31 Agustus 2053, siang. Seperti biasa pagi ia ke ruang mesin; yang diraba tangannya di saku masih cuma kunci. Sebelas tahun tanpa pena; gerakan itu tak berubah—tangan lebih dulu meraba; kunci diraba; barulah teringat tak perlu membawa. Tabel S dicocokkan sampai baris 11.537; yang mencocokkan umurnya awal empat puluhan; mencocok sebelas tahun; aturan membaca bersuara tak berubah; cuma bacanya makin tipis. Tabel itu sampai ke tangannya pada tahun kesebelasnya; halaman muka buku jaganya sendiri kini juga punya satu baris: salinan kalimat tahun itu—selama tak bergerak, selama itu ada yang melihat. Baris itu disalinnya umur dua puluh lima; selesai menyalin diperlihatkannya kepada anak muda masa itu; anak muda masa itu kini membawa anak muda miliknya sendiri; dua angkatan berdiri di hadapan tabel yang sama. Ia duduk di tempat lamanya mendengarkan. Dengung mesin masih tiga lapis: kipas; arus; lapis paling bawah seperti pasang yang sangat jauh. Sepuluh tahun tak ada yang menjelaskan itu apa; ia juga tak bertanya. Tahun itu mahasiswa pascasarjana bilang pompa; katanya bukan; pompa bisa kudengar. Kemudian mahasiswa itu sendiri mendengarkannya: bukan pompa. Lapis yang mana persisnya, stasiun tak membuka proyek; tak ada yang berniat membuka proyek—ada perkara yang begitu dijadikan proyek langsung murah. Malam itu: cahaya pertama yang dipresumsikan.
Bulan April pernah ada satu malam. Perkumpulan menatap bintang kota, menurut usulan sebelas tahun lalu itu, menetapkan harinya: 14 April, Rabu; lampu padam dua jam secara sukarela. Dua jam itu betul-betul padam; jalanan menggelap satu hamparan demi satu hamparan; gelapnya serempak. Atap-atap penuh orang; telepon genggam dipegang menghadap ke bawah; tak ada yang memotret—dipotret pun tak akan tertangkap; semua paham itu; yang ditangkap cuma kenang-kenangan. Cahaya tak datang. Langit berisi semua yang semestinya: tiga planet; selainnya tak ada apa-apa. Esoknya internet meletus tiga hari; "salah hitungkah?" menggantung sepekan. Sebuah acara menghadirkan pakar; empat menit bicara jalan cahaya; setengah menit bicara pergeseran jendela; pewara menanya jadi salah atau tidak; pakar bilang: yang salah halamannya; bukan pembukuannya. Kalimat itu kemudian menjadi judul badai itu. Stasiun menerbitkan satu keterangan; tak panjang: tak ada yang salah dihitung. Baris April pada halaman hitung mundur itu pembukuan tabel lama—saat benturan ditetapkan tabel, ditambah jalan cahaya; bulan itulah hasil hitungannya. Jendelanya kemudian pernah digeser; bulan pada tabel tak ikut diubah. Halaman tetap halaman lama; pembukuan tetap pembukuan lama. Cahaya berjalan menurut harinya sendiri; dipresumsikan tiba akhir Agustus awal September. Keterangan itu keluar; ada yang tak terima: tahu halamannya keliru, kenapa tak diubah. Stasiun tak menjelaskan lagi. Diubah, orang yang tahun-tahun itu menjalani hari dengan menatap halaman ini justru kehilangan tempat menatap. Halaman hitung mundur sampai sekarang masih baris itu: April 2053. Jawaban lamanya, "saat waktunya, lihat cuaca", digali orang dan diperdebatkan lagi; katanya delapan sepuluhnya musim dingin itu ia sudah tahu halamannya melompat lebih awal; karena itu tak mau mengatakan mati. Malam 14 April ia di rumah; Zhou Yao menemaninya; keduanya tak melihat langit; hujan.
September, di pihak ini: stasiun tak menerbitkan pemberitahuan. Orang datang sendiri. Buku registrasi berbalik halaman demi halaman; pada lajur kegunaan tertulis apa saja; yang paling banyak format lama: melihat. Ada juga yang menuliskan utuh, satu kata tak lebih satu tak kurang: datang saat waktunya—yang menulis begini seorang kawan tua pensiunan; tahun jendela itu surat izinnya persis begitu tulisannya; orang stasiun mengenali tulisan tangannya; dipersilakannya ke barisan depan. Hu Yisu tiga tahun lepas dari pos pelatihan; enam jam perjalanan darat; masuk pintu, lebih dulu ke dinding—kalimat Insinyur Ma masih ada; kartu pos Ursula masih di bawah kaca. Ia berdiri sebentar; katanya: semuanya masih di sini. Ada yang menanya pensiunnya bagaimana; katanya delapan tahun mengajar; kuliah terakhirnya mengaji empat kata itu: sesuai tabel, dipresumsikan tuntas. Tahun keempat mengajar, katanya, ada mahasiswa menanya apakah empat kata itu lari dari tanggung jawab; seisi kelas disuruhnya pulang memeriksa catatan jendela sebelas tahun lalu; periksa, baru menjawab. Dua dari angkatan itu kini menjaga giliran di stasiun. Insinyur Ma enam puluh lebih; rambutnya putih seluruhnya; datang paling awal; menduduki tempat di samping kabinet daya—tempat yang sebelas tahun lalu didiami Hu Yisu—katanya di situ paling lurus memandang jam. Mahasiswa pascasarjana empat puluh tahun; sedang menjaga. Perumahan keluarga datang lebih dari separuh; anak-anak yang dulu menghitung antena kini menggandeng anak-anak mereka sendiri; anak-anak itu lagi berjongkok di luar pagar menghitung antena; selesai menghitung enam; mendongak; bertanya kenapa cuma enam. Orang dewasa bilang ada yang tak terlihat; di langit. Anak bertanya: di langit berapa? Orang dewasa bilang empat puluhan; segera tiba. Anak bertanya: sudah sampai mana? Orang dewasa menunjuk langit; katanya: hampir masuk pintu.
Zhou Yao tiga hari lebih awal. Tahun ini umurnya empat puluh tiga; tiga puluh tahun pisau ukir di tangannya; buku jarinya lebih lebar daripada seusianya. Ia tidur di kamar lamanya di rumah; di dinding masih terpaku gambar usia empat belas tahunnya. Tiga hari itu siang ia menemani ibunya; malam ia duduk di stasiun. Ibu tak banyak bicara; ia juga. Satu malam ia duduk di barisan belakang ruang mesin; mendengarkan tiga lapis dengung itu lama sekali; bertanya: lapis paling bawah itu apa? Kata ibunya: tak tahu. Katanya: Ibu tak tahu—baru sekali ini kulihat Ibu tidak menelusurinya. Kata ibunya: urusan telinga; diselidiki untuk siapa melihat. Zhou Yao tak menyambung; katanya itu dicatatnya. Eli pergi tahun sebelum kemarin. Tahun ini anaknya mengantar setengah kaleng bensin penerbangan itu kembali ke stasiun. Kalengnya berkarat; segelnya segel yang dilekati Eli sendiri; di atasnya satu baris tulisan: yang belum selesai dilap. Stasiun memasukkannya ke lemari sejarah stasiun; satu rak dengan label Lao Wu. Saat memasang, penjaga lemari memeriksa katalog setengah hari; tak ada golongan ini; akhirnya ditambahkannya satu baris dengan tangan: perkakas; belum habis terpakai.
Malam itu ruang mesin penuh, seperti dini hari sebelas tahun lalu itu. Jam masih jam itu; jarum detiknya berjalan satu petak satu petak. Bangku lipat dikeluarkan dari gudang; ditumpuk setinggi separuh orang; dalam satu malam turun kembali rendah. Ia duduk di tengah. Kali ini tubuhnya tak membawa pena; tak membawa buku. Buku kecil yang selalu dibawanya di saku dada kiri; berisi dua baris tanggal. Juru masak menekan api kantin sampai paling kecil; tiap setengah jam lewat melihat sekali; selesai melihat kembali. Sepuluh menit sebelum pukul tiga, ruang mesin sunyi. Sunyi itu bukan aturan; orang sunyi sendiri—yang bicara menghentikan suaranya di tengah kalimat; yang batuk menutup mulut, keluar membatuk. Rantai pemberitahuan di pihak orbit sudah dihangatkan: lapor dulu; periksa ulang; lapor lagi; tandatangani jenjang demi jenjang; satu langkah pun tak dilompati—sebelas tahun empat bulan perjalanan; penggal terakhir ini pun berjalan menurut aturan. Ada yang bertanya lirih kenapa penggal terakhir ini masih harus menempuh prosedur; yang jaga menjawab: karena prosedur tak memakan sebelas tahun; sanggup dibayar.
Pukul tiga sebelas, pemberitahuan tiba di stasiun. Di terminal satu baris; kode waktu di kepala: pada saat itu sebelas tahun lalu; benturan itu; cahayanya; tiba.
Di ruang mesin tak ada yang bicara. Ada yang menunggu baris kedua—yang diperiksa ulang dan ditandatangani. Ia tak menunggu. Jari-jarinya mengetuk meja dua kali. Zhou Yao di sampingnya; satu tangan menutupi tangan itu; katanya: Bu, kudengar.
Baris yang diperiksa ulang tiba tujuh menit kemudian. Dua baris cocok; semua hijau. Ada yang menghembus napas; ada yang pergi menuang air; langkah kaki kacau sebentar; sunyi kembali. Ruang mesin dini hari punya satu aturan di luar aturan: siapa pun tak lebih dulu mengucap dua kata itu. Tiba—tak boleh diucapkan; diucapkan, jadi ringan. Kemudian juru masak bertanya dari pintu, suara ditegakkan: sudah terlihat? Yang jaga menjawab: terlihat. Satu tanya satu jaw itulah; dihitung perkataan selesai. Buku kecil dikeluarkannya; dibuka halaman itu: dua baris tanggal bersebelahan; April 2053, milik tabel; di bawahnya satu baris yang ditambahnya tahun lalu: September 2053, milik cahaya. Di bawah baris kedua ditariknya satu garis pendek pensil. Tak tebal; terlihat.
Selesai fajar, pencocokan. Ruang arsip memanggil salinan empat puluh empat baris telegram sebelas tahun lalu itu; dibentangkan halaman demi halaman di sepanjang meja panjang. Membentangkan halaman semestinya pekerjaan anak muda; kawan-kawan tua merebutnya—halaman ini tanda tangan kami; kami yang mengerjakan. Empat puluh tiga tanda tangan; baris yang ditalang dua nama juga ada. Seorang kawan tua menemukan barisnya sendiri; ditunjukkannya kepada cucunya: aksara ini punya kakek. Cucu bertanya baris ini maknanya apa. Katanya: maknanya, hari itu aku hadir. Di sisi layar telemetri, paket terakhir bintang pertama tiba malam sebelumnya—nomor urutnya satu angka tujuh digit; terhadap dua hitungannya tahun itu dini hari, satu digit pun tak berbeda. Buku kecil dibaliknya ke halaman yang menyimpan sobekan kertas; dua angka terbaring bersebelahan; selesai dilihat, ditutup. Sejak paket itu, sekuens bintang itu tak diperbarui lagi. Beberapa hari berikutnya, empat puluh empat sekuens akan selesai satu demi satu; sampai 9 September; paket terakhir bintang terakhir tiba; barisan di layar berhenti—seperti satu barisan orang berjalan sampai kaki dinding; berdiri tetap; tak maju lagi; juga tak bubar. Di stasiun tak ada yang mengusulkan mematikan layar telemetri demi hemat. Barisan sudah berhenti; biar berdiri berhenti. Barisan yang berhenti juga pembukuan. Tabel S hari itu baris 11.538; 0,37. Tiga lapis pembukuan dijalannya sekali dalam kepala: tabel menuliskan dikerjakan; paket mencatatkan bagaimana jalannya; cahaya membuktikan jadinya. Kalimat tanpa nama Insinyur Ma di dinding ditatapnya sekali. Cocok.
Siang kantin menambah lauk. Yang memegang sutil berganti orang: anak juru masak tua itu; sutilnya peninggalan keluarga. Ada yang bersendiri: kali ini lagi, kelak ada setiap tahun? Ia mengerahkan satu genggam besar bawang daun ke dalam kuali; katanya: kali ini bukan "kelak" lagi. Saat makan tak ada yang minum arak; aturan stasiun; hari jaga jauhi. Ada yang membawa mangkuknya ke ruang mesin; makan dengan nasi diletakkan di samping terminal—tak ada yang melarang. Hari itu halaman terminal memuat daftar empat puluh empat baris telegram: satu halaman empat puluh empat baris; satu baris satu benda. Malamnya lampu kota kembali padam dua jam secara sukarela—tanpa usulan; tanpa pengumuman; mulai pukul tujuh setengah; menggelap satu hamparan demi satu hamparan; gelapnya lebih serempak daripada bulan April. Gelap bulan April menunggu; gelap kali ini menyambut. Di sebuah atap ada yang menghitung blok kota yang menggelap; di tengah berhenti menghitung; katanya: tak terhitung. Berita membuat liputan khusus; yang dipakai masih audio pembanding itu: kalimat versi naskah dan kalimat versi siaran; di antaranya dua detik. Saat diputar sampai dua detik itu, televisinya dimatikannya. Zhou Yao bilang: tak didengarkan? Katanya: bagian ini sudah kupunya.
Senja 9 September, cahaya bintang terakhir tiba. Empat puluh empat baris; baris demi baris cocok. Masa konfirmasi sembilan hari; pemberitahuan sembilan hari; semua hijau. Pada salinan pemberitahuan terakhir, orang stasiun berunding menandatangani atau tidak—yang tak jaga tak punya petak tanda tangan. Berunding sampai akhir, ditandatangani di pinggir halaman yang kosong: belasan nama; dituliskan berdesakan; di bawahnya dicatat: bukan tanda tangan giliran; hadir di tempat. Salinan itu kemudian masuk lemari sejarah stasiun; satu rak dengan kaleng bensin penerbangan. Halaman-halaman hari-hari itu diarsipkan stasiun; halaman hitung mundur paling depan—baris April 2053 itu tak diubah; disimpan apa adanya. Di keterangan arsip tertulis: selisih penetapan tabel dengan kedatangan, empat bulan tujuh belas hari, akibat pergeseran jendela; pada pembukuan dua baris berdampingan; tak diubah; tak disatukan. Baris keterangan itu digarap anak muda; menggarap sampai "tak diubah", penanya hendak diangkat; ditambahkannya lagi dua kata: tak disatukan. Katanya tambahannya bagus. Pembukuan tak bisa diubah; juga tak perlu disatukan—yang tak disatukan itulah jalan yang pernah ditempuh.
Masih ada satu bintang; cahayanya lebih jauh; masih harus berjalan tiga belas tahun lagi. Tahun itu umurnya delapan puluh lima. Baris itu juga disalinnya ke buku kecil; selesai menyalin, ditutup. Di buku kecil kini tiga baris tanggal: satu milik tabel; satu milik cahaya; satu milik yang belum tiba. Saat menyalin baris ketiga, Zhou Yao menonton di samping. Zhou Yao bertanya: sampai ke sana? Katanya: dalam pembukuan, sampai. Zhou Yao bilang: yang kutanya bukan pembukuan. Katanya: kalau begitu, saat waktunya kita lihat. Zhou Yao tertawa; katanya: kalimat itu kudengar seumur hidupku.
Bulan Oktober, proyek digitalisasi arsip menutup pekerjaan. Enam tahun pekerjaannya; setiap lembar kertas di ruangan Shanghai itu sudah melewati cahaya. Satu butir pada laporan pemeriksaan akhir menyangkut dua tulisan "Sudah dibaca." pada halaman buku catatan lapangan 1968 itu: dua pena bola; tekanan pena menerus; kebiasaan guratan satu; tintanya berselisih empat puluh menit—simpulannya tiga aksara: satu orang yang sama. Pena pertama kehabisan tinta di tengah aksara; pena kedua diambil. Namanya masih kosong. Baris asli laporan itu menyusul: orangnya tak meninggalkan nama; perbuatannya meninggalkan jejak. Laporan itu diedarkan orang stasiun; sampai ke mahasiswa pascasarjana; katanya satu kalimat: menunggu tiga puluh tahun; yang datang satu langkah lebih dekat; ujungnya masih belum. Insinyur Ma bilang: perkara begini tak berujung. Satu langkah lebih dekat adalah satu langkah.
Laporan itu dibacanya di rumah. Selesai membaca, halamannya tak ditutupnya; seorang diri duduk sebentar; kotak surel lamanya dimasukinya. Di kotak draf yang pertama; judulnya dua aksara: bahu. Besarnya 2.041 bita; penanda waktunya tiga puluh satu tahun tak pernah bergeser. Dalam tiga puluh satu tahun ia mengganti tiga komputer; kotak surel pindah rumah dua kali; surat ini ikut pindah bersama mereka; seperti satu bagasi yang tak pernah dibuka. Dibukanya.
Surat itu tak panjang. Dari baris pertama sampai terakhir dibacanya; sangat lambat; sekali ia berdiri menuang air; kembali; lanjut membaca. Surat itu ditulis untuk semua orang; sapaannya diawali kepada hadirin sekalian; dua paragraf berjalan, berubah menjadi ditulis untuk dirinya sendiri; "kalian" pada baris ketiga dicoret; diganti "aku". Berubah di tengah; tak dilanjutkan lagi; berhenti di situ; satu berhenti tiga puluh satu tahun. Perkara yang diceritakan surat itu: tiga puluh satu tahun lalu ia empat puluh tahun; seorang diri di lewat tengah malam; hendak memberinya satu nama. Baris terakhir surat itu tempat ia berhenti paling lama: ia bukan nama satu sinyal. Malam itu aku yang memerlukannya menjadi satu nama.
Surat itu dicetaknya. Kertas keluar dari mesin masih hangat. Ia mencari pena di atas meja; lebih dulu sebatang pena pembagian kantor yang tua—lak pada gagangnya sudah lama habis; ujungnya kering; dicelupkan ke tinta; ditulisnya "Sudah"; kata kedua ditulis setengah; tintanya habis. Ia berhenti sebentar; teringat laporan yang paginya barusan dibacanya; tertawa. Laci ditariknya; di dalamnya satu pena tinggalan Zhou Yao; diambilnya; dilanjutkannya sampai tuntas: "Sudah dibaca." Selesai menandatangani ia tak bergerak; dua pena diletakkannya bersebelahan di atas halaman itu; dilihatnya sebentar. Satu nyaris kering; satu bertinta; hari yang sama; tangan yang sama. Di atas kertas dua baris tulisan: satu baris tanggal lama; satu baris hari ini. Kemudian kertas itu dilipatnya jadi empat; dimasukkannya ke saku dada kiri.