Gemaoleh 环形废墟

21 · Siapa yang Menulis

Bab 21 · 10,1 rb kata

[ARSIP GEMA · LAPISAN 3 · 51.9% TERDEKODE · KUNCI: SUARA LANGSUNG DARI SIARAN UPACARA PEMBUKAAN OLIMPIADE MUSIM PANAS 2008]

Hari ke-248, pukul 03.11.44, anak tangga ke-251. Tanpa bingkai.

Malam membeku, siang mencair separuh; jalan di pelataran satu lapis es satu lapis air. Perpipaan ruang boiler selesai diganti, pemanasnya datang, panasnya kelewat-panas; satu jendela ruang rapat dibuka sedikit celahnya, udara dingin dari luar dan udara hangat dari dalam berkelahi di celah kaca itu sampai mengeluarkan satu lapis kabut.

Setelah blok hitungan sinyal pendamping terdekode, tinggal satu segmen yang tak disentuh siapa pun. Di ujung ekor struktur blok itu menggantung satu segmen kecil, panjangnya kurang dari sepersepuluh blok utamanya; semula kami menganggapnya pengisi. Pengisi tak seharusnya membawa kata sinkron. Yang ini membawa.

Hari-hari itu atasan mendesak satu perkara lain. Sudah sebulan penuh tanpa bingkai, mereka minta satu penilaian: jeda ini bersifat teknis, atau ada yang lain. Suratnya tiba di institut; kolom penerbitnya masih kosong, penutupnya cuma satu kode lembaga. Zhou Yansheng meneruskan surat itu kepadaku dan grup orbit, diselipinya satu kertas kecil: tulis yang bisa dihitung saja.

Yang bisa dihitung kutulis dua baris: pembawa ada. Anak tangga daya naik seperti biasa. Selain itu tak sanggup aku tulis. Saat Shen Yi datang mengambilnya kedua baris itu dibacanya dua kali, lalu ia berkata, "Segini saja." Kubilang, "Segini saja." Kertas itu ia lipat, katanya, "Atasan tak bisa menunggu yang tak diketahui." Kubilang, "Kalau begitu mereka menunggu saja." Ia melirikku sekali, tak menyambut, membawa kertas itu pergi.

Hari ke-250, Pak Lu memotong segmen ekor itu keluar sendiri. Sambil memotong ia berkata, "Barang di ekor jangan dibuang; yang menggantung di ekor biasanya label."

Setelah dipotong, lebih dulu diselaraskan. Kata sinkron yang sama, posisi kemunculannya tetap, sekali tiap menit, menempel di ujung blok hitungan. Isinya tak panjang; didekode kurang dari empat puluh bita. Pak Lu menyalinnya di atas kertas, membacakannya baris demi baris untukku.

Tiga entri katalog.

B-001, 1987, TV, CN.

B-002, 2008, OG, OPEN.

B-003, 2021, NET, CLIP.

Dua entri pertama kami kenal: kunci yang menyusulkan Lapisan 1 sampai menyamai Lapisan 2, dan yang menyusulkan Lapisan 2 sampai menyamai Lapisan 3—benda petunjuk itu dulu datang dari segmen pembuka bingkainya, semuanya ada di dalam arsip. Entri ketiga belum pernah datang. Bingkainya berhenti di hari ke-188; yang ini tersimpan di belakangnya, belum kebagian giliran.

Di belakang tiap entri katalog mengikuti satu segmen sidik suara. Segmen B-003: satu koma tujuh detik.

Pak Lu memakai penangan kepalanya, mendengarkan sekali, melepasnya, lalu berkata, "Bersih." Katanya, "Tak pernah lewat siaran, tak pernah lewat meja mixer; suara ini keluar langsung dari dalam satu berkas termampatkan."

Kutanya, "Keluar langsung itu bagaimana."

Ia berkata, "Suara di dalam TV semuanya melewati mesin sekali; yang lewat mesin membawa bau mesinnya. Yang ini tidak." Katanya, "Ini barang dari internet."

Sidik suaranya dikirim ke kolam; tiap stasiun membandingkan secara terpisah. Dua hari menunggu hasil, institut berjalan seperti biasa. Drama lama di kantin sampai ke episode terakhirnya; sehari sesudah episode terakhir, stasiun mulai menyiarkan ulang yang lain. Ada yang berkata di meja makan, "Memutar-memutar ya yang itu-itu juga." Tak ada yang menyambut. Di rumah jaga, Tong mengelap kartu pos yang ketujuh sekali lagi; bagian yang dulu ternoda air salju sudah kering sepenuhnya, mengerut.

Pekan itu Nian belajar satu lagu di sekolah; pulang, dinyanyikannya untukku—dua baris berlalu, liriknya hilang, ia berhenti. Latihan pianonya sudah sampai separuh bawah halaman dua lagu barunya; ada satu baris legato yang tak pernah bisa ia buat rata. Ia berlatih empat kali; kelima kalinya sudah rata. Ia tak berkata bahwa ia memainkannya dengan benar. Kutanya, sudah rata belum. Ia berkata, "Mama bisa mendengarnya?"

"Sudah rata," kataku.

Ia berkata, "Kalau begitu tak usah dimainkan lagi." Ia turun dari bangku pianonya, meraih jeruk di ambang jendela.

Ia berkata, "Ada yang bilang di kelasku, drama TV itu sudah tamat. Ada yang bilang belum tamat, masih ada musim keduanya."

Kubilang, "Drama TV yang mana."

Ia berkata, "Itu tadi." Katanya, "Yang satu episode tiap hari itu."

Kubilang, "Siapa yang bilang."

Ia berkata, "Kata kakak kelas." Katanya, "Kakak kelas tahu segalanya."

Jeruk itu ia kupas, dipatahkannya separuh untukku. Jeruknya asam. Kami berdua tak mengatakannya.

Dua hari itu, di luar ada satu koran melakukan satu hal: mencetak ulang hari-hari Agustus 1936 satu per satu—yang dicetak halaman koran hari itu juga tahun itu, diperkecil menjadi seperempat halaman, iklannya pun ikut dicetak. Edisi hari pertama habis terjual dalam setengah hari; cetak ulangannya berganti kertas menjadi kuning. Tong membawa satu lembar masuk dari rumah jaga, membentangkannya di atas meja untuk dipandangi orang. Lao Song memandanginya beberapa lama, lalu berkata, "Orang tahun itu tak tahu harus menelepon ke mana; iklannya penuh alamat." Tak ada yang menyambut kalimatnya itu, tapi semua memandanginya lebih lama.

Di ruang arsip, Ye Zhen menulis kartu untuk enam puluh satu toko itu. Di hari tanpa pemasukan ia menulis kartu: satu toko satu kartu, kertas keras, di atasnya disalin jumlah entrinya, tahun-tahunnya, rapat-jarangnya. Saat aku datang mengembalikan buku, ia sedang menulis kartu yang keempat puluh. Ia berkata, "Kartu tak masuk pustaka; kartu ya kartu." Katanya, "Yang di dalam pustaka menunggu untuk dicari; kartu dipajang menunggu untuk dipandangi orang." Tumpukan yang selesai dijepitnya dengan penjepit besi, ditegakkannya di ambang jendela—sebaris putih.

Tengah hari Adebayo menerima satu telepon. Saat ponselnya berdering ia ada di kantin; bakinya dibawanya keluar untuk menerima, berdiri di koridor. Saat kembali nasi di bakinya ia habiskan; tak berkata perkara apa. Sore harinya ada yang melihatnya merokok di ruang tangga; dulu ia tak merokok. Bungkus rokok itu tergeletak di ambang jendela sampai jam pulang; tersisa lebih dari separuh bungkus, dibawanya saat pergi.

Hari ke-253, hasil pembandingan itu kembali. Di pihak S-08 ada satu arsip suara internet; milik swasta, sudah belasan tahun mengumpulkan suara latar video-video pendek. Cocok. Sampel satu koma tujuh detik itu: satu suara manusia, satu bunyi "ei" yang ditarik panjang. Pertama kali muncul Maret 2021; dalam dua tahun sesudahnya dipakai ulang tiga ratus ribu lebih kali. Video-video yang memakai ulangnya tak satu pun pernah tayang di TV.

Di papan pengumuman hanya digantung parameternya, tanpa komentar. Di bawah parameter, seperti biasa, satu baris huruf kecil: sampel pembandingan tidak dipublikasikan.

Sore hari ke-256, grup SC mengadakan rapat; lagi-lagi sebelas petak. Agenda kali ini cuma satu butir: meletakkan tiga tahun itu di atas satu lembar kertas.

1936, 1987, 2008, 2021.

Dari tahun pertama ke tahun kedua: berselang lima puluh satu tahun. Dari yang kedua ke yang ketiga: berselang dua puluh satu. Dari yang ketiga ke yang keempat: berselang tiga belas.

Selang-selang itu kubacakan sekali. Selesai membaca kukatakan, "Empat titik, tiga selang—tak membentuk satu pola pun."

Yang memimpin bertanya, "Kalau begitu apa yang bisa dikatakan."

Kubilang, "Kecenderungan."

Di layar ada yang membalik kertas. Satu petak bertanya, "Entri yang terbaru ini, berjarak berapa tahun dari hari ini."

Kubilang, "Delapan belas tahun."

Petak itu tak bertanya lagi. Yang memimpin membacakan notulensinya sekali; sampai dua aksara "kecenderungan" itu ia berhenti sebentar, lalu bertanya, "Ditulis persis begini." Tak ada yang keberatan. Begitulah yang masuk ke dalam notulensi.

Shen Yi masuk pada paruh kedua, berdiri di sisi pintu. Saat ia masuk layar sedang berganti ke halaman B-003. Ia bertanya, "Dua aksara 'kecenderungan' itu, bisa tidak masuk ke dalam naskah penilaian."

Kubilang, "Tidak bisa."

Ia berkata, "Kalau begitu apa yang ditulis di dalam naskah penilaian."

Kubilang, "Tulis empat tahun, tiga selang. Selain itu jangan tulis apa pun."

"Baik," katanya.

Ia berdiri di sisi pintu, tak bersuara lagi. Zhou Yansheng duduk di tengah meja panjang; cangkir tehnya di depan penuh. Sebelum rapat bubar ia mengulurkan tangan mengangkatnya; cangkir itu bergoyang sekali di tangannya, sedikit air tumpah ke atas notulensi—tepat di sudut angka 2021. Ujung lengannya dipakainya menekan-nekan, kertasnya ditiupnya, lalu ia bangkit dan pergi. Tak ada yang berkata apa pun. Bekas air itu mengering menjadi satu cetak samar.

Sebelum rapat bubar, Ye Zhen mengangkat tangan. Ia bukan orang grup SC; hadir sebagai pendengar, duduk di sisi. Ia berkata ada satu pertanyaan—untuk siapa, ia sendiri tak tahu; ditanyakan saja lebih dulu.

Ia berkata, "Bunyi 'ei' itu, ia kumpulkan." Katanya, "Satu koma tujuh detik dari internet, dan dikumpulkannya serinci ini." Katanya, "Kalau begitu hal-hal yang tertulis di atas kertas bagaimana. Buku besar, kartu, catatan yang ditulis orang di dalam buku—dikumpulkannya atau tidak."

Yang memimpin berkata, "Pertanyaan ini melampaui agenda."

Ye Zhen berkata, "Aku tahu." Katanya, "Aku hanya meletakkannya di sini."

Tak ada yang menjawab. Tangannya ia turunkan; layarnya tak dipandanginya lagi.

Setelah rapat, di tangga, Adebayo mengeluarkan kertas itu dari bawah papan tutsnya. Tiga kotak: 1987, 2008; kotak ketiga kali ini ada tulisannya—2021. Ditulis sebelum rapat; goresannya dalam sekali, dari punggung kertas masih bisa diraba.

Ia berkata, "Yang kupasang kena."

Kutanya, "Kapan kau menulisnya."

Ia berkata, "Semalam." Katanya, "Kuberpikir semalaman: dua kunci pertama berselang dua puluh satu tahun; berselang dua puluh satu lagi tak cocok, berselang separuhnya juga tak cocok." Katanya, "Kemudian kulihat gambar milikmu—makin dekat saja." Katanya, "Jadi kutulis 2021."

Kubilang, "Tak ada yang bertaruh denganmu."

Ia berkata, "Aku tahu." Katanya, "Tersisa aku seorang diri yang masih memasang."

Kertas itu ia lipat, dimasukkannya ke saku bajunya. Turun dua undak ia menoleh kembali, berkata, "Sudah kauhitung belum—arsipnya berhenti pada hari yang mana."

Kubilang, "Dua puluh enam September."

Ia berkata, "Betul." Katanya, "Ia mengumpulkan barang sampai delapan belas tahun ke belakang; arsipnya cuma tertulis sampai empat puluh hari ke depan." Katanya, "Kalau penanya berhenti, selisihnya takkan seluber ini."

Ia berkata, "Ia belum selesai menulis."

Ia berkata, "Ia sedang menulis sambungannya."

Selesai mengatakan kalimat itu ia turun; lampu koridor padam satu per satu di belakangnya. Kuberdiri sebentar di tempatku. Dari sebelas petak itu ada satu petak yang di dindingnya tergantung jam—petak yang lambat enam jam itu; sebelum rapat kulihat ada yang mengganti baterai jam itu. Diganti baterainya, lambatnya tetap enam jam.

Malam itu aku yang jaga. Paruh kedua malam kunyalakan radio Red Lantern, kuputarkan ke gelombang pendek, kucari satu skala demi satu skala. Di dalam desis ada stasiun yang memutar musik, ada yang membacakan kitab, ada yang sama sekali tak ada apa-apanya.

Pada satu skala, ada suara wanita menyebut angka. Satu, dua, tiga. Suaranya tak tinggi, disebutkannya sangat rata.

Buku frekuensi ayahku terbentang di atas meja. Halaman catatan lamanya sudah berkali-kali kubaca: stasiun tak dikenal, suara wanita, menyebut angka, berhenti di tujuh.

Empat, lima, enam, tujuh.

Berhenti. Beberapa detik kemudian stasiun itu mulai memutar musik—sepenggal akordeon.

Di bawah catatan lama itu kutulis: 3 Desember, sama.

Selesai menulis volumenya kukecilkan, tidak kumatikan. Di luar jendela es mencair lalu membeku lagi; separuh bawah kacanya terselubung satu lapis bulu halus. Lapisan bulu itu kuhadapi sebentar, lalu baris terakhir buku jaga kulengkapi: hari ke-256, tanpa bingkai. Anak tangga naik seperti biasa.

<!--NOTES-->

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk