[ARSIP GEMA · LAPISAN 3 · 51.3% TERDEKODE · KUNCI: SUARA LANGSUNG DARI SIARAN UPACARA PEMBUKAAN OLIMPIADE MUSIM PANAS 2008]
Hari ke-186, pukul 03.11.44, anak tangga ke-189.
Air panas ruang boiler sudah hari kesembilan terputus. Katanya tiga hari; tiga hari menjadi enam, enam menjadi sembilan. Di balik pintu rumah jaga tertempel selembar kertas, tulisan pensil: mandi-mencuci masing-masing sendiri. Tulisan tangan Tong.
Pukul 6.40 tiba di institut. Lampu koridor harus dihentakkan. Jam perekam VCR tua masih cepat sebelas menit; tak ada yang menyetelnya, tak ada pula yang lagi menyebutnya.
Kepala tabel buku catatan jaga: 24 September.
Pukul 7.20, bingkai 24 September masuk arsip, S-11 dan S-23. Lapisan 3: 33.841 baris. Pita kertas tempel yang ketiga, lembar enam puluh enam.
Segmen lokal dua entri. Satu, universitas lansia memulai masa belajarnya; kamera menyapu dari ruang kelas lantai satu sampai lantai tiga, jadwal yang tertempel di dinding koridornya ada kerajinan kertas dan paduan suara. Satu lagi, serah terima proyek pergantian lampu jalan; lampu baru berwarna putih, lampu lama kuning, diganti bergantian satu jeda satu, petugas pemeriksanya memegang buku sambil menghitung. Empat hal lama yang sama selesai; ringkasan dua baris, disampaikan pukul 10.
Tengah hari TV kantin menyala. Satu kabar singkat mengudara: daftar reservasi pembuatan berkas kehamilan musim gugur rumah sakit kebidanan kota sudah terisi sampai Maret tahun depan; pihak rumah sakit mengingatkan calon orang tua merujuk informasi arsip secara rasional, jangan berdesakan memilih tanggal yang sama. Selesai membacakan juru berita menambah satu kalimat: konsultasi kandungan rumah sakit itu belakangan naik empat puluh persen. Di bawah takarir ditinggalkan satu nomor telepon layanan, memakan dua baris.
Lao Song datang membawa baki, duduk, lalu berkata, "Memilih hari untuk apa."
Xiao Gao berkata, "Memilih anaknya kelak ada atau tidak."
Lao Song berkata, "Ya tetap harus bisa hamilnya dulu."
Xiao Gao tak tertawa. Ia berkata, "Sepupu perempuanku juga begitu. Semula Oktober, digeser ke bulan dua belas penanggalan Imlek." Ia berkata, orang tua kedua belah pihak memegang dua lembar kertas, mencocokkannya tiga malam, lalu kedua tanggal di Oktober dicoret semuanya. Sesendok sup diminumnya, lalu berkata lagi, tanggal kedua yang dicoret itu cuma beda tiga hari dari ulang tahun Kakekku.
Lao Song berkata, "Itu kan tidak bersebelahan."
Xiao Gao berkata, "Kata mereka, bersebelahan."
Mangkuknya diletakkannya; tak bicara lagi.
Lao Song meletakkan ponselnya di tepi baki; dua menit menunggu, yang keluar kali ini pemberitahuan kuota. Selesai dibaca dimatikannya, diselipkannya ke saku celana. "Besok aku pergi," katanya.
"Pergi ke mana," kataku.
"Kabupaten sebelah. Ke tempat mertuaku. Kusewa satu mobil, hari Minggu, di loket orangnya sepi," katanya.
"Ia bisa datang?" kataku.
"Datang sendiri. Duduk kursi roda pun ia tetap datang sendiri," katanya.
Selesai berkata ia makan sendiri. Hari itu sisanya hampir setengah mangkuk.
Pukul 3 sore, di rumah jaga Tong menemukan satu benda merah: undangan pernikahan, milik keponakannya. Tanggalnya pernah diganti sekali; tanggal semula dicoret pena merah, coretannya tidak berat, angka di bawahnya masih terbaca, dan di sampingnya ditulis angka baru. Kata Tong, tanggal semula itu bertabrakan dengan satu nama di kolom itu. Katanya, di keluarganya ada yang paham urusan begini; dua lembar kertas dicocokkan untuk memilih. Undangan itu didirikannya di ambang jendela, bersandar pada barisan kartu pos.
Di toko seberang institut, pintu kacanya bertambah satu baris lagi, yang keempat. Tiga baris pertama: pencarian arsip, hasil di hari yang sama, pencarian daftar perusahaan sekali 4.800. Huruf baris keempat lebih kecil daripada baris-baris di atasnya: konsultasi susulan data, harga menurut kesepakatan. Sore itu di depan pintu berdiri lima orang, satu di antaranya menggendong anak. Di antara yang keluar, ada satu yang memegang kertasnya menyamping. Tong melihatnya dari rumah jaga, berkata, sekarang mereka juga mengeluarkan yang tegak; pekan lalu masih menyamping.
TV tengah hari masih ada satu lagi, dua kalimat: ada daerah yang menginstruksikan lembaga medis, informasi yang tercantum di arsip tidak boleh dijadikan dasar penerimaan pasien dan pembuatan berkas kehamilan; yang sudah membuat reservasi tidak terpengaruh. Selesai dibacakan langsung lewat; tanpa gambar, hanya takarir.
Di luar tiga tumpuk surat rumah jaga, di dalam ikatan yang dibawa mobil pos terselip dua lembar iklan kecil, seukuran kartu nama, kertas art karton. Tulisannya: susulan data dikerjakan, delapan ratus yuan satu entri, berlaku bulan ini. Tong menarik keduanya keluar, tak dimasukkan ke tumpuk mana pun, ditekannya di bawah penghitung. Katanya, ini tidak terhitung surat. Katanya, tumpuk surat marah menipis; pekan ini berkurang hampir setengah tumpukan kecil. Tumpuk yang meminta susulan menebal. Ia menunjuk ke kanan; tumpuk tambahan di kanan itu dijepit terpisah dengan satu klip.
Hari ke-187, pukul 03.11.44, anak tangga ke-190.
Hari Minggu. Tanpa kupanggil, pagi-pagi Nian sendiri duduk di bangku piano, memainkannya dua kali. Yang kedua salahnya lebih sedikit. Selesai main ia pergi bercermin, membuka mulut memandangi beberapa lama, lalu berkata, sudah keluar lagi sedikit.
Sore kami pergi ke pasar. Di jalan kulintas satu toko gaun pengantin; kacanya bersih sekali mengkilap, di depan pintunya berdiri satu spanduk gulung, tercetak: hari baik pilihan, perhitungan gratis, di bawahnya satu baris huruf kecil: hindari hari kematian. Di samping spanduk gulung itu tertempel lagi satu tulisan tangan: jadwal Oktober penuh. Di dalam toko semua lampu menyala; tak ada seorang pun.
Nian bertanya, "Untuk memotret yang begitu harus memakai rok sebesar itu?"
Kubilang, "Harus."
Ia bertanya, "Mama pernah memakainya?"
Kubilang, "Tidak pernah."
Ia bertanya, "Kalau begitu waktu menikah Mama memakai apa?"
Kubilang, "Baju merah satu."
Ia bertanya, "Sekarang masih ada?"
Kubilang, "Di dalam lemari."
Ia tak bertanya lagi. Resleting jaketnya ditariknya sampai ujung, lalu dibukanya lagi setengah.
Di depan lapak ikan, dua orang sedang bicara, membahas hari. Satu berkata, di Oktober tak ada lagi hari yang baik; hari-hari yang baik sudah habis dipilih orang. Yang lain berkata, kalau begitu November; November masih dekat. Tangan yang menggantung timbangan tak berhenti; ikan di timbangannya masih meloncat. Penjual ikannya mendongak memandangi mereka sekali, lalu menunduk lagi menerima uang.
Malam itu kumasak kacang panjang. Nian berkata, kacang panjang lagi.
"Masih ada," kataku.
"Baiklah," katanya. Sumpitnya ia tata sendiri, ditatanya rapi.
Anak tangga pukul tiga malam Minggu, aku ada di rumah, tak kulihat. Pagi Senin kutanya, kata Xiao Gao, naik, sama seperti biasa, tak satu tingkat pun kurang. Katanya ia sengaja memandangi jamnya: 03:11:44.
Hari itu wali kelas Nian mengirim satu pesan, dua baris: jadwal ujian akhir semester tetap seperti biasa; beberapa waktu ini kurangi perjalanan yang tak perlu. Kalimat keduanya kubacakan untuk Nian; ia berkata, maksud gurunya kelas-kelas atas. Ia berkata lagi, di kelasnya ada lagi yang pindah sekolah; mejanya diangkut pergi, dua meja disatukan, sekarang menjadi tempat alat-alat sapu. Waktu berkata begitu ia sedang memilih jeruk; tiga dipilihnya, satu dikembalikannya.
Hari ke-188, pukul 03.11.44, anak tangga ke-191.
Kepala tabel buku catatan jaga: 26 September.
Saat menulis baris itu aku berhenti sebentar. Di tabel katalog Lapisan 2, hari terakhir yang masih berisikan sesuatu, adalah hari ini.
Pukul 7.20, bingkai 26 September masuk arsip, S-11 dan S-17. Lapisan 3: 34.265 baris. Pita kertas tempel yang ketiga, lembar enam puluh delapan.
Segmen lokal dua entri. Satu, pengumuman perubahan jadwal siaran stasiun ini mulai esok; tiga nama program dibacakan. Satu lagi, pemeriksaan jaringan pipa air sebelum musim dingin; ruas yang diperiksa terjadwal sampai akhir November. Empat hal lama yang sama selesai, disampaikan. Ringkasan bingkai ini, selesai kutulis di kolom ringkasannya, halamannya kubalik ke belakang. Kepala tabel halaman berikutnya, kosong.
Pukul 10 pagi, hari ketiga grup peninjauan. Dalam lingkup itu tujuh puluh lebih laga; baseband ditarik sekali putaran, dua laga didekode ulang, semuanya cocok. Adebayo duduk di kursi di luar ruang rapat menunggu, tabel tiga kolomnya terbentang di lutut. Komite memperoleh statistik pengunjung dari perusahaan penyelenggara laga, satu halaman sehari. Dari situ ia mengisi kolom keempatnya, petak demi petak.
Sampai baris 8 Agustus penanya berhenti sebentar. Di petak itu ia menulis lima puluh delapan ribu; selesai menulis tutup penanya dipasang, lalu dibuka lagi, dan di sampingnya disusulkannya angka sisanya: empat ratus.
"Datanya sudah datang," katanya.
Kubilang, hm.
"Pinjaman—kataku tidak salah. Memang pinjaman," katanya. Ia jeda sebentar, lalu berkata, saat dikembalikan, tabelnya tak perlu ikut.
Tabelnya disejajarkannya, dijepitnya kembali ke klip semula. Saat bangun sekalian didorongnya laci mejanya sampai rapat; di dalam laci itu ada dua amplop kertas kraft—tak kulihat, tapi kutahu ada di situ. Laga-laga yang lain tak ia sebut.
Pagi kuantar Nian ke sekolah. Sebelum keluar rumah partiturnya dibaliknya ke halaman pertama; katanya, minggu depan belajar lagu baru. Kutanya, lagu apa. Katanya, tidak tahu, gurunya belum bilang. Partiturnya ia tutup, ia selipkan ke saku samping tas sekolahnya; resleting saku itu macet di tengah, dua kali ia tarik, lalu beres sendiri.
Pukul 9 Lao Song datang. Ia tak pergi ke meja kerjanya lebih dulu; langsung ke barisan meja kantin dan duduk. Saat kami mendekat ia sudah mulai bercerita.
"Sudah jadi," katanya.
"Datang sendiri. Ia datang naik kursi roda, antre nomor tiga. Orang di loket berkata, kalau cap jempolnya tak jelas, boleh ditekan tiga kali," katanya.
"Ia menekan tiga kali. Yang ketiga bulat," katanya.
"Di kartu sekarang ada namanya," katanya.
Ada yang bertanya, berarti sudah terhitung?
Lao Song berkata, aku tidak bertanya terhitung atau tidak. Kartu makannya diselipkannya lebih dalam ke saku, lalu berkata lagi, aku tahu kartu itu kartu. Tapi di kartu itu ada namanya.
Tak ada yang menyambung. Makannya ia habiskan sendiri, tak sebutir nasi pun bersisa. Saat pulang ia lewat di rumah jaga, menyebutkannya kepada Tong; undangan di ambang jendela itu diangkat Tong, dilihatnya, lalu diletakkannya kembali. Tanggal yang sudah tercetak tak bisa diganti; keluarga keponakannya pun mencetak ulang sekumpulan, kertasnya diganti yang lebih tipis. Pinggirnya dicubit Tong untuk menimbangnya, lalu berkata, lebih ringan separuhnya.
Perempuan dari bagian keuangan naik lewat tangga membawa setumpuk formulir; yang paling atas bukan kuning, tapi putih. Katanya bulan ini formulir putih bertambah, yang kuning tak banyak.
Pukul 2.30 sore Ye Zhen datang memeluk satu tumpukan kertas; yang paling bawah dijepit klip, takut berhamburan. Tumpukan itu diletakkannya di mejaku; dua lembar paling atas ditariknya keluar.
"Sudah tersusun. Enam puluh satu, menurut jumlah entri dari terbanyak ke tersedikit, satu toko satu baris," katanya.
Lembar pertama berupa satu deret angka panjang. Jarinya menyusuri dari paling atas, berhenti di tengah.
"Peringkat empat puluh empat, seratus tujuh belas entri—itu tukang sepatu itu," katanya. Jari terangkatnya sebentang ke atas. Katanya, dari peringkat empat puluh lima ke bawah, di situlah batas ada dan tiadanya. Tujuh belas yang absen itu, paling banyak enam entri, semuanya di ujung sisi ini.
Kedua lembar itu disejajarkannya.
Katanya, kamu mau satu angka. Kubilang, sekarang bisa diberikan?
Katanya, belum bisa. Katanya, yang bisa kuberikan dua pinggiran. Kurang dari enam entri—empat belas dari tujuh belas. Lebih dari seratus tujuh belas—tak satu pun kurang. Katanya, di tengahnya kosong sebentang, selebar sekitar seratus entri. Satu bidang data tak terisi; harus menunggu bidang kedua.
Lembar kedua ditariknya keluar. Yang itu bukan susunan; beberapa baris tanggal.
Katanya, masih ada satu hal. Bulan ini, di ikatan surat rumah jaga, iklan kecil susulan data itu hitunganku sampai tujuh lembar. Di pintu toko bertambah baris keempat. Mertua Lao Song, dari lima entri menjadi enam. Katanya, entri yang disusulkan itu bentuknya beda dengan yang tumbuh sendiri.
"Beda bagaimana," kataku.
Katanya, entri yang tumbuh sendiri itu terputus-putus, belasan tahun, dua puluh tahun, ada yang rapat ada yang jarang; rapat ketika toko baru buka, jarang, sunyi senyap. Yang disusulkan, semuanya dalam beberapa bulan ini, satu menempel satu, satu tangan yang sama.
Tutup penanya dipasang.
Katanya, aku harus membuka satu kolom khusus di daftar susulan itu; kalau tidak, tiga tahun lagi tabel ini tak akan bisa dibaca lagi.
"Sekarang ada berapa orang di kolom itu," kataku.
"Termasuk kakakku, dua," katanya. Tumpukan kertas itu dipeluknya lebih erat.
Tumpukan itu dirapatkannya, dipeluknya pergi. Sampai di pintu ia berhenti sebentar, tanpa menoleh, berkata, namanya saja kolom itu: Susulan.
Pukul 5 sore Zhou Yansheng menungguku di kepala tangga. Katanya, besok kamu datang?
"Datang," kataku.
"Hm," katanya. Katanya, datang lebih awal.
Turun dua anak tangga ia berhenti lagi. Katanya, soal laporan itu, kamu tak perlu urus lagi.
Kubilang, hm.
Di tangannya kotak makan miliknya; satu kancing kotaknya hilang, dililit karet gelang. Ia turun lebih dulu.
Malam itu institut menambah makan; kantin memberi satu paha ayam ekstra untuk tiap orang. Tak ada yang menjelaskan sebabnya; yang ada di mangkuk sudah berkata. Shen Yi berdiri di pintu kantin, tanpa baki, memandangi bagian itu sampai selesai, lalu pergi.
Pukul 19, TV menayangkan orang itu. Ia adalah yang pernah dipanggil namanya oleh kolom itu—kolom obituari bulan April, baris ketujuh di dalam tiga puluh tujuh detiknya. Beritanya hanya memutar sembilan puluh detik pidatonya. Ia berumur delapan puluhan, berjas gelap, naskah di tangan, dibacakannya lambat sekali; sampai bagian bagaimana arsip menuliskan dirinya, ia berhenti, melipat naskahnya sekali, dan mendongak.
"Saya menolak," katanya.
Ia berhenti sebentar.
"Tak satu kata pun kuakui," katanya.
Naskah yang terlipat itu dimasukkannya ke saku dalam jasnya; berdiri di tempatnya, tak ada kata lain. Gambar tak langsung dipotong; dua detik ekstra diberikan padanya, dan dalam dua detik itu ia memandangi satu tempat di luar lensa.
Di kantin tak ada yang bersuara. Siaran memotong kembali ke studio; juru beritanya tertegun setengah detik, berkata, kami kembali sesaat lagi.
Ada yang bertanya, ia orang negara mana. Xiao Gao berkata, tak ditulis. Di bawah gambar hanya satu baris huruf kecil: rekaman media asing. Yang menyiarkan pun tak mencantumkan nama negaranya.
Pukul 19.30 siaran ulang. Yang ditonton Adebayo siaran ulang itu; katanya, jedanya memendek. Ada yang bertanya, jeda yang mana. Katanya, setelah selesai membacakan kalimat kedua ia berdiri di sana tanpa bersuara—di siaran langsung dua detik. Di siaran ulang tinggal satu detik.
Xiao Gao berkata, begitulah versi siaran; menyesuaikan waktu.
Adebayo berkata, yang dipotong persis dua detik itu.
Di belakang berita itu tersambung satu statistik penonton. Angka yang dibacakan juru berita: tiga miliar sembilan ratus delapan puluh juta, katanya penonton serentak untuk sembilan puluh detik itu—memecahkan rekor sejak benda ini ada. Xiao Gao dengan ujung sumpitnya menulis angka empat di atas meja, lalu menulis kata miliar di sampingnya; katanya, dirapatkan sedikit, jadi genap.
Tak ada yang menyambung.
Adebayo yang lebih dulu membuka mulut. Katanya, ia sudah membacanya.
Ye Zhen berkata, sekarang yang sudah membaca, bukan cuma dia.
Tak ada yang melanjutkan. Lao Song berdiri, membawa pergi bakinya. Tong datang dari arah rumah jaga, bertanya barusan dibicarakan apa; ada yang menceritakan kepadanya, dan penghitung di sakunya ditekannya sekali, tanpa bersuara.
Pukul 7.30 masing-masing pulang. Lampu ruangan di lantai tiga itu masih menyala; cahaya hangat menyisakan satu garis dari celah pintu. Pintu ruangan Shen Yi tertutup; celah bawahnya juga terang.
Saat aku turun, buku jaga terbentang di meja. Petak 26 September itu penuh tertulis. Petak besok, tak kutahu harus menulis apa.
Sampai rumah pukul 10, Nian sudah tidur. Kuberhenti sebentar di depan pintu kamarnya; lampu tidurnya dimatikannya sendiri, tepi selimut terjepit di bawah tubuhnya. Kaus kaki untuk besok tersampir di sandaran kursi. Weker kusetel lebih awal sepuluh menit; mangkuk kucuci, tungku kulap, lalu tidur.