Tahun berikutnya, tanggal tiga belas bulan pertama, aku jaga malam. Hari itu ulang tahun Zhou Shu yang ketiga belas; juga hari jendelanya tertutup genap satu tahun. Dua hari itu satu hari yang sama; di kalender tidak tertulis; yang mengingat aku.
Pukul dua lewat empat puluh dini hari, di stasiun cuma aku seorang. Mesinnya di kamar sebelah; pintunya tak tertutup rapat; bunyi kipasnya datang gelombang demi gelombang. Tahun ini stasiun bertambah satu barang: dua buku di atas meja jaga. Yang kiri buku lama: kolom catatan; kolom keterangan; formatnya disalin dari buku tahunan cuaca; tiga puluh tahun tak berubah. Yang kanan buku baru; sampul kertas kraf; di sampulnya tercetak buku jaga catatan tambahan kesaksian manusia; versi kecil format milik He Che itu — kiri alat; kanan kesaksian manusia. Kolom kanan itu, setahun penuh kebanyakan kosong. Di dalam ketentuan tertulis: ada yang datang melapor, dicatat. Tak ada yang datang melapor, kosong tidak dihitung kelalaian. Kepala Stasiun khusus menggelar satu rapat untuk kotak ini; di rapat ia berkata, kosong juga salah satu bentuk data. Kalimat itu kemudian ditempel di dinding ruang jaga; dipaku bersama tata cara operasi.
Catatan hari itu kulengkapi: tekanan udara; suhu; lama pita berjalan; kotak demi kotak; cara menyalinnya sama dengan buku catatan resmi tiga puluh tahun silam — formatnya format lama; orangnya tinggal satu dari rombongan itu. Sampai kolom keterangan, terhenti sebentar. Di kolom keterangan kusinggahkan sebentang kosong. Satu kalimat selesai ditulis, pena terangkat; melompati dua kotak; baru baris berikutnya. Selesai ditulis kelihatan padaku: ini kebiasaan bicaraku: satu kalimat satu jeda; tempat jeda ditinggalkan untuk orang menyahut. Di atas kertas tak ada yang menyahut; tetap kutinggalkan. Sebentang kosong itu kubiarkan; tidak kucoret.
Tahun lalu Xiao Cai lulus seleksi pindah ke biro; waktu pergi meninggalkan selembar coretan di laci, cuma satu baris: Kak, grafiknya semuanya sudah kuarsipkan; nomornya tersambung; tak bisa dihapus siapa pun. Sejak ia pergi, orang muda yang baru di stasiun menyapaku Guru Lin; sapaan lain tak sanggup. Grafik tiga puluh detik itu pernah sekali kupamerkan padanya; dipandanginya lama; bertanya, ini kerusakan yang mana. Kubalas, bukan kerusakan. Ia bertanya, kalau begitu dicatat apa. Kubalas, dicatat tiga puluh detik. Dicatatnya; selesai mencatat di belakangnya digambarnya satu tanda tanya. Tak kusuruh menghapusnya. Tiga puluh tahun silam ada pencatat menulis dua aksara menunggu verifikasi; ukurannya juga sekecil itu.
Di dinding ruang jaga tertempel satu grafik; hasil tangan Xiao Cai tahun lalu; tiga puluh detik menempel jadi satu garis; kepalanya rapi; ekornya rapi. Di pinggirnya satu lagi yang lebih kecil; tiga detik; pendeknya nyaris tak kelihatan; digunting dari grafik panjang itu. Kedua grafik berdempet; siapa pun memandangi akan mengira dua potongan awal-akhir dari satu grafik yang sama. Memang satu grafik yang sama.
Pukul tiga tepat, seperti biasa kudengarkan sekali. Lapisan di dalam telinga masih ada; bergoyang sekali, berbunyi sekali; enam belas kali semenit; satu angka dengan bulan kedua belas tahun pertama; satu nada dengan tiga puluh tahun silam. Ia seperti biasa. Lima menit kudengarkan; penyuap telinga dilepas; di buku ditulis: seperti biasa. Selesai menulis kata itu dipandangiku. Buku catatan resmi tiga puluh tahun, seribu lima ratus lebih jilid; tak satu jilid pun memakai kedua aksara ini — di buku catatan resmi cuma ada angka; angka tak perlu dikatakan seperti biasa. Di depan meja jaga kududuk sebentar; kata itu ditebalku sekali lagi; ditebal sampai pekat. Kolom catatan tambahan kesaksian manusia dipandangiku sekali; kosong. Kosong juga salah satu bentuk data.
Sore hari sebelumnya berangkat mengambil jaga; naik minibus pengganti baru. Bus tua bersandaran kayu hijau itu pensiun tahun lalu; hari pensiunnya beberapa orang tua stasiun datang memandangi; meraba bilah kayu di pintunya; lalu bubar. Minibusnya cepat; dua puluh menit sampai; kursinya plastik; musim dingin dingin. Di dalam mobil tak bisa tidurku; menempel ke kaca memandangi luar; saljunya turun tipis; di tanah berbaris-baris galengan; arahnya satu dengan garis-garis di buku catatan resmi. Kalender meja dalam hati hendak kutitikkan sekali — sudah tidak dititik. Tak ada angka untuk dititikkan; waktu di jalan jadi kosong; salju kupandangi. Memandangi salju lebih lambat daripada menitikkan angka; boleh juga.
Pukul tujuh pagi sampai rumah; bubur di dalam periuk terhangatkan. Zhou Shu sudah bangun; memakai rompi merah itu; selesai dirajut musim dingin tahun lalu; tusuknya bagian awal rapat; bagian belakang jarang; pernah dipilihnya sekali; tak terpilih rata; dipakai begitu saja. Umurnya tiga belas; tingginya sudah melewati daguku. Melihatku masuk pintu ia berkata, Bu, di dalam periuk kusinggahkan bubur untukmu; aku pergi lebih dulu; hari ini giliranku piket. Tas punggung dikenakannya; penyuap telinga dipakaikannya — ujung talinya yang satu tidak dicolokkan ke apa pun; ujung talinya dibalut lakban satu lilit. Tiap hari dipakaikannya. Ditanya mendengarkan apa; ia berkata tidak mendengarkan; tergantung saja. Pernah sekali ia berkata: kalau tergantung, tenang. Kemudian tak ditanya lagi.
Ia sudah tidak ingat. Ini sudah lama kutahu; di arsip tertulis jelas: jendela tertutup; tanpa residu. Pernah kuusahakan sekali; cuma sekali. Musim panas tahun lalu jalan-jalan; sampai ujung jembatan; kubilang, Shushu, kau masih ingat terang, taruh, stabil. Ia berpikir sebentar; berkata, ingat dong; terang itu lampu menyala; taruh itu pulang sekolah; stabil itu membawa air stabil. Jawabannya benar; semuanya benar; semuanya makna di dalam bahasa Mandarin. Selesai berkata kepalanya ditundukkan jalan terus; tangannya memantul sekali di tali tas punggungnya; dua jarinya di udara digerakkan menyatu; dibalik ditekan secara maya sekali. Ia tak tahu ia melakukan ketiga gerakan itu. Tidak kukatakan. Turun jembatan; masing-masing memandangi masing-masing.
Di sekolah ia baik-baik saja. Guru bahasanya bilang pemakaian kata sudah-nya bagus — langit sudah gelap; sudah selesai dirajut; sudah sampai. Gurunya tak tahu: tiga pemakaian ini pada dirinya pernah runtuh sekali; selesai runtuh tumbuh kembali; tumbuhnya lebih kokoh daripada milik orang lain. Meja di depan belakangnya anak laki-laki yang tahun lalu naik menggantikan di upacara itu; kedua rumah berjarak dua gang. Di rapat orang tua kukenali ibunya; cincin emasnya masih dipakai; tinggal satu. Kita saling menganggukkan kepala; tak seorang pun menyebut empat menit di atas panggung itu. Nilai anak itu sedang; tulisannya sangat rapi; rapinya seperti cetakan. Zhou Shu pernah berkata tentang dia sekali: hafalannya cepat; selesai hafal langsung lupa; dulu aku juga begitu. Waktu mengucap dulu aku juga begitu itu, nadanya datar; seperti menceritakan perkara orang lain.
Tahun lalu Zhou Yu dimutasi kembali ke kota ini; surat mutasinya diumumkan di surat kabar mingguan; tanpa mencari orang. Radio di rumah diperbaikinya besar-besaran sekali; tali penyuap telinga Zhou Shu pun pernah sekali digantinya — talinya dililitnya sendiri; lakban dililit satu lilit; ujung penutupnya ditekan ke dalam; caranya sama dengan cara Bapakku melilit ujung kabel mesin rekam tiga puluh tahun silam. Ia tak pernah melihat Bapakku melilit kabel; aku juga tak pernah mengajarkannya. Sebagian barang yang datang dari tangan, asal-usulnya tak bisa dijelaskan. Tiap Rabu malam penyuap telinga Zhou Shu diperiksanya; diukurnya dengan alat sekali; dicatatnya di satu buku kecil; format bukunya ia gambar sendiri. Pernah kutanya, penyuap telinga yang tak dicolok listrik, diukurnya apa. Ia berkata, diukur hati tenang. Kebiasaan ini, dengan kebiasaanku menyisakan kotak kosong, satu kebiasaan.
Pukul sembilan pagi Wei Dongquan datang; teleponnya sudah diberikannya lebih dulu. Setahun tak kelihatan tua di mana-mana; cuma makin lambat; naik tangga berpegangan pada pagar; istirahat sebentar. Kantong kainnya masih ada; bidang persegi itu masih di tempat semula. Ia duduk; air yang kutuang diminumnya; kantong kain diletakkannya di atas lutut; ditimbang-timbangnya — gerakan ini tiga puluh tahun dilakukannya — kemudian benda persegi dikeluarkannya; menembus meja didorongnya kepadaku.
Selembar kertas. Lebih berat daripada halaman-halaman lain; menembus cahaya ada urat miringnya; aksaranya tulisan tangan mengalir; tangan orang dewasa: Setelah dikaji, disetujui entri tersebut dikeluarkan dari daftar kata angkatan ini. Nama penandatangan tidak ada; cuma satu cap; aksara di capnya tergosong nyaris rata; tinggal terbaca separuh aksara persetujuan. Halaman ini kukenali. Halaman di dalam gulungan sisa itu kertas tebal pengganti; halaman ini yang asli; tiga puluh tahun tak pernah melihat langit.
Kutanya, tiga puluh tahun kau simpan.
Ia berkata, dibagikan hari pendaftaran itu. Berhenti sebentang. Ia berkata, disuruh menyimpan; katanya ke belakang terpakai. Kutanya siapa yang menyuruh. Gelas diletakkannya; ia berkata, siapa yang menyetujui, jangan ditanya. Yang ada di atas kertas, kembalikan pada kertas.
Ia duduk lagi sebentar; bercerita tentang dataran tinggi. Katanya He Laosan awal musim semi menyuruh orang mengantar setengah kantong biji pin; tanpa tulisan; mulut kantongnya dipilin kawat; ujungnya terpilin dua lingkar. Ia berkata, orangnya tak perlu dicari; biji pin tiap tahun ada. Biji pin itu dibagikannya; punya stasiun; punya biro; punya Zhu Aizhen; satu rumah satu genggam. Genggaman miliknya sendiri diletakkannya di ambang jendela; katanya bau biji pin itu sama dengan bau damar di ruang siaran tahun itu — selesai mengucap kalimat ini ia terdiam sendiri sebentar; berkata, lihat, ini malah kuingat.
Halaman itu kumasukkan ke kotak besi. Kotak besinya di rumah; dengan dua gulungan pita, kertas bertuliskan alasan itu, salinan kesaksian manusia, ditumpuk jadi satu tumpukan. Memandangiku membereskan barang; ia menganggukkan kepala; berkata, lengkap semuanya. Katanya sekarang tidurnya sekali sampai pagi; tiga puluh tahun baru pertama. Ia berkata, lapisan di telinga masih ada; tidak dihitungnya lagi; mendengarkan saja. Waktu berangkat kantong kain jinjingannya kubantu mengangkat; ditimbang-timbangnya; kali ini kantong kainnya ringan. Di koridor ia berkata, ke belakang kantong ini muat bekal makan saja.
Sore He Che mengirim pesan singkat; tiga buah. Yang pertama: kolom kotak baru itu sudah dapat nama; namanya catatan tambahan kesaksian manusia; nomor satu sampai nomor tiga puluh sembilan sedang disalin. Yang kedua: kotak nomor tiga puluh tujuh dan nomor delapan puluh tujuh masih dibiarkannya kosong; ada yang datang melengkapi ya dilengkapi; tak ada yang datang melengkapi ya dibiarkan kosong. Yang ketiga cuma lima aksara: kotaknya penuh; datang cocokkan.
Petang Gu Ling menelepon. Surat pensiunnya bulan ini selesai diurus. Ia berkata, perkara terakhir sudah selesai; kolom tersendiri di buku pendaftaran itu, digabung ke kolom biasa; ke belakang anak keluarga penerjemah dan anak keluarga orang lain terdaftar di satu tempat. Ia berkata, mobil putih juga tak dikirim lagi; yang berhak cap, sehari pun tak dimajukan. Waktu mengatakan ini tetap satu kalimat satu jeda; hanya kali ini sebentang jeda di belakang tiap kalimat terdengar seperti ia mengatur napasnya sendiri; tidak seperti menunggu orang. Di ujung ia berkata, setelah pensiun hendak mengajar pengganti di sekolah dasar; mengajar bahasa. Ia berkata, mengoreksi karangan tetap kupakai pena merah. Telepon ditutup.
Lao Xie pergi awal musim semi tahun lalu. Keluarganya mengantar kantong kain itu ke biro; tak ada yang berani membuangnya; lewat beberapa tangan; masuk gedung arsip. Di buku pendaftarannya tertulis: satu kantong barang kertas; asal-usulnya diragukan. Xiao Jiang kemudian berkata padaku, tiket bus paling awal di dalam kantong itu tiga puluh sembilan tahun silam; lembarannya dua ribu lebih; lebar kolom tiap lembar tiga puluh milimeter. Kubalas, kalau begitu semuanya disimpan. Tersimpan semuanya.
Malam Zhou Shu pulang dari piket; Zhou Yu juga sampai rumah; di tangan menggendong kotak kertas. Mi panjang umur dimakan pukul enam; dua telur. Satu dimakannya lebih dulu; satu lagi diletakkan di tepi mangkuk; selesai makan mi barulah dimakan. Ia berkata, Bu, ulang tahun tahun depan aku hendak satu penyuap telinga baru. Kubertanya, yang ini tidak bagus. Ia berkata, yang ini bagus. Ia berkata, cuma hendak ada yang baru; tali yang lama kusimpan; dililit rapi dimasukkan ke kotak. Selesai makan mi mangkuk dibawanya ke dapur; dicucinya; diletakkannya terbalik.
Setelah makan kotak kertas itu dibuka Zhou Yu; di dalamnya kepala magnet mesin rekam lama itu; dibawanya dari selatan; katanya yang mahal; minggu lalu sudah dibeli; khusus menunggu hari ini diganti. Mesin rekam dibongkarnya; digantinya; tiga gulungan dicobanya; satu gulungan musik; satu gulungan kosong; satu gulungan yang tujuh tahun dari kotak besi. Ia berkata, sudah; ke belakang hendak mendengarkan tinggal mendengarkan; mesinnya harus siap pakai. Zhou Shu di samping memandangi sampai tuntas; pemutar sekrup diserahkannya; sekali pun tak salah serah.
Pukul delapan lewat tiga puluh ia pergi tidur; penyuap telinga terpasang; lampu ditarik; gelap. Dari celah pintu kupandangi sekali; ia terbaring menyamping; penyuap telinga terpasang; talinya menggantung di samping bantal; tak bergerak. Di samping bantal terletak buku kulit lembutnya; sudah lusuh dibalik; diikat karet gelang. Masuk menyelimutinya; ia tak terbangun. Buku kulit lembutnya tidak kusentuh. Kutahu baris-baris apa di dalamnya: satu; nomor tiga puluh satu; yang terakhir; dibacakan oleh orang sendiri; di belakangnya terang, taruh, stabil. Semua ini sudah tak diingatnya; bukunya mengingat untuk dia. Tidurnya sangat nyenyak.
Kembali ke meja, jurnal hari ini kulengkapi. Di kolom catatan tertulis: pita berjalan normal. Di kolom keterangan tertulis: pukul tujuh pagi sampai rumah; bubur terhangatkan. Siang tak ada tamu datang — Wei Dongquan datang pagi; tidak dihitung siang. Sampai di sini terhenti lagi; pena terangkat; melompati dua kotak; baru menulis ke bawah. Dua kotak itu kosong. Kutahu itu kusinggahkan untuk siapa, tak ada yang sanggup menyahut; tetapi waktu kotak itu kosong, kalimatnya berdiri mantap.
Kalender meja kubalik. Kotak tanggal tiga belas bulan pertama, tahun lalu dititik satu titik; tahun ini tak ada angka untuk dititikkan. Besok empat belas; lusa lima belas. Kotak demi kotak, halaman demi halaman; kosong semuanya; hari semuanya.
Di baris terakhir jurnal kutulis: Hari ini di seberang seperti biasa. Aku seperti biasa ada.
Selesai menulis, ditutup; lampu dimatikan. Lapisan di dalam telinga bergoyang sekali; berbunyi sekali. Menghitung pun tidak; tidur.