Gemaoleh 环形废墟

17 · Komite Deviasi

Bab 17 · 13,6 rb kata

[ARSIP GEMA · LAPISAN 3 · 50.3% TERDEKODE · KUNCI: SUARA LANGSUNG DARI SIARAN UPACARA PEMBUKAAN OLIMPIADE MUSIM PANAS 2008]

Hari ke-183, pukul 03.11.44, anak tangga ke-186.

Dua malam lalu aku pergi menghadiri rapat orang tua. Di dalam kelas ada tiga puluh meja; orang tua yang datang tujuh belas, duduknya renggang. Di samping mimbar tertempel jadwal pelajaran; petak Rabu sore kosong, dilingkari pensil oleh tangan seseorang. Gurunya membahas tiga hal: banyak yang izin, piknik musim gugur dibatalkan, ujian akhir semester dimajukan seminggu. Selesai membahas ada yang mengangkat tangan, bertanya ke depan masih ada ujian atau tidak. Gurunya memasukkan kapur tulis ke dalam kotaknya, berkata: seperti biasa. Orang itu kembali duduk.

Daftar hadir sampai ke tanganku; di kolom "hubungan dengan murid", yang di depan ada yang menulis ibu, ada yang menulis ayah, ada yang menulis kakek. Kutulis ibu, penanya kuberikan kembali.

Di jalan pulang Nian bertanya, gurunya mengatakan apa. Kubilang, mengatakan piknik musim gugur kalian dibatalkan. Ia menjawab, oh. Katanya, sebenarnya aku memang tak ingin ikut. Beberapa langkah ia berjalan, lalu berkata lagi, kalau Mama izin gajinya dipotong tidak? Kubilang, tidak dipotong. Katanya, kalau begitu besok Mama masih mengantarkan aku? Kubilang, mengantar.

Pukul 6.40 tiba di institut. Lampu koridor harus dihentakkan; dua kali kuhentakkan. Di rumah jaga Tong sedang membuka satu amplop; penutupnya dicap melintang di sambungannya. Katanya, dari kolam, empat negara menandatangani bersama. Penghitung di mejanya ditekannya sekali.

Buku catatan jaga terbuka; di kepala tabel, tanggalnya kutulis: 21 September. Selesai menulis tutup penanya kupasang.

Pukul 7.20, bingkai 21 September masuk arsip, S-11 dan S-23. Lapisan 3: 33.205 baris. Pita kertas tempel yang ketiga, lembar enam puluh tiga.

Segmen lokal dua entri. Satu, penggarisan lapak pasar malam; nomor lapak tersusun dari timur ke barat, cat putihnya baru, di ujung paling barat nomor pada satu tiang pembatas terbalik arahnya. Satu lagi, satu kantin komunitas mulai buka; di depan pintu antre belasan orang, di ujung ekor antrean seorang anak berdiri di bibir trotoar. Empat hal lama yang sama dikerjakan lebih dulu; ringkasan kedua entri itu disusulkan pada waktu istirahat siang.

Pukul 8.10 pemberitahuannya ditempel. Di dalam kolam dibentuk Grup Peninjauan Bersama Entri Deviasi; tiap negara anggota mendirikan sub-lokasi, sub-lokasi institut kami ditempatkan di ruang rapat lantai dua. Entri diberi nomor mulai DV-001. Kolom penutup tak memuat nama orang tertentu; hanya empat nomor stasiun.

Pukul 8.55 Shen Yi masuk ke ruang rapat. Di bawah lengannya dijepitnya satu map berlapis keras, abu gelap; di punggungnya tertempel label cetakan, dua huruf, DV. Map itu diletakkannya di kepala meja panjang; ia duduk di sebelahnya, dan keempat pena di meja dirapatkannya mengarah ke satu sisi.

Pukul 9 tepat sambungan video tersambung. Di layar sebelas petak. Satu petak masih dini hari; orangnya berselimut selimut di bahu, hanya separuh tubuhnya kelihatan. Di belakang satu petak lain ada orang lewat membawa gelas; tak ada yang menoleh. Mikrofon berbunyi satu per satu, melaporkan nomor stasiun masing-masing—sebelas petak, sebelas kali. Satu petak punya jam tergantung di dinding, lambat enam jam daripada jam di dinding kami.

Yang memimpin bergilir; kali ini S-19. Prosedur dibacakannya sekali putaran, lima butir seluruhnya. Saat membaca butir ketiga, satu petak di layar mengangkat tangan, bertanya dua huruf DV itu singkatan dari apa. Yang memimpin menjawab, entri. Petak itu menjawab, baik, lalu menurunkan tangannya. Petak lain bertanya, batas peninjauan sampai mana. Yang memimpin menjawab, menurut entri, bukan menurut hari. Petak itu pun menurunkan tangannya.

Kelompok pertama berisi dua entri.

DV-001, 24 Juli 2079. Di tabel tertulis Nanpu 2:0 Baihe; di bingkai 1:1. Barang bukti empat: satu salinan baseband mentah, satu catatan pemeriksaan lima langkah, satu halaman jumlah penonton, satu fotokopi tabel tiga kolom.

DV-002, 8 Agustus 2079. Di tabel tertulis Baihe 3:1 Haifeng; di bingkai baris takarir dua baris, baris atas "saat ini 0:0", baris bawah "prediksi pra-laga 3:1".

Selagi yang memimpin membacakan, di dalam ruang rapat tak ada yang bersuara. Di luar jendela perpipaan ruang boiler masih diganti; hari keenam air panas terputus.

Aku dipanggil untuk tanya-jawab pukul 2 sore. Di ujung meja ini kududuk; di ujung satunya layar. Shen Yi duduk di sebelah kananku, tak memandangku.

Tanya: kode waktu 24 Juli itu siapa yang mencek.

Jawab: aku. Yang kedua juga aku.

Tanya: data kedua stasiun konsisten atau tidak.

Jawab: konsisten, bita demi bita.

Tanya: tulisan di spanduk itu, dibaca dari bingkai atau dari tabel.

Jawab: dari bingkai.

Tanya: sebelumnya sudah melihat tabel atau belum.

Jawab: sudah.

Layar diam dua detik. Di satu petak ada orang membalik kertas.

Tanya: dari mana kepastiannya spanduk itu bukan salah ketik.

Jawab: dasar putih aksara hitam, lebarnya lebih dari satu meter, tiga karakter, menindih satu lipatan. Salah ketik tak mungkin sebesar itu.

Tanya: bentuk gelombang suara komentator itu siapa yang memeriksa.

Jawab: aku juga. Kedua laga bersih. Perlintasan nol kontinu, di tengahnya tak ada lompatan, tarikan napas semuanya ada.

Tanya: dan baris takarir 8 Agustus.

Jawab: dua baris di satu layar. Tiga karakter 3:1 itu, sama posisi demi posisi dengan baris di tabel, titik dua di tengahnya termasuk.

Tanya: siapa yang lebih dulu melihat.

Jawab: Adebayo.

Tanya: ia memutarnya berapa kali.

Jawab: lima kali. Yang keenam kutemani ia.

Tanya: selagi memutar ia berkata apa.

Kubilang, ia berkata: tabelnya jujur.

Di layar tak ada yang menyambung kalimat itu. Yang memimpin membacakan butir prosedur berikutnya.

Saat aku keluar Shen Yi masih duduk di tempatnya. Keempat pena di meja itu dirapatkannya sekali lagi.

Sebelum bubar lingkup peninjauan ditetapkan. Satu petak mengusulkan, seluruh laga September diperiksa ulang, dari 09-01 sampai 09-26. Petak lain berkata, beban kerja. Ia berkata, mulai lebih dulu dari tiga puluh hari sebelum dan sesudah entri yang sudah dilaporkan. Di layar tak ada yang keberatan. Yang memimpin membacakan lingkup itu sekali—24 Juni sampai 7 September—dan masuk ke dalam notula.

Ujung penaku menyerap di atas kertas, menjadi satu titik.

Seusai rapat Adebayo menungguku di koridor tangga. Di tangannya tergenggam asli tabel tiga kolom miliknya; fotokopinya sudah diserahkan.

"Yang 17 September itu belum kucek," katanya.

"Hari yang mana," kataku.

"17 September. Ada satu laga. Ada di tabel," katanya.

"Kenapa tidak kucek," kataku.

"Aku lelah," katanya.

Kedua tangannya dicelupkannya ke saku, turun pergi. Urusan fotokopinya ia kerjakan sendiri. Kata Xiao Gao, ia berdiri di samping mesin fotokopi, tiap lembar keluar langsung ditariknya; lembar ketiga membawa satu garis pinggir hitam—batang penekan kaca fotokopi tak menahannya. Lembar berpinggir hitam itu ditariknya keluar, diangkatnya menghadap lampu, lalu berkata: garis hitam ini tak ikut terfotokopi, ya. Xiao Gao menjawab, ikut. Ia berkata, kalau begitu lembar ini kalian simpan, lembar ini kubawa pulang.

Tabelnya itu punya empat kolom. Tiga kolom pertama terisi penuh, lebih dari dua ratus baris. Kolom keempat, nama kolomnya tulisan tangannya sendiri—ada berapa orang di tribun—tak satu petak pun terisi. Dari balik layar ada yang pernah bertanya kepadanya, kolom keempat itu apa. Ia menjawab, ada berapa orang di tribun. Ditanya, sudah terisi atau belum. Ia menjawab, belum, datanya belum lengkap. Ditanya, datanya dari mana. Ia menjawab, pinjaman. Tak ada lagi yang bertanya meminjam dari siapa.

Paku di kanan papan tulis hari itu kosong. Tak ada kertas pasaran baru.

Tengah hari kantin mengolah labu air dan daging cincang. Lao Song meletakkan ponselnya di tepi baki; dalam dua menit menunggu pesan itu ia bertanya kepadaku, aku masuk hitungan atau tidak.

"Masuk hitungan apa," kataku.

"Mereka yang sudah membaca. Waktu perkara Yang Absen itu, aku ikut di tempat," katanya.

"Kamu bahkan tak pernah melihat tabelnya," kataku.

"Kalau begitu aku lega," katanya.

Ponselnya menyala; iklan perpanjangan paket. Selesai dibaca dimatikannya, diselipkannya kembali ke saku celana. Satu rangkaian geraknya tak sedikit pun beda dengan kemarin.

Sore itu Ye Zhen datang membawa dua halaman salinan bersih. Empat puluh satu ribu dan lima puluh delapan ribu, keduanya digarismerahinya satu goresan, dan di sampingnya disusulkan angka pemeriksaan ketiga: empat puluh satu ribu dua ratus, lima puluh delapan ribu empat ratus. Katanya, angka sisanya perkiraan; tribunnya tak seluruhnya masuk bidikan, puncak tribun timur kurang sebentang. Tutup penanya dipasangnya; katanya, kalau komite memanggil aku, besok aku pergi. Sampai di pintu ia kembali lagi, berkata, kalau mereka bertanya ukuran sampelnya, kusebutkan berapa.

"Katakan sejujurnya," kataku.

"Kalau sejujurnya, ya sedikit," katanya.

Ia pergi.

Hari ke-184, pukul 03.11.44, anak tangga ke-187.

Kepala tabel buku catatan jaga: 22 September.

Pukul 7.20, bingkai 22 September masuk arsip, S-11 dan S-08. Segmen lokal dua entri. Satu, jembatan besar lintas sungai mengganti kabel penahannya; permukaan jembatan separuh tertutup kain fel, delapan pekerja, helm dua warna. Satu lagi, uji air jaringan pipa pemanas; takarirnya bergulir tiga kali, ditinggalkan satu nomor telepon delapan digit. Empat hal lama yang sama selesai, disampaikan sebelum pukul 10.

Lapisan 3: 33.417 baris. Pita kertas tempel yang ketiga, lembar enam puluh empat.

Mobil kelabu di depan gerbang pindah tempat; dari seberang pindah ke mulut gang, masih mobil yang itu. Lao Chen penjaga gerbang mencatatnya sekali di buku registrasinya; yang dicatat waktunya.

Pukul 3 sore papan pengumuman kolam diperbarui. DV-003 masuk berkas: dua halaman milik Ye Zhen. DV-004 masuk berkas: fotokopi tabel tiga kolom. Di bawah pengumuman itu ada satu lagi milik institut kami: jumlah baris Lapisan 3, angka dua puluh ribu dan tiga puluh ribu, disusulkan; tanggalnya kemarin. Di lampirannya disalin satu kalimat, dicatat atas nama institut kami, aslinya dikutip apa adanya: kalau begitu ini bukan TV, ini prakiraan cuaca. Lao Song di kantin melihat pengumuman cetakan itu, membaca kalimat itu dua kali, tak bersuara, lalu membawa pergi gelas enamelnya.

Ye Zhen menjawab panggilan itu pada pagi hari. Pulang ia berkata, mereka bertanya dua angka itu berasal dari mana. Kubilang, tribunnya tak seluruhnya masuk bidikan, angka sisanya perkiraan. Merekalah yang mencatatnya.

Kutanya, masih ada yang lain.

Katanya, ada. Ditanya sembilan toko pada penarikan contoh Lapisan 3 itu siapa yang menariknya. Kubilang aku. Mereka bertanya, kenapa sembilan. Kubilang, karena yang disetujui memang hanya sembilan.

Pukul 4, S-19 menyampaikan draf halaman kesimpulan, satu setengah halaman. Zhou Yansheng membacakannya dari atas sampai bawah di ruang rapat. Sampai paragraf kedua terakhir ia berhenti sebentar, dan membacakan lagi kalimat itu:

Setiap prediksi yang telah dipublikasikan, pemublikasiannya dalam waktu mendahului peristiwa; seluruh entri deviasi yang telah masuk berkas, semuanya terpusat pada peristiwa yang prediksinya telah dipublikasikan.

Ia berkata, di bawahnya masih ada satu kalimat lagi.

Baris terakhir halaman itu memuat aksara empat negara berjajar, masing-masing ditulis sekali, dan paling bawah memutar kembali ke aksara Han, delapan aksara: pengamat mencemari pengamatan.

Ruang rapat hening sebentar. Zhou Yansheng berkata, delapan aksara itu memutar satu lingkaran baru kembali; aslinya tidak selancar ini. Katanya, justru karena lancar jadi kurang baik. Katanya, kalau delapan aksara ini keluar, yang lebih dulu mempercayainya bukan akan para ilmuwan.

Ia menyuruhku menambahkan tiga aksara di halaman kesimpulan itu: belum terverifikasi. Ditambahkan sesudah "mendahului peristiwa", sesudah "semuanya terpusat", dan di depan delapan aksara itu. Kutambahkan di tiga tempat. Ia memeriksanya, menandatanganinya dengan pinyin namanya sendiri, menyuruhku memfotokopinya tiga rangkap.

Empat perkara, empat tanggal. Skor di tabel, di dalam satu bingkai 12 April. Tabel terdekode, diberi nomor, masuk kolam, April. Tiga karakter di spanduk, sama posisi demi posisi dengan tabel, di dalam satu bingkai 24 Juli. Jumlah penonton melompat naik, di dalam satu bingkai 8 Agustus. Urutannya sudah tertata; arahnya hanya satu. Mana bagian sebab-akibat, mana bagian sekadar berurutan, di atas kertas tak dapat dibedakan.

Malam itu Nian berlatih empat puluh menit. Selesai main ia sendiri yang menghitung: salah dua, keduanya di birama ketiga. Selesai main ia pergi bercermin, membuka mulut memandangi gigi itu; beberapa lama memandang, lalu berkata, sudah keluar.

"Jangan didorong pakai lidah," kataku.

"Aku tidak mendorong. Aku cuma melihat," katanya.

Dari rak buku ia menurunkan sertifikatnya, memandanginya sekali, lalu meletakkannya kembali berdampingan dengan partitur. "Tahun depan ikut ujian tingkat 4," katanya.

"Tingkat ini dikuasai lebih dulu," kataku.

"Sudah lama dikuasai," katanya.

Hari ke-185, pukul 03.11.44, anak tangga ke-188.

Kepala tabel buku catatan jaga: 23 September.

Pukul 7.20, bingkai 23 September masuk arsip, S-11 dan S-17. Segmen lokal satu entri: perpustakaan kecamatan memperpanjang jam buka sampai pukul 8 malam; kamera menyapu keluar dari ruang baca, di depan pintu satu meja orang sedang bermain catur, di tepi papan caturnya ditekan satu topi.

Lapisan 3: 33.629 baris. Pita kertas tempel yang ketiga, lembar enam puluh lima.

Di rumah jaga, kartu pos bulan ini datang; cap posnya tanggal sembilan belas. Tong menyusunnya di ambang jendela, yang keenam dari kiri. Selesai menyusun ia berkata, tanggal sembilan belas. Katanya, bulan lalu juga tanggal sembilan belas.

Halaman kesimpulan ditetapkan diunggah pukul 9, empat negara serentak. Zhou Yansheng sudah menandatangani sejak kemarin.

Pukul 8.50 kunaik ke lantai tiga mengantar satu jadwal kerja. Pintu ruangan Shen Yi terbuka. Ia berjongkok di depan lemari; pintu petak paling bawah terbuka, kantong kertas itu ada di tangannya, tulisan pensilnya menghadap ke bawah, tak terlihat. Gembok bagian atas lemari barusan diganti baru; kuncinya masih tertancap di lubangnya.

Ia tak mendongak. Jadwal kerja itu kuletakkan di sudut mejanya, lalu aku turun.

Pukul 9.20 papan pengumuman kolam diperbarui lagi. Sub-lokasi S-11: entri masuk berkas empat butir. Kolom halaman kesimpulan, dua aksara: tak dikirim.

Pukul 10.15 kutemu Zhou Yansheng di tangga. Ia berdiri di tepi ambang jendela di tikungan, tak memandangku.

"Sampai kapan kau menahannya," katanya.

Shen Yi yang naik dari belakang berhenti dua anak tangga di bawahnya.

Shen Yi berkata, sampai pemeriksaannya selesai.

Zhou Yansheng berkata, selesai itu berapa lama.

Shen Yi berkata, sampai ada mekanismenya.

Zhou Yansheng berkata, itu bukan namanya selesai.

Shen Yi tak menyambung. Ia naik ke atas. Zhou Yansheng berdiri lagi sebentar di tepi ambang jendela; tangannya di bibir jendela, jarinya merapatkan lalu mengendur. Saat turun ia lewat di sampingku, tak berkata apa pun.

Pukul 4 sore kupergi ke ruang rapat lantai dua mengumpulkan gelas. Sebelas petak layar gelap; map itu di kepala meja panjang masih di tempatnya. Kaki halamannya kubalik dan kuhitung sekali: DV-001 sampai DV-004, empat barang bukti semuanya ada. Halaman kesimpulan tak ada di dalamnya.

Gembok baru di petak paling atas lemari Shen Yi—kali ini kuncinya tak ada di lubangnya.

Gelas-gelas kumasukkan ke baki, keempat pena kuletakkan kembali ke tempat penanya, lampunya kumatikan. Satu bilah kerai tak bisa ditarik naik; miring di tengah. Yang lain kusetarakan semuanya; yang itu kubiarkan miring.

Malam itu Nian sudah tidur. Laci tengah meja tulis kutarik. Buku itu masih ada; pena yang tak mengalir lagi itu tergelinding di sisinya. Halaman pertama kubalik: tujuh butir, dari satu sampai tujuh, tak satu pun lebih. Kututup, kuletakkan kembali, laci kudorong tertutup.

Buku jaga terbentang di meja; petak hari ini selesai tertulis. Petak besok, masih kosong.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk