Terjagaoleh Lu Chenzhou

32 · Cahaya

Bab 32 · 13,8 rb kata

31 Agustus 2053, siang. Seperti biasa pagi ia ke ruang mesin; yang diraba tangannya di saku masih cuma kunci. Sebelas tahun tanpa pena; gerakan itu tak berubah—tangan lebih dulu meraba; kunci diraba; barulah teringat tak perlu membawa. Tabel S dicocokkan sampai baris 11.537; yang mencocokkan umurnya awal empat puluhan; mencocok sebelas tahun; aturan membaca bersuara tak berubah; cuma bacanya makin tipis. Tabel itu sampai ke tangannya pada tahun kesebelasnya; halaman muka buku jaganya sendiri kini juga punya satu baris: salinan kalimat tahun itu—selama tak bergerak, selama itu ada yang melihat. Baris itu disalinnya umur dua puluh lima; selesai menyalin diperlihatkannya kepada anak muda masa itu; anak muda masa itu kini membawa anak muda miliknya sendiri; dua angkatan berdiri di hadapan tabel yang sama. Ia duduk di tempat lamanya mendengarkan. Dengung mesin masih tiga lapis: kipas; arus; lapis paling bawah seperti pasang yang sangat jauh. Sepuluh tahun tak ada yang menjelaskan itu apa; ia juga tak bertanya. Tahun itu mahasiswa pascasarjana bilang pompa; katanya bukan; pompa bisa kudengar. Kemudian mahasiswa itu sendiri mendengarkannya: bukan pompa. Lapis yang mana persisnya, stasiun tak membuka proyek; tak ada yang berniat membuka proyek—ada perkara yang begitu dijadikan proyek langsung murah. Malam itu: cahaya pertama yang dipresumsikan.

Bulan April pernah ada satu malam. Perkumpulan menatap bintang kota, menurut usulan sebelas tahun lalu itu, menetapkan harinya: 14 April, Rabu; lampu padam dua jam secara sukarela. Dua jam itu betul-betul padam; jalanan menggelap satu hamparan demi satu hamparan; gelapnya serempak. Atap-atap penuh orang; telepon genggam dipegang menghadap ke bawah; tak ada yang memotret—dipotret pun tak akan tertangkap; semua paham itu; yang ditangkap cuma kenang-kenangan. Cahaya tak datang. Langit berisi semua yang semestinya: tiga planet; selainnya tak ada apa-apa. Esoknya internet meletus tiga hari; "salah hitungkah?" menggantung sepekan. Sebuah acara menghadirkan pakar; empat menit bicara jalan cahaya; setengah menit bicara pergeseran jendela; pewara menanya jadi salah atau tidak; pakar bilang: yang salah halamannya; bukan pembukuannya. Kalimat itu kemudian menjadi judul badai itu. Stasiun menerbitkan satu keterangan; tak panjang: tak ada yang salah dihitung. Baris April pada halaman hitung mundur itu pembukuan tabel lama—saat benturan ditetapkan tabel, ditambah jalan cahaya; bulan itulah hasil hitungannya. Jendelanya kemudian pernah digeser; bulan pada tabel tak ikut diubah. Halaman tetap halaman lama; pembukuan tetap pembukuan lama. Cahaya berjalan menurut harinya sendiri; dipresumsikan tiba akhir Agustus awal September. Keterangan itu keluar; ada yang tak terima: tahu halamannya keliru, kenapa tak diubah. Stasiun tak menjelaskan lagi. Diubah, orang yang tahun-tahun itu menjalani hari dengan menatap halaman ini justru kehilangan tempat menatap. Halaman hitung mundur sampai sekarang masih baris itu: April 2053. Jawaban lamanya, "saat waktunya, lihat cuaca", digali orang dan diperdebatkan lagi; katanya delapan sepuluhnya musim dingin itu ia sudah tahu halamannya melompat lebih awal; karena itu tak mau mengatakan mati. Malam 14 April ia di rumah; Zhou Yao menemaninya; keduanya tak melihat langit; hujan.

September, di pihak ini: stasiun tak menerbitkan pemberitahuan. Orang datang sendiri. Buku registrasi berbalik halaman demi halaman; pada lajur kegunaan tertulis apa saja; yang paling banyak format lama: melihat. Ada juga yang menuliskan utuh, satu kata tak lebih satu tak kurang: datang saat waktunya—yang menulis begini seorang kawan tua pensiunan; tahun jendela itu surat izinnya persis begitu tulisannya; orang stasiun mengenali tulisan tangannya; dipersilakannya ke barisan depan. Hu Yisu tiga tahun lepas dari pos pelatihan; enam jam perjalanan darat; masuk pintu, lebih dulu ke dinding—kalimat Insinyur Ma masih ada; kartu pos Ursula masih di bawah kaca. Ia berdiri sebentar; katanya: semuanya masih di sini. Ada yang menanya pensiunnya bagaimana; katanya delapan tahun mengajar; kuliah terakhirnya mengaji empat kata itu: sesuai tabel, dipresumsikan tuntas. Tahun keempat mengajar, katanya, ada mahasiswa menanya apakah empat kata itu lari dari tanggung jawab; seisi kelas disuruhnya pulang memeriksa catatan jendela sebelas tahun lalu; periksa, baru menjawab. Dua dari angkatan itu kini menjaga giliran di stasiun. Insinyur Ma enam puluh lebih; rambutnya putih seluruhnya; datang paling awal; menduduki tempat di samping kabinet daya—tempat yang sebelas tahun lalu didiami Hu Yisu—katanya di situ paling lurus memandang jam. Mahasiswa pascasarjana empat puluh tahun; sedang menjaga. Perumahan keluarga datang lebih dari separuh; anak-anak yang dulu menghitung antena kini menggandeng anak-anak mereka sendiri; anak-anak itu lagi berjongkok di luar pagar menghitung antena; selesai menghitung enam; mendongak; bertanya kenapa cuma enam. Orang dewasa bilang ada yang tak terlihat; di langit. Anak bertanya: di langit berapa? Orang dewasa bilang empat puluhan; segera tiba. Anak bertanya: sudah sampai mana? Orang dewasa menunjuk langit; katanya: hampir masuk pintu.

Zhou Yao tiga hari lebih awal. Tahun ini umurnya empat puluh tiga; tiga puluh tahun pisau ukir di tangannya; buku jarinya lebih lebar daripada seusianya. Ia tidur di kamar lamanya di rumah; di dinding masih terpaku gambar usia empat belas tahunnya. Tiga hari itu siang ia menemani ibunya; malam ia duduk di stasiun. Ibu tak banyak bicara; ia juga. Satu malam ia duduk di barisan belakang ruang mesin; mendengarkan tiga lapis dengung itu lama sekali; bertanya: lapis paling bawah itu apa? Kata ibunya: tak tahu. Katanya: Ibu tak tahu—baru sekali ini kulihat Ibu tidak menelusurinya. Kata ibunya: urusan telinga; diselidiki untuk siapa melihat. Zhou Yao tak menyambung; katanya itu dicatatnya. Eli pergi tahun sebelum kemarin. Tahun ini anaknya mengantar setengah kaleng bensin penerbangan itu kembali ke stasiun. Kalengnya berkarat; segelnya segel yang dilekati Eli sendiri; di atasnya satu baris tulisan: yang belum selesai dilap. Stasiun memasukkannya ke lemari sejarah stasiun; satu rak dengan label Lao Wu. Saat memasang, penjaga lemari memeriksa katalog setengah hari; tak ada golongan ini; akhirnya ditambahkannya satu baris dengan tangan: perkakas; belum habis terpakai.

Malam itu ruang mesin penuh, seperti dini hari sebelas tahun lalu itu. Jam masih jam itu; jarum detiknya berjalan satu petak satu petak. Bangku lipat dikeluarkan dari gudang; ditumpuk setinggi separuh orang; dalam satu malam turun kembali rendah. Ia duduk di tengah. Kali ini tubuhnya tak membawa pena; tak membawa buku. Buku kecil yang selalu dibawanya di saku dada kiri; berisi dua baris tanggal. Juru masak menekan api kantin sampai paling kecil; tiap setengah jam lewat melihat sekali; selesai melihat kembali. Sepuluh menit sebelum pukul tiga, ruang mesin sunyi. Sunyi itu bukan aturan; orang sunyi sendiri—yang bicara menghentikan suaranya di tengah kalimat; yang batuk menutup mulut, keluar membatuk. Rantai pemberitahuan di pihak orbit sudah dihangatkan: lapor dulu; periksa ulang; lapor lagi; tandatangani jenjang demi jenjang; satu langkah pun tak dilompati—sebelas tahun empat bulan perjalanan; penggal terakhir ini pun berjalan menurut aturan. Ada yang bertanya lirih kenapa penggal terakhir ini masih harus menempuh prosedur; yang jaga menjawab: karena prosedur tak memakan sebelas tahun; sanggup dibayar.

Pukul tiga sebelas, pemberitahuan tiba di stasiun. Di terminal satu baris; kode waktu di kepala: pada saat itu sebelas tahun lalu; benturan itu; cahayanya; tiba.

Di ruang mesin tak ada yang bicara. Ada yang menunggu baris kedua—yang diperiksa ulang dan ditandatangani. Ia tak menunggu. Jari-jarinya mengetuk meja dua kali. Zhou Yao di sampingnya; satu tangan menutupi tangan itu; katanya: Bu, kudengar.

Baris yang diperiksa ulang tiba tujuh menit kemudian. Dua baris cocok; semua hijau. Ada yang menghembus napas; ada yang pergi menuang air; langkah kaki kacau sebentar; sunyi kembali. Ruang mesin dini hari punya satu aturan di luar aturan: siapa pun tak lebih dulu mengucap dua kata itu. Tiba—tak boleh diucapkan; diucapkan, jadi ringan. Kemudian juru masak bertanya dari pintu, suara ditegakkan: sudah terlihat? Yang jaga menjawab: terlihat. Satu tanya satu jaw itulah; dihitung perkataan selesai. Buku kecil dikeluarkannya; dibuka halaman itu: dua baris tanggal bersebelahan; April 2053, milik tabel; di bawahnya satu baris yang ditambahnya tahun lalu: September 2053, milik cahaya. Di bawah baris kedua ditariknya satu garis pendek pensil. Tak tebal; terlihat.

Selesai fajar, pencocokan. Ruang arsip memanggil salinan empat puluh empat baris telegram sebelas tahun lalu itu; dibentangkan halaman demi halaman di sepanjang meja panjang. Membentangkan halaman semestinya pekerjaan anak muda; kawan-kawan tua merebutnya—halaman ini tanda tangan kami; kami yang mengerjakan. Empat puluh tiga tanda tangan; baris yang ditalang dua nama juga ada. Seorang kawan tua menemukan barisnya sendiri; ditunjukkannya kepada cucunya: aksara ini punya kakek. Cucu bertanya baris ini maknanya apa. Katanya: maknanya, hari itu aku hadir. Di sisi layar telemetri, paket terakhir bintang pertama tiba malam sebelumnya—nomor urutnya satu angka tujuh digit; terhadap dua hitungannya tahun itu dini hari, satu digit pun tak berbeda. Buku kecil dibaliknya ke halaman yang menyimpan sobekan kertas; dua angka terbaring bersebelahan; selesai dilihat, ditutup. Sejak paket itu, sekuens bintang itu tak diperbarui lagi. Beberapa hari berikutnya, empat puluh empat sekuens akan selesai satu demi satu; sampai 9 September; paket terakhir bintang terakhir tiba; barisan di layar berhenti—seperti satu barisan orang berjalan sampai kaki dinding; berdiri tetap; tak maju lagi; juga tak bubar. Di stasiun tak ada yang mengusulkan mematikan layar telemetri demi hemat. Barisan sudah berhenti; biar berdiri berhenti. Barisan yang berhenti juga pembukuan. Tabel S hari itu baris 11.538; 0,37. Tiga lapis pembukuan dijalannya sekali dalam kepala: tabel menuliskan dikerjakan; paket mencatatkan bagaimana jalannya; cahaya membuktikan jadinya. Kalimat tanpa nama Insinyur Ma di dinding ditatapnya sekali. Cocok.

Siang kantin menambah lauk. Yang memegang sutil berganti orang: anak juru masak tua itu; sutilnya peninggalan keluarga. Ada yang bersendiri: kali ini lagi, kelak ada setiap tahun? Ia mengerahkan satu genggam besar bawang daun ke dalam kuali; katanya: kali ini bukan "kelak" lagi. Saat makan tak ada yang minum arak; aturan stasiun; hari jaga jauhi. Ada yang membawa mangkuknya ke ruang mesin; makan dengan nasi diletakkan di samping terminal—tak ada yang melarang. Hari itu halaman terminal memuat daftar empat puluh empat baris telegram: satu halaman empat puluh empat baris; satu baris satu benda. Malamnya lampu kota kembali padam dua jam secara sukarela—tanpa usulan; tanpa pengumuman; mulai pukul tujuh setengah; menggelap satu hamparan demi satu hamparan; gelapnya lebih serempak daripada bulan April. Gelap bulan April menunggu; gelap kali ini menyambut. Di sebuah atap ada yang menghitung blok kota yang menggelap; di tengah berhenti menghitung; katanya: tak terhitung. Berita membuat liputan khusus; yang dipakai masih audio pembanding itu: kalimat versi naskah dan kalimat versi siaran; di antaranya dua detik. Saat diputar sampai dua detik itu, televisinya dimatikannya. Zhou Yao bilang: tak didengarkan? Katanya: bagian ini sudah kupunya.

Senja 9 September, cahaya bintang terakhir tiba. Empat puluh empat baris; baris demi baris cocok. Masa konfirmasi sembilan hari; pemberitahuan sembilan hari; semua hijau. Pada salinan pemberitahuan terakhir, orang stasiun berunding menandatangani atau tidak—yang tak jaga tak punya petak tanda tangan. Berunding sampai akhir, ditandatangani di pinggir halaman yang kosong: belasan nama; dituliskan berdesakan; di bawahnya dicatat: bukan tanda tangan giliran; hadir di tempat. Salinan itu kemudian masuk lemari sejarah stasiun; satu rak dengan kaleng bensin penerbangan. Halaman-halaman hari-hari itu diarsipkan stasiun; halaman hitung mundur paling depan—baris April 2053 itu tak diubah; disimpan apa adanya. Di keterangan arsip tertulis: selisih penetapan tabel dengan kedatangan, empat bulan tujuh belas hari, akibat pergeseran jendela; pada pembukuan dua baris berdampingan; tak diubah; tak disatukan. Baris keterangan itu digarap anak muda; menggarap sampai "tak diubah", penanya hendak diangkat; ditambahkannya lagi dua kata: tak disatukan. Katanya tambahannya bagus. Pembukuan tak bisa diubah; juga tak perlu disatukan—yang tak disatukan itulah jalan yang pernah ditempuh.

Masih ada satu bintang; cahayanya lebih jauh; masih harus berjalan tiga belas tahun lagi. Tahun itu umurnya delapan puluh lima. Baris itu juga disalinnya ke buku kecil; selesai menyalin, ditutup. Di buku kecil kini tiga baris tanggal: satu milik tabel; satu milik cahaya; satu milik yang belum tiba. Saat menyalin baris ketiga, Zhou Yao menonton di samping. Zhou Yao bertanya: sampai ke sana? Katanya: dalam pembukuan, sampai. Zhou Yao bilang: yang kutanya bukan pembukuan. Katanya: kalau begitu, saat waktunya kita lihat. Zhou Yao tertawa; katanya: kalimat itu kudengar seumur hidupku.

Bulan Oktober, proyek digitalisasi arsip menutup pekerjaan. Enam tahun pekerjaannya; setiap lembar kertas di ruangan Shanghai itu sudah melewati cahaya. Satu butir pada laporan pemeriksaan akhir menyangkut dua tulisan "Sudah dibaca." pada halaman buku catatan lapangan 1968 itu: dua pena bola; tekanan pena menerus; kebiasaan guratan satu; tintanya berselisih empat puluh menit—simpulannya tiga aksara: satu orang yang sama. Pena pertama kehabisan tinta di tengah aksara; pena kedua diambil. Namanya masih kosong. Baris asli laporan itu menyusul: orangnya tak meninggalkan nama; perbuatannya meninggalkan jejak. Laporan itu diedarkan orang stasiun; sampai ke mahasiswa pascasarjana; katanya satu kalimat: menunggu tiga puluh tahun; yang datang satu langkah lebih dekat; ujungnya masih belum. Insinyur Ma bilang: perkara begini tak berujung. Satu langkah lebih dekat adalah satu langkah.

Laporan itu dibacanya di rumah. Selesai membaca, halamannya tak ditutupnya; seorang diri duduk sebentar; kotak surel lamanya dimasukinya. Di kotak draf yang pertama; judulnya dua aksara: bahu. Besarnya 2.041 bita; penanda waktunya tiga puluh satu tahun tak pernah bergeser. Dalam tiga puluh satu tahun ia mengganti tiga komputer; kotak surel pindah rumah dua kali; surat ini ikut pindah bersama mereka; seperti satu bagasi yang tak pernah dibuka. Dibukanya.

Surat itu tak panjang. Dari baris pertama sampai terakhir dibacanya; sangat lambat; sekali ia berdiri menuang air; kembali; lanjut membaca. Surat itu ditulis untuk semua orang; sapaannya diawali kepada hadirin sekalian; dua paragraf berjalan, berubah menjadi ditulis untuk dirinya sendiri; "kalian" pada baris ketiga dicoret; diganti "aku". Berubah di tengah; tak dilanjutkan lagi; berhenti di situ; satu berhenti tiga puluh satu tahun. Perkara yang diceritakan surat itu: tiga puluh satu tahun lalu ia empat puluh tahun; seorang diri di lewat tengah malam; hendak memberinya satu nama. Baris terakhir surat itu tempat ia berhenti paling lama: ia bukan nama satu sinyal. Malam itu aku yang memerlukannya menjadi satu nama.

Surat itu dicetaknya. Kertas keluar dari mesin masih hangat. Ia mencari pena di atas meja; lebih dulu sebatang pena pembagian kantor yang tua—lak pada gagangnya sudah lama habis; ujungnya kering; dicelupkan ke tinta; ditulisnya "Sudah"; kata kedua ditulis setengah; tintanya habis. Ia berhenti sebentar; teringat laporan yang paginya barusan dibacanya; tertawa. Laci ditariknya; di dalamnya satu pena tinggalan Zhou Yao; diambilnya; dilanjutkannya sampai tuntas: "Sudah dibaca." Selesai menandatangani ia tak bergerak; dua pena diletakkannya bersebelahan di atas halaman itu; dilihatnya sebentar. Satu nyaris kering; satu bertinta; hari yang sama; tangan yang sama. Di atas kertas dua baris tulisan: satu baris tanggal lama; satu baris hari ini. Kemudian kertas itu dilipatnya jadi empat; dimasukkannya ke saku dada kiri.

Karya ini telah tamat

Terima kasih telah membaca! Mulai lagi dari bab satu atau jelajahi karya lain dari penulis ini.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk