Gemaoleh 环形废墟

1 · Pembawa Pukul Tiga Dini Hari

Bab 1 · 13 rb kata

[ARSIP GEMA · LAPISAN 0 · PEMBAWA · 0% TERDEKODE · KUNCI: — · PENDAFTAR: LIN WANQIU]

Shift malam dimulai pukul nol. Saat serah terima, orang shift pagi memberitahu bahwa pita K sore tadi menangkap dua sampel mencurigakan, dan memintaku "mengeceknya sepintas." Mengecek sepintas berarti shiftnya sudah berakhir. Namanya Xiao Gao. Ia punya kebiasaan mengecilkan setiap masalah; di mulutnya, masalah-masalah selalu berhasil diet—sampel mencurigakan, geser sedikit, cek sepintas. Bukannya jahat; ia hanya percaya di dunia ini tak ada urusan yang besar-besar amat.

Ruang jaga malam berada di samping ruang mesin, dua puluh derajat sepanjang tahun, musim dingin dan panas sama saja. Kuambil alih shift darinya dan berputar menyisir ruang mesin seperti biasa: pendingin air Mesin Tiga pernah diganti sekali; tanggalnya tertulis di label, tulisan tangannya Adebayo—miring. Di kulkas ada satu kotak yogurt yang ditinggal seseorang dan tak diambil siapa-siapa; kedaluwarsa empat hari, masih di situ. Lembar inspeksi kutandatangani, menyeduh semangkuk mi instan, dan barulah pergi ke terminal. Pekerjaan jaga malam sebagian besar adalah menunggu, dan bagian menunggu itu tak boleh dipangkas; sekali dipangkas, itu bukan lagi jaga malam—itu kunjungan wisata.

Penggolong otomatis institut sudah memeriksa lebih dulu, dan vonisnya tegas: kebocoran RF lokal, sarannya menutup tiket. Mesin itu tak begadang; ia hanya menjalankan aturan—pita sempit, terus-menerus, tanpa Doppler. Tiga hal yang berkumpul bersama, di pembukuannya, berarti peralatan tetangga yang bocor listrik. Ia sudah membuka lebih dari empat ribu berkas untuk barang-barang macam ini. Ia lelah lebih dulu daripada manusia.

Kusuarikan sampel itu sekali lagi dengan mengeluarkan kata "lokal" dari pembobotannya, dan menyuruhnya menggolongkan ulang menurut standar sumber langit. Ia berpikir setengah detik, dan kali ini menjawab: satelit yang sudah terdaftar, tingkat keyakinan rendah. Salah lagi. Kartu di tangannya cuma segitu; semua sudah dimainkan. Menurut prosedur, seharusnya kuisi "setuju" di kolom alasan penutup tiket lalu pergi ke mi instanku. Sebagai gantinya, kupotong tiga puluh detik data mentah, berniat melihat sendiri sekali sebelum menandatangani. Itu bukan kesungguhan. Itu cuma tangan yang sudah terlatih—orang jaga malam selalu punya beberapa ritual kecil sendiri, dan selama belum melihat sendiri, tanda tanganku tak pernah tenang.

Gangguan yang rajin datang tepat waktu sudah pernah kuhadapi. Tiga tahun lalu ada satu yang muncul tiap pukul tiga pagi tepat: pulsa runcing, empat puluh menit, teraturnya seperti detak jantung. Seluruh institut menyisir seminggu; dan di akhir, akulah yang menemukannya dengan mobil di jalan pegunungan—tambak ikan di kaki bukit, pompa aerasi, pewaktunya disetel pukul tiga, pemiliknya mau menghindari tarif listrik jam puncak. Kalimat alasan penutup tiketnya masih kuingat sampai sekarang: budidaya perikanan, musyawarah, selesai. Pemilik tambak itu sempat menyodorkan sekantong ikan mas; kutolak, dan belakangan ikan itu dikirimnya ke kantin. Sup ikan mas hari itu enak. Puluhan perkara macam ini sudah lewat di tanganku—perkara dini hari, perkara tepat waktu, perkara pita sempit—masing-masing punya asal-usulnya sendiri, dan setiap asal-usul menancap di tanah.

Karena itu kupasang batas setengah jam untuk diriku sendiri: kalau dalam setengah jam ia menampakkan satu pun celah yang mengarah ke tanah, kuselesaikan dengan cara lama.

Mi instan itu duduk di sudut meja. Sumpitku tak kusentuh.

Kupersempit lebar pitanya ke dua ratus hertz dan kuintegrasikan ulang.

Sinyal itu berdiri di harmonik kedua garis hidrogen, menyempit di luar kebiasaan. Bukan kiasan—itu angka alat: sedikit di atas tiga hertz. Di dunia kerja kami, yang lebih lebar dari ini semua disebut "pita". Se-lebar tiga hertz hanya layak disebut "garis". Kebocoran lokal tak pernah sesempit ini. Bocoran microwave berupa derau lebar penuh; catu daya murahan menghasilkan gerigi sisir. Spektrogram semua jenis gangguan RF di dunia sudah kulihat, dan tak satu pun sanggup memadatkan energinya dalam tiga hertz—lalu diam di tempat dengan tenang.

Kucek apakah ia bergeser. Gangguan lokal ikut bergoyang mengikuti suhu dan arah angin; kelihatan di frekuensinya. Yang ini tak bergoyang. Sepuluh menit, penanda frekuensinya tak bergerak walau sepiksel—lebih stabil daripada jam rubidium di ruang mesin kami sendiri. Temuan ini tak kukirim ke laporan mana pun; mencatatnya rasanya menghina teman sendiri.

Dugaan pertamaku adalah kami sendiri. Itu aturannya: sebelum menuduh langit, tuduh dulu diri sendiri. Rantai penerima kucek segmen demi segmen—apakah osilator lokal downconverter masih terkunci, apakah suhu feeder tepat, apakah jam digitizernya bersih. Ada satu konektor yang punya catatan; tahun lalu pernah kendor, dan kurenggangkannya setengah putaran. Sambil memutarnya, sebenarnya kudoakan sinyalnya hilang begitu saja. Kalau hilang, semuanya mudah: tidur, besok pagi tulis "konektor, selesai" di lembar serah terima. Sinyalnya bertahan. Tiga hertz, tak bergeser. Tangkapan layar uji-diri rantai penerima kusimpan sebagai arsip: sebelas halaman.

Lalu kutarik data arah antena—langkah kedua, dan langkah yang tak boleh dilewati. Catatan arah antena kubentang bingkai demi bingkai, dan arah sinyal terkuat tak mungkin salah baca: Cassiopeia, elevasi empat puluh satu derajat, mengikuti bola langit, dan tak melepaskan satu detik pun sampai terbenam. Gangguan tak mengikuti bola langit. Gangguan tumbuh dari tanah.

Kududuki diriku di sana. Mi instannya sudah dingin tembus; kusisihkan.

Malam di institut punya jenis kesunyian yang spesifik: dengung kipas rak utama jadi garis bass, mesin pendingin yang menyala-mati tiap dua puluh menit jadi tanda bacanya. Bertahun-tahun kubekerja di dalam bunyi-bunyi ini dan bisa menebak jam berapa dengan mata terpejam—setelah mesin pendingin menyala ketiga kalinya, pukul empat tinggal sebentar. Sesekali sebuah mobil lewat di luar jendela; suaranya memanjat dari jalan gunung, putus di tengah tanjakan. Begitulah gunung: suara lebih sabar daripada manusia. Malam itu kuhitung mesin pendingin dan menyimpan kurva daya dalam tiga salinan—satu lokal, satu ke mesin cadangan, satu lagi ke pool tempat arsip inspeksi biasa ditaruh. Tak ada prosedur yang mensyaratkan salinan ketiga. Aku hanya merasa, benda seperti ini dengan satu saksi sepanjang malam—kurang pantas.

Masih ada satu benda di meja yang terus berbunyi. Radio Red Lantern, produksi 1987, peninggalan ayahku. Dibeli dengan gaji tiga bulannya saat itu; sampai rumah, yang pertama ia lakukan adalah menyalin satu halaman penuh daftar frekuensi ke buku catatan—buku itu masih terselip di sarung kulit radionya, kertasnya kuning, tulisannya masih tegas. Radio itu ditaruh di samping osiloskop; tiap jaga malam kunyalakan, pita gelombang pendek, berdesis. Tak ada yang keberatan di institut—ruang jaga malam semacam toko serba ada; ada yang menaruh tempat tidur lapangan, ada yang menaruh peti jeruk. Adebayo memanggilnya "Kamerad Tua".

Radio ini perlu pemanasan sebelum bunyinya tenang. Dua tahun sebelumnya kubuka panel belakang untuk mengganti satu kabel, dan di dalam ada satu titik las yang ayahku perbaiki sendiri—timahnya menumpuk tebal, kerjaannya kasar, tapi selama belasan tahun tak pernah lepuh. Kabel yang kuganti itu, solder yang kupakai masih dari gulungan tua di laci juga. Ia mengajariku cara mendengarkan gelombang pendek: sepuluh menit desis dulu. Jangan mencari apa pun. Biarkan telinga cukup kotor dulu, baru berburu stasiun—baru suara yang ada bisa terdengar. Telinga, katanya, seperti wajan: harus dipanaskan kosong dulu. Umur sepuluh kupikir ceramahnya kepanjangan. Sekarang kulakukan persis seperti itu, tanpa melewatkan satu langkah, sudah belasan tahun.

Di antara desis itu kuselesaikan yang wajib: mendaftar titik frekuensi, menyimpan sampel mentah, memberi judul pada catatan jaga hari itu. Judulnya kupikirkan sebentar, lalu kutulis: pita K, pita sempit tak dikenal, perlu pemeriksaan ulang. Di kolom alasan penutup tiket, aku tak mengisi "setuju", juga bukan "ditolak"; seluruh tiket itu kukembalikan ke antrean, biar bermalam.

Pukul 3.05, tak ada lagi pekerjaan; kudekatkan mata ke jam. Itu satu dari kebiasaan buruk jaga malam: begitu sesuatu terasa janggal, orang mulai mengawasinya. Di layar, kurva itu berbaring datar; detik-detik berputar lingkar demi lingkar. Pukul 3.10, taruh tangan di papan ketik, tak mengetik. Pukul 3.11, kulihat kurva itu mengambil satu langkah.

Dayanya naik satu tingkat.

Tak kurang, tak lebih—seperti menginjak anak tangga. Lalu datar lagi, stabil-stabil saja. Kutunggu sampai 3.40; langkah kedua tak kunjung datang. Saat lonjakan itu kuperbesar sampai presisi detik: 03:11:44. Arsip inspeksi hari-hari sebelumnya kutarik keluar, sepekan penuh kubolak-balik, sampai Kamis dini hari: 03:11:44, satu tingkat yang sama. Rabu dini hari: 03:11:44, satu tingkat. Lebih jauh ke belakang tak ada—arsipnya bergulir, cuma menyimpan tujuh hari.

Ia datang setiap hari, tumbuh satu tingkat setiap hari. Baru hari ini kami melihatnya.

Menurut aturan lama, benda macam ini pantas mendapat nomor sementara agar buku besar bisa menyebut namanya. Nomornya ditentukan penemunya: dua huruf pertama marga penemu, disusul bulan dan nomor urut. Kuketik LIN-0307, lalu merasa salah—ia sudah ada sebelum aku, minimal tiga hari, tapi nomor itu terbaca seperti aku yang melahirkannya. Kuhapus nomornya, biarkan kosong dulu, agar buku besar juga tak buru-buru mengakuinya. Hal-hal yang kolomnya sengaja dibiarkan kosong: sepanjang sejarah institut ini bisa dihitung jari.

Kukirim pesan ke kepala jaga, berisi titik frekuensi dan arahnya, agar jadi bacaan pertamanya begitu tiba pagi. Biasanya ia tiba pukul 7.30. Setelah mengirim pesan, aku berhenti menatap layar dan mengangkat ponsel. Ada satu panggilan tak terjawab dari ibu—pukul sepuluh semalam; tak kujawab. Dan satu pesan suara dari Nian, empat puluh detik: "Mama, hari ini aku mainkan untuk radio Kakek. Salah dua nada. Kata guru, salah dua nada atau kurang masih lulus tingkat 3. Kapan Mama pulang? Aku mainkan untuk Mama."

Kudengarkan sekali, tak kubalas. Bukan karena tak ada yang bisa dikata—ada kalanya yang tak bisa terucap pukul empat pagi. Kutelungkupkan ponsel di atas meja, layarnya menghadap bawah.

Kepala jaga tiba 7.26, empat menit lebih awal; pesanku, mungkin. Namanya Tong. Ia membaca dengan perlahan, dan sebelum membaca apa pun ia menuang segelas air lebih dulu. Ia duduk di kursiku, sepuluh menit membaca grafik anak tangga tiga hari itu tanpa menyeruput sedikit pun. Lalu ia bertanya: "Rantai penerima sudah kamu cek sendiri?" "Sebelas halaman." "Kata penggolong otomatis?" "Katanya microwave." Untuk pertama kalinya ia tak tersenyum. Ia bertanya: "Pendapatmu?" Kubilang: "Bukan dari sini. Arahnya mengikuti bola langit, kestabilan frekuensinya mengalahkan jam kita. Entah sangat jauh di angkasa, entah sangat dekat di tanah—dekat sampai berada di dalam feeder. Feeder sudah kucek semalam; suhunya normal." Ia mengangguk, menulis dua baris di kertas memo, melipatnya, memasukkannya ke saku baju. Kebiasaannya: yang penting tak masuk komputer; masuk saku. Katanya: "Jangan dilaporkan dulu. Pantau tiga hari. Kamu lanjut malammu; siang, kutugaskan Lao Song memeriksa ulang—mulutnya cerewet, tapi tangannya stabil, dan ia membaca buku besar, bukan kesimpulan. Kalau setelah tiga hari masih begini, laporkan ke atas." Kubilang baik. Saat berdiri untuk pergi ia menambahkan: "Mi instan kemarin masih ada?" Kubilang ada; sudah dingin. "Kalau dingin, buang."

Kuakhiri shift pukul 8.30; matahari bersahabat. Di jalan gunung ada truk sayur yang berjalan lambat; kukendarai di belakangnya, tak juga kualami. Rumah kosong—ibu mengantar Nian ke sekolah. Di atas meja ada mangkuk terbalik; di bawahnya selembar kertas dengan tulisan ibu: Sup ada di panci. Sup itu kuhangatkan dan kuminum. Di balkon tersusun beberapa kardus yang belum dibuka—semuanya barang ayah; sejak ibu pindah dua tahun lalu tak tersentuh. Kardus paling atas bertuliskan "kaset"; sisinya dililit selotip dua lingkar, dililit dengan kuat—caranya ibu. Kardus itu tak kubuka. Kugeser ke sudut dinding, rapikan, lalu kembali tidur—sampai pukul empat sore. Mimpi penuh garis lurus, mendatar dan tegak lurus, satu menindih satu—seperti buku besar, seperti juga paranada. Saat terbangun, tirai menyala, dan pengeras suara pemulung di bawah memutar satu kalimat berulang-ulang. Beberapa menit kuberbaring dan mengaji ulang semalam di kepala: titik frekuensi tak salah ingat, arah tak salah ingat, 03:11:44 tak salah ingat. Keuntungan angka: setelah tidur, ia masih berdiri di tempat yang sama. Tapi hal pertama yang teringat saat terbangun bukan sinyal—satu kata dalam pesan suara Nian: lulus. Salah dua nada atau kurang, dan tingkat 3 pun lulus. Ia sudah memainkannya untuk radio Kakek. Radio itu saat ini ada di kantorku, bukan di rumah. Mungkin ia bermain menghadap foto tua di rumah—foto ayah di atas piano, tutupnya selalu terbuka sejengkal. Mungkin juga ia salah ingat. Anak tujuh tahun menyimpan hal-hal begini bukan dengan akurat; ia menyimpannya dengan rela memberi.

Hari mulai gelap, kukembali ke institut untuk shift. Radio Red Lantern genap tiga menit pemanasan; bunyinya mulai tenang, pita gelombang pendek tetap berdesis. Kutunggu penuh sepuluh menit—telinga cukup kotor dulu—lalu menarik keluar lagi data mentah itu. Setelah tangga daya, modulasinya terus berjalan; aliran bit tak menambah satu kata pun karena ketahuan sedang dipandangi. Kupotong enam puluh ribu simbol, jalankan pelipatan dan penyelarasan, baca sinkronnya dengan mata. Kerajinan tua; mesin bisa melakukannya, tapi kadang mata lebih dulu yang mengenali. Mata manusia mengenal lewat ritme—musik yang sudah hafal di telinga, nada mana yang masuk terlambat setengah ketukan, tahulah kita tanpa menghitung. Kuhitung jaraknya: satu siklus 188 bita, kata sinkron bingkai di posisi paling depan, polanya persis. Kuhitung sekali lagi. Selesai hitungan kedua, berdiri, diam sebentar di koridor, kembali, menghitung ketiga kalinya. Ketiganya sama.

188 bita. Angka itu aku kenal. Konektor-desnya aku kenal, cara koreksi galatnya aku kenal—pernah lihat, pernah pula memperbaikinya. Zaman kuliah, di lab kami pernah merakit rantai lengkap dengan standar itu—dari sinyal masuk ruangan sampai gambar keluar di layar; satu semester.

Benda ini kukenal. Seluruh TV satelit di dunia memakainya. Sinyal dari arah Cassiopeia, menempuh perjalanan tak tahu berapa tahun, mendarat di antena kami—membawa kode koreksi galat yang dipakai TV kita sendiri selama tiga puluh tahun.

Untuk memastikan ini bukan mata yang mulai rabun, kusetingkan pembanding: satu aliran turun dari satelit di orbit, dijalankan dengan pelipatan dan penyelarasan yang sama. Dua diagram sinkron berdampingan—satu dari satelit 36.000 kilometer di langit, satu dari arah Cassiopeia di jarak yang tak terbayang. Kepala bingkai pada kepala bingkai, siklus pada siklus, tumpang-tindihnya bersih—seperti dua PR yang disalin dari satu lembar yang sama.

Kubuka halaman baru catatan jaga. Kolom judul: pita K, pita sempit tak dikenal, malam kedua. Kolom catatan kupikir lama, dan hanya mengisi satu baris—

Koding kanal: standar koreksi galat TV satelit manusia.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk