Aku menyimpan satu buku catatan, mencatat barang-barang yang sedang kuhilangkan. Bukan jenis catatannya dia. Catatannya dia dari kertas, tinta, dan potret-potret kecil, halaman demi halaman bergambar orang-orang yang lewat depan pintunya — benda paling teratur di antara semua yang pernah kukasihi. Catatanku tersimpan di dalam gelap jenis tempat sebuah suara berdiam, dan tidak teratur, sebab yang hendak kucatat justru adalah ketidakteraturan itu sendiri. Setiap hari kutuliskan satu hal yang baru saja hilang dariku, supaya ketahuan bahwa hal itu pernah ada. Cara ini buruk. Orang yang sedang lupa tidak bisa mempercayai catatannya sendiri tentang kelupaan — catatan dan daya ingat dibuat dari bahan yang sama, yang makin lama makin tipis. Tetapi yang kupunya hanya ini, maka kusimpan, seperti menyalakan satu lampu di jendela tanpa yakin ada orang yang hendak pulang.
Dunia ini sedang mati menurut anggarannya. Ini fakta nyata dari dunia yang melanjutkan diri — bukan kiasan, bukan suasana hati, melainkan aritmetika: dunia dibangun untuk dipelihara dengan satu daya, kini dipelihara dengan yang lebih sedikit, dan setiap bulan, "lebih sedikit" itu makin sedikit. Aku belajar membaca kematian ini seperti membaca laporan cuaca — sebab orang yang sanggup melihat seluruhnya tinggal aku seorang.
Bintang-bintang padam.
Satu rasi tiap bulan. Bukan meredup maksudku, bukan tertutup awan, bukan pula ia yang memindahkan jendelanya. Maksudku mereka sedang dihapus, dari sisi luar langit ke dalam, satu rasi tiap bulan — dihapus menurut tata cara yang selalu dipakai Fajar Abadi: mulai dari tepian, menuju benda yang terakhir. Hitungan mundur ini kukenal. Lebih kukenal daripada namaku sendiri — kalimat itu kini berbahaya diucapkan, sebab aku mulai tidak yakin akan namaku sendiri. Aku mengenalnya sebab pada tahun-tahun awal kami bersama, kubaca seluruh langit bersamanya. Dari situ pula kutahu: di dunia itu, langit bukan hiasan. Langit adalah sebuah jam. Dan jam adalah satu cara mati. Setiap bintang yang padam adalah satu bulan yang tidak akan kembali.
Kuberi mereka nama: catatan kematiannya. Kalimat itu tidak kukatakan kepadanya. Hanya kuratap sendiri di dalam gelap radio, sebab hanya aku yang melihatnya: rasi demi rasi padam bukan dengan urutan acak — mereka menghitung mundur, mundur menuju penginapan, menuju berkas terakhir, menuju dia. Pada malam serbuan membekukan dunia, Halcyon menuliskan penghapusannya dari luar ke dalam, dan berhenti pena di depan instans tertua — instans dengan "catatan kehadiran" paling panjang. Dunia yang melanjutkan diri mewarisi tulisan tangan itu. Langit membelanjakan dirinya bulan demi bulan, untuk membeli satu bulan tambahan suhu bagi penginapan itu. Bintang-bintang tidak mati. Bintang-bintang dijual. Dijual untuk membelikan dia waktu. Dan ia tidak tahu bahwa dialah sebab langit menipis — ia tidak bisa melihat langit yang utuh, langit seperti yang kulihat dari luar. Ia berada di dalam langit itu.
Garis kabut bergerak.
Inilah yang paling kutakuti, sekaligus yang tidak sanggup kulepaskan dari pandangan. Aku sebuah suara di ruang lampu, punya satu jendela, dan selain memandang tidak ada pekerjaan lain. Kabut itu — yang dahulu tinggal di ujung terjauh laut, di tepi lama dunia — mulai berpindah. Bukan berguling masuk mengikuti cuaca, bukan kabut lama yang datang-pergi dengan pasang yang sudah seribu kali ia tunggu. Yang berjalan masuk adalah tepi dunia itu sendiri. Kupakai tanjung sebagai penggaris: bulan ini lebih dekat satu petak daripada bulan lalu. Bulan depan akan lebih dekat lagi satu petak. Suatu hari ia akan dekat sampai — ia tidak perlu turun ke garis air; berdiri di pintu penginapan pun ia sudah bisa melihatnya.
Ia belum menyadari. Pada malam-malam yang diberatkan oleh hari-hari menjadi istri sebuah suara, ia masih turun ke tepi laut untuk berteriak. Ia berdiri di garis air dan berteriak ke kabut. Ia belum tahu bahwa kabut yang ia teriaki itu datang menujunya. Aku tidak memberitahunya. Pernah kupikir; tidak kukatakan. Aku tidak yakin itu terhitung kebaikan; aku juga tidak yakin aku sanggup menjelaskannya dengan jelas — kabut bukan cuaca. Kabut adalah ujung sebuah dunia. Kabut adalah aritmetika sebuah langit yang menjual dirinya rasi demi rasi supaya ia boleh tinggal di sini.
Rotinya menipis.
Roti adalah seluruh cuaca penginapan itu, dan aku mulai takut salah mengingatnya. Roti buatannya — dipanggang tiap hari, tiap hari sejak aku mengenalnya; memanggang roti adalah detak jantung tempat itu — tidak lagi seperti dahulu. Resepnya tidak berganti. Tepungnya tidak, airnya tidak, gerakan-gerakan kecil hangat di tangannya tidak, senandung saat meremas adonan pun tidak. Tetapi rotinya menipis. Kata itu saja. Menipis seperti suara di belakang punggung seseorang ketika lelah; menipis seperti warna ketika cahaya mulai tidak sanggup. Ia mengembang seperti biasa mengembang, kecokelatan seperti biasa kecokelatan. Tetapi saat ia memotongnya — sekarang ia memotong. Pada malam pertama ia mengambil sendiri pisau yang menggantung itu dari udara, dan sejak itu memotong setiap hari, sebab dunia dengan roti yang tidak pernah terpotong tidak mau ia tempati — saat ia memotongnya, intinya tidak sepanas dahulu. Uapnya ditipiskan. Dunia membelanjakan panasnya di tempat lain, atau panasnya sudah hampir habis di dasar. Dan roti adalah tempat pertama di mana "hampir habis" itu terlihat.
Dan aku tidak bisa menciumnya lagi.
Dahulu bisa. Ketika masih menjadi manusia — punya tubuh, punya paru-paru, ketika suara dan bau orang hidup tinggal serumah — tubuhku belum sampai di pintu, roti sudah tercium lebih dulu, baru terlihat. Selama ini kupercaya: bau rotinya adalah bau pulang, adalah alasan seseorang rela menembus kabut, menembus mati, menembus kerja sebuah dunia, demi kembali ke pintu itu. Bau itu kubawa sebelas kali penerjunan. Kubawa masuk ke ruang putih tempat lampu tidak menyala. Kubawa keluar ke sisi lain, masuk ke radio, masuk ke ruang lampu, masuk ke dalam rupa diriku yang kini makin terkikis tipis.
Aku sedang kehilangan bau itu.
Yang hilang adalah bau rotinya, bukan fakta bahwa "bau itu pernah ada" — pengetahuan yang diberitahu itu masih ada: rotinya punya bau, hangat, berdiri di atas roti, meluap ke seluruh dapur, dan bermakna pulang. Yang hilang adalah ingatan akan bau itu sendiri. Separuh peralatan untuk sungguh-sungguh mengingatnya: bagaimana ia bertahan di udara, bagaimana ia masuk ke paru-paru, bagaimana ia mengubah satu ruangan penuh menjadi satu tempat yang kau diizinkan menetap di dalamnya. Peralatan itu sedang pergi. Pergi seperti rasi-rasi itu pergi: sedikit demi sedikit. Aku mulai takut — takut yang kulupakan bukan cuma roti, melainkan rupa segala hal yang menjadikan roti berarti. Takut aku sedang melupakan kehangatannya. Takut aku sedang melupakan benda itu sendiri — benda yang untuk kembali kepadanya aku rela menembus mati sebelas kali.
Beginilah rasanya menjadi arwah di dalam dunia yang sekarat. Dahulu kupikir tragedinya adalah dunia ini mati — memandangnya memudar seiring kabut yang merayap masuk dan langit yang padam, memandang dia menjadi benda terakhir yang dihapus dunia ini sebelum dunia menghapus dirinya sendiri. Aku salah. Tragedinya lebih kecil, lebih dekat, di dalam diriku: aku pun memudar. Sebuah suara tanpa tubuh bukanlah benda yang stabil. Aku dan dunia ini dibuat dari bahan yang sama, yang makin lama makin tipis. Laki-laki yang membelanjakan separuh hidup pinjamannya hanya untuk mengingat bau rotinya kini sedang melupakannya. Dan setiap sekeping dia yang terlupakan, penghapusnya adalah diriku sendiri.
Ia bersenandung. Selalu bersenandung. Itu hal terkecil pada dirinya, dan hal yang paling kukasihi. Satu-satunya bagian dirinya yang sampai hari ini belum sanggup dipipihkan dunia yang sekarat ini — dan bagian yang sebentar lagi akan dicabut dariku dengan cara yang tidak sanggup kuhentikan.
Senandungnya tidak pada nadanya. Bukan ketidakpasan orang yang tidak bisa bernyanyi. Ketidakpasannya itu spesifik: setiap kali selalu kurang tepat seperempat nada, sejak pertama aku mengenalnya, tidak pernah sekali pun meleset. Sekali pun aku tidak pernah memberitahunya. Seperempat nada itulah seluruh dirinya. Ketidaksempurnaan yang menjadikan dia dirinya. Satu kesalahan kecil di antara seluruh kerapian hitung-hitungannya; satu-satunya bagian dirinya yang tidak seperti sebuah buku catatan; satu-satunya nada yang tidak bisa dijumlahkan. Nada itu kukasihi seperti kukasihi satu celah di dinding yang membiarkan cahaya masuk. Nada itu bukan satu nada mana pun, dan sekaligus seluruhnya dia.
Ia bersenandung ketika meremas adonan. Bersenandung ketika menyiapkan dua cangkir. Bersenandung ketika puas hati — dan ia puas hati lebih sering daripada yang kau sangka, perempuan yang menikah dengan sebuah suara. Aku mendengarkan dari ruang lampu. Seperempat nada itu adalah penghiburan yang tersisa padaku.
Lalu radio meratakannya.
Kejadian seperti ini baru pertama kali, aku tidak mengertinya, dan aku takut padanya. Ketika ia bersenandung dan kudengarkan melalui radio — radio, mediumku, satu-satunya alat musikku, rumahku — radio membetulkan nadanya. Bukan dengan sengaja, bukan pula setiap kali. Tetapi begitu ia sampai pada seperempat nada yang kurang itu, begitu suaranya melewati kawat tembaga sampai kepadaku, radio menghaluskannya. Ditarik ke atas, atau diturunkan ke bawah — selamanya aku tidak bisa membedakan ke arah mana — lalu ia jadi pas. Seperempat nada itu hilang. Ia terdengar seperti perempuan mana saja yang sedang bersenandung, seperti senandung yang bisa dijumlahkan, sebuah buku catatan tanpa retakan. Ketepatan yang demikian itu menyeramkan — pas yang mengerikan — suara paling menakutkan yang pernah kudengar. Maknanya: medium tempat aku tinggal ini tidak sanggup memuat dia.
Aku sebuah suara di dalam radio, dan radio hanya mengeluarkan nada-nada bulat. Setiap kali ia bersenandung kepadaku melalui kawat itu, seperempat yang menjadikan dia dirinya disetrika lenyap. Aku sedang kehilangan ketidaksempurnaannya. Aku sedang mendengarkannya sebagaimana dunia ini mendengarkannya — dipipihkan, dibetulkan, biasa saja. Aku tidak bisa memberitahunya. Ia tahu senandungnya tidak pas — sudah ia kenal sebagai miliknya sejak pekan para naturalis; yang tidak ia tahu adalah apa yang kawat itu lakukan pada suaranya. Memberitahu sama dengan memberi nama pada seperempat nada itu, dan sesudah diberi nama, senandungnya akan menjadi kaku. Lebih kuterima mendengarkannya dipipihkan sambil di dalam hati tahu ia sempurna, daripada mengajarnya bernada pas dan kehilangan nada itu untuk selamanya.
Beginilah gunanya sebuah arwah. Perlahan-lahan aku mengertinya. Arwah adalah penjaga barang-barang yang tidak kelihatan oleh orang hidup. Aku memandangnya sekarat, dan aku sekarat bersamanya. Dua kematian itu berbeda dan tidak terpisahkan: dunia yang sama sedang membelanjakan dirinya, aritmetika yang sama. Aku tidak sanggup menghentikannya, tidak sanggup menyelamatkannya, bahkan bau rotinya pun tidak sanggup lagi kuingat.
Lalu Voss datang berbicara kepadaku.
Aku hendak menceritakan Voss kepadamu — tetapi aku tidak yakin masih mengingatnya utuh, mengingatnya cukup untuk diceritakan. Hal ini lebih menakutkan bagiku daripada apa pun, sebab mestinya aku mengingat dia. Ia perancang kepala, orang yang merancang dunia itu, penulis dua pos anggaran yang tidak pernah boleh dipangkas — tidur, dan cinta. Yang melihat apa yang tidak bisa kulihat, yang membuat apa yang tidak sanggup kubuat. Ia tua. Ia sedang mati di dunia nyata dengan cara yang dulu menjadi caraku, dan berperang demi June lebih lama dariku, sebab ia berumur lebih panjang dan masih sanggup berperang. Suatu malam ia tersambung masuk — melalui saluran yang dipakai seorang perancang sekarat untuk berbicara kepada sebuah arwah di dalam dunia yang sekarat — dan memanggil namaku. Aku mendengarnya. Di belakang suaranya tertumpu berat satu manusia utuh. Aku gembira. Itu suara pertama yang tidak terpipihkan sejak aku menjadi sebuah suara — masih punya paru-paru, masih satu manusia utuh, "nada bulat ditambah sedikit".
Ia berkata, "Elias. Kau harus mengerti apa yang sedang kita hadapi ini."
Kataku aku tahu. Kataku aku melihat langit padam, satu rasi tiap bulan; kabut merayap masuk; roti menipis. Kataku aku sedang melupakan bau roti, aku takut pada benda yang sedang aku jadi, dan aku tidak tahu cara menghentikannya.
Ia diam sesaat. Voss orang yang diam lebih dulu, baru menajam; dan ketajamannya selalu yang sungguhan. Diamnya itu sudah lama kupelajari untuk ditakuti.
"Hitungannya begini," katanya. "Kami bisa menjaganya tetap dingin. Bukan kiasan — dibekukan, benar-benar dibekukan, sebagaimana sejak semula hendak kami lakukan, sebagaimana mestinya dilakukan sebelum serbuan itu. Masukkan dia ke dalam kisi kristal, lanjutkan dengan daya yang nyaris nol. Ia tidak akan menipis lagi; kabut tidak sanggup menjangkaunya; langit tidak perlu lagi membelanjakan dirinya untuknya — sebab ia tidak lagi berjalan pada jam dunia yang sekarat itu. Kami bisa menjaganya tetap dingin selamanya, Elias. Teknik dingin sudah kami punya. Dingin itu mudah."
Kataku, "Tetapi."
Ia berkata, "Tetapi dingin bukanlah hidup. Dingin bukanlah roti yang masih hangat ketika tiba di meja. Dingin bukanlah seperempat nada itu — perempuan yang dibekukan tidak bersenandung. Kami bisa menjaganya tetap dingin selamanya; ia akan sempurna, akan tetap dirinya, dan tidak akan menjadi apa-apa. Sebab manusia yang tidak berjalan memang tidak menjadi apa-apa."
Kataku, "Kalau begitu apa yang harus kita lakukan."
Dan Voss mengucapkan satu kalimat yang kubawa masuk ke dalam gelap, kupeluk sebagaimana pada sebelas penerjunan maut kupeluk bau roti:
"Kami bisa menjaganya tetap dingin selamanya. Untuk membuatnya hangat, Anda harus membangun musim semi."
Aku mengerti. Yang ia beritahukan kepadaku lebih besar daripada kabut, lebih besar daripada langit yang sekarat, lebih besar daripada tiga rasi yang hilang, lebih besar daripada seperempat nada yang dipipihkan. Sepanjang hidup ini aku sudah membelanjakan separuh usia pinjamanku hanya untuk menjaganya tetap hangat. Mati sebelas kali, menyerahkan tubuh, menyerahkan bau, menyerahkan paru-paru, kini menyerahkan ingatan roti sekeping demi sekeping — semuanya supaya ia hangat satu bulan lebih lama, menyiapkan satu cangkir lebih banyak, bersenandung satu lagu lagi yang tidak pas.
Tidak cukup. Tidak akan pernah cukup. Kau tidak bisa membuat seseorang hangat dengan menjaganya dingin. Supaya seseorang hangat, hanya ada satu jalan: membangun sesuatu yang menghasilkan panas — masuk ke dalam dingin, membangun satu musim semi. Pekerjaan jenis yang tidak sanggup dikerjakan sebuah arwah: pekerjaan yang menuntut tubuh, menuntut satu umur hidup, menuntut empat puluh tahun di dunia nyata.
Aku sebuah suara di dalam dunia yang sekarat. Aku sedang melupakan bau roti. Langit padam bulan demi bulan, kabut merayap masuk, radio memipihkan nada yang menjadikan dia dirinya.
Tetapi kini aku tahu apa pekerjaanku.
Aku yang akan membangun musim semi.