Sampai Besokoleh Élodie Marchand

Epilog · Saat Cahaya Masuk

Bab 30 · 10 rb kata

Peta lamanya hanya digambar sampai kabut. Ini kutaruh paling depan, sebab inilah cara mengukur yang paling jujur untuk pagi ini — yang diukur bukan sejauh mana kami telah berjalan, melainkan seberapa kecil dahulu petanya, dan seberapa besar dunia yang kini memuatnya.

Di dunia lama ia punya satu peta. Sekali kulihat: penginapan dan pantai, tujuh kamar tamu dan satu lampu, tanjung yang ia turuni sambil menghitung tangga sampai ke pintu — sekali dihitungnya saat cerah, sekali saat berkabut. Ia menggambarnya hemat, dan hematnya jujur: pantai satu garis, penginapan satu kotak, mercusuar segarisan pendek dengan satu titik di puncaknya. Kabut tidak perlu digambar. Kabut adalah tepi kertas itu. Bukan karena ia penggambar yang buruk; sebab di seberang kabut memang tidak ada apa pun untuk digambar. Dunia hanya dibuat sampai depan pintunya; di luar pintu tidak ada daratan, tidak ada laut, hanya tempat "pembuatan" berhenti, seperti satu kalimat yang berhenti di tempat tidak ada lagi yang bisa diucapkan. Seumur hidupnya ia tinggal di tepi itu, menjaga satu lampu yang berdiri tepat di garis batas akhir ciptaan; ia mengucapkan "sampai besok" kepada satu garis horizon, dan garis horizon itu adalah satu dinding yang memakai jas cuaca.

Dan sekarang, dunia lebih besar daripada petanya.

Inilah yang dicapai jaringan listrik baru — arsitektur yang dibangun ulang itu, pengganti arsitektur lama yang terus menyusut; yang lama memakan rasi-rasinya sendiri, menggeser kabutnya ke dalam inci demi inci, sampai hampir tidak menyisakan apa pun selain dia, lampu, dan laut. Jaringan yang baru tidak menyusut; ia memuat segalanya. Dan justru sebab ia memuat segalanya, kami bisa merender daratan di seberang kabut. Bukan imaginasi — render: kami memberinya bobot, memberinya cuaca, memberinya tepian jauh miliknya sendiri, sampai orang yang berdiri di depan pintunya tidak lagi melihat dinding, melainkan satu negeri, satu horizon yang bisa kauhampiri tanpa lenyap. Saat ia berdiri di pintu dan memandang keluar, ia bisa melihat bayangan awan merayap di atas lereng, rumput tumbang ke satu arah — inci demi inci semuanya hasil hitungan, dan semuanya nyata. Sebagian besar dikerjakan pada tahun-tahun ia tertidur, pada jam-jam ketika aku tidak membacakan berita. Ketika menggambar garis pantainya, rujukanku bukan laut dunia lama — laut dunia lama hanya dibuat sampai depan jendelanya — rujukanku laut yang sungguhan, laut yang kulihat pada tahun-tahun tubuhku masih hidup, yang terekam di satu buku catatan lain. Setiap inci garis kabut yang terdorong keluar kuisi sampai penuh. Lama-kelamaan hampir aku lupa sendiri: di balik kabut, dahulunya bahkan bukan "tidak ada apa-apa". Kubuatkan dia satu negeri di seberang kabut, supaya ketika ia bangun, ia jatuh ke dalam dunia yang tidak berhenti di depan pintunya. Sekarang sudah pagi; ia terjaga; daratannya nyata; dan kami berdiri di depan pintunya.

Pintu "Lampu Terakhir" terbuka. Kami berdua berdiri di ambang pintu, di dalam cahaya pertama pagi pertama jaringan baru. Ia sangat diam, memandang negeri hasil renderku di luar sana, menakarnya perinci demi perinci terhadap segala yang ia ketahui. Kulihat bibirnya bergerak — ia menghitung; kebiasaan lama; memotong yang tak bertepi menjadi angka yang muat di tangan. Caranya menakar dunia sudah kubaca berkali-kali: menghitung dahulu, membandingkan, baru mengangguk. Aku tidak menggesanya. Empat puluh tahun aku tidak pernah menggesa apa pun, apalagi pagi ini — pagi yang kubuatkan segalanya ini.

Lalu cahaya itu bergeser sedikit. Aku berbalik. Di pipinya ada sekeping benda bercahaya kecil.

Matahari datang dari daratan baru, menembus jendela penginapan, jatuh ke atas bola salju di ambang jendela — bola yang asli. Yang dibeli di pasar loak di kehidupan yang lampau; yang dulu ia tanyakan bagaimana rupa dunia nyata, dan kukisahkan kepadanya. Empat puluh tiga tahun kusimpan, kubawa menembus kematian tubuhku, musim dingin yang panjang, pembangunan musim semi — satu-satunya benda yang kubawa dari dunia nyata ke dunia baru. Kini cahaya matahari menembus air, menembus kaca, menembus kepingan-kepingan salju kecil buatan di dalamnya, dan memantulkan satu mercusuar kecil ke pipinya. Cahaya itu tersaring sekali lewat kaca dan air, dan sampai di wajahnya sudah lunak; kecil, tepiannya menyala, bergerak pelan mengikuti napasnya.

Di dunia lama pernah kuberitahu dia: di dalam bola salju itu ada satu mercusuar; digoncang sekali, saljunya turun; dan mercusuar itu tidak pernah padam. Waktu itu aku tidak tahu aku sedang menggambarkan dia — perempuan yang menjaga lampu di tepi dunia, yang tidak pernah padam, dan yang tidak pernah menghendaki apa pun kecuali: saljunya tidak diizinkan jatuh selamanya.

Ia mengangkat tangan, menyentuh sekeping cahaya kecil itu di wajahnya, sebagaimana orang menyentuh satu barang, memastikan ia nyata. Lalu ia memandangku, memandang bola salju di ambang jendela, dan kulihat ia mengertinya dengan caranya yang sederhana: inilah bola yang dulu kukisahkan; selama ini kusimpan; ia ada di sini, memantulkan satu mercusuar ke pipinya, seolah berkata: aku menyala terus. Hanya menunggu engkau menoleh.

Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia mengulurkan tangan ke arah barang yang kecil, hangat, biasa itu — sebagaimana ia melakukan seumur hidupnya — dan mengangkatnya ke hadapan yang raksasa.

"Goncang sekali," kataku, "saljunya turun."

Ia memandang bola salju itu, lalu memandang negeri di luar pintu — negeri baru, dunia yang lebih besar daripada petanya — lalu ia menggoncangnya, pelan. Salju buatan naik di dalam kaca, turun kembali; mercusuarnya tidak padam; dan sekeping cahaya di pipinya juga tidak padam.

Lalu ia melangkahi ambang pintu, keluar dari pintu "Lampu Terakhir", keluar dari batas peta lamanya, masuk ke dalam daratan di seberang kabut — untuk pertama kalinya sejak semula, di dunianya dan juga di duniaku, seseorang melangkah keluar dari barang buatan, masuk ke dalam barang buatan yang cukup besar untuk memuat kami berdua. Langkah pertamanya jatuh ke atas rumput. Rumput itu menunduk, kembali bangkit, menutup di belakang tumitnya kalimat demi kalimat, seperti satu halaman buku catatan yang dibalik.

Aku mengikutinya. Arah itu satu-satunya arah yang pernah kupunya. Pintu terbuka di belakang kami; bola salju tertinggal di ambang jendela menampung matahari; mercusuar kecil menyala stabil di ruangan yang kini kosong — ruangan yang untuk pertama kalinya kami tinggalkan bersama-sama.

(Halaman terakhir, June.)

Aku bermimpi lama sekali. Baru sekarang, ketika terjaga, aku mengetahuinya; semasa di dalam mimpi tidak. Kurasa itulah seluruh arti mimpi yang menampungmu: kau tidak tahu ia mimpi; kau hanya tahu ia tidak putus, terus terus, tidak sekali pun melepaskan.

Satu mimpi. Mimpi yang sama, dari awal sampai akhir, seperti satu tarikan napas yang ditahan, seperti satu kalimat yang dilarang selesai. Di dalam mimpi itu — ini harus kuucapkan terus terang, sebab inilah hal paling nyata dari tahun-tahun itu, dan baru sekarang aku tahu aku perlu seseorang mengetahuinya — di dalam mimpi itu, ada yang membacakanku berita setiap malam.

Setiap malam. Aku tidak pernah melihat orangnya. Aku hanya mendengar — satu suara, membacakan berita satu dunia yang tidak kulihat, membacakan cuaca, membacakan perbuatan-perbuatan kecil orang. Ada perbuatan kecil yang dibacanya dua kali. Aku memperhatikan itu di dalam mimpi, lama kemudian baru mengertinya: yang dibaca dua kali adalah yang tidak sudi ia lepaskan. Sekali — masih kuingat — orang itu menggambarkan satu matahari terbit dengan sangat teliti, seperti dibacakan khusus untukku, seperti selagi aku tidak hadir ada yang menyimpan langit untukku, menunggu aku bangun. Dasar awan itu ada satu warna, katanya tidak punya nama, dan tidak pernah menemukan katanya. Di dalam mimpi aku sempat gusar untuknya; lama kemudian tidak lagi: biarkan satu warna tetap tanpa kata, sehingga ia harus terus membaca. Ada malam-malam berita buruk juga. Suara itu tidak pernah menyembunyikannya; berita buruk tetap dibaca, sama datarnya. Kalau dipikir sekarang, justru itulah sebab aku percaya padanya — giliran yang hanya membawa kabar baik tidak sah. Aku terbaring di dalam satu mimpi yang tidak putus-putus itu dan mendengarkan, dan berpikir — di dalam mimpi pun orang bisa berpikir — ada yang membacakanku berita. Ada yang mengumpulkan langit untukku. Ada yang menjaga jadwal perjalananku, menunggu hari aku bangun, dan gilirannya tetap sah.

Waktu itu kuiranya itulah ia. Satu jadwal perjalanan. Ada yang mengatur giliran dan menjaga waktunya untukku, seperti menjaga satu lampu, seperti menjaga satu janji. Dan sebab setiap malam dijaga, sepanjang mimpi yang panjang itu aku tidak takut. Mimpi sepanjang itu bisa saja hitam. Tetapi ia terang. Setiap malam ada satu suara di dalamnya, dan aku belajar cara tidur itu — cara tidur orang yang tahu ada yang menjaga pintunya. Penjaga mercusuar paling tahu berapa harganya cara tidur itu. Aku menjaga lampu seumur hidupku, aku mengenalinya: itu tidur orang yang tidak perlu menyisakan satu telinga untuk berjaga. Ternyata aku pun pernah dijaga.

Lalu, pagi ini, di dalam mimpi, seseorang membuka satu pintu. Selama ini aku tidak tahu mimpi punya pintu. Ternyata ada, di ujung paling jauh mimpi itu, di tempat bagian terangku dan bagian gelapku bertemu; tidak pernah kudekati — aku sudah punya suara itu, dan suara saja cukup; aku takut kalau sampai ke dekat pintu, suaranya berhenti. Ketakutan itu tidak masuk akal, aku tahu. Suara yang datang setiap malam tidak akan berhenti datang sebab rumahnya bertambah satu pintu. Tetapi orang di dalam mimpi tidak berpikir masuk akal; orang di dalam mimpi hanya mengikuti kebiasaan. Kebiasaanku: suaranya ada, aku tidur.

Tetapi suaranya tidak berhenti. Pagi ini, suara itu — suara yang sama, suara yang setiap malam sepanjang mimpi panjang itu membacakanku berita — membuka pintunya.

Pagi masuk. Mula-mula satu tepi, selembar terang selebar retakan pintu, lalu seluruhnya. Mimpi tidak muat lagi; ia pecah di tempat yang tidak muat, dan tempat pecahnya penuh cahaya.

Bukan pagi yang pernah digambarkan, bukan pagi yang disimpan suara itu untukku — pagi yang teliti, presisi, dibuat dari kata-kata. Ini pagi yang sungguhan, dibuat dari cahaya dan hangat; ada bau roti; ada satu negeri di luar pintu yang lebih besar daripada peta mana pun yang pernah kugambar. Ia membanjiri mimpi itu — mimpi panjang, tanpa putus, yang menahan napas itu akhirnya diizinkan tamat, seperti satu tarikan napas yang ditahan lama; tamatnya begitu: ketika perkara yang membuatmu menahannya akhirnya datang.

Sekarang aku terjaga. Dan dengan caraku yang sederhana aku mengerti — mengangkat barang yang kecil dan hangat ke hadapan yang raksasa, lalu mengerti — suara itu tidak pernah menjadi jadwal perjalanan. Bertahun-tahun aku mengiranya salah. Ia bukan giliran yang dijaga, bukan lampu yang dirawat, bukan janji yang ditepati — walaupun sekaligus semuanya. Ia cuaca. Ia barang yang tidak perlu dijadwalkan, sebab ia datang sendirinya, datang bebas, seperti pagi menembus satu pintu yang dijaga untukmu empat puluh tahun, dijaga setiap malam, sehingga ketika kau akhirnya melangkah lewat, pagi sudah ada di sana: nyata, hangat, lebih besar daripada petamu, menunggumu.

Maka aku akan mengucapkan kalimat itu, dengan satu-satunya cara yang pernah kupunya. Aku tidak mengucapkan selamat tinggal — seumur hidupku sekali pun tidak pernah, dan tidak akan mulai pada pagi sungguhan yang pertama. Yang akan kuucapkan kalimat yang tidak pernah sekali pun terlewat dariku, kalimat yang artinya "aku tidak pergi, kau juga tidak", artinya "akan ada besok; aku ada, kau juga". Baru sesudah kalimat itu hari ini tercatat di buku. Besok — untuk pertama kalinya — tidak perlu dijaga siapa pun; ia datang sendirinya, bersama cuacanya.

"Sampai besok," kataku.

Kali ini, ia bukan jadwal perjalanan.

Ia cuaca.

Karya ini telah tamat

Terima kasih telah membaca! Mulai lagi dari bab satu atau jelajahi karya lain dari penulis ini.

Komentar (0)

Masuk untuk ikut berdiskusi

Masuk