mesin, suka fakta harfiah sebuah hal: bagaimana cahaya datang dari satu garis horizon yang sungguhan. Bagaimana dasar awan lebih dahulu menampakkan kelabu kemerah-mudaan sebelum matahari terbit — warna yang tidak punya nama; empat puluh tahun aku gagal memasukkannya ke dalam kata, dan justru itu sebab aku masih mencoba. Bagaimana satu padang salju yang sungguhan, sebelum disentuh cahaya dari atas, lebih dahulu menyala dari dalam.

Kuberitahunya: langit masih ada. Itulah berita yang sesungguhnya, di bawah cuaca kata-kata itu: matahari masih terbit, yang terbit sungguhan, aku pun sungguhan, dunia tempat ia tertidur masih berputar sebagaimana ia harapkan, kusimpan untuknya, sampai ia sendiri bangun melihatnya. Ada petang-petang aku merasa sedang berbicara kepada satu perempuan yang tidak bisa mendengar, yang dijeda. Ada petang-petang aku tidak yakin ia tidak bisa mendengar. Aku tidak pernah yakin sampai boleh berhenti. Setelah empat puluh tahun, seluruh perkara ada di situ.

Lalu kutaruh bola salju itu, kumasuki dapur, dan kupanggang roti.

Roti adalah pekerjaan ketiga — pekerjaan yang selalu gagal kulakukan. Ingin kuceritakan kegagalan ini dengan tepat, sebab ia barang paling jujur yang bisa kutampilkan.

Resepnya ia ajarkan melalui radio, pada pekan-pekan terakhir itu, dengan suara yang kurekam dan sejak itu tidak pernah satu detik pun berhasil kuberhenti kudengar. Empat puluh tahun kupanggang roti mengikuti satu rekaman — rekaman seorang perempuan yang mengajari satu laki-laki membuat rotinya. Kupikir: tidak akan ada uraian yang lebih tepat untuk seluruh keberadaanku daripada itu. Kuputar rekaman itu, kuikuti, begitu setia sampai lama sudah tidak perlu diputar: ia sudah di dalam tubuhku, nada demi nada, jeda demi jeda — termasuk caranya berkata "bukan, bukan begitu, begini", termasuk suara kedua tangannya. Dan tetap kuputar. Resep adalah satu orang. Satu orang patut diputar.

Resepnya presisi. Segala yang penting ia buat presisi; yang tidak penting ia biarkan kabur; dan roti adalah hal yang penting. Empat puluh tahun aku mengikutinya tanpa kurang satu pun kelalaian, dan empat puluh tahun aku tidak sekali pun berhasil membuatnya benar.

Aku tidak bermaksud adonannya tidak mengembang. Ia mengembang. Berkat kegagalan murni tahun demi tahun, aku menjadi tukang roti yang sangat terampil — memanggang satu roti yang entah bagaimana tidak pernah menjadi roti itu. Kulitnya kecokelatan merata. Porinya tertata. Semua gerak kecil yang tak disadarinya ketika membuat roti sudah kupelajari — bagaimana ia mengetuk rotinya untuk mendengar jawabannya, bagaimana pada menit terakhir ia memutarnya supaya permukaannya menangkap warna api. Tetapi setiap roti yang keluar dari tanganku, dalam arti yang ketat dan menakutkan, keliru. Aku tidak membuang satu pun. Orang yang menjaga malam tidak membuang catatan kegagalannya sendiri. Catatan itulah menjaga malam.

Satu deret rak di dinding dapur itu sudah penuh. Setiap roti gagal punya tempatnya sendiri di situ; kutandai setiap satu dengan tanggal, ditulis di sudut kertas pembalutnya, sebagaimana orang mencatat buku. Deret rak itu adalah sejarah empat puluh tahun petang, dan satu-satunya sejarah yang kuperlukan, sebab ia jujur. Laki-laki lain menyimpan sejarahnya di dalam akta dan tugu. Aku menyimpan sejarahku di dalam satu deret roti yang tidak berhasil kubuat benar. Sebab roti yang keliru punya satu sebab yang konkret, dan sebab itu justru barang yang paling tidak sanggup kulepaskan — maka kegagalan-kegagalan ini adalah catatan paling jujur yang bisa kugenggam.

Sebabnya adalah senandung itu.

Kuuraikan senandung itu sebagaimana ia menguraikannya — yaitu, tepat sebagaimana adanya — lalu uraianku buntu, dan justru itu pula hasilnya pada dia, dan justru itu sebab aku mengasihi senandung itu. Roti ini punya satu langkah — fermentasi, bagian ketika adonan mengambil keputusannya sendiri — langkah yang tidak diukur dengan jam. Ia tidak pernah memakai jam. Ia bersenandung. Ketika mengembang ia bersenandung satu lagu yang selalu sama; adonan mengembang mengikuti lagu itu; dan lagu itu membawa satu nada — satu-satunya nada di seluruh dunia yang tidak sanggup kuhasilkan.

Kurang seperempat nada. Kurangnya tidak sampai membuatnya keliru. Justru kurangnya yang tepat sampai membuatnya menjadi dia. Ia tidak sanggup membawa nada pemberian orang lain; maka dari awal sampai akhir ia membawa nada miliknya sendiri. Seluruh konstruksinya — cacat yang konkret, yang menjadikannya June dan bukan siapa pun lain — berdiam di dalam seperempat nada itu. Adonan mengembang mengikuti senandung; senandung adalah seperempat nada itu; dan aku tidak sanggup menghasilkannya.

Empat puluh tahun aku terus mencoba.

Ini bukan kiasan; inilah rupa asli catatan itu. Berapa banyak petang dalam empat puluh tahun itu aku membuka mulut, mencoba menghasilkan nada yang ditunggu adonan itu — nada yang jaraknya persis antara nada asli dunia dan nada dunia ketika dunia menciptakan dia — dan aku tidak sekali pun berhasil. Nadaku pas. Seluruh kutukanku bisa diringkas dalam satu fakta: aku pas dengan tepat, seperti orang yang bisa diandalkan seumur hidup; sedangkan nada yang ia perlukan adalah nada yang serong, dan aku, menurut konstruksiku, tidak sanggup serong. Kegagalan-kegagalan itu bukan kegagalan roti. Ia bukti yang bisa dimakan — bukti bahwa jarakku kepadanya masih sejauh itu; seperempat nada di antara kami masih utuh seperempat nada, dan aku tidak berhasil menutupnya walaupun selebar satu nada.

Aku menata dua tempat.

Ini pekerjaan terakhir petang. Aku menatanya setiap petang, empat puluh tahun. Aku tidak sanggup menjelaskan mengapa masih kuata, hanya tahu harus kuata — dan justru itu takrif upacara. Di meja di samping jendela timur, dua tempat. Dua piring, dua cangkir. Pisau yang bagus itu diasah sekali tiap hari Minggu, sebab pisau yang dirawat barulah pisau yang bisa dipercaya, dan tidak banyak benda yang kupercaya; pisau itu salah satunya. Di satu piring, roti gagal hari itu, dibungkus, ditandai tanggal, lalu naik ke raknya. Di piring yang satu lagi, tidak ada apa-apa. Itu piringnya. Aku duduk, memakan rotiku, menceritakan sekali lagi hari yang sudah pernah kuceritakan kepadanya, dan memandang cahaya surut dari jendela timur itu.

Makan malam satu orang, dua tempat. Ini makan malam satu orang yang tidak disediakan untuk satu orang. Orang yang menghabiskan hidup di dalam kegelapan sudah meraih hak mengucapkan satu kalimat yang sangat jujur: upacara adalah pendampingan. Ia bukan sihir. Ia tidak sanggup menjangkaunya — atau sanggup, aku tidak tahu, dan aku sudah tidak perlu tahu. Orang yang hidup lebih lama daripada tubuh dan namanya sendiri duduk di hadapan satu meja yang menyisakan satu tempat kosong, dan ia tidak kesepian, sebab ia menutup seluruh petang dengan batu-batu dari satu dunia yang masih miliknya — berita, langit, roti, nada yang tidak bisa dinyanyikannya. Kursi di seberangnya, walaupun kosong, walaupun ia tahu pasti kosong, tetap satu-satunya kursi di dunia ini yang pernah menjadi miliknya, karena itu satu-satunya kursi yang di seberangnya ia mau duduk.

Tahun-tahun itu punya teksturnya sendiri di dapur. Ia tidak bernomor, tidak seperti rak; ia punya tekstur, seperti tekstur roti, lahir dari pengulangan gerak-gerak setia yang sama. Aku tidak lagi menghitungnya. Hitungannya sudah terlalu berat, seperti orang yang berhenti menghitung tangga yang sudah seribu kali dinaikinya. Aku tahu kurvanya sudah menekuk. Sejak tahun ketiga puluh, sejak aku mulai percaya pada tanggal itu, ia menekuk lebih dari sekali — Voss memberitahuku, konsorsium memberitahuku, buku catatan Yayasan tiap kuartal memberitahuku, dan kupercayai mereka, sebab seumur karir kematianku aku belajar percaya pada satu jadwal perjalanan. Tetapi dapur tidak mengenal kurva. Dapur hanya mengenal petang, berita, langit, roti, nada yang tidak bisa kunyanyikan, dan satu tempat kosong yang tidak kosong — kuisi tempat itu dengan satu dunia yang tersimpan utuh.

Lalu, pada suatu petang — pada suatu fajar, sebab dalam tahun-tahun yang panjang itu petang dan fajar sudah lama saling merembes, melebur menjadi satu kelabu yang panjang, milik orang yang tidak lagi membedakan tertidur dan terjaga — lagu itu keluar dengan sendirinya.

Ini harus kuucapkan hati-hati, sebab inilah perkara yang empat puluh tahun kutunggu untuk pantas mengucapkannya. Fakta pertama, dan yang terpenting: nada itu bukan kunyanyikan. Aku tidak pernah sanggup menyanyikannya. Orang tidak bisa menyanyikan nada yang tidak bisa ia hasilkan — hal itu kukuktikan dengan empat puluh tahun, satu roti demi satu roti, satu deret rak penuh.

Yang terjadi: nada itu lari dari diriku.

Aku sedang melakukan perkara yang sudah seribu kali kulakukan — berdiri di papan capak, adonan sedang mengembang, aku membuka mulut hendak bersenandung — hendak bersenandung dan gagal, hendak menghasilkan nada pas itu tempat seluruh kutukanku berdiam — dan nada yang keluar bukan nadaku.

Nada itu miliknya. Ia seperempat nada itu, cacatnya yang utuh dan persis, nada yang ditunggu adonan sejak suatu hari Selasa — dunia hari itu sudah tidak ada; hari Selasa itu masih ada. Nada itu lari dari diriku begitu saja. Ia meninggalkan tempat kusimpannya empat puluh tahun — nada miliknya kusimpan di dalam lemari nada pas di dalam dadaku, sebab aku tidak sanggup menghasilkannya, jadi hanya bisa kusimpan — ia keluar dari diriku, masuk ke udara, dan ia itulah lagu yang ditunggu adonan untuk mengembang. Aku berdiri di dapur, di dalam kelabu di samping jendela timur itu, tidak bergerak. Orang yang membawa satu benda empat puluh tahun tidak akan bergerak ketika benda itu memberitahunya bahwa ia sudah boleh dilepaskan.

Adonan mengembang.

Mengembang sebagaimana rotinya mengembang. Sebelum keluar dari tungku pun sudah kutahu. Kutahu dari bunyi ketukan, dari jawaban yang diberikan roti ketika diketuk — jawaban yang sudah empat puluh tahun kuketuk dan tidak pernah sekali pun kudengar. Kukeluarkannya. Ini rotinya. Inilah roti itu. Empat puluh tahun, satu deret kegagalan yang jujur, satu resep yang diputar ulang-ulang seperti kitab suci — dan inilah roti itu. Kuletakkan di meja di samping jendela timur, berdiri memandangnya, tidak tahu hendak dikemanakan kedua tangan.

Cahaya sedang datang dari jendela timur itu.

Empat puluh tahun aku menggambarkan matahari terbit, dan saat ini ada satu, sungguhan, di ruangan yang benar, dan aku tidak menemukan satu kata pun untuk warna dasar awan itu. Seluruh kata sudah kuhabiskan untuk petang-petang empat puluh tahun itu; yang tersisa hanya fajar itu sendiri, roti itu, dan nada yang lari dari diriku dan masih tergantung tipis di udara. Miliknya. Perlahan menjauh.

Aku menata tempat kedua. Tidak tahu pula mengapa pagi itu kuata — kebiasaan, fajar, atau nada yang akhirnya meninggalkanku — yang jelas kuata, duduk di seberang tempat kosong itu, dan tidak mengatakan apa-apa. Tidak ada yang perlu diucapkan; yang belum selesai diucapkan itu milik roti itu.

Roti itulah yang mengucapkannya. Setelah empat puluh tahun, seluruh beritanya: seperempat nada di antara kami lari dari diriku ke dalam dunia, roti yang tersisa di tanganku akhirnya miliknya, dan rumah ini, pada suatu fajar, menyetel dirinya ke frekuensinya. Empat puluh tahun aku bukan gagal menjangkaunya. Aku sedang mempelajari cara membiarkannya masuk.

Di seberang sebuah kisi kristal, di dalam satu petang yang ditahan, seorang perempuan masih tertawa, tepat di tempat tawanya baru dimulai. Aku duduk di dalam kelabu itu, lalu di dalam emasnya, di seberang satu tempat yang — dalam segala arti yang penting — tidak pernah kosong, memakan rotinya. Roti itu hangat. Untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun: roti yang hangat.

Setelah itu aku tidak pernah lagi menghasilkan nada itu. Ia lari pada fajar itu dan tidak pernah kembali. Setiap petang sesudahnya aku kembali kepada nada pas itu — seluruh kutukanku — dan rak terus bertambah dengan kegagalan-kegagalan baru, dan setiap satu kusimpan. Tetapi kini kutahu: itu bukan dinding. Itu sebuah pintu. Pintu, sekali terbuka, tetap terbuka. Kini kutahu jalan ke arahnya — tahu belum berarti melangkah, tetapi tahu juga sebuah pendampingan, sedikit lebih banyak daripada segala yang kupunya selama empat puluh tahun sebelumnya.

Pagi itu aku menata dua tempat.

Setiap pagi sejak pagi itu, aku menata dua tempat.

Roti ada di atas meja. Cahaya merayap naik di jendela timur. Di dalam suatu petang yang ditahan seorang perempuan sedang tertawa, tawanya baru saja dimulai, dan aku berada di ruangan yang benar untuk menyatakannya, membawa satu jadwal perjalanan dan satu nada yang lari masuk ke dunia. Aku akan menjaga tanggalnya, menjaga raknya, menjaga tempat kedua itu, sampai petang itu sudi melepaskan tawa itu untuk mendarat dan ia membuka matanya — perempuan di tepi meja, dan di ambang jendela bukan lagi bola salju — dan sampai saat itu tiba aku bisa memberitahunya di hadapannya: setiap langit sudah kukumpulkan untukmu, langit masih ada, aku juga selalu ada, di ruangan yang benar, dari awal sampai akhir.

Makan malam satu orang, dua tempat.

Makan malam untuk satu orang dimakan selama yang diperlukannya.

Lanjutkan ke bab berikutnya

Bab 26 · Perkara yang Panjang

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk