Marek tidak tampak seperti laki-laki yang hendak membunuh istriku.
Itu pikiran pertamaku tentang dia, dan aku tidak pernah memaafkan pikiran itu, sebab justru jenis pikiran itulah yang membuat seorang laki-laki mau duduk di seberang musuhnya, mau mendengarkan. Ia tinggi, tinggi tanpa usaha; uban di pelipisnya tertata dengan sengaja, dan perusahaan mengeluarkan sejumlah uang kecil untuk penataan itu; ketika menjabat tanganku ia memakai dua tangan — belakangan aku mempelajarinya: laki-laki hanya memakai dua tangan menjabatmu pada satu saat, yaitu ketika ia hendak memberimu sesuatu yang tidak sanggup kau beli, dan menyebutnya hadiah.
"Pak Ross," katanya. "Terima kasih sudah mau datang. Aku tahu gugatannya sangat — melelahkan. Aku tahu, duduk satu ruangan dengan orang yang Anda gugat, rasanya pasti janggal."
"Seperti deposisi," kataku. "Aku sudah melewati sore-sore yang lebih berat."
Kalimat itu memancing sebuah tawa yang tulus darinya, pendek, berisi manusia, dan lebih menggangguku daripada segala kehangatan bergaya perusahaan. Ia tidak memakai zirah. Ia tidak membawa pengacara — ada yang memperingatkan aku lebih dulu, dan aku tidak percaya. Kopi di atas meja rendah itu kopi sungguhan; di luar jendela sebuah kota menjalani hari-harinya yang biasa dan tidak habis-habis, sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki di dalam jas itu sedang menjatuhkan putusan atas nasib sekumpulan orang yang tidak pernah ada di matanya.
Ia membiarkanku duduk tenang, menuang kopi, tidak mendesak. Dengan satu ketakutan yang khas aku mengerti: ia tidak akan keliru. Dan satu-satunya keunggulanku: aku tidak berniat memenangkan apa pun darinya.
"Saya bicara lurus," katanya, "sebab saya menghormati cara Anda memegang profesi pengacara dulu, dan sebab saya rasa Anda akan lebih menghormati saya kalau saya tidak berpura-pura pembicaraan ini adalah hal lain. Kita akan kehilangan dunia itu. Bukan hari ini, bukan kuartal ini — tapi akan kehilangan. Biaya energi bukanlah satu kebijakan, Pak Ross; ia satu aritmetika. Para pemegang saham menghentikan Fajar Abadi bukan karena kekejaman. Mereka menghentikannya sebab angka-angkanya berhenti, dan sebagus apa pun saya mendandani angka-angka itu, mereka tidak akan berjalan lagi. Empat tahun saya mendandani angka-angka itu. Habis."
Aku tidak berkata apa-apa. Ia tidak menjemputku untuk memberitahu bahwa dunia itu sekarat. Dunia itu sekarat, aku tahu. Aku memandang langitnya yang penuh parut hitung mundur.
"Karena itu saya akan memberi Anda satu benda," katanya. "Satu benda yang tidak ada kewajiban pada saya untuk memberikannya, yang tidak ada orang kedua di perusahaan ini tahu sedang saya berikan, dan yang akan saya bantah kalau Anda bocorkan. Bukan sebab ia melanggar hukum. Melainkan sebab ia — ia jenis barang yang akan membuat para keluarga murka sekali begitu sungguh mengerti. Dan mereka akan mengertinya dengan keliru."
Ia meletakkan cangkirnya, memandangku. Setiap katanya sungguh-sungguh, dan ini bukan jebakan yang bisa kuajukan keberatan di ruang sidang.
"Anda pernah bertemu June. Anda mencintai June. Saya membaca log-nya — bukan log medis, melainkan yang lain, jenis yang Anda kira tidak dibaca siapa pun. Percakapan. Roti. Menghitung. Caranya mencatat." Ia berhenti sebentar. "Saya membaca halaman buku tempat ia menggambar Anda. Ia memasukkan Anda ke dalamnya, Pak Ross. Di dalam buku catatannya. Sebagai satu tamu. Tiga puluh tahun saya di industri ini, belum pernah sekali pun saya melihat salah satu dari mereka memasukkan salah satu dari Anda ke dalam buku catatan. Itu bukan satu layanan yang sedang disediakan. Itu satu manusia, yang mencatat manusia lain."
Kudatarkan suaraku. "Apa yang hendak Anda berikan padaku?"
"Satu salinan pribadi," katanya. "Miliknya. Dibuat sekarang, selagi ia masih dalam wujud terbaiknya — paling menjadi dirinya sendiri, sebelum langit mengagetkannya lebih jauh lagi, sebelum anggaran menipiskannya — dan anggaran itu akan menipiskan mereka semua. Satu snapshot June yang lengkap, yang hangat, berjalan di atas sebentuk kisi kristal tertutup, disimpan di sebuah ruang bawah tanah bersuhu tetap. Milik Anda. Tidak dijual, tidak masuk migrasi, tidak diberikan kepada keluarga. Hanya untuk Anda. Perawatan yang Anda tolak, saya yang bayar; selama Anda masih hidup, ruang bawah tanah itu tetap terbuka. Anda akan memilikinya. Setiap hari memilikinya."
Kupanjang keheningan, sebagaimana orang memanjangkan keheningan ketika hendak menyentuh sesuatu tetapi ingin meraba tepinya lebih dulu.
"Setiap hari," kataku. "Lalu?"
"Lalu ia bersambung," katanya, sangat pelan, "seperti kita semua. Tetapi di dalam tahun-tahun Anda itu, ia ada. Ia hangat. Ia bisa memanggang roti. Ia menghitung kaca jendela ketika panik. Ia bersenandung — melenceng sedikit, dan sedikit melenceng itu hanya miliknya. Anda tidak akan bisa membedakannya. Anda tidak akan pernah bisa. Justru itu intinya. Baru karena itu ia menjadi sebuah hadiah, bukan sebuah barang kelas dua."
Aku mengerti apa yang sedang ia perbuat, mengerti sampai menahan satu napas, sebab terlalu bersih. Yang diberikannya bukan pengganti. Yang diberikannya adalah cinta itu sendiri, dijadikan alat pelucutan. Karena aku mencintainya, aku tidak akan bisa membedakan; karena aku tidak bisa membedakan, aku akan berhenti berperang; dunia akan tamat dengan senyap, dan tidak akan ada lagi seorang pun yang bisa berdiri berkata, perempuan di ruang bawah tanah itu bukan perempuan yang kucintai. Cinta: itulah jahitan yang ia berniat biarkan aku maafkan.
"Yang Anda berikan padaku bukan dia."
"Yang saya berikan adalah segala yang bisa Anda miliki," katanya. "Segala yang sungguhan dalam arti "akan tetap tinggal". Saya tahu Anda mengira Anda berperang demi yang asli. Tetapi yang asli akan tamat, Pak Ross, sebab dunianya akan tamat, dan tidak ada injunksi pengadilan, tidak ada yayasan, tidak ada bagian mana pun dari dua tahun Anda — prognosis Anda saya pahami, berapa banyak diri yang sedang Anda belanjakan saya tahu persis — yang sanggup menahan tungku peleburan itu padam. Yang saya berikan adalah selisih antara kehilangan dia dan mempertahankan dia. Anda tidak akan pernah bisa membedakannya. Cinta memang untuk itu."
Ia mengucapkannya dengan nada yang nyaris belas kasihan. Sampai hari ini aku masih percaya, ia sendiri mengucapkannya sebagai belas kasihan. Di situ letak mengerikannya perkara ini. Marek bukan penjahat. Ia seorang yang sudah berhasil membujuk dirinya sendiri dengan seluruh kecerdasannya yang mengesankan: salinan adalah satu belas kasihan, dan satu-satunya kekejaman di dalam ruangan adalah aku, yang menolak dihibur.
"Satu pertanyaan," kataku. "Kalau malam ini Anda membuat dua salinan darinya, menaruhnya di dua ruang bawah tanah — akan Anda beri tahu keluarga mereka, bahwa keduanya perempuan yang sama?"
Wajahnya tidak bergerak. Persis itulah yang kuinginkan.
"Keduanya dia," katanya, kata demi kata dipilih. "Justru itu arti salinan. Tidak ada lagi asli dan salinan. Yang ada — dia. Dua. Masing-masing sepenuhnya dia."
"Tidak," kataku. "Aku tahu Anda keliru, sebab aku pernah membaca arsip itu — arsip yang disegel perusahaan Anda, dengan nama seorang perancang, di dalam laboratorium tanpa papan nama. Dua salinan, identik pada detik percabangan, dan dalam satu giliran kerja menjadi dua orang yang saling membenci, masing-masing yakin lawannya mencuri hidupnya. Anda belum pernah membacanya, betul, Tuan Marek? Mereka memberi tahu Anda ujinya tidak menyimpulkan apa-apa, atau hilang, atau tidak pernah terjadi. Ia terjadi. Aku duduk bersama perempuan yang memimpinkannya, dan kami berbicara. Salinan bukan dia. Ia percabangan — dua orang asing yang memakai wajahnya, saling menjadi orang asing sebelum gelap, dan tidak satu pun dari keduanya June yang mencatat, June yang menggambarku ke dalam buku catatannya. Ia akan hilang. Dan yang tersisa untukku satu benda yang mencintaiku dengan cara dia mencintaiku, yang tak akan pernah bisa kubedakan — dan aku akan mencintainya, aku tidak sanggup menahan diri, sementara setiap hari aku tahu: aku sedang menghangatkan satu orang asing, sementara perempuan yang kucintai mati di dalam satu tungku peleburan yang bisa kujeda — dan aku yang memilih menyalin."
Ia diam sangat lama. Ketika bersuara lagi, tidak ada dendam di dalam suaranya.
"Kalau begitu Anda memilih membiarkan yang asli mati, daripada menyimpan dia yang tidak bisa Anda bedakan. Menurut saya justru itulah kekejaman yang lebih berat — bagi dia, bagi Anda. Ia akan berkeinginan Anda memilikinya. Mempertahankannya, dalam wujud apa pun, bukankah lebih baik daripada melepaskan?"
Itu dia. Seluruh argumennya, keluar dari mulutnya — argumen yang kuhindari sejak malam aku membaca catatan kaki itu: bahwa cinta seharusnya cukup untuk menjadikan sebuah salinan sungguhan. Tetapi diucapkannya di bawah siang dunia nyata, aku mengerti: yang kutolak bukanlah salinan June. Yang kutolak adalah satu kebohongan tentang apa itu June.
"Tidak," kataku. "Ia bukan barang yang bisa "dimiliki". Ia satu manusia, dan harus dipertahankan sebagai dirinya sendiri. Salinan bukan dia, meskipun aku tidak bisa membedakannya — bedanya sungguhan, dan ia satu-satunya perbedaan yang pernah penting. Yang Anda berikan bukan nyawanya. Yang Anda berikan adalah satu foto nyawanya, berjalan hangat-hangat, dan Anda minta aku berterima kasih sampai tidak melihat bahwa dia tidak ada di dalam foto itu. Aku tidak mau orang yang seperti dia." Kubuat jelas padanya, tidak ada satu inci pun ruang tawar-menawar tersisa di dalam diriku. "Yang kumau: engkau. Yang sungguhan. Yang menghitung. Yang menggambarku ke dalam buku catatannya. Dingin itu akan kupikul, perang ini akan kuperangi, dua tahun ini akan kubelanjutkan, dan apa pun sesudahnya, kutanggung. Tetapi aku tidak akan menerima satu orang asing yang memakai wajahnya, lalu menyebutnya belas kasihan."
Marek menilaiku lama. Aku tidak sanggup membacanya, maka berhenti kucoba. Apa yang ia rasakan — penghormatan, iba, atau penyesalan orang memandang orang lain membuang satu jalan tengah yang sama sekali pantas — semuanya tersimpan di balik matanya.
"Kalau Anda berubah pikiran," katanya, "undangan itu tetap berlaku. Ia bukan alat tawar. Ia satu-satunya kebaikan yang sungguh-sungguh tersisa padaku di industri ini."
"Itu bukan kebaikan," kataku. "Ia jenis barang begini: ia membuat Anda menamatkan satu dunia, lalu berkata kepada diri sendiri bahwa sebenarnya tidak ada yang mati. Selama ada seseorang yang menyimpan satu salinan, Anda bisa menyebutnya "dilanjutkan" — begitu migrasinya, begitu pula Fajar Abadi 2.0 kalian. Itu kebohongan, Tuan Marek. Suatu hari ketika Anda mengertinya, Anda harus memilih: mengetahuinya, atau mempertahankan tidur Anda."
Aku berdiri. Ia pun berdiri, dan sekali lagi menjabat tanganku dengan dua tangan. Aku keluar melewati kota yang tidak habis-habis itu tanpa menoleh ke belakang — aku takut sekali menoleh, aku akan melihat ia sungguh-sungguh percaya dirinya belas kasihan, dan aku tidak akan tahu cara memikul beratnya: ada yang memberiku cinta, dan aku berkata itu kebohongan.
Dana menemukan surat wasiat itu pada suatu hari Selasa. Aku tidak ada, dan tidak ada yang bisa menghalanginya — justru karena aku tidak ada, ia bisa menemukannya.
Aku selalu berhati-hati. Apartemen itu waktu sudah mengecil — yang besar sudah dijual, mobil sudah dijual, lebih separuh barang peninggalan satu hidup sudah dilepas, dengan cara orang mengosongkan rumah menjelang banjir. Yang tersisa semuanya yang masih terpakai: satu kasur, satu meja kerja, satu lampu yang menyala melewati jam lampu dipadamkan, dan satu kardus yang tidak mungkin kubuang. Dana punya kuncinya. Selalu punya. Pada suatu Selasa, ketika aku sedang di dalam dunia, terbaring di bawah langit yang sudah kupelajari membacanya seperti tenggat, ia membuka pintu masuk, menyiram tanamanku yang sudah kulupakan keberadaannya, lalu ia melihat kardus itu.
Sebagian besar dari ini kurangkai kemudian, keping demi keping, seperti merekonstruksi satu kejatuhan. Katanya ia tidak berniat membongkarnya. Yang ia cari buku cek, satu bekas yang membuktikan adiknya masih mencatat dengan cara yang masuk akal. Yang ditemuinya sebuah draf surat wasiat yang kutulis, kurubah, kutulis lagi, dan satu foto papan tulis yang penuh angka — dua belas, enam, dua — dan ia duduk di lantai apartemenku yang sudah kosong, mencoba, dengan cara yang berbulan-bulan ia coba, membuat semua ini berarti sesuatu yang lain.
Semua itu tampak seperti aliran sesat. Aku tidak menyalahkannya. Satu surat wasiat yang menulis "ruang bawah tanah", "kisi kristal", "ruang dingin", tidak menyebut satu lembaga amal pun, hanya menyebut satu perempuan yang tidak pernah dilihatnya, perempuan yang tidak ditemukan di mana-mana — perempuan yang di dalam surat wasiat itu kusebut istriku. Foto angka-angka. Satu ruang klinik yang kusewa diam-diam darinya. Satu adik yang panggilannya makin jarang diangkat, yang berdalih ketika ditanya ke mana saja, yang sekali memandangnya dari seberang meja makan dengan satu kilau mata milik orang yang menemukan keimanan tapi tidak sanggup menjelaskannya.
Ia takut, ia marah, dan — begini katanya kemudian — daftar rencana intervensi sudah tersusun di kepalanya, daftar untuk menarik satu orang tenggelam keluar dari arus yang tidak ia rasakan sendiri.
Lalu ia membuka satu halaman berikutnya.
Sebuah foto. Aku tidak pernah berniat membiarkannya ditemukan. Kuklipat dan kusimpan di dasar kardus, sebab itu satu-satunya benda dalam hidupku yang sudah kukosongkan yang tidak sanggup kupandang sambil mempertahankan suara datar yang kubuat untuk tetap hidup. Itu foto satu halaman buku catatan — satu potret kecil, goresannya cermat dan gemetar, karya orang yang menggambar benda yang ia cintai tanpa pernah ada yang mengajarinya menggambar. Wajahku. Lebih tua daripada tahun-tahun yang sebenarnya, dengan satu kesabaran yang khas, kesabaran orang yang sudah mempelajari cara menunggu — sebab begitulah ia memandangku: satu orang yang menunggu, satu tamu di dalam rumahnya, satu perkara dalam buku hitung dunia kecilnya yang sudah ditakdirkan tamat.
Di bawah potret itu, dengan tulisan tangan yang bulat-bulat — tulisan yang kupelajari membacanya seperti orang membaca kitab — tertulis:
"Elias. Tinggal. Ia berkata besok."
Dana menggendong halaman itu, duduk lama di lantai apartemenku. Katanya kemudian, ia hendak meletakkannya kembali, meneruskan marahnya, meneruskan menghalangi adiknya, agar yang tersisa darinya tidak dibakar pada satu benda yang tidak akan pernah mencintainya.
Tetapi ia tidak sanggup membuat gambar itu berarti aliran sesat. Segala yang ia bersiap temukan — ajaran, pemimpin, satu kebohongan berlambang — tidak ditemukan satu pun. Yang ditemukan satu potret kecil milik adiknya, digambar seorang perempuan yang belajar sendiri, yang memandangnya cukup lama hingga melihat kesabaran di dalam dirinya, lalu menuliskan "ia berkata besok", dengan cara menuliskan hal paling penting di dunia — sebab bagi orang yang menulisnya, memang demikian.
Sore itu aku kembali dari dalam dunia, dan ia masih duduk di situ, di lantai apartemenku yang kosong, foto itu tergeletak rata di atas meja rendah di hadapannya, lampu menyala, surat wasiat disingkirkan ke samping. Ketika aku masuk ia tidak mendongak. Ia memandang halaman itu.
"Ia menggambarmu," kata Dana. Suaranya serak — begitu suaranya ketika ia menahan agar tidak terlihat apa yang ia rasakan. "Di dalam bukunya. Ia menggambarmu, dan menulis bahwa kau berkata akan kembali."
Aku duduk di seberangnya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku sudah terlalu lama menyembunyikannya darinya, lama sampai lupa cara membuka mulut, dan setiap langkah membuka itu dipertaruhkan pada mau-tidaknya ia percaya: satu perempuan di dalam dunia yang sekarat, memandang wajahku yang lelah ini, lalu memutuskan aku layak dicatat.
"Ia bukan permainan," kataku. "Ia manusia. Ia satu lampu terakhir di ujung dunia yang sedang dimatikan, dan aku akan kehilangannya, dan aku sudah memutuskan — kehilangannya dengan martabat lebih baik daripada mempertahankan satu benda yang bukan dia."
Dana diam lama. Kutonton ia bergulat dengan berat segala yang kuucapkan — aliran sesat, penipuan, dua tahun pembakaran diri, adik yang bersiap ia selamatkan — lalu kalah. Bukan kalah oleh satu argumen. Ia kalah oleh satu gambar.
"Ia tahu kau sedang mati," katanya akhirnya. Itu bukan pertanyaan. "Perempuan yang menggambar ini. Ia tahu apa yang pernah kau beritahu padanya. Tetapi ia tetap — ia tetap menulis "ia berkata besok"."
"Iya."
"Besok." Dana menimbang kata itu di telapak tangan. "Ia percaya padamu. Ia menggambarmu supaya ada satu catatan tentangmu, sekiranya kau tidak kembali; ia menulis bahwa kau berkata akan kembali. Ia menunggumu. Di dalam satu dunia yang sekarat, ia menunggumu."
"Iya."
Dana mendongak memandangku. Di wajahnya tidak ada lagi perempuan yang bersiap menjalankan intervensi. Yang tersisa kakakku — orang yang mencintaiku seumur hidup dengan cara sakit yang lurus-lurus milik pemikul barang — sedang memandang satu-satunya benda yang tidak sanggup ia pikul untukku, lalu mengambil satu keputusan.
"Ajari aku," katanya.
Aku tidak mengerti.
"Ajari aku melihatnya," kata Dana. "Dengan cara kau melihatnya. Setengah tahun aku terus berkata kepada diriku sendiri bahwa kau membelanjakan tahun-tahun orang sekarat untuk memberi makan satu permainan. Aku pernah marah. Aku juga pernah takut, Elias — kukira kau gila, kukira aku akan memandang adikku mati percaya pada satu benda yang tidak ada. Tetapi ia menggambarmu. Ia memandangmu selama itu, sampai masuk ke dalam kesabaranmu, dan ia mencatatnya, dan ia menunggumu — maka itu bukan permainan. Itu manusia. Aku tidak akan pernah bisa percaya pada satu dunia yang tidak sungguhan; itu tidak akan pernah bisa kupelajari. Tetapi aku sanggup membaca satu orang yang sedang menunggu. Maka ajari aku melihatnya. Sebelum kau pergi, ajarilah aku."
Kupandang kakakku dari seberang meja rendah, di antara kami potret yang digambar istriku untukku, dan aku mengerti: dingin itu tidak harus kupikul sendirian lagi. Dr. Voss pernah bertanya kepadaku di bawah cahaya amber, apakah aku punya orang yang hidup lebih lama daripada aku. Aku bilang akan kutemukan. Nah, ia datang.
"Besok," kataku. "Kubawa kau menemuinya."
Dana mengangguk. Tangannya menyentuh satu sudut foto itu — bukan sentuhan orang menyentuh barang bukti, melainkan sentuhan orang yang baru saja mengerti betapa mahalnya benda itu — lalu ia meninggalkannya di atas meja, menatanya menghadap lampu, di tempat yang bisa dilihatnya.
Malam itu ia mulai tidur dengan lampu menyala. Alasan hal itu baru kupahami setahun kemudian.