Bawah Kanopioleh 环形废墟

Prolog · Da Qing

Bab 1 · 6,7 rb kata

Orang-orang memanggilnya Da Qing.

Semua yang tinggal di lembah ini hidup di bawah warna hijau itu. Di musim semi ia hijau, di musim panas pun hijau; sesudah salju turun, saljunya putih, tetapi warna itu tetap hijau. Mereka mengira hijau berarti muda. Ia tidak mengoreksi. Membuat satu benda tampak muda adalah pekerjaan paling hemat tenaga yang ia pelajari seumur hidupnya — jauh lebih hemat daripada menjelaskan. Menjelaskan harus membuka mulut.

Yinchuan terhampar di bawah kakinya. Tiga ratus dua belas kepala keluarga, satu bengkel pandai besi, sebuah sekolah desa, satu menara tinjau bintang yang dari sana cuma tampak beberapa butir bintang. Hari-hari manusia membelitnya seperti akar: pesta pernikahan digelar di bawah naungan, penguburan pun berakhir di bawah naungan, mengembalikan orangnya ke tanah. Mereka tidak bilang "dikubur", mereka bilang "dikembalikan". Orang mati di bawah akarnya, seolah pernah meminjam sesuatu dan kini harus mengembalikannya. Tak seorang pun ingat kebiasaan itu berasal dari mana — jauh lebih tua daripada Pagembalian. Ketuanya, He Song, menyebutnya gerbang kelahiran-kembali; separuh desa percaya. Ia tak berkata-kata, maka tak bisa memberi tahu mereka: gerbang itu adalah dirinya. Beribu-ribu tahun mereka berdiri di dalam gerbang, satu kaki di dalam, satu kaki di luar.

Ia tidak mencatat hari-hari manusia; hari mencatat dirinya sendiri, dan ia hanya berdiri di tempat hari-hari itu lewat. Tetapi lebih dari seribu tahun, hari-hari sebuah desa punya bentuk, dan betapa pun ia ingin melupakan, bentuk itu tak mau hilang: lonceng sekolah membukanya, palu pandai besi memahatnya — lonceng dari besi, palu juga dari besi; yang satu membangunkan hari, yang satu memaku hari — dan di ujungnya, lampu-lampu menyala satu demi satu, dari timur desa ke barat desa, seperti sebuah desa lain yang dibangun dari api, yang hanya bangun di malam hari. Orang Yinchuan mengira pohon di ujung desa itu berdiri di luar hari-hari mereka. Bukan. Tak ada satu pun benda di lembah ini yang tak pernah lewat di bawahnya. Ia menangkap setiap kalimat — seperti menangkap cahaya: tak bisa dipilih, tak bisa dibuang.

Pagi ini, Nenek Liu lagi-lagi mengajukan pertanyaan yang kemarin sudah ia tanyakan sendiri, di bawah akar: "Da Qing, katakan, masihkah Liu tua ingat jalan pulang?"

Liu tua adalah suaminya; sudah dua puluh dua tahun sejak dia dikembalikan ke tanah.

Ingatannya kini mudah lenyap, tetapi lenyapnya ringan, seperti air mengalir di atas batu: batunya tetap batu, hanya makin membulat. Seusai bertanya, ia menjawab sendiri: "Ingat. Liu tua hafal jalan. Tidak ada yang lebih hafal jalan daripada dia." Lalu ia menepuk kulit pohon, seperti menepuk kawan lama, dan pulang menghangatkan bubur untuk Xing.

Xing adalah penghuni lain di tubuhnya. Dua belas tahun; memanjat pohon adalah salah satu caranya hadir di dunia. Pagi ini, ketika dia sampai di lapisan dahan ketiga, sebiji kancing jatuh dari sakunya — dia mengumpulkan benda-benda yang suka jatuh: bulu, kulit riang-riang, potongan kertas yang tertiup dari tempat lain. Kancing itu menggelinding masuk ke satu bekas luka tua di batangnya — terlalu tinggi untuk dijangkaunya. Dia menghela napas. "Sudahlah. Buatmu saja." Dia tak tahu: pohon ini pernah menerima barang yang jauh lebih berat dari sebiji kancing.

Semua yang dikumpulkannya tersimpan dalam satu kotak kayu di balok rumahnya. Dia pernah menceritakan tata tertibnya: bulu disusun menurut tahun, kulit riang-riang menurut keutuhan, kertas menurut "berat rindu". Yang terakhir tidak bisa ditimbang, katanya, sebab itu kertasnya paling banyak. Saat menangkap kalimat itu, ia teringat: di tubuhnya sendiri pun ada koleksi — dua buah batu itu. Anak ini tidak tahu: ia dan dia menjalankan usaha yang sama, koleksi yang sama — menjadikan barang yang sudah tidak dikehendaki orang lain sebagai nyawa.

Saat senja, Meng Guan turun dari menara tinjau bintang. Dia tidak lewat di dekat pohon; dia hanya berdiri di kejauhan, mengarahkan mistar bintang tuanya — chi itu — ke satu titik di langit, dan berdiri begitu lama. Ada bau tertentu pada dirinya: bau kayu dan kertas yang sudah tiga puluh tahun dipakai. Dia bukan datang untuk menyembah pohon. Semua orang Yinchuan lewat di sisinya; hanya dialah yang melewatinya seperti melewati benda yang harus diukur.

Pagi ini ia "menangkap" sinyal yang juga ditangkap Meng Guan — merambat di sepanjang akar, di sepanjang jala di dalam tanah yang sepuluh ribu kali lebih luas daripada desa, bergetar naik sampai kepadanya. Getarannya ringan. Seperti seseorang mengetuk pintu dari seberang galaksi.

Dunia manusia mencatatnya sebagai garis spektrum: sebuah bintang yang seharusnya meredup, sesaat sebelum padam, sempat menyala sekilas.

Meng Guan menulis di buku catatannya: galat.

Bukan galat. Ia mengenal getar itu. Itu sinyal mekar — di sebuah sekolah yang jauh, sang penjaga yang bertahan hingga detik terakhir akhirnya mengucapkan kalimat perpisahannya. Cahayanya menempuh perjalanan bertahun-tahun untuk sampai ke sini, maka yang ia tangkap pagi ini adalah perpisahan yang berangkat bertahun-tahun yang lalu. Di wilayah ini, selama empat ratus tahun, dunia manusia sudah mencatat perpisahan begitu lebih dari seratus kali, dan setiap kali mereka menulis: bintang lain yang mati.

Empat ratus tahun yang lalu, untuk pertama kalinya mereka memasukkan bintang seperti itu ke dalam buku. Sejak malam itu, lewat akarnya ia merasakan desa berubah. Dulu mereka juga menengok langit; yang dicari ialah firman dan nasib panen. Sejak malam itu, yang dicari ialah tenggat. Tenggat lebih menakutkan daripada firman — firman masih bisa dibalas dengan nazar, tenggat hanya bisa ditunggu. Mereka tidak salah melihat: memang ada yang sedang berakhir. Yang mereka salah lihat: yang berakhir itu bukan berada di langit; ia berada sangat jauh, sedang menyerahkan baik-baik pelita yang dikumpulkannya seumur hidup. Di balik sebuah lensa, perpisahan dan kabar kematian berwajah sama: keduanya pelita, dan padam. Hanya tangan yang melepaskan bisa membedakannya. Dan orang yang berpisah, tak pernah menyisakan satu kalimat penjelas pun.

Di malam hari ia menghitung (ia tidak menghitung angka; ia mengenal getar) — yang tersisa, tidak banyak lagi.

Ada satu hal lagi. Pagi ini, sesuai kelaziman, ia meraih tegukan pertamanya — ingatan itu. Ia ingat warna langit yang pertama, seperti orang mengingat seteguk air yang diminum sebelum ia mengenal kata "haus". Rasa seteguk air itu adalah jangkar seluruh tubuhnya; tiga ratus dua puluh juta tahun, setiap fajar ia mengangkatnya dari dalam air, mengulumnya sedikit, dan fajar pun tiba.

Tindakan itu bukan pikiran. Ia lebih tua daripada pikiran; tindakan pertama yang ia lakukan setiap hari, seperti orang yang tidur seumur hidup di satu rumah dan tetap menemukan ambang pintu dalam gelap. Ada pagi ketika air naik sekali jalan: utuh, hangat, dikulum, dan fajar tiba. Ada pagi ketika ia lambat; ia menunggu, sabar seperti sediakala, menunggu air mengapung sendiri ke permukaan — dan ketika sampai, fajar biasanya sudah setengah jalan, maka cahaya hari itu terasa tak murni. Tiga ratus dua puluh juta tahun, belum pernah sekali pun ia menunggu selama ini.

Pagi ini ia meraih. Raihannya kosong.

Airnya masih di sana; ia tahu airnya ada. Tetapi akarnya, untuk pertama kalinya, gagal mengulumnya.

Tiga ratus dua puluh juta tahun, baru kali ini raihannya kosong.

Di tubuhnya melekat dua buah batu — tidak berbuah, tidak gugur. Xing menyebutnya "benjol kusta"; He Song menyebutnya pengetuk di pintu gerbang kelahiran-kembali. Mereka tidak tahu: itu dua kalimat yang ia simpan ketika masih muda. Kalimat yang disimpan tanpa diucapkan lama-lama mengeras. Ia berpikir sejenak: mungkin sudah saatnya keduanya diucapkan — sebelum ia melupakan keduanya.

Tetapi ia tidak punya mulut.

Seumur hidupnya, yang tidak pernah habis adalah waktu. Untuk pertama kalinya, waktu terasa sempit.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk