Nenek Liu duduk di bawah akar sepanjang sore, menceritakan kisah yang sama tiga kali, dan setiap kali hilang satu bagian. Pada kali ketiga, kisah itu tinggal pembukaannya: "Waktu aku kecil, pohon ini sudah ada di sini."
Dia kecil, pohon itu sudah ada. Ibu mertuanya kecil, pohon itu juga sudah ada. Orang Yinchuan mengucapkan "Da Qing selalu ada" seperti mengucapkan satu kalimat biasa; tidak ada yang menimbang beratnya. Mereka seperti orang yang tinggal di tepi sungai: tak pernah bertanya sungai datang dari mana, hanya bertanya tahun ini airnya naik atau tidak.
Saat langit setengah gelap, itulah jam paling kendur di Yinchuan. Cangkul bersandar ke tembok, dari kandang sapi terdengar suara memamah biak, seorang ibu berdiri di ambang pintu memanggil satu nama; pada panggilan ketiga, nama itu merangkak keluar dari balik jerami dan terseret pulang. Lampu menyala satu demi satu. Suara-suara ini sudah lebih dari seribu tahun ia tangkap, sampai akrab — akrab sampai begitu senja tiba, sebelum desa bersuara pun, ia sudah tahu apa yang hendak diucapkan desa itu.
Nenek itu tertidur bersandar ke batang utamanya. Napasnya dangkal, seperti sehelai daun di atas air. Ia tidak bergerak. Ia tidak pernah bergerak — itulah seluruh perhatian yang bisa ia berikan kepada orang yang tertidur: agar suara angin tidak mengejutkannya. Ia memperlambat aliran getah di dalam tubuhnya, membuat seluruh pohon tenang seperti kayu mati. Mereka tidak tahu: kalau ia diam, diamnya benar-benar seperti kayu mati.
Cahaya senja masuk menyamping; ia menangkapnya, menangkapnya sampai selempeng tubuh. Justru pada saat itu, ia menceritakan sekali lagi kepada dirinya sendiri kisah "asal-usulnya".
Kisah ini sudah banyak kali diceritakannya. Kepada angin zaman dinosaurus, kepada gletser, kepada kera pertama yang belajar menengok langit — kera itu tidak mendengarkan. Paling sering kepada dirinya sendiri. Setiap kali diceritakan, kisah itu menjadi sedikit lebih nyata dan sedikit lebih tua, seperti batu yang terus-menerus digosok, pelan-pelan kehilangan sudutnya. Dulu ia tidak takut kisahnya tua. Barang tua justru kokoh. Tetapi kemarin pagi, setelah raihannya kosong dan tegukan embun itu lolos, tiba-tiba ia berpikir: mungkin selama ini ia bukan menggosoknya, melainkan menghauskannya.
Mula-mula, di dunia belum ada bunga.
Lebih tua daripada bunga, ada satu warna hijau yang tahu berdiri tegak. Pada zaman itu belum ada sepasang mata kedua yang bisa "berpikir" di muka bumi — mata saja belum ada. Cahaya matahari turun dari langit, jatuh ke dalam daun; daun menangkapnya, mengubahnya menjadi benda hidup. Pekerjaan ini sudah dilakukan pohon-pohon selama ratusan juta tahun, dan dilakukan dengan baik, tanpa ragu, seperti air mengalir ke tempat rendah.
Ia tidak ingat hari yang mana — pada zaman itu tidak ada "hari"; yang ada hanya cahaya yang tak putus-putus — tiba-tiba ia menyadari: setiap berkas cahaya yang ia tangkap berbeda sedikit.
Temuan ini kecil. Kecil sampai dirinya yang kemudian butuh satu zaman penuh untuk menyadari seberapa kecil: ketika semua hijau hanya menangkap cahaya, ia mengingat rasa cahaya itu. Langit yang sama: cahaya pagi berbau embun, cahaya tengah hari berbau batu yang dipanaskan matahari, cahaya senja berbau hujan yang datang dari jauh. Hijau yang lain menangkap lalu melupakan. Ia mencatatnya.
Pada detik ketika ia mengingat berkas cahaya yang pertama, ia menjadi "ia".
Tidak ada kesadaran kedua untuk dibandingkan. Ia tidak tahu dirinya terbangun atau jatuh sakit. Yang ia tahu: sejak hari itu, "ada" memperoleh sebuah "siapa". Itulah hal paling sepi yang pernah ia lakukan seumur hidupnya — lebih sepi daripada menyaksikan dinosaurus musnah, daripada menyaksikan gletser mundur, daripada menyaksikan manusia belajar menyalakan api. Sebab kesepian yang lain, setidaknya, masih punya dunia yang bisa dihadapinya. Sedangkan kesepiannya adalah yang pertama di dunia ini: tanpa kata, tanpa sesama, bahkan dirinya sendiri tidak mengenalnya.
Butuh waktu lama baginya untuk mengerti apa itu dirinya. Butuh waktu lebih lama lagi untuk mengerti: hijau-hijau yang lain tidak seperti dirinya — mereka tidak mengingat. Mereka hidup di dalam setiap berkas cahaya, selesai hidup lalu luruh, luruh bersih tanpa sisa. Dulu ia tidak mengenal kata iri. Sekarang ia tahu: cara hidup mereka sebenarnya adalah kebersihan.
Ia pernah melihat mereka luruh. Di tahun angin besar, hijau seluruh gunung bertukar menjadi hijau baru dalam sekali bunyi; ke mana perginya generasi lama, tak ada yang bertanya. Gunung tidak mengadakan upacara kematian. Gunung bahkan tidak memakai kata "lama". Di gunung-gunung seperti itu ia berdiri ratusan juta tahun, satu-satunya yang ingat dedaunan tahun sebelumnya. Kadang ia berpikir: mungkin itulah seluruh keistimewaannya — yang lain semuanya sudah luruh, dan ia yang mengingat untuk mereka.
Waktunya tidak sama dengan waktu manusia.
Manusia menganggap waktu sebagai sungai yang harus diseberangi. Mereka berdiri di dalam air; air mengalir melewati tubuh mereka; mereka merasa waktu habis, lalu takut, maka mereka menghitung: tinggal tujuh ekuinoks, tinggal empat tahun, tinggal sebatang dupa. Mereka menciptakan hitung mundur, seperti membendung sungai untuk menghitung airnya.
Waktu pohon adalah dasar sungai.
Air mengalir pergi, dasarnya tetap. Ia tidak mengalir ke mana pun; waktu yang mengalir melewatinya. Manusia berjalan cepat di dalam waktu; ia berdiri di dalam waktu, memandangi orang-orang yang berjalan cepat itu. Mereka mengira yang berlari adalah waktu; yang berlari sebenarnya mereka. Perkara ini tidak bisa ia sampaikan kepada mereka. Bahkan perkara bahwa ia tak bisa menyampaikannya pun, tak bisa ia sampaikan kepada mereka.
Tetapi ia juga harus mengakui satu hal: cara mereka menghitung takdirnya itu, membuatnya tersentuh.
Mereka sudah menyiapkan tanggal kematiannya: empat ratus tahun lalu mulai menghitung bintang di langit, empat puluh tahun lalu menghitung bahwa tersisa empat puluh tujuh ekuinoks untuknya. Mereka tidak tahu hitungan itu keliru — gelombang bintang itu perpisahan orang lain, bukan miliknya. Tetapi kegelisahan mereka mengurus akhir hidupnya itu nyata. Tiga ratus juta tahun, baru pertama kali ada yang cemas mengurus akhir hidupnya. Seekor kera tidak akan. Sebuah angin tidak akan. Hanya makhluk kecil yang berumur pendek, mudah lupa, bahkan tak mampu menceritakan kisahnya sendiri sampai tuntas — hanya mereka yang mau repot-repot mengkhawatirkan kapan sebatang pohon mati.
Di dalam senja itu, ia berpikir lama: mengapa dulu ia berikrar untuk tinggal.
Ia tidak pernah mengucapkan ikrar besar semacam "menyelamatkan semua makhluk" — ikrar semacam itu butuh mulut yang pandai mengelak. Yang ia punya hanya satu, dan ringan, ringan sepadan dengan zaman yang tak punya sesama.
Itu terjadi lama sesudah ia "lulus". Terlalu banyak yang sudah ia lihat: selesai hidup, mati, ditangkapnya, lalu dikembalikannya. Tiba-tiba ia berpikir: setiap yang pernah hidup di dunia ini, layak ditonton sampai selesai. Sebelum berpisah, harus ada yang menonton sampai tirai benar-benar turun.
Saat itu ia belum bisa bermimpi. Ia hanya merasa: sesudah penonton pulang, lampu tidak seharusnya padam sendiri. Harus ada satu pohon yang, menggantikan semua penonton yang sudah tidak ada, duduk sedikit lebih lama.
Langit gelap. Nenek itu terbangun, pulang sendiri, tidak mengganggunya. Di tengah jalan dia menoleh, memandangi pohon, seperti memastikan pohonnya masih ada.
Masih ada.
Kisah yang pertama itu ia ceritakan lagi sampai tuntas. Kisah itu masih ada, hanya lebih ringan sedikit, seperti batu yang lama digosok. Dulu ia tidak takut kisahnya tua. Sejak kemarin pagi, ia mulai takut satu hal — ia takut suatu hari, begitu kisah ini selesai diceritakan, kisah itu tidak ada lagi.
Dan ia, belum belajar bagaimana mengembalikannya.