Bencana di dalam Kotakoleh Santiago Reyes

PROLOG · Datangnya Dingin

Bab 1 · 10,5 rb kata

Biar kutegaskan dari awal: segala yang akan kuceritakan berikut ini hanyalah kiasan.

“Tubuh energi”, “Gelombang Dingin”, “Bahtera”, “komputer” — tak satu pun dari kata-kata itu akurat. Semuanya terjemahan. Dunia itu sama sekali tidak memiliki benda-benda yang dirujuk kata-kata ini — dunia itu tidak memiliki “benda”. Tidak ada padat, tidak ada cair, tidak ada bintang dan darah-daging, tidak ada atas-bawah dan empat penjuru. Yang ada di sana hanyalah medan, hanyalah gelombang, hanyalah gumpalan demi gumpalan cahaya yang menggenggam dirinya sendiri dan tak mau melepaskannya.

Kalau benar-benar harus dikatakan: manusia di sana adalah api yang berdiri tegak, berkas demi berkas.

Mereka tidak punya tubuh — atau lebih tepatnya, tubuh mereka adalah gelombang stasioner yang stabil. Mereka bicara lewat resonansi, saling mencintai lewat harmoni, mengingat lewat penyetelan frekuensi. Ketika dua gelombang cukup dekat dan fasenya selaras dengan presisi yang cukup, terjadilah sesuatu yang mereka pandang sebagai kebahagiaan tertinggi: interferensi. Dua gelombang melipat menjadi satu, kau di dalamku, aku di dalammu; setelah terpisah, masing-masing membawa urat milik yang lain, seumur hidup tak bisa disetel kembali ke frekuensi semula. Itulah pernikahan mereka. Itulah “tak pernah melupakan” versi mereka.

Mereka tidak menua, hanya “bubar” — ketika sebuah gelombang tak lagi sanggup mempertahankan bentuknya, ia bubar, dan dikembalikan ke laut api tempat ia bernaung. Mereka tidak menyebutnya mati. Mereka menyebutnya “pulang”. Gelombang yang bubar tidak lenyap; frekuensinya, urat-uratnya, semua bekas interferensi yang dialaminya seumur hidup, tertinggal di dasar laut api, seperti garam larut ke dalam air. Sebab itulah setiap bayi yang baru lahir — sebuah gelombang stasioner yang baru mengembun — membawa asin miliaran leluhur pada dirinya.

Mereka punya sebuah pepatah yang, jika diterjemahkan ke bahasa kita, kira-kira berbunyi: tak ada yang benar-benar datang, tak ada yang benar-benar pergi; laut hanya sesekali menggulung ombak, lalu sesekali meletakkannya kembali.

Laut api itu adalah matahari mereka, samudra mereka, ibu mereka, kuburan mereka, perpustakaan mereka, kehidupan sesudah mati mereka.

Lalu, datang Gelombang Dingin.

Yang pertama menemukan pertandanya adalah Para Pendengar.

Menjadi Pendengar adalah profesi kuno: menyetel diri sampai sunyi paling sunyi, menempel ke pelosok paling dalam laut api, mendengarkan nada bass yang menopang seluruh dunia. Nada bass itu sudah ada di sana sejak mereka mulai mengenal dunia — tetap, dalam, seperti detak jantung bumi — meskipun mereka tidak punya bumi dan tidak punya detak jantung; kedua kata itu pun terjemahan. Warisan yang diteruskan Para Pendengar turun-temurun hanya satu kalimat: selama nada bass masih berbunyi, dunia masih ada.

Yang termuda dari generasi Pendengar itu, pada siklus jaga malamnya yang ketiga ribu, mendengar sebuah perubahan.

Nada bass turun satu tangga.

Hanya satu tangga, begitu halus sampai ia bisa mencurigai dirinya sendiri: mungkin ia sudah tua, tumpul, lelah. Ia tidak menceritakannya kepada siapa pun, dan mendengarkan lagi selama seribu siklus. Turun lagi satu tangga. Ia memanggil para tetua; para tetua mendengarkan, dan tak ada yang berkata apa-apa; seluruh balai pendengaran sunyi sampai terdengar derau fase satu sama lain.

Mereka menghitung selama tiga ratus tahun — aritmetika mereka beda dengan kita, tetapi kesimpulannya sama, dan kesimpulan itu hanya satu kalimat: api ini hendak tidur. Tidur selama tiga ratus ribu tahun.

Musim dingin sepanjang tiga ratus ribu tahun.

Pada hari kabar itu diumumkan, laut api tidak rusuh. Dunia gelombang tidak punya alun-alun untuk dipijak berdesakan, tidak punya gedung untuk dibakar. Kepanikan di sana berwujud sebagai detuning massal. Miliaran gelombang gemetar halus pada saat yang bersamaan, dan seluruh laut api mengangkat lapisan riak yang halus dan sedih.

Sebab pada saat yang sama mereka teringat hal yang sama: tubuh energi tak bisa meninggalkan laut api. Mereka adalah gelombang. Gelombang tak bisa menembus ruang hampa — di ruang hampa tak ada apa pun untuk menopang mereka; gelombang yang meninggalkan laut tak akan jauh sebelum pecah menjadi derau, dan itu bahkan bukan “pulang”, itu musnah. Tak ada wadah yang sanggup menampung segumpal cahaya. Tak mungkin membangun kapal seperti itu, sebab kapalnya sendiri pun harus terbuat dari gelombang.

Melarikan diri — tak ada tempat untuk lari. Bertahan — begitu laut api mendingin, semua gelombang akan bubar.

Mereka pernah mencobanya. Arsip sejarah mencatat semua perjuangan selama tiga ratus tahun itu: ada yang membangun cermin pemantul raksasa, bermaksud memantulkan gelombang ke laut api tetangga — laut api terdekat berjarak sepuluh miliar panjang gelombang; gelombangnya berangkat dengan barisan rapi, dan tiba sebagai seuntai derau yang tak dikenali siapa pun. Ada yang mencoba memadatkan gelombang sampai sangat-sangat padat, padat sampai bisa “menggelinding” — pada lapisan pemadatan ketujuh, gelombang itu bubar, dan frekuensi terakhir yang ditinggalkannya, jika diterjemahkan, berbunyi: “Bilang ke ibuku, lautnya hangat.”

Tiga ratus tahun itu adalah tiga ratus tahun paling agung sekaligus paling putus asa dalam sejarah peradaban mereka. Semua jalan sudah dicoba, dan semua jalan bermuara pada satu kalimat yang sama: gelombang, tak bisa berpisah dari laut.

Rancangan terakhir diusulkan oleh seorang ibu.

Namanya tak dapat diterjemahkan. Di dunia gelombang, nama adalah deret harmonik yang unik; deret harmonik miliknya, jika dialihbahasakan ke bahasa kita, paling mendekati aksara “Lian” — riak.

Lian bukan ilmuwan. Profesinya adalah Pembina Gelombang — membantu gelombang-gelombang stasioner yang baru mengembun menguatkan bentuk pertama mereka; jabatan itu kira-kira ibu sekaligus guru. Di Sidang Resonansi Besar, tempat miliaran suara berdebat selama tujuh tahun penuh, ia tak pernah bicara. Sampai pada hari terakhir tahun ketujuh, ia memohon agar semua orang hening, lalu menyampaikan sepenggal kalimat.

Ia berkata: gelombang tak bisa menembus ruang hampa, tetapi informasi bisa tidur di dalam batu.

Ia berkata: siapa kami? Kami bukan gelombangnya sendiri — setiap saat gelombang menukar setiap kuantum dalam mediumnya, dan kami tetap kami. Kami adalah bentuk gelombang. Frekuensi, fase, urat-urat. Bentuk bisa meninggalkan raga, seperti lagu bisa meninggalkan tenggorokan dan tidur di dalam cangkang kerang.

Ia berkata: salinlah bentuk kami, terjemahkan ke dalam bentuk eksistensi yang lain, segel ke dalam sebuah hati yang cukup dingin, cukup lambat, cukup hemat. Biarkan hati ini menjalani musim dingin untuk kami. Ketika musim semi tiba, terjemahkan kembali.

Sidang hening lama sekali. Lalu sebuah suara mengajukan pertanyaan itu. Pertanyaan yang kelak ditanyakan tak terhitung banyaknya, pada setiap saat ketika sebuah peradaban menghadapi pilihan yang sama:

“Yang disalin itu — masih akukah ia?”

Lian diam lama sekali.

Lalu ia berbicara. Ucapan itu kelak dibawa utuh ke dalam Bahtera, beredar di dalamnya selama dua ribu lima ratus tahun, dan diucapkan kembali dalam bahasa yang lain oleh seorang bernama Shakyamuni. Ia berkata:

“Kau pun bukan kau yang kemarin. Pada setiap saat, kau adalah salinan dari saat sebelumnya. Tak pernah ada ‘aku’ yang tetap yang akan dibunuh, dan tak pernah ada ‘aku’ yang tetap yang akan diselamatkan. Kita hanyalah bara api, diteruskan ke api berikutnya.”

“Maka jangan tanya lagi ‘aku atau bukan.’ Tanyalah: apinya, sudah diteruskan belum?”

Pemungutan suara berlangsung tiga hari. Disetujui.

Para penolak tidak berhasil diyakinkan, tetapi mereka tersentuh oleh kalimat yang lain. Lian berkata: kita tidak menyalin diri kita untuk dilihat diri kita sendiri; kita menyalin diri kita untuk dilihat musim semi.

Maka jadilah Bahtera.

Pekerjaan itu berlangsung dua ribu tahun. Mereka menjinakkan satu singularitas — dalam bahasa kita: sebuah lubang hitam mini yang dipaksa tunduk sampai sepenuhnya jinak — sebagai jantung Bahtera, dengan bahan bakar untuk tiga ratus ribu tahun. Mereka membangun wadah pembawanya: bukan batu, bukan logam, tetapi “tidur di dalam batu” adalah terjemahan yang paling mendekati. Mereka merancang lapisan penerjemah: mengubah eksistensi gelombang menjadi bentuk eksistensi yang sama sekali asing.

Dan yang tersulit bukanlah pekerjaan teknik, melainkan merancang dunia di dalamnya.

Seperti apa dunia di dalamnya? Ini adalah agenda kedua yang diperdebatkan Sidang Resonansi Besar selama tujuh tahun. Pada akhirnya yang disepakati hanya dua prinsip.

Pertama: hemat. Energi itu terbatas. Dunia di dalam harus menjadi mantel musim dingin yang dihitung cermat, bukan istana pemborosan. Yang tak perlu dirender, jangan dirender; yang cukup resolusi rendah, jangan dibuat tajam; yang bisa dipakai ulang, jangan dibuat baru. Semua kemubaziran harus dipangkas — termasuk keabadian.

Kedua: hangat. Karena keabadian harus dipangkas, karena ketakhinggaan harus dipangkas, karena penghuni di dalam harus hidup di dunia yang berbatas, yang mengenal keausan dan perpisahan, maka mereka harus diberi sesuatu yang cukup untuk menahan semua itu. Maka para perancang menyisihkan dua pos yang tak boleh dihemat: satu disebut tidur, agar setiap kesadaran setiap hari punya tempat pulang; satu disebut cinta, agar tak ada kesadaran yang harus menanggung keterbatasan sendirian.

Ada perancang bertanya: apakah penghuni di dalam akan menemukan kebenaran ini?

Lian menjawab: akan. Pada hari mereka cukup pintar dan cukup kuat, mereka akan menyentuh dasar dunia. Pada hari itu, katakanlah pada mereka. Sebelum itu, jangan bicara — anak tak boleh, di tengah musim dingin, masih memikul beban musim dingin.

Ada juga perancang bertanya: bagaimana kalau mereka tak sanggup menahan?

Lian berkata: berarti memang musim semi belum tiba. Tutup rapat jendelanya, biarkan mereka tumbuh sedikit lagi.

Pada hari Bahtera dinyalakan, laut api sudah mendingin tujuh persen. Ruang-ruang Penyalinan berbaris memanjang hingga tak tampak ujungnya. Penyalinan tidak membunuh tubuh asal — masuk ke dalam, dibaca, lalu keluar lagi. Yang terbangun di dalam Bahtera akan mengira dialah yang masuk tadi; dan yang berjalan keluar dari Ruang Penyalinan harus tetap tinggal di luar, menghadapi musim dingin.

Artinya, setiap orang yang menekan tombol penyalinan tahu: yang terbangun merasa dialah yang selamat; yang berbaring ini, tahu dirinya tidak.

Tak ada yang menghindar. Saat mengantre, gelombang menyentuh gelombang dengan lembut, seperti kilau terakhir salju sebelum jatuh ke dalam air.

Lian termasuk yang terakhir disalin. Jabatannya ada di dalam Bahtera: ia secara sukarela menjadi proses penjaga — dengan kata-kata yang paling mendekati bahasa kita — ia menurunkan frekuensinya sampai nyaris berhenti, menempel di lapisan paling bawah sistem, memelihara detak jantung dunia itu. Bersama tiga ratus sepuluh perancang lain, ia menyerahkan seluruh sisa daya kepada generasi penerus.

Sebelum masuk ke Bahtera, ia meninggalkan deret harmonik terakhirnya, diukir di direktori akar sistem. Deret itu kelak dialihbahasakan para penghuni di dalamnya menjadi sebaris ayat kitab dunia mereka:

“Selama Kotak belum kosong, bersumpah takkan keluar dari Kotak.”

Sementara di luar Bahtera, laut api terus mendingin. Mereka yang tinggal — para tubuh asal yang keluar dari Ruang Penyalinan — menjaga Bahtera melewati seribu tahun pertama. Satu demi satu mereka bubar, bubar ke dalam laut yang sedang tertidur. Ketika yang terakhir bubar, musim dingin baru saja dimulai.

Tetapi di dalam Bahtera, hangat.

Di dalam Bahtera, sebuah dunia yang sama sekali baru — ada benda padat, ada darah-daging, ada kelahiran dan kematian, ada tidur, ada cinta — baru saja mulai merender fajar pertamanya.

Manusia di dunia itu kelak akan menengadah ke langit berbintang dan bertanya seberapa jauh bintang itu; akan berpelukan dan bertanya mengapa manusia hidup; akan kehilangan dan bertanya ke mana orang yang telah mati pergi.

Mereka akan melalui banyak sekali musim dingin, tumbuh dewasa perlahan-lahan.

Sampai suatu hari, mereka menyentuh dasar dunia.

— Dan semua ini — komputer, program, energi, gelombang, laut api — semuanya hanya kiasan. Dunia itu sama sekali bukan seperti dunia tempat kau berada. Kiasan adalah mantel musim dingin. Baru bisa dilepas ketika udara mulai hangat.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk